Bab.2 Bab : Dua Miliar?

1177 Words
  Ardiyanto hampir meledak karena amarah yang membuncah, apakah pemikiran gadis ini memang berbeda dari orang normal?   "Pria kolot!"   Hutami membalas pesannya dengan cepat lagi, kali ini dia malah menghinanya.   "Aku mohon padamu! Lepaskanlah aku!"   Banyak yang mengatakan orang yang jujur selalu ditindas, Ardiyanto sekarang benar-benar menahan amarah, dia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya berkomunikasi dengan wanita ini, dan juga tidak ingin berkomunikasi dengannya, setelah kejadian kemarin, Ardiyanto sudah memikirkannya dengan jelas, pacar yang selalu bersama dengannya ini hanyalah wanita matrelialistis.   "Ardiyanto, kamu jangan menyesal, aku lebih mudah mendapatkan pacar daripada membeli McDonald's!"   Bahkan sampai detik ini, Hutami masih beranggapan Ardiyanto yang salah karena pria ini tidak paham.   "Hutami, Kamu sudah membuatku sangat kecewa, aku bekerja selama tiga bulan, bangun pagi dan pulang larut, dan sudah capek-capek mengumpulkan uang untuk membelikan ponsel Apple kesukaanmu, aku tidak menyangka kamu begitu kotor dan murahan. Ya, kamu adalah dewi dan aku adalah pria miskin, kelak kau nikmati saja McDonaldmu dan aku menikmati mi instanku, kita tidak perlu berhubungan lagi!"   Sejujurnya, Ardiyanto kali ini sangat berani, dia menghapus kontak Hutami.   Sebelumnya, hanya Hutami yang menghapus kontak w******p jika Hutami marah padanya, sedangkan Ardiyanto selalu mengalah padanya, selalu membeli cokelat atau memberinya bunga untuk membujuknya, Ardiyanto menertawakan dirinya sendiri, dia benar-benar sangat bodoh.   Tidak heran mengapa Hutami sangat menyukai ponsel Apple, setelah Ardiyanto menggunakan ponsel ini, dia sudah tidak bisa melepaskan benda itu dari tangannya, dan asyik bermain game King Of Glory yang disukainya, dia bahkan berhasil melakukan empat atau lima kali pembunuhan, benar-benar sangat memuaskan.   Ternyata inilah perasaan terlepas dari beban, dia sudah bebas, Ardiyanto tidak perlu menyenangkan hati wanita itu lagi!   Saat waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, Ardiyanto pun tertidur   Dalam mimpi itu, Hutami sedang b******a dengan pria gendut itu di mobil, dia bahkan mengatakan pria itu adalah suami yang baik, benar-benar tidak tahu malu.   Saat ada yang memanggil Ardiyanto bangun, dia mengira Hutami yang memanggilnya : "Ardiyanto, Ardiyanto?"   Namun, yang memanggilnya bukan Hutami, melainkan teman sekamarnya, Wahyu Listika.   Wahyu adalah teman sekamar Ardiyanto. Dia berasal dari pedesaan, keluarganya mengumpulkan uang agar dia bisa kuliah di Universitas Kaengneung, dengan harapan agar putranya ini bisa menjadi pria yang berhasil nantinya. Biasanya, Wahyu juga sangat bersimpati pada Ardiyanto, saat melihat Ardiyanto ditindas oleh Antonius dan Haris, dia ingin membantunya, tetapi dia tidak berdaya.   Sebelumnya, saat di desa, Wahyu juga pernah berkelahi, tetapi setelah dia melukai orang, orang tuanya tidak mempunyai uang untuk membayar biaya pengobatan orang yang dilukainya sehingga harus bersujud pada orang itu untuk meminta maaf, setelah pulang ke rumah, orangtuanya menangis dan memohon padanya untuk tidak membuat masalah lagi, sejak saat itu, Wahyu tidak pernah berkelahi lagi, dia tidak ingin membuat keluarganya kesulitan.   "Wahyu? Ada apa?"   Melihat kamar yang kosong melompong, Ardiyanto sedikit terkejut, ke mana perginya orang-orang itu?   "Ardiyanto, apakah kamu masih belum mengetahuinya? Pacarmu, Hutami sedang merentangkan spanduk di lantai bawah, dia mengatakan bahwa kamu adalah pria miskin melarat, dan merusak reputasimu."   Si*lan!   Ardiyanto terkejut, tadinya dia mengira hal ini sudah beres, tidak disangka Hutami masih tidak mau berpisah secara damai.   Ardiyanto segera bangkit, tetapi saat mengambil ponselnya, dia terperangah.   Sebuah pesan teks muncul di layar yang terkunci.   "[Bank Central Asia] : M-Transfer Berhasil 25/04 08:00 keXXXXXX2416 ARDIYANTO KAENG Rp.2.000.000.000.00. saldo akhir : Rp.2.000.600.500.00"   Dua miliar? Mata Ardiyanto terbelalak, dia membacanya sebanyak tiga kali, dan yakin bahwa dirinya tidak salah baca.   Ya ampun!   Notifikasi ini sama seperti notifikasi sebelumnya.   Jika itu notifikasi ini adalah tipuan, tidak mungkin pelakunya mengetahui bahwa uangku tinggal enam ratus ribu rupiah di rekening!   "Apa aku masih tidur? Apakah ini mimpi?"   Saat berpikir seperti ini, Ardiyanto menampar pipinya dengan keras, suara tamparan itu sangat nyaring, Wahyu yang berada disampingnya juga tidak tega saat mendengar suara nyaring itu, dia buru-buru memegang tangan Ardiyanto, dan berseru: "Ardi, bukankah kamu hanya berhubungan dengan wanita j*lang, apa perlu kamu menyakiti dirimu seperti ini? Dan depresi karena masalah sepele ini?"   "Aku ... aku tidak!"   Sakit. Kedua tamparan itu rasanya sangat menyakitkan. Sepertinya ini bukan mimpi.   "Masih menyangkalnya, lihatlah dirimu, sudah mulai menyakiti diri sendiri dengan menampar pipimu, pipimu sudah merah seperti b****g monyet!"   Betul juga, tamparan tadi sangat menyakitkan, tetapi kejutan yang diterimanya sudah membuat rasa sakit itu sirna seketika, demi membuktikan bahwa notifikasi itu bukan tipuan, Ardiyanto menepuk teman sekamarnya itu dan berkata sambil tertawa, "Wahyu, cepat buka aplikaksi OVO mu!"   Wahyu sama sekali tidak tahu apa yang ingin dia lakukan, jadi dia menuruti perkataannya dengan bingung.   Setelah Wahyu membuka applikasi OVO, Ardiyanto langsung memindai barcodenya, dan mentransfer satu juta rupiah ke dalamnya.   "Ardiyanto, apakah kamu gila? Mengapa kamu tiba-tiba mentransfer uang kepadaku?"   Serangkaian tindakan temannya ini membuat Wahyu mengira Ardiyanto sudah gila.   Ardiyanto memegang kedua bahu temannya itu dan mengguncangnya dengan keras.   "Uang, aku punya uang sekarang!"   Ardiyanto kegirangan sampai tidak bisa menahan diri, di mata orang lain, dia terlihat seperti orang gila.   Tidak berapa lama, ponselnya berdering, panggilan dari nomor yang tidak dikenal, apakah orang ini menelponnya untuk mengatakan padanya bahwa uang tersebut salah kirim?   Mustahil, uang yang sudah masuk ke sakunya tidak akan dia kembalikan lagi!   "Ardi ..."   Suara pria tua terdengar dari ujung telepon, Ardiyanto terkejut saat mendengarnya.   Sudah lima tahun, lima tahun lamanya, entah sudah melewati berapa siang dan malam Ardiyanto menantikan suara ini, tetapi, dia tidak pernah sekalipun menerima telepon dari pria tua ini, dapat dikatakan dia sudah menyerah dan putus asa, Ardiyanto merasa dia bisa bertahan dengan keteguhan hatinya, tetapi saat dirinya sudah terbiasa hidup seperti ini, panggilan yang dinanti-nantikannya datang.   "A..Ayah, apakah benar ini Ayah?"   Tangan Ardiyanto gemetaran, apakah larangan keluarga besar sudah dicabut?   "Anakku, kamu pasti sangat menderita selama bertahun-tahun ini ya?"   Suara itu adalah suara ayahnya, suaranya terdengar sangat tidak berdaya, air mata Ardiyanto sudah hampir tidak terbendung lagi, dia buru-buru bertanya, "Ayah, apakah larangan keluarga besar sudah dicabut?"   "Iya, sudah dicabut, tetapi, kakek kamu berharap kamu bisa sukses, karena kamu adalah pewaris satu-satunya keluarga kita!"   Sudah bertahun-tahun Ardiyanto menantikan saat ini, akhirnya saat yang dinantikannya tiba juga.   Ardiyanto bertanya lagi: "Ayah, jadi apakah sekarang aku boleh menggunakan dana keluarga kita?"   "Boleh!"   Ayahnya sepertinya lebih senang daripada dirinya, nada bicaranya penuh dengan harapan putranya menjadi sukses.   "Aku sudah berpesan pada Pak Yudha, dia..."   Sebelum ayahnya menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba suara Hutami terdengar dari koridor asrama laki-laki.   "Ardiyanto, aku tahu kamu ada di dalam, karena kamu memiliki kemampuan menjadi pria b*jingan, jadi cepatlah keluar kalau begitu!"   Hutami berani naik ke gedung, tempat ini adalah asrama laki-laki!"   Banyak pria yang tidak mengenakan pakaian, wanita itu malah berani naik ke atas, wanita ini benar-benar murahan.   "Ayah, aku ada sedikit masalah di sini, nanti aku akan menghubungi Ayah lagi!"   Setelah selesai berbicara, Ardiyanto menutup telepon, dan bergegas keluar kamar, dan langsung melihat Hutami yang membawa spanduk memasuki asrama laki-laki, dia dikelilingi oleh sekelompok pria, berpuluh pasang mata serigala sedang memperhatikan tubuh wanita itu, seakan-akan ingin melihat seluruh lekuk tubuhnya dengan rinci.   Namun, wanita ini sama sekali tidak menyadarinya, dan terus berteriak : "Ardiyanto, dasar kamu pria b*jingan, keluar!"   "Benar, di mana Ardiyanto si pengecut itu? Ke mana dia bersembunyi?"   Saat ini, Antonius dan Haris yang berada paling dekat dengan Hutami, keduanya juga ikut memarahinya, pokoknya mereka sangat senang menindas Ardiyanto.   "Aku di sini!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD