Karena Cynthia memaksa Rey terus menerus, akhirnya dia terpaksa memenuhi permintaan wanita tersebut. Namun ia pun mengajukan syarat pada sahabatnya itu.
“Aku temenin, tapi kamu pulang ke rumah. Nggak usah minta yang aneh-aneh,” ucapnya tegas.
“Iya, aku bakal pulang ke rumah kok. Ke rumah kamu maksudnya.” Cynthia kini malah merangkulkan tangannya ke lengan Rey, dan menggelayutinya dengan manja. Sungguh membuat Rey jadi salah tingkah karena sikap wanita yang ia sukai itu.
“Udah ah, buruan. Sekarang aja perginya. Pasti kamu bakal lama nanti di Mall. Malesin.” Rey sengaja melepaskan genggaman Cynthia. Ia pun segera berjalan ke arah pintu dan keluar dari ruangannya.
Tentu saja Cynthia membuntutinya. Ia mengejar Rey yang sikapnya masih saja dingin dengannya. Wanita ini masih saja belum menyadari bahwa Rey bersikap demikian karena dirinya yang hendak menikah itu.
***
Di salah satu Mall terbesar di ibu kota ini, Rey benar-benar dibuat pusing oleh Cynthia yang masih saja betah memasuki outlet pakaian yang ada di dalam sana.
Untung saja dia sudah terbiasa seperti ini jika mengantarkan ibunya. Meski demikian, Rey tetap saja tak menyukai kegiatan tersebut.
Baginya, wanita-wanita yang hobi shopping seperti ini sangatlah merepotkan. Hanya suka membuang uang dan membuang waktu untuk memilah milah barang yang sebetulnya tidak terlalu mereka butuhkan.
“Udah belum? Laper nih, makan dulu ajalah,” ucap Rey yang sudah mulai protes kepada sahabatnya itu.
“Bentar, satu lagi Rey. Kamu bantu pilih baju aku dong, yang di tempat lingerie itu.” Cynthia menunjuk ke arah yang ia maksud. Ternyata wanita ini memang ingin membeli dalaman wanita, dan dengan santainya mengajak Rey memasuki outlet tersebut.
Hal ini tentu membuat Rey panik sendiri. Ia terlihat ketar ketir menatap sekitar, saat Cynthia sengaja menariknya menuju ke dalam tempat tersebut.
“Kamu bantu pilih Rey, bagus ini apa ini?” Cynthia tiba-tiba meraih bra dengan renda yang berwarna hitam dan satu lagi berwarna merah. Ia pun mengarahkan pada bagian dadanya dan menyuruh Rey untuk memilih.
“Hiss! Kamu gila apa? Mana aku tau sukaanmu yang mana! Udah ah, buruan. Dikira nanti aku suamimu lagi,” ujar Rey yang terlihat was-was.
“Dih, cuma bantu pilih kok susah amat sih Rey?!” Wanita ini mulai merajuk, menampilkan wajah dengan bibir manyunnya.
Rey menatap Cynthia dengan tak enak hati. Ia merasa tak nyaman berada di sini, karena merasa malu harus melihat banyak dalaman wanita di dalam ruangan ini.
Namun, karena ia tak ingin membuat sahabatnya itu bersedih, Rey langsung berusaha menjawab sembarangan supaya cepat selesai urusan belanja ini.
“Yang item aja udah,” jawabnya singkat sambil mengalihkan pandangannya.
Cynthia pun tersenyum. Ia benar-benar mengambil pilihan Rey dan memasukkannya dalam keranjang belanjaannya. Lalu ia pun kembali memilih pakaian lainnya, dan tetap ditemani oleh pria tersebut.
“Eh, Rey, kalau aku pakai ini? Bagus nggak?” Cynthia kini kembali memilih lingerie tipis berbentuk dress mini. Bahkan bagian dadanya pun terlihat sangat terekspose dan mampu membuat para pria jadi berkhayal hanya dengan melihat pakaian tersebut.
Rey yang berusaha menahan diri, kembali menanggapi ucapan sahabatnya itu lagi dengan ucapan ngawurnya, “Mana ku tau bagus apa nggak, lagian aku kan belum liat body mu. Kalau suka ya ambil aja.”
“Jadi … kamu mau liat?” sindir Cynthia yang sembari menggoda pria di hadapannya itu.
Jtok…
“Udah gila kamu?” Rey malah menjitak kepala Cynthia dan mengejeknya. Ia pun pergi berlalu meninggalkan wanita itu, keluar dari outlet tersebut.
Cyhntia berusaha mengejar Rey, ia tak ingin ditinggalkan pria tersebut. “Rey tunggu! Jangan tinggalin aku,” ucap wanita ini dengan nada manjanya.
Mereka pun melanjutkan kegiatannya hari ini yang seharian berbelanja, makan dan menonton bioskop. Sungguh sangat padat kegiatannya.
Hingga akhirnya, mereka telah selesai melakukan kegiatannya itu. Seperti orang yang sedang kencan berduaan. Cynthia tampak senang karena apa yang dia inginkan menjadi kenyataan saat ini.
Keduanya kini segera memasuki mobil dan hendak melanjutkan perjalanan selanjutnya. Rey pun sudah tak sabar untuk segera pulang, langsung mengucapkan ajakannya tersebut.
“Kamu pulang ke rumah ortumu ‘kan? Aku capek banget soalnya,” ujar Rey dengan begitu jujur..
Cynthia kini langsung murung. Wajah cerianya tadi tiba-tiba berubah langsung jadi masam. Ia rasanya tak ingin pulang dan tetap bersenang-senang dengan sahabatnya ini.
“Napa lagi mukamu kayak gitu?” Rey pun jadi penasaran dengan sikap sahabat wanita yang tak jelas ini.
“Kita … ke hotel aja yuk, Rey,” pinta wanita ini dengan suara pelan. Cynthia pun sengaja menampilkan wajah melasnya supaya dapat merayu Rey dan mau mengantarkannya ke hotel.
“Kalau nggak, aku nginep di apartemenmu aja. Boleh ya?” Masih saja Cynthia berusaha untuk membukuk Rey.
Hal tersebut sempat membuat Rey terdiam sejenak. Ia merasa wanita ini sedang ada masalah makanya sampai bersikap seperti sekarang.
Namun, ia memilih untuk tidak mencampurinya. Rey kini malah beru teringat dengan Rara yang masih ada di dalam apartemennya. Ia lalu menatap jam tangannya yang sudah menunjukan pukul sembilan malam.
‘Udah jam segini. Rara … gimana? Kenapa dia nggak kasih kabar?’ ucap Rey yang jadi bertanya-tanya sendiri.
“Rey? Kenapa diam aja?” Cynthia merasa penasaran dengan sikap Rey yang tidak juga memberikan jawaban. Ia masih saja memperhatikan pria di sebelahnya itu.
“Ah. Aku antar ke rumahmu. Udah malem nggak usah aneh-aneh.” Rey kemudian langsung menyalakan mobilnya dan bergegas melajukannya menuju ke rumah Cynthia.
Karena Rey sudah bertekad, Cynthia tak dapat memaksakan kehendaknya lagi dan terpaksa menyetujui pria tersebut.
***
Sesampainya di apartemennya, Rey yang baru masuk ke dalam tempat tinggalnya itu menemukan Rara yang sedang terbaring di sofa ruang tengahnya.
Ia melihat ruangannya begitu berantakan dan tivi pun masih menyala dengan volume cukup keras di malam hari, pria ini mulai mengamuk dan memarahi Rara.
“Astaga! Rara! Kamu itu apa-apaan sih? Gila aja tempatku jadi kayak kapal pecah gini!” seru Rey yang kini bertolak pinggang memperhatikan hal ini.
Ia lalu mendekati Rara untuk menegurnya lebih lanjut. Namun, ia malah melihat Rara berkeringat dan menggigil kedinginan. Hal ini tentu mengejutkan dirinya.
“Ra? Kamu kenapa? Rara? Hais!” Rey yang merasa panik langsung menggendong wanita ini dan membawanya ke dalam mobil. Ia bergegas ke rumah sakit karena Rara terlihat begitu kesakitan.
Hingga akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit dan Rara langsung diperiksa oleh dokter yang ada di sana. Rey masih menantikan kabar dari dokter tentang keadaan Rara yang masih belum sadarkan diri. Lalu tak lama, dokter pun menghampirinya.
“Udah, nggak apa. Dia lagi demam, dan sepertinya … telat makan. Asam lambungnya tinggi. Tapi kamu tenang aja Rey, bentar lagi juga udah baikan dia,” ucap sang dokter yang memang kenalan keluarga Rey.
“Yakin nggak apa, Dok? Jangan kasih tau Mami tentang hal ini ya,” pinta Rey yang takut ibunya khawatir jika tahu tentang hal ini.
“Hm? Hmmm … oke oke. Tapi, dia siapa? Cewekmu? Nggak direstuin sama Mami kamu?” Dokter ini pun jadi menebak-nebak sendiri hubungan Rey dan wanita itu.
“Nggak. Dia anak temen Mami. Kalau Mami tau nanti dia ngomel dikira aku yang bikin sakit,” jelasnya dengan perasaan jengkel. Dokter itu pun hanya tertawa menanggapi sikap Rey yang terlihat kesal sendiri.
“Oh, gitu. Ya udah, sana temenin dia. Kalau udah sadar boleh balik, tapi karena ini udah malem, mending opnam sekalian aja,” jelas dokter ini dan langsung pergi meninggalkan Rey.
Rey kemudian menghampiri Rara. Terlihat wanita itu sudah terbangun dengan wajah bingungnya dan menatap Rey yang baru saja mendekat ke dirinya.
“Rey? Kenapa … aku di sini?” tanyanya penasaran.
“Kamu itu emang ngerepotin! Kenapa juga pake pingsan terus? Dikira badanmu enteng apa?” Rey malah jadi marah-marah sendiri melihat keadaan Rara.
“Hm? Ah … maaf, Rey.”
“Udah tidur aja. Nggak usah banyak nanya nggak usah banyak tingkah.”
“Rey, aku mau balik aja. Aku belum siapin keperluan buat ke kampus. Bahkan aku juga belum tau kampusku di mana.”
Rara menatap pria itu dengan wajah polosnya, membuat Rey tak dapat berkutik untuk memperhatikan wajah imut itu.
“Udah, nggak usah dipikirin. Besok aku antar kalau kamu udah baikan. Mending istirahat aja dulu, dari pada kamu ngerepotin aku lagi nantinya,” ucap Rey dengan nada kesalnya.
Hal ini membuat Rara merasa amat bersalah. Ia pun merasa dirinya memanglah menjadi beban untuk orang lain karena tak dapat menjaga diri.
Rey segera memperbaiki selimut Rara. Lalu ia duduk di samping kasur dan memperhatikan Rara yang malah melamun memikirkan sesuatu.
“Heh! Tidur! Katanya besok mau ke kampus? Awas aja kalau bangunmu siang. Aku tinggal!” oceh pria ini lagi.
Rara pun akhirnya memaksakan diri untuk tidur, begitu juga Rey yang lama-lama jadi mengantuk sendiri. Ia merasa kelelahan usai menemani Cynthia yang hampir seharian berkeliling Mall.
Saat mereka tertidur pulas, Rey yang masih memejamkan mata tiba-tiba didekati oleh Rara yang langsung duduk di pangkuannya. Wanita itu pun memanggilnya dengan lembut sambil meraih wajah Rey untuk membangunkannya.
“Rey … bangun,” ucapnya lirih.
Rey membuka matanya, dan seketika … Rara mendekatkan bibirnya ke bibir Rey, dan menciumnya lembut, membuat pria itu tak dapat berkutik dalam posisinya ini.
Bersambung….