PART 2 : DEBAT KUSIR

1900 Words
Happy Reading ^_^ *** Esther sadar kalau dia sudah berdebat dengan orang yang salah dan untuk masalah yang salah juga. Oleh karenanya dia pun memutuskan untuk mengakhiri saja semua usahanya. Karena tidak bisa membujuk Mama dan Papanya, maka satu-satunya jalan adalah membujuk sang kekasih, yaitu Nicholas. Ini adalah satu-satunya harapan yang sedang Esther doakan. Semoga saja Nicholas bisa mengerti setelah mendengar penjelasan terbarunya. Tapi sialannya Nicholas sudah pergi ke Spanyol tanpa pemberitahuan apa pun. Di satu sisi Esther merasa tersinggung karena tidak dikabari apa pun oleh sang kekasih padahal dia sedang memperjuangkan keinginan kekasihnya sampai merasa seperti sedang durhaka pada keluarganya. Oleh karenanya Esther langsung mengepak pakaiannya dan bergegas untuk pergi ke Spanyol juga. Terlalu impulsif? Hubungannya dipertaruhkan, jadi Esther tidak mau main-main. Terbiasa pergi tanpa banyak persiapan, Esther pun sudah selesai mengepak pakaiannya dalam waktu singkat. Yang terpenting adalah dia membawa passport, handphone, dan dompet, maka sisanya bisa diurus belakangan. Esther juga sudah lumayan sering pergi dengan tangan kosong tapi kembali dengan beberapa koper penuh berisi belanjaan, jadi orang tuanya pun tidak heran sama sekali. Dalam penantiannya menunggu supir yang akan mengantarkannya ke bandara, Esther dikejutkan dengan mobil BMW yang secara tiba-tiba berhenti di depannya. Karena tahu siapa pemilik mobilnya, Esther pun mengacungkan jari tengahnya. “Kamu mau menabrak aku? Sialan!” makinya pada si pengendara yang tak lain adalah adiknya sendiri—Oliver. “Calm down, sist. Kenapa kamu emosi sekali, hm?” Seperti biasa, Oliver mengabaikan makian sang kakak. Dia sudah terbiasa dengan kata-kata tak pantas kakaknya yang dilontarkan kala emosi. “Butuh tumpangan? Masuklah. Aku akan mengantar kamu ke bandara.” “Tidak perlu. Aku punya supir.” jawab Esther dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. Dia yakin sekali Oliver punya maksud terselubung dengan menawarkan tumpangan. “Supirmu itu tidak akan datang. Papa menyuruh aku untuk mengantar kamu ke bandara.” Oliver terkekeh. “Masih tidak mau naik? Tidak takut ketinggalan pesawat, sist?” Dengan kaki yang dihentak-hentakkan Esther memasuki mobil Oliver. “Kok Papa bisa tahu sih?!” gerutunya. “Selama kamu masih memesan tiket lewat asisten Papa, jangan pernah bermimpi untuk menyembunyikan sesuatu.” Oliver tergelak sambil memberikan tatapan meledek pada kembarannya yang terlihat jengkel sekali. Dan seperti gaya khasnya, Esther hanya mendengus jengkel. “Betapa enaknya jadi kalian. Mama punya asisten, Papa punya asisten, dan kamu pun punya asisten.” “Kalau begitu masuklah ke perusahaan. Nanti kamu pun akan dicarikan asisten.” SKAKMAT. Esther langsung terdiam. “Aku tidak ingin masuk ke perusahaan. Aku hanya ingin punya jabatan. Itu saja.” “Lalu setelah diberi jabatan, apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan jadi pemimpin yang baik atau kamu akan tetap shopping dan travelling?” Tentu saja dia akan shopping dan travelling. Apa Oliver tidak dengar kalau dia hanya ingin jabatan saja tanpa beban pekerjaan? Batin Esther dengan gemas. Dan seolah memiliki ikatan batin, Oliver sudah langsung tahu jawaban sang kembaran yang berstatus lebih tua beberapa menit itu. Dia menggelengkan kepalanya dengan ekspresi lelah yang dibuat-buat. “Bagaimana kamu bisa dikatakan punya jabatan kalau kamu sendiri tidak pernah menduduki jabatan itu? Apakah status itu benar-benar begitu penting?” Oliver menerangkan. “Ketika Mama memberikan kamu jabatan, satu posisi terisi. Tapi kalau kamu hanya ingin jabatannya tanpa pekerjaannya, satu posisi kosong secara sia-sia. Pada akhirnya team kamu akan terombang-ambing karena tidak punya sosok pemimpin.” Bahu Esther merosot lemah. Seluruh anggota keluarganya sudah berkata seperti itu yang artinya mereka punya pemikiran yang sama tentang dirinya. Miris. “Menurutmu, apa pekerjaan yang cocok untukku? Yang aku maksud adalah yang sesuai dengan kemampuan aku di perusahaan.” “Kamu ingin aku jujur atau berbohong?” Esther memutar bola matanya. “Tentu saja jujur, Olive Oil!!!” Oliver tergelak ketika sang kembaran sudah gemas dan memanggilnya secara sembarangan. “Kalau begitu tidak ada pekerjaan yang cocok untuk kamu di perusahaan.” “Oliver!” teriak Esther karena jengkel. “Jangan langsung menjawabnya. Setidaknya berpikirlah dulu, jangan asal bicara.” “Memangnya kau merasa punya kemampuan apa di perusahaan?” “Ti-tidak ada.” Bahu Esther merosot lagi setelah mengakui sesuatu. Meski berat, tapi itu adalah fakta. Tatapannya tertuju pada ponsel yang berada di pangkuannya dengan nanar. “Sebenarnya aku tidak percaya pada orang-orang yang meyakini kalau dirinya tidak punya kemampuan. Apalagi kau berasal dari keluarga pebisnis—impossible.” Oliver berujar dengan tenang sambil terus mengemudikan mobilnya dalam kecepatan konstan. Mereka kini sudah berada di tol menuju bandara. “Kamu hanya belum menemukan motivasi untuk memasuki bidang ini, sist. Saat seusia kamu pun Mama masih sibuk shopping dan traveling.” “....” “Aku benar-benar penasaran seperti apa sosok Nicholas Cheung sampai membuat kembaranku yang terbiasa acuh tak acuh tiba-tiba terpikirkan untuk bekerja. Apa dia tidak mampu membiayaimu?” “Jangan menjelek-jelekkan Nick, please? Dia orang yang baik.” “Orang yang baik belum tentu orang yang tepat.” Oliver melirik kembarannya sedikit. “Dan orang yang tepat selalu menerima kita apa adanya. Bahkan meskipun kamu tidak bekerja sekali pun, dia akan tetap mencintai kamu dengan sepenuh hati.” Esther menyandarkan kepalanya dengan lemah ke sandaran kursi yang didudukinya. Membahas cinta—Esther benar-benar kebingungan. Di satu momen dia akan merasa dicintai oleh Nick, tapi di momen lain dia akan merasa hanya dimanfaatkan oleh Nick. Tapi masalahnya adalah dia mencintai Nick. Dia tidak bisa kehilangan Nick makanya ketika semua hal negatif tentang Nick menyeruak—dia mengabaikannya. Semua rasa sakit hati yang diterimanya karena Nick pun langsung dia maafkan. “Apa Nicholas tidak tahu kalau anak-anak Christopher Wang sudah dijamin kehidupannya? Kau mungkin terlihat tidak punya pekerjaan, tapi kegiatan shopping dan travelling-mu lancar. Meski tidak pernah bekerja, tapi apa pernah kau menadahkan tangan pada Papa?” Esther terdiam. “Kau mungkin tidak tahu, tapi selalu ada uang yang masuk ke rekening kita. Beberapa kali mungkin Papa yang mentransfer-nya, tapi seringkali semua itu karena uang persenan saham yang Papa berikan secara cuma-cuma pada kita saat kita masih kecil. Belum lagi dengan aset-aset yang Papa dan Mama belikan untuk kita, begitu juga dari kakek dan nenek kita—kita benar-benar salah satu anak terberuntung di dunia ini.” ujar Oliver dengan nada takjub sendiri. “Selama perusahaan aman, kita pun aman. Bahkan kalau pun perusahaan tidak aman, kita masih punya aset yang tidak terkoneksi dengan perusahaan. Jadi intinya, kita tetap aman apa pun kondisinya. Kenapa bisa begitu? Karena sejauh itu juga Mama dan Papa memikirkannya kesejahteraan kita, sist.” “Kalau begitu kenapa kau masih bekerja?” Pertanyaan polos Esther membuat Oliver tergelak tipis. “Sist, aku laki-laki. Aku akan menikah dan menghidupi seorang perempuan. Kalau calon istriku kelak begitu pengertian, aku yang tidak bekerja pun tidak masalah. Berbekal nama keluarga, harga diriku masih aman. Tapi bayangkan kalau calon istriku kelak seperti dirimu?” “Memangnya aku kenapa?” Oliver tergelak karena sang saudara sedang memainkan peran pura-pura bodoh. “Kau kenapa?!” Oliver terkekeh mengejek. “Kau tidak ingat saat pergi ke Belgia waktu itu? Kau tidak membawa koper sama sekali. Tapi coba ingat-ingat berapa koper yang kau bawa pulang? Empat. Empat!” tegasnya dengan gemas. “Belum lagi dengan satu set perhiasan langka yang kau banggakan di depan Papa—kau benar-benar menguji kewarasan orang paling gila sekali pun.” “....” “Dengan istri sepertimu, bagaimana mungkin seorang laki-laki tidak bekerja, hm? Makanya penting bagi seorang laki-laki untuk bekerja keras, terlepas akan seperti apa istrinya kelak.” Oliver menjeda. “Lagipula aku juga tidak tega membiarkan Mama masih bekerja di usianya sekarang ini. Papa pun mengkhawatirkannya. Karena bagi kami, perempuan seharusnya tidak perlu bekerja sekeras ini hanya demi uang.” “Kalau begitu kenapa kamu tidak langsung meminta posisi Mama saja? Katanya ingin berbagi beban dengan Mama.” ketus Esther. “Asal kau tahu saja, Nicholas jadi uring-uringan sejak tersiar kabar posisi Mama sebagai pemimpin perusahaan akan diberikan pada Michael Chu. Dia merasa kalau posisi aku akan terancam karena kehadiran pria itu.” “Kamu kan tahu Mama dan Papa tidak pernah main-main saat merekrut orang. Hanya orang-orang yang berkompeten-lah yang akan masuk dan diberi tanggung jawab serta jabatan yang sesuai. Kamu pikir karena apa aku jadi seorang manajer rendahan setelah menyelesaikan studiku di Berlin?” Esther tertawa tipis mendengar keluh kesah sang adik saat pertama kali bekerja. Terdengar tidak mungkin, tapi ini nyata. Serendahan apa pun posisinya, tapi tetap saja tidak ada yang bisa menutupi fakta kalau dia adalah anaknya si pemilik perusahaan. Ah, jangan lupakan juga Mercy-nya yang seolah-olah mengejek statusnya pada saat itu. “Percayalah, Michael Chu adalah orang yang tepat di bidang ini untuk menggantikan Mama. Jangan terhasut oleh omongan tidak penting yang orang lain dengungkan.” Oliver menyerukan pendapatnya lagi. “Justru aku malah bingung kenapa dia harus mengkhawatirkan dirimu? Karena seperti kataku, entah itu keluarga kita sendiri atau orang lain, itu tetap perusahaan kita. Keuntungan terbanyak tetap mengalir pada kita.” Esther terdiam selama beberapa saat karena memikirkan ucapan sang adik. Setelah dipikir-pikir, Oliver terdengar jauh lebih dewasa dari dirinya. Benarkah dia seorang kakak? Apa jangan-jangan para dokter dan suster salah melihat jenis kelamin mengenai siapa yang duluan lahir? Esther menghela napas. “Bagaimana kalau aku jadi sekretaris saja. Sekretarisnya Michael Chu.” Oliver hampir saja mengerem mobilnya secara mendadak dan membuat kekacauan di jalan tol yang terpantau ramai lancar ini. Dia pikir diamnya sang saudara menandakan pikirannya sudah jernih, tapi siapa sangka dia masih membahas masalah jabatan. “Kupikir itu pekerjaan yang mudah.” “Tidak ada pekerjaan yang mudah, Esther. Semua pekerjaan punya tanggung jawab yang besar. Apalagi yang kau urusi seorang pimpinan perusahaan. Kau harus multitasking!” Esther langsung menghentakkan tubuhnya ke sandaran kursi dengan sebal. Belum lagi dengan kakinya yang dihentak-hentakkan layaknya anak kecil yang tidak menemui solusi dari permasalahannya. “Lalu aku harus bagaimana? Nick sebenarnya hanya ingin aku mulai bekerja. Dia mengkhawatirkan aku tanpa nama besar keluargaku makanya mendorongku sekeras ini untuk bekerja. Tapi kenapa rasanya sangat sulit sekali sih?” “Aku sudah berbicara panjang lebar tapi sepertinya kau masih tidak menangkap maksudku dengan baik. Astaga...” Oliver mulai terlihat frustrasi. “Yang harus kau khawatirkan seharusnya bukan kesejahteraanmu tanpa keluargamu, Esther Kinara Wang. Seharusnya kau mengkhawatirkan orang-orang yang secara tiba-tiba mengkhawatirkan kesejahteraanmu!” “....” “Apa yang ingin dia dapatkan dari kesejahteraanmu di perusahaan? Benarkah dia memikirkan kesejahteraanmu atau memikirkan kesejahteraannya sendiri?” Oliver menjeda dengan serius. “Kalau dia memang memikirkan kesejahteraanmu, maka itu bagus. Tapi kalau tujuannya adalah untuk kesejahteraannya sendiri, orang-orang seperti ini adalah orang yang berbahaya. Dia bisa menghancurkan keluarga kita, Esther.” Esther menatap kembarannya dengan sendu. Ketika nama Esther sudah terlontar dari bibir sang adik, itu artinya Oliver ingin perkataannya barusan dipikir baik-baik oleh dirinya. Ya, begitulah cara sang adik ketika ingin menegaskan sesuatu. Obrolan mereka berakhir di situ. Esther memilih memejamkan mata dan tidur sebagai bentuk pelariannya dari penekanan kata sang adik. Logikanya mendukung prasangka sang adik pada Nicholas yang terkesan seperti mengejar harta dan statusnya saja, tapi jujur saja, hatinya masih menepisnya. Dia masih ingin mempercayai Nicholas sebagai laki-laki yang baik. Obrolan mereka berakhir di situ. Bahkan saat mobil sudah berhenti di area keberangkatan, keduanya masih tidak mengobrol sedikit pun. Esther memasang ekspresi sebal, tapi Oliver pun mengabaikan. Beginilah cara saudara kembar beda gender itu menyelamatkan hubungan mereka sebelum hancur karena terlalu banyak bicara. “Have a nice trip. Semoga pikiranmu lebih waras setelah dari Spanyol.” TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD