Gedebuk!
Rara yang tadinya tidur di pangkuan Rey, langsung jatuh menggelinding ke bawah kursi. Rey pun jadi marah-marah kepada sopirnya yang tiba-tiba menginjak rem mobil itu.
“Pak Supri gimana sih? Kenapa ngerem mendadak gitu? Kalau ngantuk bilang! Jangan kayak gitu nyetirnya,” omel Rey dengan tegurannya. Pria ini jadi syok setengah mati, takut terjadi apa-apa pada mereka yang ada di dalam mobil ini.
“Ma-maaf, Mas. Itu lho, ada kucing lewat nggak bilang-bilang dulu. Saya ‘kan juga kaget,” jelas Pak Supri dengan alasannya.
Baru saja Rey mau mengeluarkan ocehannya lagi, Rara pun kini terbangun dan merasa bingung dengan keadaan saat ini. Ia pun terduduk dan mengajukan pertanyaan saat pandangannya menyebar di sekitarnya.
“Hah? Di mana ini? Kenapa? Aku … mau dibawa ke mana?”
“Udah tidur aja. Ngapain bangun?” Rey malah jadi mengomeli Rara yang masih terlihat bingung. Pria ini masih merasa emosi, efek dari sopirnya yang mengerem mendadak.
“Rey? Kita … mau ke mana?” Rara masih saja menanyakan keadaan saat ini. Ia tak paham, kenapa dirinya bangun-bangun sudah bersama dengan Rey dan juga sopirnya, di dalam mobil.
“Makanya kalau tidur jangan kayak orang mati. Udah deh, tidur lagi aja sana. Kita mau balik ke rumah Mami,” jelas Rey dengan segala ucapannya yang sembarangan itu.
Rara berusaha memahami situasi saat ini. Ia lalu bangkit dari posisinya dan duduk di sebelah Reynaldi. Suasana menjadi hening.Tak ada lagi yang mereka ucapkan saat ini.
Pak Supri yang merasa bersalah dengan keadaan sekarang ini, berusaha untuk melanjutkan perjalanan dengan hati-hati. Ia tak ingin diomeli oleh Rey yang sangat menyayangi mobilnya ini.
***
Sesampainya di rumah, Pak Supri segera menghentikan mobilnya di depan teras rumah mewah milik keluarga Rey. Pria ini langsung turun dan membukakan pintu untuk Rara, dan berlari untuk membukakan pintu Rey juga.
Sayangnya, Reynaldi sudah membuka pintunya sendiri, alih-alih menunggu Pak Supri yang membukakannya. Rey terlihat masih kesal. Wajahnya masih terlihat cemberut dan tak mengungkapkan kata-kata lagi.
Hal ini membuat Supri menjadi ketar-ketir saat memikirkan nasibnya, yang sedang didiamkan oleh anak dari majikannya ini. Ia pun berusaha membuka obrolan pada Rey, supaya memastikan nasibnya baik-baik saja.
“Mas Rey, mau pulang bawa mobil apa nginep sini?” tanya pria ini dengan hati-hati.
Rey menatap sopirnya itu dengan tatapan dingin. Ia tetap diam, dan merebut kunci mobil yang sedang dipegang oleh pria tersebut, lalu pergi memasuki mobil bagian pengemudi.
“Mampus, Mas Rey marah,” gumam Pak Supri yang jadi lemas sendiri saat tahu reaksi Rey padanya.
Rey langsung mengemudikan mobilnya, meninggalkan rumah orang tuanya lagi, tanpa ada sepatah kata pun yang dia ucapkan. Rara yang menyaksikan hal ini pun menjadi bingung dengan situasi saat ini.
“Kenapa Pak? Kok, Rey, pergi lagi? Ini ‘kan udah malam,” ucap Rara yang jadi bertanya-tanya tentang sikap Reynaldi barusan.
“Kayaknya … Mas Rey, marah deh, Non.” Supri masih saja lemas saat mengatakan hal ini. Ia jadi makin bersalah, karena sudah membuat Rey jadi ngambek dengannya.
Rara yang masih bingung dengan penjelasan supir keluarga ini, menatap Pak Supri yang terlihat begitu lemas. Ia pun hanya bisa menepuk-nepuk pundak pria tersebut, dan berkata, “Sabar ya, Pak,” dengan ucapan lembutnya.
***
Dua hari lagi Rara masuk kuliah, namun, ia belum sempat mengunjungi kampusnya. Bahkan Rara pun jadi bingung tentang transportasi dari rumah ini menuju ke kampusnya itu.
“Naik ojek online, boros nggak ya?” gumam Rara sembari mengecek aplikasi di ponsel buntutnya.
Dia perlu mengecek hal ini karena keuangannya sedang tidak stabil. Rara hanya punya sisa uang beberapa ratus ribu saja, yang perlu ia gunakan sehemat mungkin sampai dirinya punya pekerjaan sambilan nantinya.
Jika dihitung-hitung, meski menggunakan ojek yang dikenal murah, tapi tetap saja jadinya mahal untuk Rara. Anak gadis ini pun jadi lemas sendiri dan berusaha memikirkan cara untuk menghemat transportasinya.
Tiba-tiba saja, Anita mengetuk pintu kamar Rara dan menyuruh wanita itu segera keluar kamarnya. “Ra, makan dulu, sarapan. Ada yang Mami mau bicarakan juga,” seru Anita memanggil Rara.
“Iya, Bu, bentar lagi keluar,” jawab Rara yang masih tidak terbiasa untuk memanggil Anita dengan sebutan Mami, seperti yang diminta oleh wanita itu sendiri.
Rara pun segera berjalan keluar dari kamar. Ia melangkahkan kakinya menuju ke meja makan, seperti yang disuruh oleh Anita barusan.
Terlihat ada seorang pria yang sudah duduk di meja makan itu dengan rapi. Terlihat tampan, namun dingin. Siapa lagi kalau bukan Reynaldi.
Rey duduk tanpa menatap ke arah sekitarnya. Dia hanya fokus mengolesi roti yang dipegangnya dengan selai coklat kesukaannya. Lalu ia pun menikmati makanannya itu, tanpa menggubris kehadiran Rara yang mulai mendekat ke meja makan yang sama dengannya.
‘Ini orang kenapa sih? Aneh banget. Kemarin bawel banget, sekarang diem. Ah, kalau diingat-ingat, waktu di karaoke itu, dia juga aneh. Kayak abis patah hati,’ batin Rara pun jadi mengingat beberapa kejadian dengan Rey.
Rara kemudian baru menyadari sesuatu, ‘Oh iya! Dia ini … nggak tau ‘kan? Kalau aku yang mandu karaoke waktu itu? Dia nggak inget ‘kan? Nggaklah, nggak bakal inget. Lagian dia mabuk waktu itu.’
Wanita ini menjadi panik sendiri, dan Rara pun berusaha menggelengkan kepalanya, untuk melupakan kejadian yang memalukan itu. Dia ingat betul kelakuan Rey yang hendak menodainya.
Namun, ia berharap Rey tak mengingat kejadian memalukan itu, dan menceritakannya pada ibunya atau bahkan tersebar pada orang tuanya nanti. Sungguh Rara tak ingin hal ini terjadi.
‘Semoga nggak. Dia nggak inget. Pokoknya tenang aja, Ra. Biasa aja. Dia itu pingsan waktu itu tanpa melihatku,’ ucapnya menegaskan pada diri sendiri dalam batin.
Rey kini memperhatikan sikap Rara yang terlihat aneh. Ia merasa bingung dengan wanita di hadapannya yang memejamkan mata beberapa kali dan menggelengkan kepalanya sendiri.
“Napa kamu? Kesurupan?” tanya pria ini dengan santainya, sambil mengunyah roti yang sudah dia buat barusan.
Rara pun kaget mendengar suara Rey, yang membuyarkan lamunannya. Ia jadi panik sendiri, dan membulatkan matanya sambil menggelengkan kepala, mengelak hal tersebut.
“E-enggak kok. Ya kali kesurupan pagi-pagi,” jawab Rara yang langsung mengalihkan pandangannya, mengambil roti yang ada di meja itu.
Anita yang baru saja menyiapkan s**u untuk kedua orang ini, kini meletakan gelas-gelas tersebut di atas meja. Ia pun duduk di ujung meja, yang memisahkan kedua orang yang sedang berhadapan itu.
“Mami mau ke luar kota dulu seminggu. Pak Supri ikut Mami. Bi Odah, juga ikut, biar Supri kerjanya bener. Jadi, Rey … Mami minta kamu anter jemput Rara dulu ya? Dia udah mulai kuliah dua hari lagi. Kalau bisa, kamu ajak dia muter-muter dulu keliling kota biar dia tau di mana kampusnya. Rara belum tau ‘kan di mana kampusmu nanti?”
Anita yang tadinya menatap putranya untuk menjelaskan keadaannya, kini menatap Rara yang sedang ditanyai olehnya. Rara hanya menggelengkan kepala, menjawab dengan canggung tentang pertanyaan Anita barusan.
Rey menatap ibunya dengan tatapan sinis. Ia lalu menatap Rara dengan tatapan yang makin sinis dari sebelumnya. Pria ini hanya meneruskan mengunyah makanannya tanpa mengatakan apapun untuk menjawab ibunya barusan.
Hingga akhirnya Anita menyentaknya. “Heh! Kalau diajak orang tua ngobrol itu dijawab Rey! Malah ngunyah terus!”
Rey menghentikan makannya. Ia pun meletakan rotinya, dan menatap ibunya, sambil mengajukan pertanyaan pada ibunya ini.
“Kalau aku nggak mau, apa Mami setuju? Nggak ‘kan? Aku tetep harus mau anter dia ‘kan?” tanyanya dengan santai.
Putranya Anita ini sangat hafal betul sifat dan sikap ibunya. Jadi, percuma jika dirinya melawan apalagi membuat perdebatan di pagi hari ini.
“Ya kan kantor kamu searah juga sama kamus Rara. Jadi ya, nggak apalah Rey. Ya? Anak Mami paling ganteng sendiri?”
Anita kini menggenggam tangan Rey sambil menatap wajah putranya dengan senyuman dan kedipan mata. Wanita ini berharap, putranya benar-benar mau meluangkan waktunya untuk mengantar jemput Rara.
Rey tiba-tiba bangkit dari kursinya. Dia menatap Rara, dan langsung mengajak wanita itu keluar dari rumah ini, untuk mengikutinya. “Buruan makannya. Aku tunggu di mobil,” ucap pria ini dengan singkat, dan langsung pergi keluar.
Hal ini membuat Anita dan Rara menjadi bingung. Namun, Anita jadi senyum-senyum sendiri melihat putranya yang kini mulai menawarkan diri kepada Rara secara lebih dahulu.
Rara yang merasa sedang tak siap dengan hal ini pun masih diam menyantap rotinya sambil menatap ke arah Rey yang sudah semakin menjauh. Lalu Anita pun kembali menegurnya.
“Ra, buruan! Itu pasti Rey mau ajak kamu keliling kota. Mumpung dia lagi baik, mending manfaatin aja. Yang jelas, bilang sama dia buat anter lihat kampusmu,” ucap Anita yang mendukung Rara untuk mendekatinya.
Rara pun jadi buru-buru sendiri mendengar kesempatan hal ini. Ia segera mempercepat makannya, dan mengambil beberapa keperluannya di dalam kamar. Setelah ia keluar, karena tak ingin merasa kelaparan lagi nantinya, Rara kembali meraih roti di meja makan dan membawanya ke luar bersamanya.
***
Di dalam mobil, selama perjalanan Rey hanya diam menatap ke arah depan. Hal ini membuat Rara menjadi canggung dan tak merasa enak dengan situasi ini.
Apalagi saat pikirannya mengganggu dengan kejadian waktu Rey yang hendak menyerangnya di tempat karaoke. Hal ini membuat Rara makin khawatir, jika dirinya akan diapa-apain oleh pria yang sedang duduk di kursi pengemudi itu.
Rara pun kini memutuskan untuk kembali makan roti yang dibawanya, dan berusaha untuk tidak memikirkan apapun tentang Rey, yang benar-benar mengganggu otaknya.
Namun, tiba-tiba saja Rey yang dari tadi diam, kini menanyakan sesuatu pada Rara yang membuat wanita ini kaget setengah mati.
“Kamu … pernah kerja di tempat karaoke nggak sih?”
Deg!
Uuhuuuk uuhukk … uhuk uhukk ….
Rara pun sukses tersedak, saat Rey menanyakan kalimatnya itu. Wanita ini kaget bukan main, dan rasanya ingin pergi menghilang saat ini juga, dari pada harus menjawab pertanyaan tersebut.
Bersambung...