Tergesa Hana berjalan menuju ruang tamu. Benar saja, dia mendapati Nora beserta dua orang dewasa, laki-laki dan perempuan berdiri di sisinya. Sepasang mata heran segera ia tujukan kepada tamunya yang saat ini masih berdiri di depan pintu.
“Assalamualaikum.” Sadad, ayah Nora menyapa.
“Waalaikumsalam,” Hana menjawab dengan cepat.
“Kami orang tuanya Nora. Ibu siapanya Gamal?” Sadad memastikan.
“Saya mamanya. Ada apa ya, pak?” Kini Hana merasa sangat gugup. Yakin sekali bahwa putra semata wayangnya berbuat sesuatu yang salah.
“Boleh kami masuk? Ada hal penting yang mau kami bicarakan. Bapaknya ada, Bu?” ucap Sadad lagi menambahkan.
“Ada, Pak. Ada di dalam. Mari mari masuk.” Hana mempersilakan, lalu menatap tajam ke wajah Gamal, “Saya panggilkan dulu.” Ia berjalan ke ruang makan. Lagi ia menatap sang putra yang kini tertunduk sangat dalam, tidak berani beradu pandangan dengannya.
“Terima kasih,” Sadad beserta sang istri dan juga Nora masuk ke dalam rumah lalu duduk di kursi jati yang tersedia di ruangan itu.
“Kak, itu ada orang tuanya Nora. Dia cariin kita, katanya ada masalah penting yang mau diomongin,” ucap Hana setengah berbisik kepada suaminya.
“Masalah apa?” Uwais terkejut bercampur heran.
“Nggak tau. Udah ayo! Ditungguin tuh.” Keduanya berjalan beriringan menuju ruang tamu.
Uwais menatap ketiga tamunya, duduk di kursi dengan raut wajah tidak ramah. Bukannya dirinya berburuk sangka, tetapi melihat air muka mereka, dirinya yakin mereka datang bukan untuk sekedar beramah tamah. Lagi pula tadi sang istri memberitahunya jika ada masalah yang ingin dibicarakan. Sekilas mengamati wajah Gamal, pucat pasi hampir seperti jasad tak bernyawa. Semakin membuat dirinya yakin sang Putra membuat masalah.
“Saya ayahnya Gamal.” Ramah lelaki matang nan tampan itu menyurungkan tangan kepada tamu mereka. Ah iya, dia mengenali anak gadis yang duduk di tengah-tengah itu. Pernah satu kali melihatnya duduk di pelataran rumah berbincang dengan putranya, “ada apa, ya?” tanyanya tanpa basa basi sembari duduk di kursi.
“Gini__ anak kami si Nora ini hamil.” Sadad membuka pembicaraan.
Bugh! d**a Uwais dan Hana terasa dihantam godam. Jantung keduanya berdebar cepat. Napas keduanya tiba-tiba menjadi sesak, menatap Nora dan Gamal secara bergantian.
“Hamil, maksudnya gimana?” desak Hana meminta kejelasan.
“Nora hamil sama Gamal.” Sadad memperjelas.
“Apa?!” jantung Hana seakan melompat keluar, ditatapnya sang Putra yang saat ini terdiam seribu bahasa, tertunduk dalam dengan wajah pucat seputih kapas, “Ga, bener itu? Bener kamu hamilin Nora?!” tanyanya dengan nada tinggi sekali.
“Udah pasti itu, Bu. Malam kemarin dia juga udah ngaku kok sama kita. Mereka pacaran.” Sadad menyela pembicaraan ibu dan anak itu. Dia merasa khawatir jika Gamal tidak mengakuinya, bagaimana nasib putrinya.
Hana tidak menggubris celotehan Sadad yang terdengar seperti dengungan lalat di telinganya. Sangat mengganggu, tetapi dirinya berusaha fokus pada putranya.
“Bener Gamal? Bener apa yang papa Nora bilang?” Uwais juga menjadi ikut mencecar anaknya. Tak sabar melihat diamnya sang putra.
Gugup, takut dan merasa sangat bersalah membuat tenggorokan Gamal tercekat. Dirinya tertunduk lebih dalam lagi, memainkan ujung tepian baju. Tidak berani menjawab pertanyaan kedua orang tuanya. Ingin rasanya dia menjelaskan cerita sebenarnya.
Marah karena sang putra tidak memberikan jawaban, Hana berteriak keras sekali, “Gamal! Jawab Mama! Bener kamu hamilin Nora?!” Kedua matanya merah berkaca-kaca.
Teriakan sang mama terasa seperti ledakan halilintar di telinga Gamal. Belum pernah sekalipun dia mendengar wanita yang melahirkannya itu begitu murka, “Maafin Gamal, Ma,” lirih anak lelaki 16 tahun itu tanpa mengangkat wajahnya.
Lemas tubuh Hana mendengar kata maaf yang keluar dari bibir Gamal, maaf itu sama saja dengan pengakuan sang putra bahwa dia memang benar-benar melakukannya bersama Nora. Ia dan suaminya tersandar di kursi. Sebisanya menahan air mata agar jangan sampai keluar, tetapi bulir hangat itu menggenang di dalam mata mereka lalu akhirnya tumpah juga.
“Kalo kalian aja sakit hati, apa lagi kami. Nggak nyangka banget Gamal tega kaya gitu. Padahal kelihatannya alim banget.” Kartika, Ibu Nora ikut bicara.
“Iya, makanya kita izinkan dia bawa Nora jalan-jalan. Nggak nyangka dia sampai setega itu.”
Hana mengepalkan tangan hingga ruas jarinya memutih ketika mendengar ucapan kedua orang tua Nora. Kata-kata yang meluncur dari bibir mereka seakan-akan mengisyaratkan Gamal tega memaksa Nora. Putranya tega berbuat jahat kepada anak perempuannya. Hana tahu jelas, putranya anak baik. “Maaf ya, Pak, Bu. Bukannya tadi kalian bilang mereka pacaran ya? Bisa aja kan mereka emang sama-sama suka. Kata-kata yang Ibu dan Bapak ucapkan barusan tadi itu menyudutkan anak saya. Seakan-akan Gamal itu tukang lecehkan perempuan!”
“Nora, aku mau tanya sama kamu!” ucap Hana dengan nada tinggi dan tatapan permusuhan. Segalak induk ayam saat ada pemangsa yang mau mengganggu anaknya, “apa Gamal yang maksa kamu?”
Gemetar seluruh tubuh Gamal mendengar pertanyaan ibundanya, takut sekali Nora akan mengada-ngada, mengatakan dirinya merudapaksa. Sedangkan Nora hanya diam, tidak berani menatap Hana apalagi menjawabnya.
“Nggak papa. Jangan takut, jawab aja jujur. Apa Gamal maksa kamu?! Kalo dia maksa kamu, kita laporkan ke polisi. Aku nggak mau anak yang kudidik dan kubesarkan bertindak biadap sama anak orang. Kalo bener Gamal maksa, bilang sama aku! Aku adalah orang pertama yang akan menghukum Gamal. Menyesal aku melahirkannya!”
“Mama!” lirih Gamal di sela kucuran air mata. Sakit sekali hatinya mendengar sang ibunda berkata demikian. Seluruh tetesan darah di tubuhnya menyesali perbuatannya waktu itu karena sudah membuat mamanya begitu kecewa dan sakit hati, “aku nggak maksa dia, Ma! Dia yang maksa aku!”
Sadad berdecak kesal, “Sejak kapan perempuan bisa maksa laki-laki? Mana bisa Nora hamil kalo o***g lo nggak berdiri?!”
Hana kesal sekali kepada Sadad yang terus memojokkan putra, “Pak. Jangan semua kesalahan dilimpahkan ke anak saya. Asal Bapak tau, ya! Nora yang sering ke sini. Bahkan malam-malam juga dia datang. Justru saya yang usir dia pulang. Dalam hati nih, saya mikir. Orang tuanya mana? Kok dibolehin anak cewek keluyuran malam-malam. Saya yang punya anak laki aja, gak saya izinin dia keluar malam.”
“Lah, gimana Nora nggak datang cariin Gamal, dia mau minta pertanggungjawaban! Anak situ tiba-tiba menjauh, ngilang gitu aja. Kata Nora di sekolah juga dia menghindar mulu.”
Uwais menarik napas dalam dan berat mendengar perdebatan antara sang istri dan Sadad. Menatap dalam ke langit-langit ruang tamu, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi kedua orang tua Nora, “Tidak ada gunanya kita saling menyalahkan. Sekarang Bapak … Ibu, maunya seperti apa?” ucapnya dengan nada pelan.
“Ya … mau nggak mau mereka harus dinikahkan lah!” seru Sadad nyaring.
“Baiklah kalau itu yang bapak dan ibu mau. Kita nikahkan mereka secepatnya.”
“Tapi Yah!” sela Hana.
“Semua sudah terjadi. Yang bisa kita lakukan saat ini hanya mencari solusi. Kami sebagai pihak laki-laki akan sepenuhnya bertanggung jawab,” ucap Uwais dengan nada tegas, memotong kata-kata sang istri.
“Mereka masih anak-anak, Yah! Gamal masih anak-anak, duit aja masih minta, mana bisa dia jadi kepala keluarga,” protes Hana tidak terima dengan keputusan suaminya.
“Cukup, Ma!” tegur Uwais kepada istrinya, “Nanti dia pasti bisa. Yang penting sekarang segera kita halalkan mereka, “Jadi gimana, Bapak, Ibu? Apa sudah punya hari baik untuk menikahkah mereka?”
“Belum ada rencana, tapi makin cepat makin baik sebelum perut Nora makin membesar.”
“Berapa mas kawin yang diminta untuk Nora? Kalau kami ada dananya, kita bisa nikahkan mereka minggu depan. Tapi kalau uang kami gak cukup, kami minta waktu untuk mengumpulkan uangnya dulu.”
“Enggak perlu dipikirkan masalah itu. Biar saya yang tanggung semuanya. Nggak perlu ngasih apa-apa. Yang penting anak kami segera dinikahi. Daripada nanti nggak ada dana malah dijadikan alasan untuk nunda-nunda, tau-tau malah kabur.”
Uwais marah mendengar kata-kata yang diucapkan Sadad, meski begitu dia berusaha tetap tersenyum. Senyuman tipis yang sulit dicari maknanya di mata kedua orang tua Nora, “Saya paham bahwa Bapak sama sekali tidak mempermasalahkan soal uang. Tapi, saya sudah terangkan sebelumnya, bahwa kami sebagai pihak laki-laki akan bertanggung jawab sepenuhnya. Karena itu saya bertanya masalah mas kawin untuk Nora. Itu adalah bentuk penghormatan saya. Saya menghargai Nora serta Bapak dan Ibu. Saya tidak mau kehamilan Nora membuat dia menjadi tidak berharga. Tidak mendapatkan haknya, yaitu diperlakukan baik oleh keluarga dari pihak laki-laki. Saya mau, Nora seperti anak gadis lainnya, dilamar, diberi mas kawin oleh pihak laki-laki meski dia sudah hamil duluan.”
Sadad terdiam, bahkan hampir tersedak air liurnya sendiri. Kata-kata lembut dari Uwais bahkan memukul harga dirinya sangat keras, “Kami nggak minta itu semua, tapi kami akan terima apa pun pemberian kalian.
“Baik kalau seperti itu keputusannya. Minggu depan kita akan nikahkan mereka.”
“Iya, yang penting mereka segera menikah. Palingan soal kewajiban Gamal menafkahi anak kami aja. Itu yang harus kita diskusikan.”
“Makanya itu saya bilang, Pak. Jangankan mencari nafkah, uang aja si Gamal masih minta,” seloroh Hana kesal.
“Saya punya rencana, setelah Gamal dan Nora menikah, gimana kalau dia jualan emas aja. Nanti ikut saya jualan di toko saya, kerja sambil belajar. Kalo udah bisa, biar dia jualan sendiri.”
“Jadi Bapak punya toko emas?” tanya Uwais menatap dalam wajah calon besannya.
“Iya.”
“Oooh,” angguk Uwais paham. Dia paham darimana keangkuhan itu berasal, “Juragan emas rupanya,” ucapnya di dalam hati seraya tersenyum tipis.
“Iya saya yang punya toko emas Sumber Jaya. Toko paling besar di pasar Ahad. Tau kan toko Sumber Jaya?”
“Tau, Pak,” jawab Uwais berusaha terlihat antusias, padahal sama sekali tidak. Dia muak dengan sikap Sadad yang terkesan angkuh dan merendahkan.
“Kakak-kakaknya Nora juga jualan emas semua,” tambah Sadad semakin jumawa.
“Oooh,” Uwais mengangguk pelan sembari tersenyum tipis.
“Nah, nanti kalau Gamal sudah bisa dilepas, saya mau kasih 500 gram emas buat usaha dia. Kalian sanggup kasih berapa?” desak Sadad bernada tantangan kepada Uwais.
“Sama kan aja kalo gitu. Saya juga akan kasih segitu.” Uwais berkata dengan yakin, “mengenai uang lamaran dan mas kawin saya antarkan besok. Paling lama lusa. Soal surat menyurat untuk kelengkapan berkas, saya juga yang akan mengurusnya.”
“Baiklah kalau begitu, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kami pulang dulu.” Sadad berdiri dari kursi. Mereka pun pulang ke rumah.
***
Dua hari kemudian …
Uwais memanggil sang Putra duduk di ruang tengah, “Besok kita ke rumah Nora,” ucapnya pada sang putra.
“Mau apa, Yah?” tanya Gamal bingung.
“Mau lamar Nora sekalian kasihkan uang lamaran sama uang mas kawin.”
“Yah! Jangan, Yah!” sela Hana tidak setuju. Dia berjalan cepat ke dalam kamar dan kembali dengan tumpukan uang di tangan, “Nak, kamu mau motor baru kan? Ini uangnya. Ambil, beli motor yang kamu mau. Kamu pindah sekolah ke Bogor. Nanti tante kamu carikan kos-kosan yang dekat sama sekolahan.” Diletakkannya uang itu di atas meja.
Gamal terkesima beberapa saat, kemudian tersenyum senang. Keinginan mamanya bagus sekali. Dirinya masih bisa sekolah, bukannya menikah dengan Nora, “Beneran, Ma?” sulit baginya untuk percaya hal yang barusan dilihatnya.
“Iya! Mama udah tanya sama teman-teman mama yang rumahnya dekat Nora. Dia bukan anak baik. Sering kelayapan. Sering diantar laki-laki pulang ke rumah, ganti-ganti lagi.”
“Hana!” tegur Uwais tegas.
“Yah! Nora itu perempuan gak bener! Orang makan nangkanya, anak kita yang kena getahnya!” seru Nora berlinangan air mata.
Tidak! Hana tidak bisa merelakan putra yang ia besarkan hancur masa depannya hanya karena anak perempuan tidak jelas seperti Nora. Seorang anak perempuan yang sudah ia dicaritahu tingkah lakunya dan jelas baginya, Nora sama sekali bukan menantu idaman.
Baginya Gamal masih terlalu kecil. Tubuhnya saja masih kurus kerempeng begitu, mana kuat dia menanggung beban hidup. Tidak! Hana tidak rela!