Bab.4 Siapkan Sepuluh Botol!

1448 Words
  Ardiyanto mencibir, sepertinya otak Hutami sudah rusak! Dia memamerkan pacar baru pada mantannya, apakah dia benar-benar percaya diri dan merasa Binoto lebih baik dari Ardiyanto?   "Benar-benar ikan berkumpul bersama ikan, udang berkumpul bersama udang, kodok berkumpul bersama dengan kodok, semoga kalian segera dapat momongan, melihat anak meninggal sebelum kamu, bisa lah?"   Ekspresi Ardiyanto sangat tidak berdaya. Sejujurnya, Ardiyanto merasa sedih, kemarin Hutami masih berpacaran dengannya, hanya butuh satu malam saja sudah cukup untuk membuat Ardiyanto mengetahui sifat asli seseorang, jika hal seperti ini menimpa orang lain, mungkin orang tersebut tidak akan bisa menerimanya!   Wajah Binoto menjadi merah dan masam, dia langsung memaki dan berkata: "Ardiyanto, apa maksudmu?"   "Apa maksudku? Kamu memeluk mantan pacarku dan memamerkannya di hadapanku, sekarang kamu malah bertanya padaku apa maksudku?"   Orang-orang ini semua bodoh!   Kenyataan, yang di katakan Ardiyanto adalah kenyataan, sehingga membuat Binoto yang terlihat mencari masalah dengan tidak masuk akal.   "Kamu…"   "Aku kenapa? Menurutku kalian berdua sangat cocok, setidaknya yang satu menyukai uang dan satunya lagi punya uang, sayangnya, wanita ini sebelumnya bisa mengkhianatiku, jadi dia pasti bisa mengkhinatimu juga, tadi malam dia bisa b******a dengan orang demi sebuah ponsel, kelak, dia juga bisa b******a dengan orang lain demi satu unit rumah!"   Apa yang Ardiyanto katakan adalah kebenaran, dia benar-benar tidak bisa mencintai wanita seperti ini.   Meskipun dia adalah pria yang penurut, tetapi dia tetap memiliki prinsip, Ardiyanto tidak mungkin menuruti wanita yang menjual diri seperti seorang p*****r, kan?   "Ardiyanto, dasar kamu pria b*jingan!"   Hutami mengambil buku dan ingin melemparkannya ke arah Ardiyanto, tetapi, wanita lemah sepertinya sama sekali bukan tandingan Ardiyanto.   Ardiyanto hanya mengayunkan tangan besarnya, seketika buku itu jatuh ke lantai, dia berdiri dan mengejeknya : "Hutami, jangan melakukan trik ini lagi padaku, apakah kamu masih mengira aku adalah pria yang akan menerima makian dan pukulanmu serta akan berusaha menyenangkanmu lagi? Kita sudah putus, jangan berlagak seperti nona besar di hadapanku!"   "Pria b*jingan!"   Wajah Hutami menjadi merah dan merasa kehilangan muka.   "Baiklah, Hari ini suasana hatiku sedang baik, aku tidak akan berdebat denganmu, untuk merayakan Hutami menerima perasaanku, malam ini aku berencana mentraktir teman-teman sekelas makan malam, apakah kamu akan datang?"   Binoto sudah merencanakan untuk mentraktir teman-teman sekampusnya makan malam, setidaknya sesudah orang-orang ini menikmati traktirannya, mereka pasti akan menyenangkannya dengan cara mempermalukan Ardiyanto, pada saat itu, dia dan Hutami bisa menjadi pasangan ideal yang menjadi panutan, sedangkan Ardiyanto akan menjadi pria miskin yang dihina orang.   "Tentu aku akan pergi, aku tentu harus memberi muka pada Tuan Muda Binoto, siapa yang tidak tahu bahwa aku, Ardiyanto adalah pria miskin yang bahkan tidak bisa membeli makanan, terima kasih atas traktiran Tuan Muda Binoto!"   Ardiyanto ini benar tidak tahu malu, tadinya dia tidak ingin pergi tetapi setelah dipikir-pikir, akan lebih memalukan jika dirinya tidak pergi, sekelompok orang ini makan bersama, mungkin mereka akan membahas bagaimana caranya membuat masalah dengannya di belakangnya!   Sekarang Ardiyanto sudah mempunyai uang, Binoto bisa menyuap orang, apa yang tidak bisa dilakukan Ardiyanto.   "Baiklah, kalau begitu nanti jangan berpura-pura sakit perut karena tidak berani datang!"   Binoto melingkarkan tanggannya di pinggang Hutami dan duduk di barisan paling belakang, tingkahnya itu sangat arogan dan membuat orang yang melihatnya muak, Ardiyanto tidak kesal, dia berencana malam ini membalas kelakuan pasangan b*jingan ini, jika satu hari yang lalu, dia mungkin akan ketakutan, tetapi sekarang Ardiyanto justru tidak sabar menantikan Binoto datang menampar wajahnya!   Waktu dengan cepat berlalu, saat kelas terakhir berakhir, setelah dosen pergi, Ardiyanto duluan berdiri.   "Semuanya, jangan pergi dulu, Tuan Muda Binoto ingin mentraktir kita semua makan malam ini di Restoran Signatures, koki nomor satu di Kaengneung, yang tidak pergi jangan menyesalinya ya!"   Seluruh teman sekelas menjadi kaget karena pengumuman ini.   Restoran Signatures adalah restoran ternama di Kaengneung, makanan di restoran itu juga sangat mahal, bahkan harga paket ekonomi nya saja setidaknya sudah berkisar sepuluh jutaan, satu kelas ada tiga puluh orang lebih, jika semuanya pergi, setidaknya harus memesan tiga paket, jadi estimasi Binoto akan menghabiskan uang sebanyak dua puluh sampai empat puluh juta!   "Si*alan!"   Binoto tercengang!   Tadinya dia berencana mentraktir teman-temannya di Restoran Wonder yang terletak di depan kampus, lalu memesan beberapa paket makanan, perkiraan hanya akan menghabiskan kurang lebih sepuluh juta rupiah, semuanya menikmati makanan dengan senang hati dan sekalian mempermalukan Ardiyanto, tetapi sekarang malah menjadi seperti ini, Binoto sendiri masih belum sempat mengumumkannya, Ardiyanto malah duluan bersuara, seolah-olah dirinya yang akan mentraktir makan.   "Tuan Muda Binoto, benar kan apa yang kukatakan?"   Ardiyanto berteriak ke arah barisan paling belakang, semua mata tertuju pada Binoto, semua menantikan jawabannya.   Itu adalah Restoran Signatures!   Sangat banyak orang yang bermimpi untuk menyantap makanan di restoran ternama itu, meskipun tidak sebanding dengan hidangan hotel berbintang, tetapi jika bisa menyantap makanan di restoran ternama itu, mereka setidaknya bisa pamer di f*******:.   "Ya ... Benar, di Restoran Signatures!'   Binoto merasa sakit hati, uang sakunya bulan ini hanya tersisa kurang lebih empat puluh juta, tadinya Binoto berencana membelikan beberapa kosmetik atau membeli tas untuk menyenangkan pacar barunya ini, tetapi, hanya karena perkataan Ardiyanto, mimpinya hampir hancur berkeping-keping.   Binoto mengumpat Ardiyanto di dalam hati, tetapi dia tidak menyuarakan isi hatinya, dan menantikan Ardiyanto dipermalukan malam ini.   "Wow, Binoto semakin tajir saja, dia bahkan mentraktir kita makan di Restoran Signatures!"   "Ya, aku dari dulu sangat ingin pergi ke restoran itu, hanya saja, aku tidak punya uang!"   "Semua berkat Binoto, kita malam ini harus menyanjung Tuan Muda Binoto!"   ...   Belum menyantap makanan sudah mulai bertentangan, sekelompok orang ini sudah mulai menyanjung Binoto dengan membabi buta.   Ardiyanto merasa senang di dalam hati, pokoknya Binoto yang mentraktir, malam ini dia akan membuatnya menghabiskan banyak uang.   Dengan cepat semua teman sekelas berangsur-angsur tiba di Restoan Signatures, ada tiga puluh orang di kelas mereka, saat mengetahui Binoto mentraktir makan, entah memberi muka atau hanya ingin melihat standar restoran ternama itu, pokoknya semuanya hadir, tidak ada yang tertinggal.   "Selamat datang Pak, apakah anda sudah mereservasi?"   Seorang pramusaji menyambut mereka, pelayanannya sangat baik, tidak heran Kaengneung memang layak dinobatkan sebagai restoran ternama, tidak hanya tidak meremehkan mahasiswa seperti mereka, melainkan menyambut mereka dengan sangat ramah. Reputasi yang dibentuk ini benar-benar sangat bagus.   Semua orang memandang Binoto, pramusaji itu juga tidak bodoh dan langsung mengetahui siapa yang tuan rumah yang akan mentraktir. Lalu dia bertanya lagi pada Binoto : "Halo Pak, apakah anda ingin memesan ruangan?"   "Pesan ... Saya pesan ..."   Wajah Binoto memerah dan tidak enak dilihat, seperti akan di bawa ke tempat eksekusi.   Tatapannya itu seperti akan menyemburkan api, Binoto menggertakkan giginya dan menatap Ardiyanto, lalu berkata dengan dingin : "Bukakan satu ruangan untukku!"   "Baik, Paket ekonomi untuk ruangan di sini adalah Rp.17.776.000,- apakah anda membutuhkan..."   "Jangan, paket ini terlalu rendah, Tuan Muda Binoto mementingkan standar, jadi dia akan memesan paket termahal!"   Pelayan itu tadi hendak memperkenalkan paket, tetapi dia melihat Ardiyanto bergegas keluar dan mengatakan ingin paket termahal.   "Si*lan ..."   Demi martabatnya, Binoto menahan amarahnya.   "Betul, saya tidak kekurangan uang, beri saya paket seharga empat puluh juta!"   Harga ini sudah merupakan batas maksimum yang bisa dikeluarkan Binoto, jika lebih dari itu, bahkan jika memesan beberapa botol anggur, Binoto akan menangis!"   "Baik, Tuan, saya akan mengatur ruangan untuk anda!"   Segera, pelayan itu menggiring segerombolan teman sekelas ke ruangan.   Memang ini restoran ternama di Kaengneung, ruangan itu bernuansa classic, di dalamnya ada rak buku, kaligrafi juga memenuhi ruangan itu, bahkan lantainya juga menggunakan ubin yang bagus, ruangan itu sangat bersih, dan memberikan nuansa elegan.   Ardiyanto langsung duduk dan berteriak : "Pelayan, minta menu!"   "Hei, Ardiyanto, sejak tadi aku sudah ingin menegurmu, apakah kamu tidak tahu malu? Tuan Muda Binoto yang mentraktir, mengapa kamu yang memesan makanan?"   Yang berbicara adalah pengikut Binoto, Harun Listika, dia mengetahui masalah sebenarnya, jadi dia berencana membantu Binoto melampiaskan amarahnya.   "Aku kan membantu Tuan Muda Binoto meminta menu pada pelayan! Menurutku, kamu adalah pengikut yang lalai melakukan tugas, Tuan Muda Binoto sudah menunggu menu makanan untuk waktu yang lama, kamu malah tidak berinisiatif!" Ardiyanto sangat pandai menyindir, semua orang tahu bahwa Harun setiap hari mengikuti Binoto dan menyanjungnya, sekarang apa yang dikatakan Ardiyanto ada benarnya juga, dia adalah pengikut yang lalai melakukan tugasnya!   "Siapa yang kamu maksud dengan pengikut?"   Harun menjadi kesal dan ingin memukul orang, Ardiyanto pikir siapa dirinya? Dia hanya pria miskin, sekarang malah dirinya yang ditindas oleh pria miskin ini, Harun merasa kehilangan muka.   "Aku tidak akan berdebat denganmu. Ayo, Tuan Muda Binoto, kamu adalah tuan rumahnya, jadi kamu yang memesan makanan!"   Setelah mengatakan itu, Ardiyanto menyerahkan menu makanan itu pada Binoto sambil cengegesan, dia menyerahkannya dengan hormat, sehingga dirinya lah yang lebih terlihat seperti pengikut Binoto.   Binoto bermuka masam, mengambil menu makanan itu, saat membuka menu makanan dan hendak memesan, dia mendengar Ardiyanto bersuara lagi : "Hei, pelayan, apakah restoran kalian menyediakan anggur Royal Salute? Tuan Muda Binoto sangat menyukai anggur tersebut, siapkan sepuluh botol dulu untuk berkumur!'   "Brak!"   Menu makanan jatuh ke lantai, Binoto langsung berkeringat dingin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD