Saat ini, Ardiyanto bersandar di dinding kamar, jika seseorang memiliki uang, dia akan menjadi percaya diri.
Melihat Hutami yang berlenggak-lenggok mendekatinya, begitu sampai di depannya, Hutami langsung mendaratkan sebuah tamparan ke wajah Ardiyanto.
Jika sebulan yang lalu, mungkin Ardiyanto akan menerima tamparan itu dan bahkan akan menundukkan kepalanya menerima makian Hutami, dan pasti tidak akan melawannya, bahkan jika wanita ini memukulnya, dia juga tidak akan membalasnya, demi bisa berbaikan dengan pacarnya itu, dia akan mengerahkan segalanya untuk menyenangkan hatinya, termasuk mengesampingkan harga dirinya.
Tapi sekarang, dia sudah berubah.
Sejak tadi malam, Ardiyanto benar-benar kecewa terhadap Hutami, dan tidak akan bersama dengannya lagi untuk selamanya.
"Kenapa? Ingin memukulku?"
Pergelangan tangan Hutami yang putih ditangkap oleh Ardiyanto, wanita itu tidak bisa melepaskan tangannya atau menggerakkan tangannya, adegan ini terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
“Dasar pria b*jingan!” Hutami masih tidak lupa mengumpatnya dengan kata ini.
Ardiyanto menyunggingkan sebuah senyum sinis, karena wanita ini sengaja datang mencari masalah, maka Ardiyanto tidak akan segan untuk meladeninya.
Baiklah, jika wanita ini mau membuat masalah ini menjadi besar, maka Ardiyanto akan membuat wanita ini tahu sebenarnya siapa yang salah.
Setelah memikirkannya, Ardiyanto berteriak: "Ayo kemarilah semua! karena kalian sudah ada di sini, maka aku akan menceritakan kisah kami, wanita ini, demi satu unit ponsel Apple, rela b******a dengan pria asing di mobil, apakah aku salah karena meminta putus dengannya?"
Teriakannya itu sudah terdengar oleh pria-pria yang ada di koridor.
Wajah Hutami juga memerah karena saking kesalnya, tadinya dia mengira Ardiyanto masih seperti dulu, pria tidak berguna ini akan menerima makian dan pukulannya. namun kali ini Hutami salah.
Ardiyanto sama sekali tidak berniat mengalah padanya, melainkan bertekad untuk menyelesaikannya dengan tuntas.
"Ardiyanto, apakah kamu salah makan obat? Berani berkata seperti itu pada Hutami yang cantik?"
Antonius memang ingin bertentangan dengan Ardiyanto, dia ingin menarik perhatian Hutami, Ardiyanto memahaminya, tetapi, di sini begitu ramai! Lagipula Ardiyanto tidak bersalah, jadi dia tidak takut Antonius akan memukulnya, setidaknya Ardiyanto berhubungan baik dengan tetangganya, orang-orang ini tentu akan membela keadilan, tidak akan berpihak pada seseorang dengan buta.
"Apakah itu ada hubungannya denganmu?"
Ardiyanto memutar bola matanya, dan berkata dengan ringan dan santai, perbedaan sikap ini sama sekali berbeda dengan dirinya yang ketakutan semalam, dapat dikatakan perbedaannya bagai langit dan bumi.
"Kamu……"
Antonius merasa kehilangan muka di hadapan Hutami, dia langsung mengayunkan tangannya hendak memukul Ardiyanto.
Tapi saat ini, orang-orang di sekitar menjadi gaduh: "Antonius, apa yang mereka katakan itu tidak salah jika kamu ingin menyanjung wanita ini, setidaknya harus memilih tempat yang pas, pasangan muda ini sedang bertengkar, apa hubungannya denganmu?"
"Sahrul Tanoto, si*lan kau ..."
"Kenapa? Apakah kamu ingin bersaing dengan atlet seperti kami?"
Seketika, Antonius merasa dirinya kehilangan muka dan sangat malu, atlet-atlet itu semuanya bertubuh kekar, jika berkelahi sekarang, dia pasti bukan tandingan mereka, sekarang juga tidak sempat lagi memanggil kawanannya, jadi Antonius terpaksa menahannya.
"Hutami, kamu bicarakanlah dengannya, aku dan Haris akan mendukungmu!"
Antonius ketakutan, tetapi masih berusaha mendukung Hutami, benar-benar murahan.
"Ardiyanto, pria miskin dan melarat seperimu ini, aku hanya meminta ponsel Apple, dan sudah lewat tiga bulan kamu masih tidak membelikannya untukku, aku mengandalkan kemampuanku untuk mendapatkan barang yang aku inginkan, apakah aku salah?" Hutami masih berdalih dan bersikukuh pada pemikirannya yang melenceng itu, hanya saja, wanita ini terlalu memusatkan perhatian pada dirinya sendiri, selalu egois dan merasa dirinya yang paling benar.
Namun, di depan publik, Hutami benar-benar genit hingga ke tahap menakutkan.
"Yo-yo-yo, aku kira Hutami sangat polos, ternyata dia juga seorang p*lacur."
"Ya, jika dia begitu menginginkan ponsel Apple, mengapa tidak menjadi p*lacur saja!"
"Sudah kukatakan! Ardiyanto adalah pria jujur, bagaimana mungkin dia adalah pria b*jingan, Sobat, aku mendukungmu!"
Benar saja, seperti perkiraan Ardiyanto, situasi langsung berbalik, semuanya membela keadilan, tadinya orang-orang ini hanya ingin melihat pertunjukan menarik dari Ardiyanto, dan mengira Ardiyanto yang berselingkuh dengan wanita lain. Sama sekali tidak menyangka kenyataannya adalah, Hutami yang berselingkuh.
Melihat situasi ini, Ardiyanto terus tersenyum dan berkata: "Babi gendut itu setidaknya berumur tiga puluh atau empat puluh tahun, sangat buruk rupa, tetapi Hutami malah mau b******a dengannya di mobil, sejujurnya, aku merasa sakit hati, tetapi apa yang bisa kulakukan? Apakah aku salah meminta putus dengannya? Apakah aku harus rela diselingkuhinya seumur hidup?"
"Kamu…"
Setelah dikritik oleh begitu banyak orang, Hutami tidak bisa menerima pukulan seperti ini, dia menunjuk-nunjuk orang sekitar dan berteriak : "Kalian... Kalian adalah segerombolan pria b*jingan, pandangan hidup kalian melenceng, sekelompok pria kampungan, aku..aku tidak mau berdebat dengan kalian!"
Setelah Hutami selesai berbicara, dia hendak meninggalkan tempat ini, tetapi dia melihat Antonius sedang tersenyum di sampingnya dan berkata : "Hutami, jangan pergi, bagaimana kalau aku memberimu ponsel juga dan kamu bersenang-senang denganku?"
"Enyah!"
Hutami merasa ini adalah sebuah penghinaan, pria seperti Pak Haris bukan orang yang ada dikalangan mereka, dan dia hanya melakukan cinta semalam dengannya, tetapi Antonius dan mereka ini dari kalangan yang bawah, Hutami masih menjaga harga dirinya.
"Hei, Hutami, lagian kamu juga sudah menjual diri, jadi jangan menolak tawaranku dong!"
Antonius terkekeh, saat membayangkan Hutami yang ditindih di bawah s**********n pria dan bersenang-senang, Antonius langsung terangsang, dia benar-benar ingin mendapatkan gadis genit seperti Hutami.
"Aku menyuruhmu enyah dari hadapanku!"
Setelah kepergian Hutami, orang-orang sekitar juga mulai bubar.
Namun, Ardiyanto benar-benar menjadi terkenal. Seluruh Universitas Kaengneung tahu bahwa dia sudah diselingkuhi, dan bahkan dipermalukan oleh mantan pacarnya, di sisi lain, Hutami masih tidak merasa dirinya bersalah, dan terus memaki Ardiyanto dengan sebutan pria b*jingan.
Waktu berlalu dengan cepat, sudah jam masuk kelas, semuanya masuk ke kelas.
Ardiyanto juga beranjak, membawa buku dan masuk ke kelas, jangan melihat dari penampilannya yang seperti pelajar teladan, Ardiyanto bukanlah pelajar yang teladan, nilanya biasa-biasa saja, hanya menjalani hidup sehari-hari dengan wajar, dia hanya memusatkan perhatian pada pekerjaannya dan berpikir bagaimana dia bisa menghidupi diri sendiri, jadi sama sekali tidak punya waktu untuk belajar dengan baik.
Satu-satunya waktu luangnya dia habiskan bersama Hutami, sekarang dia sudah tidak mendapatkan ilmu dan malah dikhianati oleh pacarnya.
Pada umumnya, jika masa muda dilalui seperti ini, ditambah menerima pukulan yang begitu berat, sudah harus merasa bersyukur karena tidak terpikir untuk bunuh diri dengan melompat dari gedung, namun yang terjadi pada pria ini malah sebaliknya, pria ini justru tidak terpuruk, bahkan menjadi lebih percaya diri, apalagi karena dirinya sudah memiliki uang, kekayaan keluarga besarnya yang tajir melintir sehingga hampir menyaingi kekayaan negara itu bahkan bisa membeli setengah isi bumi.
"Ardiyanto, kamu masih memiliki muka untuk datang ke kelas?"
Pria yang menegurnya adalah ketua kelas Ardiyanto, Binoto Kurniawan, keluarganya agak berada, penampilannya tidak terlalu tampan, hanya biasa-biasa saja, tinggi badan tidak mencapai 1.7 meter, tetapi sangat arogan, uang sakunya tidak pernah habis, dia bahkan mengendarai mobil ke kampus, pria seperti ini sangat populer di kalangan wanita.
Namun, begitu Ardiyanto mendongak, dia tercengang.
Pria ini sedang memeluk seorang wanita, dan wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Hutami.
"Ardiyanto, sudah kukatakan, aku mendapatkan seorang pacar sama mudahnya seperti menikmati Mcdonalds, karena kamu putus denganku, aku sangat kecewa, untungnya ada Binoto, dia sudah menghiburku dan memberiku kehangatan, aku sekarang menjalin hubungan dengannya."
Si*lan!