Rumah masih tampak terang-benderang pada malam itu. Lampu utama masih menyala, dan suasana masih terasa hangat seperti biasa. Terdengar gelak tawa dari ruang keluarga dimana sebuah televisi dengan layar besar menyala, menampilkan film animasi terkenal yang tengah digandrungi di seluruh dunia. Abim melangkah pelan, memasuki rumahnya dengan perasaan campur aduk. Namun rasa sedih dan marahlah yang mendominasi. "Papa!!" Abyan segera menyambutnya dengan teriakan ceria seperti biasa. Walaupun mereka sering berselisih hamlir setiap hari, namun pria itu selalu Abyan nantikan kepulangannya. "Hey nak?"Abim meraih tubuh sang putra, mencoba bersikap hangat seperti biasanya, walau hatinya masih merasa tak karuan. Dia segera memeluknya dengan erat, dan menciumi kepalanya dengan penuh kasih sa

