Bab 12

1327 Words
“Rey, bangun, Rey. Katanya mau anterin aku ke kampus. Bangun dong, nanti aku telat,” ucap Rara yang sedang berusaha membangunkan Rey dalam tidurnya. Wanita ini terus saja menggoyangkan tubuh Rey yang masih tidur telungkup di sisi kasur pasien dan berharap pria tersebut segera bangun. Rey yang masih terlena dalam alam bawah sadarnya, kini malah terlihat sedang senyum-senyum sendiri sambil memanyun-manyunkan bibirnya seperti ikan cupang. Sikap Rey tersebut tentu membuat Rara jadi mengernyitkan dahi, merasa heran memandang pria yang ada di dekatnya itu. “Rey! Bangun! Kamu lagi mimpi jorok ya? Hiish! Dasar mesuuum!!” teriak Rara sambil menjitak kepala Rey, yang kemudian langsung terbangun karena kaget dengan sikap wanita ini. Rey menatap Rara dengan mata yang mendelik. Ia merasa terkejut melihat Rara yang malah marah-marah padanya. Padahal, baru saja ia merasa bahwa Rara telah mencium bibirnya dengan lembut dan bahkan begitu lirih memanggil namanya. Tapi sayangnya, itu hanyalah mimpi belaka. ‘Hah? Jadi yang tadi itu, cuma mimpi ternyata … untung saja,’ ucap Rey dalam batinnya.  Pria ini terlihat lemas, dan kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sambil mengatur nafasnya. Ia masih berusaha menyadari kenyataan hidupnya ini, dan berusaha melupakan mimpi yang menghampirinya tadi. Rey sesekali melirik ke arah Rara, ia pun kemudian berusaha mengingat kembali mimpinya barusan. Rey benar-benar tak menyangka, akan bermimpi hal seperti itu dengan wanita yang sedang bersamanya ini. Baginya kini jadi merasa menjijikan jika mereka harus melakukan hal seperti yang ada dalam mimpinya itu. ‘Sial! Ngapain juga tuh cewek masuk dalam mimpiku? Memangnya siapa dia, berani-beraninya menciumku dalam mimpi?’ keluhnya dalam batin. Pria ini masih saja mengeluhkan kejadian barusan dan kini bahkan menyalahkan Rara, yang padahal wanita itu jelas-jelas tak tahu menahu tentang mimpinya itu. “Woy! Rey! Kenapa diam aja? Ayo buruan siap-siap! Aku mau balik dulu ganti baju, abis itu ke kampus. Kamu jadi mau anterin aku apa nggak? Kalau nggak ….” Belum juga Rara menyelesaikan ucapannya Rey segera bangkit dari posisi duduknya dan menanggapi ucapan wanita itu langsung. “Ya, ya. Ya udah buruan kamu juga bangun. Aku cuci muka bentar,” ucap pria ini yang kini mengarahkan kakinya menuju ke kamar mandi ruangan tersebut. Rara menghela nafas lega. Setidaknya dia merasa beruntung karena Rey akhirnya bangun dan mau mengantarkannya sungguhan ke kampus. Karena jika tidak, tentu Rara akan menjadi bingung nantinya harus bagaimana. Maklum saja, dia masih belum tahu di mana letak kampusnya itu berada. Usai Rey menyelesaikan aktivitas pagi itu, mereka berdua pun akhirnya pergi dari rumah sakit ini menuju ke kediaman orang tua Rey. Jaraknya pun lumayan jauh, dan membuat Rara terus memperhatikan jamnya saat dalam perjalanan. “Kamu masuk jam berapa emang?” tanya Rey yang sengaja mengajukan pertanyaan tersebut setelah melirik Rara dan tahu jika wanita ini sedang resah. Rara pun jadi menoleh ke arah Rey, lalu menjawab pertanyaan pria itu dengan pelan, “Jam delapan.” sambil menundukan kepalanya lagi. “Cukuplah waktunya. Mau makan dulu masih cukup kok. Nanti kamu tenang aja, mandi jangan lama-lama. Lima menit selesai. Kalau nggak, ya nggak usah mandi. Cuci muka aja, pake deodoran, terus semprotin minyak wangi yang banyak di badanmu,” ucap Rey dengan usulannya yang memang biasa dia lakukan. Rara yang masih polos pun mengangkat salah satu alisnya. Ia merasa heran dengan ide itu, dan merasa konyol dengan pemikirannya Rey. Rara pun tak menanggapinya dengan serius dan hanya membalasnya dengan senyuman anehnya sebagai formalitas saja. “Hiss, dibilangin nggak percaya,” tambah Rey lagi, yang tahu bahwa Rara tak percaya dengan ucapannya itu. “Iya, iya percaya. Ya udah buruan sampe rumah. Biar aku bisa cepetan mandi, terus siap-siap,” desak Rara yang jadi mengintimidasi Rey. Pria itu pun segera menginjak pedal gasnya lebih dalam, hingga membuat mobilnya melaju kencang dan tak lama mereka berdua telah sampai ke kediaman orang tua Rey. Rara langsung turun dari mobil lalu segera memasuki rumah itu dan berlari dengan buru-buru ke dalam kamar tamu yang dia gunakan di rumah ini. Lalu ia segera mandi dan bersiap diri menuju ke kampusnya. Wanita ini hanya butuh sepuluh menit untuk mandi dan lima menit untuk bersiap diri. Memang, Rara selalu saja cuek dengan penampilannya. Meski bentuk tubuhnya sudah dari sananya bagus, wanita ini malah merasa tak percaya diri untuk memamerkannya. Ia hanya mengikuti norma yang berlaku dan tetap memilih berpenampilan natural tanpa make up. Rara kini memakai rok hitam dan kemeja putih yang masih saja menjadi seragam wajib untuk mahasiswa baru. Ia memandang cermin yang memantulkan bentuk tubuhnya itu, dan merapikan dirinya sebaik mungkin. Rara ingin hari pertamanya di kampus memberikan kesan baik untuk teman-temannya nanti. Wanita ini segera keluar dari kamar. Pandangan matanya kini langsung tersorot ke arah Rey yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, di meja makan yang dekat dengan ruangan yang ditinggalinya itu. Ia merasa penasaran, apa yang telah dibuat dan disajikan oleh pria ini. “Kamu bikin apa, Rey?” tanya Rara dengan hati-hati. Rey pun kini mengangkat wajahnya dan menatap Rara sekilas, lalu menjawabnya, “Bikin sosis, telur, sama nugget goreng. Buruan makan.” Rara menyimpulkan senyuman di wajahnya. Ia tak menyangka, jika Rey yang selalu saja jutek dengannya, ternyata bisa seperhatian ini untuk mau repot-repot membuatkannya sarapan. Tentu saja wanita itu tak ingin menyia-nyiakan hal ini. Ia segera mengambil sarapannya, dan bergegas keluar dari rumah ini. “Heh, mau ke mana? Makan dulu yang bener,” pinta Rey yang merasa aneh dengan Rara barusan. “Udah, ayo buruan, Rey. Nanti aku telat, mau tanggung jawab kamu?” Rara sudah tak memperdulikan ucapan Rey barusan. Baginya yang terpenting kali ini, dirinya bisa segera sampai di kampusnya. *** Sesampainya di kampus negeri terbesar dan terbaik di ibu kota ini, Rey celingukan memandangi mahasiswa baru yang nampak memasuki gerbang salah satu gedung serba guna. Ia pun lalu memandangi Rara yang sedang riweh, mengecek barang bawaannya tersebut. “Cari apaan sih?” tanya Rey yang merasa penasaran dengan sikap Rara saat ini. “Nggak kok. Cuma ngecek aja. Udah, nih, udah selesai. Kalau gitu … aku masuk dulu ya, makasih udah dianterin,” ucap Rara sambil tersenyum manis mengarah pada Rey. Melihat senyum menawan itu, sungguh membuat jantung Rey menjadi berdebar lebih kencang. Ia pun jadi bingung sendiri dengan keadaannya saat ini dan berusaha untuk tetap waras menanggapi perasaannya itu. ‘Tenang, tenang, Rey … kenapa aku jadi seperti ini sih?’ batinnya yang mempertanyakan sendiri sikapnya itu. Rara pun kini membuka pintu mobilnya, dan melangkahkan salah satu kakinya ke luar dari mobil tersebut. Hampir saja Rara segera pergi, namun Rey pun berusaha mencegahnya sejenak. “Ra. Emang kamu berani, di kampus sendirian? Nggak mau ditemenin gitu?”  Entah mengapa pertanyaan bodoh ini keluar begitu saja dari mulut Rey. Pria ini pun menyadari bahwa dirinya memang salah bicara, namun berusaha untuk tetap elegan, pura-pura merasa pertanyaannya benar dan masuk akal. Rara tentu langsung menoleh ke arah Rey, sambil mengernyitkan dahinya. Kali ini ia malah merasa bahwa dirinya sedang diejek oleh Rey dengan pertanyaan konyolnya barusan. “Emangnya aku anak TK apa? Yang harus ditemenin? Rese’ banget sih, nanyanya. Udah ah, aku pergi dulu. Bye.” Rara berucap tegas, dan ia pun segera turun dari mobil Rey, tanpa memperdulikan pria itu lagi. Sikap Rara barusan sukses membuat Rey malu sendiri dan menjadi salah tingkah. Ia tak menyangka, bahwa dirinya akan berucap seperti itu pada Rara, tanpa memikirkan ucapannya dengan baik. “Bisa-bisanya aku bilang, nggak mau ditemenin? Emangnya aku mau nemenin dia gitu maksudnya? Apa-apaan sih kamu Rey …,” ucap pria ini yang sedang menyalahkan dirinya. Rey pun kini jadi lemas sendiri karena malunya. Tak berapa lama, ponselnya bergetar. Terlihat ada pesan yang memasuki telepon genggamnya itu. Saat diamati, ternyata pesan itu dari Rara. Reflek, Rey segera meraih ponselnya tersebut, dan membuka pesan yang telah dikirimkan Rara barusan. Rara : [Rey, pulangnya nanti aku nebeng lagi ya? Mungkin sorean / malam. Boleh kan?] Membaca pesan dari wanita itu saja, tiba-tiba membuat Rey senyam senyum sendiri tak jelas. Entah mengapa hanya dengan pesan singkat itu, dirinya pun jadi merasa bangga karena merasa dibutuhkan oleh Rara. Bersambung…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD