Rey berusaha menahan diri dan menguasai dirinya sendiri. Ia merasa bersalah pada Rara namun entah mengapa sikap yang ditampakkan selalu saja seperti barusan. “Argh! Harusnya nggak kayak gini ‘kan?” ucapnya bertanya-tanya sendiri, sambil menjambak-jambak rambutnya. Benar-benar dirinya merasa bersalah atas apa yang terjadi barusan. Saking merasa bersalahnya pria ini, ia pun berusaha menurunkan egonya, dan berniat untuk meminta maaf pada Rara. “Re, tadi itu salah. Wajar Rara jadi marah. Sebaiknya cepet minta maaf, dan buat dia nggak marah lagi,” ucap pria ini yang sedang berdialog sendiri pada dirinya. Ia pun memutuskan untuk mendekati pintu kamar Rara dan hendak mengucapkan kalimat maafnya. Hanya saja, rasa gengsinya pun kembali menguasainya. “Hais! Nggak! Ngapain aku harus ngelakuin itu

