"Ardiyanto, apa kamu gila, meski pacarku ingin mentraktir, kamu juga tidak boleh seperti ini. Royale Salute? Kamu bahkan berani membuka mulut untuk memesan anggur itu!" Binoto belum mengatakan apa-apa, namun Hutami yang kebakaran jenggot.
Ketika Ardiyanto membicarakan anggur Royale Salute, Hutami kaget bukan kepalang, sebotol saja sudah sekitar empat puluh juta, kesampingkan dulu apakah Binoto mampu membelinya atau tidak, kalaupun pacar barunya itu bisa membelinya, mengapa dia harus membeli anggur semahal itu untuk mentraktir teman sekelas yang tidak begitu akrab dengannya?
Hutami menyeret Binoto ke hadapan Ardiyanto untuk mempermalukan Ardiyanto, bukan hanya membuat saku pacar barunya bolong, uang sebanyak itu, Binoto sudah bisa membelikan sebuah mobil untuknya.
“Mengapa, apakah Tuan Muda Binoto tidak sanggup mentraktir?" Ardiyanto menatap Binoto dan menyindirnya, ekspresinya sudah tidak rendah hati seperti saat menyerahkan menu makanan padanya, ekspresi wajahnya langsung berubah drastis.
"Eee ..." Binoto memutar matanya dan berkata dengan tenang, "Kita adalah mahasiswa, besok masih ada kelas, tidak baik jika meminum anggur, aku akan meminta pelayan menyiapkan beberapa kotak minuman, jadi semuanya bisa menikmati minuman dengan sepuasnya!"
Kata-kata Binoto ini masih bisa diterima, dia dengan tenang menanggulangi serangan Ardiyanto, meski teman-teman sekelas merasa kurang puas karena tidak bisa mencicipi anggur mahal, tetapi apa daya, mereka juga tidak enak berkomentar.
“Apakah kalian semua adalah mahasiswa?” Pelayan memperhatikan semua orang. Barusan Binoto sudah mengatakan status mereka, jadi pelayan itu sudah menyimaknya.
“Ya kami adalah mahasiswa, apa ada masalah?” Ardiyanto menatap pelayan itu dan bertanya.
Tindakan Ardiyanto ini membuat pengikut Binoto, Harun, menatapnya dengan getir, dia membatin, yang mentraktir adalah Tuan Muda Binoto, bukan Ardiyanto, tetapi mengapa malah Ardiyanto yang berlagak seperti dia yang akan mentraktir?!
Menerima tatapan mematikan ini, Ardiyanto mengabaikannya. Seakan-akan tidak menyadari tatapan itu.
“Begini, restoran kami sedang ada promosi, jika mahasiswa berkunjung dan berkonsumsi disini, maka bisa menikmati paket khusus dan mendapatkan diskon 20%!" Pelayan itu memperkenalkan paket dengan ramah.
Hal ini sama sekali tidak aneh, meskipun Restoran Signatures adalah restoran terbesar di Kaengneung, tetapi saingannya tidak sedikit, jadi kadang-kadang pihak restoran akan mengadakan promosi.
Mahasiswa yang mampu makan di Restoran Signatures pasti memiliki latar belakang yang bagus, kelak masa depan mereka juga tidak akan terlalu buruk, tidak ada salahnya meninggalkan kesan yang baik pada calon pelanggan VIP.
Ketika Binoto mendengar ini, dia langsung senang. Makanan di sini tidak murah. bisa mendapatkan diskon 20% adalah kabar baik, dia bisa menghemat uang untuk membelikan tas bermerek untuk Hutami.
Karena wanita ini bersedia b******a dengan seorang pria tua demi sebuah ponsel, jika dia membelikan tas bermerek untuknya, bagaimanapun juga wanita ini pasti rela mencoba berbagai pose b******a dengannya.
Saat Binoto tenggelam dalam angan-angannya itu, Ardiyanto bersuara lagi: "Apa kamu sedang meremehkan Tuan Muda Binoto? dia mentraktir kami dengan tulus, dia tidak berharap mendapatkan diskon, Nona Pelayan, kami memang adalah mahasiswa, tetapi tidak mengharapkan diskon, jadi lupakan saja."
Saat mengatakan kalimat ini, Ardiyanto menoleh pada Binoto dan mengedipkan matanya, lalu berkata : "Betul kan, Tuan Muda Binoto?"
Kata-kata Ardiyanto membuat Binoto dan kawan-kawannya kesal, jika bukan karena Restoran Signatures memiliki latar belakang yang bagus dan tidak boleh berbuat masalah di sini, dia benar-benar sangat ingin menghajar Ardiyanto sampai babak belur.
“Betul, kami tidak membutuhkan diskon, hitung saja dengan harga normal." Binoto memelototi Ardiyanto dengan getir, lalu berkata tanpa tersenyum.
Binoto sudah memutuskannya, saat pulang nanti, dia akan mencari orang untuk menghajar Ardiyanto, padahal dia akan mendapatkan diskon, tetapi karena perkataan Ardiyanto, diskonnya melayang begitu saja, Binoto merasa hatinya sedang meringis.
Meski Restoran SIgnatures mempromosikan paket diskon bagi para mahasiswa, tetapi jika mahasiswa tersebut menolak tawaran ini, tentu pihak restoran tidak akan memaksakannya, lagipula konsumennya tidak menggunakan paket diskon, dan memesan dengan harga normal, pihak restoran tentu menerimanya dengan senang hati.
“Tuan Muda Binoto, sungguh royal!" Ardiyanto menertawakannya dalam hati, dia mengacungkan jempol pada Binoto, hanya saja, dilihat dari sisi mana saja, ekspresi wajahnya itu terlihat sedang mengejeknya.
“Si*lan, Ardiyanto, tutup mulutmu! Sebenarnya siapa yang mentraktir hari ini?" Saat Binoto dipojokkan sedemikian rupa oleh Ardiyanto, Harun, si penjilat sudah tidak tahan dan mempertanyakannya, "Kamu hanya datang ke sini untuk menikmati makanan gratis, jadi tolong tutup mulutmu dengan patuh!"
"Benar, Ardiyanto, tutup mulutmu! B*jingan dan pria melarat sepertimu bahkan tidak pernah menginjakkan kaki ke restoran mewah, seharusnya kamu bersyukur, mengapa malah banyak omong?" Hutami juga ikut mengoceh, Hutami menyadari bahwa sikap mantan pacarnya ini sudah tidak seperti dulu, mantannya ini sudah tidak lemah seperti dulu, perasaan ini membuat Hutami merasa tidak nyaman.
Yang ingin dilihatnya adalah, Ardiyanto menangis sesenggukan dihadapannya, merengek dan memohon padanya untuk tidak meninggalkannya, lalu pria ini masih memperlakukannya seperti dulu, mengantarkan makanan untuknya, membantunya mengambil paket pesanan, dengan patuh menjadi ban serepnya, seperti seekor anjing yang patuh.
Pelayan itu tanpa sadar memerhatikan beberapa orang ini, Ardiyanto sama sekali tidak merasa canggung, dan langsung berkata dengan lantang : "Baiklah, aku yang akan mentraktir, apa kamu menganggap aku tidak sanggup mentraktir?"
“Apa kamu serius?" Mata Binoto langsung berbinar-binar setelah mendengar perkataan Ardiyanto dan bertanya dengan tidak sabar.
Ardiyanto hanyalah pria miskin yang melarat, semua orang di kampus mengetahui hal ini, sekarang dia hanya omong besar, pada akhirnya Ardiyanto tidak akan mampu membayarnya, Binoto sekarang akan memegang kata-kata pria miskin ini terlebih dahulu, saat Ardiyanto tidak mampu membayarnya nanti, Binoto akan membayar tagihan ini, dengan begini, tidak hanya bisa berunjuk diri, dia juga bisa mempermalukan Ardiyanto, sekali tepuk dua lalat.
“Ya, aku serius!" Ardiyanto menganggukkan kepalanya, ekspresinya sangat serius, bahkan tidak ada senyuman di wajahnya.
"Hehehe, kalau begitu aku akan memesan makanan!" Binoto mengayunkan menu makanan yang ada ditangannya, lalu bercanda, "Benar tidak apa-apa?"
“Silakan!” Ardiyanto mengulurkan tangan, mempersilakan dengan santai.
Seketika, Binoto merasa ada yang janggal, apakah Ardiyanto benar-benar mempunyai uang?