Bab 6

1186 Words
Rey terbangun di saat hari sudah malam, dia membuka mata dan melihat wajah polos Rara yang masih terlelap dalam tidurnya. Terlihat manis dan menggemaskan, hingga membuat Rey tanpa sadar tersenyum menatapnya. Lalu setelah beberapa detik berlalu ia pun baru sadar atas apa yang sedang ia lakukan ini. ‘Ngapain aku senyum-senyum lihat dia? Yang bener aja!’ batinnya pun menolak akan sikapnya itu. Rey langsung bangkit dari posisinya dan kembali meraih ponselnya untuk menghubungi ibunya. Ia pun berjalan menjauhi Rara supaya tidak mengganggu tidur bocah tersebut, dan mengarahkan kakinya menuju ke dalam kamar. “Halo, Mam? Mobilku kenapa dibawa gitu sih? Mana nggak pamit lagi. Ini anak orang gimana terus nasibnya?” tanya Rey dengan rentetan pertanyaannya, saat panggilan mulai terhubung dengan orang tuanya tersebut. Anita yang sedang mengenakan sheet mask dan tiduran di kasur empuknya pun berusaha menjawab ucapan anaknya itu dengan santai. “Ya, biar aja dia di sana. Besok Mami suruh Pak Supri bawain mobilmu. Tadi Mami buru-buru. Kebelet pipis,” ujarnya dengan alasan tak masuk akal. “Apaan sih, Mam? Pipis sampe nyolong mobil anak sendiri gitu? Di sini ‘kan juga ada kamar mandi. Mami itu kalau ngarang pinter dikit napa sih?” Masih saja anak laki-laki ini bersikap arogan bahkan pada ibunya sendiri. Anita yang menyadari bahwa alasannya itu salah, akhirnya terdiam. Dia tak tahu lagi harus menjawab apalagi pada anaknya yang kurang ajar itu. “Mam, pokoknya aku mau balikin Rara ke rumah Mami. Di sini itu cuma ada satu kamar, jadi aku nggak bisa biarin dia tinggal di sini,” tegas Rey pada ibunya. “Lah terus balikinnya gimana? Rara udah bangun emangnya?” “Ya, tadi udah. Terus abis makan tidur lagi dia sampe sekarang belum bangun.” “Ecieeee … udah makan bareng ni ye ...,” ucap Anita yang malah meledek anaknya sendiri. Anita pun jadi senyum-senyum sendiri membayangkan dua anak muda ini makan sepiring berdua, pasti romantis, pikirnya. Sungguh antik sikap ibunya Rey ini. Dia memang ingin sekali anaknya ini segera menikah. Apalagi menikahnya dengan anak sahabatnya sendiri, tentu saja hal itu sangat membuatnya bahagia. “Mam, bisa serius dikit nggak sih? Ya udah kalau nggak Pak Supri suruh ke sini sekarang. Kalau nggak, aku buang ini Rara di pinggir jalan,” ancam Rey yang langsung mematikan panggilannya. Hal ini tentu membuat Anita menjadi terkejut dengan sikap anaknya itu dan jadi mengomel sendiri tak karuan, karena merasa anaknya tak sopan padanya. Ia pun terduduk di atas kasurnya, kembali memanggil anaknya namun ternyata panggilannya beneran sudah dimatikan. “Halo? Rey? Hais! Dasar anak kurang ajar! Beraninya mengancamku dan mematikan telepon gitu aja. Dikira aku takut apa sama ancamannya? Ya iyalah! Gila aja kalau sampe Rara di buang beneran sama Rey! Anak itu kadang otaknya kurang se-ons kalau lagi nekat,” oceh Anita yang jadi panik sendiri. Dia langsung keluar dari kamarnya dan kembali memanggil supirnya.  “Pak Supri! Sup! Supri! Where are you?” Anita berteriak kencang memanggil sopirnya, bahkan suaranya terdengar melengking memenuhi ruangan di rumah ini. Berisik di hari yang sudah malam. Namun, orang yang bernama Supri itu tak juga kunjung datang menghadap Anita. Hal ini tentu membuat Anita kian merasa resah. “Ke mana sih itu si Supri Sompret?” gumam wanita ini yang jadi mengarang bebas nama sopirnya. “Mas, udahan dulu, deh. Itu kayaknya Bu Anita manggil-manggil kamu. Nanti lanjut lagi aja,” ucap Bi Odah yang ternyata sedang dihajar Pak Supri di atas ranjang di kamar pembantu. Pasangan suami istri tersebut memang sedang melakukan rutinitas enak-enaknya di malam hari, hingga akhirnya diganggu oleh majikannya sendiri yang heboh memanggil namanya. “Hais, Bu Anita itu ngapain juga manggil-manggil. Ini nanggung, Dek. Lagi enak. Bentar lagi deh, aah …,” ujar Pak Supri yang masih bergerak maju mundur sambil merem melek menikmati jepitan Bi Odah. “Ih, Mas. Nanti Bu Anita ngamuk. Udah deh. Nanti aja. Aku kasih double deh entar,” bujuk Bi Odah yang merasa takut jika majikannya itu berubah jadi singa saat mengamuk. Hingga akhirnya … BRAK! “Nah ‘kan! Udah aku duga, kamu malah enak-enakan sama istrimu ya! Cepet ke apartemen Rey, jemput Rara! Punya kuping nggak dipake apa kamu tuh? Dipanggil dari tadi juga, ternyata malah lagi ah eh ah eh di atas kasur!” sentak Anita yang tiba-tiba menggebrak pintu kamar pembantu ini, dan langsung pergi menjauhi tempat ini setelah menyelesaikan kalimatnya. Pak Supri yang kaget tiba-tiba digerebek oleh Anita ini, terpaksa menindih tubuh istrinya begitu saja. Ia pun merasa begitu malu dan ingin marah pada majikannya yang dirasa sangat tidak sopan. “Hih! Bu Anita nggak sopan banget, sih. Masa main masuk gebrak pintu. Dikira ini tempatnya apa?” “Lah, kan, emang rumahnya Bu Anita, Mas. Kita yang numpang di sini,” ucap Bi Odah yang menjawab pertanyaan suaminya itu. Pak Supri tak bisa berkata apa-apa lagi atas ucapan istrinya itu. Ia melupakan hal penting tersebut dan mengira dirinya yang memang tinggal di tempat itu. Ia pun segera mengenakan pakaiannya, dan kembali menghadap majikannya yang sudah menunggu di ruang tengah, dengan perasaan malu. “Gimana Bu? Saya pakai mobil yang mana buat jemput Non Rara?” tanya Pak Supri dengan menundukan kepalanya, tak berani menatap Anita. “Pakai mobil Rey aja. Nanti biar dia yang anterin kalian ke sini. Paling nanti mobilnya juga dibawa dia,” jelas Anita dengan ketus. Wanita ini segera memberikan kunci mobil Rey pada sopirnya dan menyuruh pria tersebut untuk langsung bergegas menuju ke tempat putranya. *** Sesampainya di depan pintu apartemen Rey, Pak Supri mengetuk pintu dan menekan bel supaya dibukakan oleh pria yang merupakan anak dari majikannya itu. Rey yang melihat dari layar, kini segera membukakan pintu dan mempersilahkan sopirnya masuk ke dalam tempatnya. “Masuk, Pak,” ucapnya sopan. “Makasih, Mas. Non Raranya mana? Kata Nyonya saya disuruh j****t Non Rara,” jelas Pak Supri tanpa basa basi. “Tuh, masih tidur di sofa. Ke sini naik mobil apa, Pak?” tanya Rey yang ingin tahu akan hal ini. Sejujurnya ia mencemaskan mobil kesayangannya yang siapa tau dirusakan oleh ibunya. “Saya, naik mobil Mas Rey. Di suruh Nyonya.” Rey pun hanya menganggukan kepala saat mendengar jawaban dari sopirnya itu. Lalu tak lama, Pak Supri mengarahkan tubuhnya ke arah sofa ruang tengah dan hendak menyentuh Rara untuk menggendongnya. “E e e ehh … mau ngapain? Megang-megang anak orang!” seru Rey yang jadi panik sendiri. Ia lalu menghampiri Pak Supri dan juga Rara, dan langsung menggendong wanita itu sendiri. “Udah aku aja, yuk! Buruan!” Rey pun langsung bertindak dan bergegas ke luar apartemennya, menuju ke dalam mobilnya. Pak Supri masih berniat untuk menjaga Rara di kursi belakang. Namun niat baiknya itu kembali dicegah oleh Rey.  “E e e ehh … mau ngapain? Pak Supri yang nyetir sampe rumah! Aku yang jaga Rara. Enak aja nyuruh aku yang nyetir!” sentak Rey yang langsung mengambil alih. Setelah sudah sepakat dan keadaan sudah kondusif, mobil pun mulai dilajukan menuju kembali ke rumah Anita. Namun dalam perjalanan mereka pun kembali menemui nasib sial. CIIIITTTT… Suara rem mobil pun terdengar kencang, membuat mobil yang sedang mereka tunggangi jadi terhenti sejenak dalam perjalanan tersebut. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD