Nadine menatap Evelyn. Mata mereka bertemu.
Ia bisa saja menunduk. Bisa saja pergi, tapi tidak kali ini.
Dengan perlahan, Nadine meletakkan garpu di atas piring, lalu mengusap sudut bibir yang bahkan belum tersentuh makanan. Ia berdiri. Walau tubuhnya ringkih, sorot matanya tak lagi goyah.
“Aku tahu aku nggak diundang,” jawab Nadine pelan, tapi terdengar jelas. “Tapi aku datang bukan untuk makan... atau merusak pestamu.”
Beberapa tamu makin menoleh penasaran. Seorang fotografer bahkan mengangkat kamera, ragu, sebelum diperingatkan pelan oleh panitia. Musik masih mengalun, tapi volumenya menurun, tertelan suasana.
Evelyn menyilangkan tangan di d**a. “Lalu kenapa kau di sini? Mau minta simpati? Mau bikin drama?”
Nadine menggeleng. Ia membuka tas kecil di tangannya, lalu mengeluarkan sebuah kotak beludru tua—kotak kalung yang sejak tadi ia genggam erat.
“Aku cuma mau mengembalikan ini,” katanya. Ia melangkah maju, menembus pandangan orang-orang yang mulai membentuk lingkaran tak kasat mata di sekeliling mereka.
Kini hanya beberapa langkah memisahkan Nadine dari Evelyn.
Ia menatap wanita itu dalam-dalam. “Buat Adrian. Ini miliknya."
Evelyn dengan senyum penuh kemenangan mendekati Nadine dan berkata dengan suara keras agar semua orang mendengar.
“Oh, lihat siapa yang masih belum move on? Kau sungguh menyedihkan, Nadine.”
Nadine diam, tangannya meremas kotak beludru itu sangat erat. Beberapa tamu mulai tertawa sinis.
Evelyn terus menghina, suaranya semakin keras.
“Apa kau benar-benar berpikir Adrian akan memilihmu? Lihat dirimu! Kutu buku menyedihkan yang tidak punya daya tarik sama sekali! Aku jauh lebih baik darimu, itulah kenapa Adrian memilihku!”
Evelyn tertawa kecil, tajam dan menusuk.
“Kau datang dengan gaun compang-camping, sepatu hampir copot, dan wajah penuh luka. Sungguh… simbol sempurna dari hubunganmu dengan Adrian, berantakan dan memalukan.”
Tawa makin terdengar dari beberapa tamu. Nadine menunduk sebentar, tapi bukan karena malu—melainkan untuk mengendalikan diri.
“Lihat sekeliling, Nadine,” lanjut Evelyn, melambaikan tangannya dramatis ke arah ballroom yang megah. “Ini dunia kami sekarang. Kemewahan, keanggunan, kekuasaan. Kau tak termasuk di sini. Kau hanyalah bagian kecil dari masa lalu Adrian yang ia buang seperti debu.”
Ia mendekat, nyaris berbisik, tapi cukup keras agar beberapa orang masih bisa mendengar.
“Kau tahu kenapa aku biarkan kau berdiri di sini? Karena aku ingin semua orang melihat betapa rendahnya kau dibanding aku.”
Lalu ia melangkah setengah lingkaran, mengitari Nadine seolah menelanjangi harga dirinya di depan umum. Meskipun ia sudah mencari area paling pojok dan terasingkan, kedatangan tokoh utama pesta ini, jelas menjadi spotlight tamu undangan.
“Katamu kau mau kembalikan sesuatu?” Evelyn menatap kotak kecil itu dengan jijik. “Kau pikir kalung murahan itu punya nilai? Adrian bahkan tidak ingat pernah memberimu itu. Semua pemberian untukmu pasti juga sekadarnya. Karena itulah nilai yang kau punya hanya sekadarnya.”
Nadine masih diam. Tapi jemarinya tak lagi gemetar.
Evelyn menyeringai puas, menyangka Nadine sudah cukup dipermalukan.
“Jadi sebelum aku panggil satpam untuk menyeretmu keluar, lebih baik kau pergi. Dengan sisa-sisa martabat yang kau punya—kalau masih ada.”
Ruangan hening. Semua menanti apakah Nadine akan lari terbirit seperti dalam sinetron atau jatuh menangis di lantai.
"Jadi seperti ini caramu memperlakukan tamu undangan yang secara pribadi kamu undang?" Graham Nadine mengeras.
Kedua alis pengantin wanita itu mengerut. Salah satu sudut bibirnya terangkat. "Mengundang?" Dia melihat Nadine dari atas sampai bawah. "Memang siapa yang mengundangmu?"
Evelyn tertawa jenaka, beberapa tamu pun tergelak merespon tawanya. Apalagi dia memiliki banyak geng yang selalu mendukungnya, kapanpun dan di mana pun.
Tawa Evelyn seperti peluit tanda mulai. Seketika, komentar-komentar tajam dari para tamu mulai terdengar, satu per satu, menusuk dari segala arah.
Seorang wanita paruh baya dengan kalung mutiara besar di lehernya berkata lantang sambil menyeringai, “Kalau memang diundang, pasti nggak bakal datang kayak pengemis.”
Seorang pria muda dengan jas abu-abu dan gelas sampanye di tangan menimpali sambil terkekeh, “Mungkin dia pikir ini audisi untuk acara reality show: Wanita Malang Mencari Perhatian.”
“Duh, kasihan banget ya, ditinggal mantan tapi masih ngejar ke pesta nikahnya?” celetuk seorang gadis muda dengan gaun merah menyala. “Desperado abis.” Nadine tau kalau itu Yeli, teman geng Evelyn. Yeli sering sekali mengganggunya, bahkan merampas buku catatannya saat masa kuliah dulu.
“Tuh orang kayak keluar dari got,” bisik tamu wanita lain ke suaminya. “Lihat deh, lututnya berdarah. Mana kayak tamu hotel bintang lima?”
“Kalau aku jadi Evelyn, udah kulempar pakai wine botol. Ganggu banget auranya,” kata seorang influencer yang live-streaming diam-diam dari ponselnya. “No class at all.” Itu adalah Xenia, se-geng Evelyn yang tak kalah sadis. Meskipun wajahnya mejadi lebih cantik karena operasi plastik, nyatanya itu tak membuat sifat wanita itu berubah.
Seorang pria tua dengan jas kebesaran ikut bergumam sambil mengunyah canapé, “Perempuan seperti itu seharusnya tahu tempat. Bikin malu diri sendiri aja.”
Suara lain menyusul dari arah bar. “Evelyn tuh udah sabar banget lho, kalo aku sih udah dari tadi panggil sekuriti.”
“Udah jelas fake victim. Pasti dia ngaku-ngaku pacarnya Adrian dulu. Klasik. Mau numpang nama buat pansos,” timpal seorang wanita yang duduk di meja bundar, tak jauh dari tempat Nadine berdiri.
“Bisa-bisanya masuk ke hotel kayak gini. Nggak dicek apa satpamnya? Udah kayak hantu masa lalu yang nggak tahu malu,” seru seorang remaja pria sambil menertawakan Nadine bersama dua temannya.
“Ini pasti yang dulu pernah ganggu hubungan mereka. Nah tuh kan bener, ketahuan belum bisa move on. Gila!” kata wanita bergaun biru muda, sambil melirik Nadine dengan ekspresi jijik.
“Pura-pura kasih barang, padahal maksudnya mau tampil dramatis. Pasti pengen Adrian kasihan dan batal nikah. So pathetic,” celetuk seorang tamu pria dengan jas putih yang berdiri di dekat kolam es sampanye.
Nadine tetap diam. Ia menyadari satu hal penting, ruangan ini tidak akan pernah memberinya validasi. Mereka sudah memutuskan siapa yang “pantas” dan siapa yang “tidak”.
Mereka adalah penonton setia dalam teater kemunafikan. Dan dirinya… bukan bagian dari naskah mereka.
Evelyn, masih berdiri dengan d**a tegak dan senyum puas, melirik sekeliling. “Lihat kan, Nadine? Bukan cuma aku. Semua orang tahu tempatmu bukan di sini.”
Nadine menatap Evelyn lama. Lalu matanya menyapu kerumunan yang mencemooh dan mentertawakannya.
“Aku tidak datang untuk kalian. Aku tidak butuh pengakuan dari orang-orang yang bahkan tak tahu ceritanya… tapi merasa pantas menjadi hakimnya.”
Kerumunan terdiam sejenak. Bahkan Evelyn pun tak langsung membalas.
Nadine segera merogoh tas jinjingnya. Mencari selembaran tiket masuk ke acara ini.
Jari-jari Nadine menggenggam selembar undangan berwarna gading yang lusuh dan sedikit terlipat.
Nadine mengangkat undangan itu tinggi-tinggi, menunjukkannya ke seluruh ruangan. “Kalian bilang aku tidak diundang?” suaranya tenang, tapi setiap kata seperti pisau tajam yang menembus kebisingan ballroom.
“Aku punya undangan. Dengan tanda tangan pribadi Adrian dan Evelyn.” Ia menoleh ke Evelyn. “Jadi, siapa sebenarnya yang tidak tahu apa-apa?”
Wajah Evelyn mendadak berubah. Sekilas, matanya bergetar. Tangan yang tadi tegak di pinggangnya perlahan turun, mencengkeram lipatan gaun pengantin. Beberapa tamu yang tadinya mencemooh mulai berbisik pelan, ekspresi mereka ragu-ragu, saling menatap satu sama lain. Bahkan kamera livestream Xenia tampak sedikit berguncang—entah karena kaget, atau karena tangan si pemilik mulai gemetar.
Next?<3