7

1168 Words
Nadine berlarian keluar dari gang sempit di belakang kontrakannya. gaun navy ia cincing menghindar kubangan air. Ia menghentikan ojek online dan naik tanpa banyak bicara, hanya menyebutkan, “Grand Aurelia Hotel, secepatnya, Mas.” Sepanjang perjalanan, Nadine diam. Tangan kanannya memeluk tas kecil yang berisi kotak kalung, hadiah dari Adrian bertahun-tahun lalu. Hati wanita itu kacau. Sekujur tubuhnya berkeringat, entah karena gugup, hangover, atau udara yang memang panas pengap. Baru lima belas menit perjalanan, motor yang ia tumpangi berhenti mendadak. “Waduh, Maaf, Kak. Kayaknya bannya kempes,” ujar sang driver sambil menoleh khawatir. Nadine mendongak cepat, panik. “Tapi aku harus sampai sekarang juga! Ada pernikahan…” “Saya ganti ban dulu, paling cepat setengah jam. Atau Mbak mau ganti kendaraan?” Nadine memutar kepala, mencari kendaraan lain. Tapi jalanan macet dan padat. Tak satu pun taksi lewat. Ojek online lain juga sulit ditemukan karena sinyal di gang tersebut lemah. Ia mencoba membuka aplikasinya, tapi ponselnya lag—baterai 8%, dan cuaca membuat jaringan semakin parah. Waktu seolah melawan. Matanya berkaca-kaca. “Astaga jangan sekarang,” bisiknya. Ia memutuskan turun dan berjalan kaki ke jalan besar. Tumit sepatunya, satu-satunya yang masih tampak “pantas”, terus terperosok ke trotoar berlubang. Gaun lusuhnya tersibak oleh angin, dan membuat orang-orang melirik aneh. Belum sampai lima langkah, BRUK! Tubuh Nadine terhuyung. Seorang pengendara sepeda listrik yang melaju terlalu cepat menabraknya dari samping. Tubuhnya jatuh ke aspal panas. Tangannya tergores, lututnya berdarah. “Maaf, Mbak! Nggak sengaja!” ucap pengendara panik, lalu pergi begitu saja, tanpa membantu. Nadine terduduk di pinggir trotoar. Gaun lusuh itu kini robek sedikit di bagian bawah. Debu dan noda jalanan menempel. Tangannya gemetar saat mengambil kembali kotak kalung yang nyaris terlempar. Orang-orang lewat begitu saja. Tak satu pun berhenti. Air matanya mengalir. Ia ingin menyerah. Namun, hatinya menolak. “Aku harus datang. Sekalipun hanya untuk menyerahkan ini…” Dengan tertatih, Nadine kembali berdiri. Ia menghentikan taksi tua yang lewat. Supirnya menatapnya ragu-ragu melihat tampilan Nadine yang acak-acakan. Tapi Nadine membuka dompet kecilnya dan mengulurkan selembar uang terakhir yang ia punya. “Ke Grand Aurelia, Pak. Tolong…” Supir itu akhirnya mengangguk. Mobil taksi tua itu berhenti di pelataran megah Grand Aurelia Hotel. Lantai marmer mengilap, air mancur menari di tengah taman bundar, dan deretan mobil mewah terparkir rapi, memantulkan kemilau langit senja yang mulai merona. Nadine turun perlahan. Langkahnya tertatih. Tumit sepatunya nyaris patah. Ujung gaunnya kotor oleh tanah dan sobek di satu sisi. Luka di lututnya sudah mengering tapi masih perih saat digerakkan. Tangan kanannya menggenggam erat kotak kecil berisi kalung dan undangan. Sementara rambutnya yang tadinya dikuncir rapi, kini berantakan, terurai ditiup angin. Ia menatap hotel megah itu dengan napas berat. “Ya Tuhan. Kuatkan aku,” gumamnya lirih. Begitu masuk ke lobi, hawa dingin AC menyambut tubuhnya yang masih hangat oleh peluh dan luka. Musik klasik mengalun lembut dari grand piano di sudut ruangan. Para tamu dalam balutan gaun rancangan desainer ternama dan setelan jas mahal mondar-mandir di depan matanya. Mereka semua terlihat sempurna. Dan Nadine… terlihat seperti noda di atas kain putih. Beberapa tamu melirik heran. Seorang wanita muda bahkan menahan napas dan berbisik pada temannya, “Dia siapa? Kenapa kayak gitu?” Nadine pura-pura tidak mendengar. Ia melangkah mantap menuju meja informasi. “Permisi…” suaranya lirih. “Ballroom Evelyn & Adrian?” Resepsionis wanita itu sempat memandang Nadine dari atas ke bawah, lalu tersenyum tipis. “Lantai 3, Ballroom Aurelia. Tapi… ehm, acara inti sudah selesai sejak siang, Bu.” Wajah Nadine menegang. “Sudah… selesai?” “Iya. Sekarang sesi makan malam dan dansa. Tapi... kalau Ibu masih ingin naik, silakan. Lift di sebelah kanan.” Nadine tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan dan berjalan ke arah lift. Setiap langkahnya terasa berat. Seolah setiap detik adalah pengingat bahwa ia sudah terlambat… seperti biasa. Di dalam lift, ia berdiri sendiri. Lampu emas menyinari wajahnya dari atas, memantulkan bayangan luka dan air mata yang ia tahan mati-matian. Saat pintu lift terbuka di lantai 3, suara tawa, musik jazz, dan denting gelas menyambut telinganya. Ballroom megah itu penuh cahaya dan kemewahan. Langit-langit dihiasi kristal. Taplak-taplak putih tertata sempurna di meja bundar. Para tamu tertawa, berdansa, mencicipi canape eksklusif dan sampanye impor. Di tengah ruangan, Evelyn dan Adrian berdiri berdampingan. Evelyn terlihat memukau dalam gaun pengantin putih gading yang mewah, sementara Adrian tampak gagah dalam tuksedo hitam dengan dasi kupu-kupu perak. Mereka adalah pasangan sempurna. Sebuah lukisan hidup. Sampai... Nadine melangkah masuk. Langkahnya pelan. Tapi cukup mencuri perhatian. Semua mata menoleh ke arahnya. Terdiam. Ada yang terkejut. Ada yang mencibir. Ada yang tertawa sinis menutup mulut. Seorang tamu pria bahkan berbisik, “Siapa itu? Gelandangan nyasar?” Nadine tak memedulikan sorot mata tajam yang menyayat. Ia melangkah mantap meski lututnya gemetar. Pandangannya cepat menyapu ruangan, mencari sudut yang paling jauh dari pusat perhatian—dan ia menemukannya. Sebuah meja kecil di pojok ruangan, nyaris tersembunyi di balik pilar marmer dan pot besar berisi bunga lili putih. Tempat itu tidak terang, bahkan agak temaram karena lampu gantung tidak menjangkau sepenuhnya ke sana. Hanya ada satu kursi yang kosong. Dan itulah tempat yang Nadine pilih. "Syukurlah ada tempat yang layak untukku," syukur wanita itu. Ia berjalan ke arah sana, perlahan, seolah menyusuri mimpi buruk yang tak kunjung usai. Gaunnya menyeret lantai, menimbulkan suara gesekan halus. Ia menarik kursi dengan hati-hati, lalu duduk. Napasnya terengah. Pundaknya lelah. Dari sudut itu, ia bisa melihat semua. Evelyn yang tertawa sambil menggenggam tangan Adrian. Para tamu yang bercanda sambil mengangkat gelas anggur. Musik lembut yang kembali mengalun, seolah tak pernah ada gangguan. Pelayan yang berdiri di dekat buffet sempat meliriknya ragu. Tapi ketika Nadine hanya diam, menunduk, dan tidak membuat keributan, pelayan itu akhirnya menghampiri dengan piring kosong. “Mau saya ambilkan makanan, Bu?” tanyanya sopan, meski sorot matanya menyiratkan kebingungan. Nadine mengangguk pelan. “Apa saja… asal halal.” Tak lama kemudian, satu piring berisi potongan salmon panggang, mashed potato, salad segar, dan seiris kecil quiche diletakkan di hadapannya. Gelas berisi air mineral dingin menyusul. "Astaga. Makanan di sini sangat mewah. Bahkan dua hari ini aku harus mengais sampah untuk mengganjal perut." Nadine menatap makanan itu dengan hampa. Perutnya lapar, tapi hatinya terlalu perih. Lalu perlahan dengan tangan gemetar, ia menyendokkan sedikit mashed potato. "Bagaimana rasa makanan mahal ini?" batinnya terenyuh. Aroma sudah menggelitik hidungnya. Indera penciuman sudah menstimulus kalau makanan itu enak. Suapan pertama bahkan belum sempat sampai ke mulut Nadine, ketika suara hak sepatu stiletto bergema menembus musik dan riuh rendah ballroom. Langkah cepat dan penuh determinasi itu datang mendekat, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan meja Nadine. "Aku nggak percaya…" suara itu dingin, datar, tapi cukup keras untuk membuat meja-meja terdekat mulai terdiam dan melirik. "Nadine?" Nadine mendongak. Matanya melebar, menatap orang tersebut. Evelyn berdiri di sana. Anggun dan tak bercela dalam gaun pengantin dengan ekor renda yang menjuntai, rambut disanggul elegan, riasan sempurna. Namun, mata Evelyn menatapnya seperti melihat sesuatu yang menjijikkan. “Apa yang kamu lakukan di sini?” lanjut Evelyn dengan nada yang lebih tajam. “Kamu nggak diundang.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD