Piknik Bareng Dia

1456 Words
Kita packing, aku minta cuti besok, jadi kita ada waktu dua hari." "Mau kemana kita?" "Puncak." "Bosen!" keluh Tita, dengan wajah masam, tak ada kegembiraan sedikit pun di wajahnya. "Ayolah, Ma, aku sudah bilang sama mas Teguh, kalo kita bakal minjem villanya dia hari, soalnya Villa kita dan lagi di renovasi," kuungkapkan hal yang mungkin bisa membuat Tita berubah keinginan. "Siapa yang nyuruh?" dia malah balik menyalahkanku. "Lah, kamu minta waktu jalan kan sama aku?" "Minta waktu bukan berarti aku mau pergi bareng anak-anak tau!" dengusnya kesal "Ya Allah! Trus kamu mau apa? Aku jadi bingung sama kamu," akhirnya aku nyerah, Tita tidak akan bisa disangkal lagi, semua kemauannya harus ditiruti, kalau tidak, bisa meledak perang dunia ke dua. "Pa, coba kamu tanya sekolahan yang bagus buat putra, tahun ini kan dia masuk SD," "Hm!" "Tuh kan? Kamu gak pernah mau denger omonganku?" mata Tita mendelik padaku. "Soal sekolah gampang, di sekitar sini banyak yang bagus kok, tinggal kita minta Putranya mau enggak sekolah di situ, ingat pas masuk TK pilihan kamu, dia ngambek gak mau sekolah kan? Mending minta bantuan mama kamu, pasti beliau lebih paham soal tempat pendidikan untuk Putra, secara apa-apanya kan mamamu yang urus," "Kamu nyepelein aku banget, Pa," "Ya ampun, Sayang, aku enggak nyepelein kamu, ini mama kamu yang bilang, jangan paksa Putra buat les macem-macem dulu, kali aja Putra tuh ngeluh sama mama, kan kita sebagai orang tua harusnya lebih tau doang bagaimana kondisi anak kita?" "Putra itu bego, Johan, kalau kita enggak masukin dia les, bakal nyusahin tau, dia bakal ketinggalan banyak materi di sekolahannya nanti," ujar Tita tanpa rasa bersalah. "Cukup Ta, Putra enggak bego, tega banget kamu ngatain anak sendiri bego." Tita terdiam. "Dia anak berkebutuhan khusus, harusnya kamu mikir kenapa aku lebih suka Putra diasuh Mama dari pada kamu," ujarku menahan emosi. "Berkebutuhan khusus itu hanya istilah saja, aslinya ya dia itu be ...!" "Cukup Ta, cukup!" "Ya udah urus sendiri anakmu itu, aku sih ogah, anak pembawa sial, bikin gedek aja bawaanya, rusuh mulu kan kalau kita ngomongin dia?" Tita malah naik pitam. "Ya ampun! Kamu mamanya, wajib menyayangi Putra seperti halnya kamu sayang pada Kintan." "Tidak akan, Johan, tidak akan, Titik!" Tita histeris. "Oke, aku paham, kita batal ke puncak, semuanya terserah kamu." Aku mendekat padanya. Istriku mulai menangis. "Dia yang merusak karierku, Jo, dia," Tita sesegukan di bahuku. "Oke, tenang, Putra itu anak kita, titipan Tuhan. Bukan perusak apapun, kita orang tuanya, kita harus mengasihinya, anggap saja Putra itu ujian hidup kita, Ta, kasian dia!" "Antarkan dia kembali pada mama, aku muak melihat wajahnya," "Sayang, tenang ya, please, nanti kita ngobrol lagi, kamu istirahat di rumah biar aku, Putra sama Kintan jalan-jalan, kasian mereka, ini hari libur loh, lagian sudah lama mereka enggak jalan-jalan, aku kadung juga janji sama mereka," "Oke, ajak anak-anak jauh dariku hari ini," Tita menatapku, matanya merah. Aku mengangguk. "Istirahat ya, aku mandi dulu, sambil nyuruh Bibi nyiapin anak-anak." Tita mengangguk, lalu masuk kamar, dia akan tidur seharian, paling main game online seperti biasa. Aku menarik napas lega. Berjalan cepat menuju kamar mandi tak lupa menyuruh si Bibi mengganti baju anak-anakku. ? ? ? Anak-anak sudah rapi, Kintan nampak manis dengan baju terusan warna pink, sedangkan Putra mengenakan Jeans coklat dan kaos putih, dengan leher berkerah. Gagahnya anakku, kenapa Tita begitu kesal padanya. Padahal Putra cukup tampan, walau tak sedikit pun mirip denganku, dia dominan mamanya, terbalik dengan Kintan, dia persis rupaku. Membawa anak-anak sepagi ini, jalan-jalan mencari tempat wisata tanpa wanita adalah hal yang pertama untukku, kalau bukan Tita, biasanya mama mertuaku ikut serta. Minimal dia cukup telaten ngerawat cucunya. Apa aku harus ngajak Mama? Dahiku berkerut. Tapi rasanya tidak mungkin, Mama pun pasti sibuk, akan ada cucu lain yang datang ek rumahnya, lagi pula, Mama pasti marah besar kalau tau Tita menolak ajakanku ini, hanya karena marah sama Putra. Huh! Bagaimana sekarang? "Papa, kita sudah siap!" Putra menatapku dengan wajah berbinar. "Kalau begitu, lets go kita jalan!" aku mengajak anak-anak naik ke mobil Pajero hitam milikku. Bibi membopong tubuh mungil Kintan naik ke dalam mobil, sedangkan Putra mengekor di belakangnya. "Kita kemana hari ini?" "Ragunan!" jerit si bungsu dengan suara R yang masih kurang jelas, maklum baru empat tahun. "Ragunan ya? Oke laksanakan Bos!" aku mengangkat tangan sebelum menjalankan mobil. Mobil pun bergerak meninggalkan halaman rumah, Bibi tergesa menutup gerbang kembali, sambil melambaikan tangan pada kami, aku menarik nafas panjang, jika saja itu Tita, tentu anak-anak tak akan sesedih ini. "Kita ke Ragunan hari ini anak-anak, ingat jangan nakal ya," pintaku pada Putra dan Kintan. "Oke, Papa," Kintan mengangkat jempol, sepertinya dia sangat bahagia. Padahal harusnya ke puncak hari ini, tapi anak-anak sepertinya punya rencana lain, tapi syukurlah, ragunan tak terlalu jauh dari tempat tinggal kami, hanya butuh tiga puluh menit saja, itu pun kalau jalanan lancar. "Papa, Mama enggak ikut?" Putra bertanya. Dia menatap ke arah belakang, mungkin berharap mamanya ada di situ. "Iya, Sayang, karena hari ini mama sedang sakit kepala, migrainnya kambuh mendadak," jawabku, beralasan seperti biasa. "Nanti kalau adek pipis siapa yang ganti diapersnya?" Aku tersentak. Ya Tuhan, iya aku lupa bawa ganti pakaian, diapers dan peralatan seperti biasa yang dibawa Tita saat rekreasi keluarga. Hapeku berbunyi. Sapri memanggil. Ya Tuhan kenapa tidak kepikiran ngajak ni bocah hari ini. "Hallo, Ren." "Ih, abang enggak ada kabar teqg banget sih," sepertinya Renata kesal karena aku tak menyapanya pagi ini. "Iya, Maaf, abang repot bet dah hari ini," "Repot apaan, mikirin pacar abang yang lain ya?" "Hush kamu ini, satu aja udah bikin repot, apalagi punya dua pacar kayak kamu, bisa stroke dadakan aku, Re," "Hm, bisa aja," "Eh Ren, kamu sibuk enggak hari ini?" "Enggak, emang kenapa?" ""Bagus deh kalau gitu, sekarang kamu ganti baju, tunggu di lampu merah dekat rumah kamu, aku jemput ke situ," "Loh kok jemput? Sekarang?" Renata kebingungan. "Enggak tahun depan, ya iya lah sekarang, makanya kamu buruan dandan, aku bentar lagi nyampe nih," "Mau kemana sih?"" "Piknik," "Yang bener?" "Iya udah, gak usah banyak tanya, cepet ganti baju, trus ke lampu merah, lima belas menit lagi aku nyampe situ," kuputuskan telpon, terbayang betapa kagetnya dia kuajak jalan tiba-tiba. Tapi apa Kintan nanti tak bicara pada mamanya? Ah, masa bodo, aku bisa ngarang cerita pada Kintan, bilang aja Renata pengasuh sewaan. Cerdas banget kan aku? Hm, memang Johan selalu punya ide cemerlang. ? ?? Gadis itu nampak cantik dengan kaos putih tangan pendek yang masih di gulung hingga separuh lengannya terlihat, jeans biru dengan tali yang menjuntai di pinggang, sedangkan rambut dikuncir asal. Dia melambaikan tangan saat melihat mobilku datang. Gaya Renata pagi ini benar-benar remaja sekali, malah terkesan layaknya ABG di mataku. "Wow, keren banget abangku!" mata Renata membelalak saat melihat gayaku hari ini, kaos hitam dan celana jeans pendek, serta sandal gunung berwarna hitam, nampak pas di kaki kekarku. "Biasanya juga ganteng kan?" aku terkekeh. "Hm! Pede bener," Renata meleletkan lidahnya. "Harus," Dia masuk tergesa, setelah aku membuka pintu mobil. Matanya terbelalak saat melihat dua bocah dari cermin yang ada di depannya. "Loh, kok ada bocah-bocah?" matanya melotot pada kedua anakku. "Iya, itu anak-anakku, Putra dan Kintan," jawabku santai Lalu mengangkat tangan sambil berkata, "Hai!" nampak sekali dia kikuk saat ini. Aku terkekeh. "Kita piknik bareng anak-anakku, katanya mau jadi mamanya anak-anak, ini pengetesan, ujian lebih tepatnya," aku tak bisa menahan tawa. "Abang jahat ih," rajuknya. "Jahat kenapa?" "Kok gak bilang kalau pikniknya bareng anak-anak sih, tau gitu aku tadi batal ikut deh," "Stt, udah tenang aja, anak-anakku baik kok, manis gak bakal ngerepotin kamu," "Ini namanya penjajahan tau!" "Penjajahan yang menyenangkan." "Pokoknya anggap ini lemburanku, gajinya dua kali lipat dari biasanya." "Wah meres nih anak," "Kalau aku meres, abang udah miskin tau, lima ratus rebu aja meres. Mamanya anak-anak dibeliin perhiasan," dia cemberut seperti biasa. "Oke gak usah debat, bulan depan aku beliin kalung, cincin, gelang, terus apalagi?" "Rumah," jawabnya cepat. "Rumah nanti kalau udah jadi istri," balasku. "Serius kita bakal nikah?" Renata memelukku. Aku baru-buru melepaskan diri. "St, ada anak-anak, Sayang." "Lupa!" dia tertawa kecil. Kedua anakku menatap kami bergantian. "Papa, mbak itu siapa?" Kintan bertanya. "Eh iya lupa, kenalin, ini Mbak Rena, Nanny kalian." "Asik, ada Nanny baru," mereka bersorak. "Nanny? Namaku Renata, bukan Nanny." "Nanny itu pengasuh anak, mbaknya anak-anak," ujarku. "Oh, Nanny? Keren!" gadis itu tersenyum. Ya Tuhan! Wajahnya polos. Menggemaskan seandainya tidak ada anak-anak, sudah kuunyeng dia hari ini. "Tapi Bang, aku maunya dipanggil Kakak aja," "Serah kamu lah," "Anak-anak panggil saja aku Kakak ya," dia menoleh ke belakang. Kedua anakku mengangguk. "Oke kan papanya anak-anak?" kali ini dia menatapku dengan tatapan nakal andalannya. "Hm!" Lalu mencubit pinggangku, mesra. "Hore hari ini kita piknik anak-anak!" teriaknya dengan gembira, anak-anakku pun melonjak mengikutinya. Ah, Renata! Semoga kita bisa melalui hari ini dengan sempurna, Re, anggap saja ini ujian untuk jadi mamanya anak-anak! Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD