Uwais menatap dalam raut kehancuran di wajah sang istri. Mata Hana merah, disebabkan rasa marah dan tidak terima, “Gamal harus tanggung jawab atas perbuatannya!” tegasnya dengan nada tinggi kepada sang istri.
“Apa yang harus dia pertanggungjawabkan?! Aku sudah bilang Nora gak itu anak gak bener, Yah! Temen-temen aku juga bilang gitu. Kasian Gamal. Kasian anakmu! Hancur masa depan dia gara-gara Nora sialan itu! Masa orang yang makan nangkanya dia yang kena getahnya?!” Lagi Hana menyatakan pendapatnya dengan suara yang lantang.
“Salah Gamal kenapa sampai menyentuh nangka itu, dia gak akan pernah kena getah nangka kalau dia gak berani sentuh yang bukan haknya!” jawab Uwais tak kalah tinggi. Hana membuang wajahnya ke arah lain mendengar mendengar kata-kata suaminya. Sedangkan Gamal bingung, menatap kedua orang tuanya bergantian. Kenapa sekarang kedua orang tuanya ribut soal nangka? Perasaannya, akhir-akhir ini dia tidak pernah makan nangka.
“Gamal laki-laki, Hana! Dia harus bertanggungjawab. Aku rasa, kamu, kita__ gak salah didik. Kita selalu mengajarkan dia untuk berjalan di jalan yang baik. Kalo dia ngeyel dan malah memilih jalan becek dan berlubang, ya dia harus nanggung resiko bajunya kotor kena cipratan lumpur. Bahkan muka kita aja kena juga gara-gara dia main di kubangan. Tugas kita, membersihkan lumpur itu. Biar Gamal belajar, ada konsekuensi dalam setiap keputusannya. Akan ada hukuman di setip kesalahannya.”
Hana terduduk lemas di kursi menundukkan wajah dalam-dalam bersimbah air mata, “Gamal masih kecil, Yah. Mau seperti apa hidupnya? Gimana masa depannya nanti?”
“Dia akan belajar banyak dari sini. Kamu maunya anak kamu jadi lelaki yang bertanggung jawab atau jadi lelaki pengecut? Lari dari masalah dan berlindung di belakang kamu. Kamu mau anak kamu gitu nanti? Masa depan itu rahasia, Hana. Kita tidak tahu akan seperti apa. Tapi satu hal yang pasti, kalau kita menunaikan kewajiban kita hari ini, melakukan hal yang seharusnya maka Gamal akan jadi lelaki yang tangguh, asalkan dia mau belajar dari persoalan ini. Aku sudah sering bilang sama dia, pecah berarti membeli. Meski barang itu sebenarnya sudah retak.”
Tidak ada lagi kata-kata terucap untuk melawan suaminya. Walaupun dia yakin, Nora tak hanya retak, tapi remuk. Akhirnya hanya bisa menuruti kata-kata suaminya, “Aku gak ikut ke rumah mereka. Kamu aja sama Gamal.” ucap Hana sembari berjalan masuk ke dalam kamar.
Uwais dan Gamal pun naik motor pergi ke rumah Nora. Dalam perjalanan ayah dan anak itu tidak bicara apa pun. Gamal larut dalam kebingungan, tapi dia hanya bisa menurut apa yang menjadi keputusan kedua orang tuanya.
Seminggu kemudian …
Gamal tengah asik berbincang dengan teman-temannya di depan pos kamling, tempat biasanya dia berkumpul dengan teman sekampung dan sepermainan. Sebuah motor berhenti tepat di depan mereka. Semua orang mengenalnya, itu adalah Uwais ayahnya Gamal.
“Ga, ayo!” panggil sang ayah.
“Kemana, Yah?” Gamal bingung melihat Ayahnya berpakaian sangat rapi.
“Hari ini kamu nikah. Ayo!”
Wajah Gamal seketika berubah muram dan sedih. Dia tidak mau menikah. Dirinya masih mau sekolah, tapi apalah daya, semua sudah terjadi. Dia sama sekali tidak peduli dengan pernikahan ini, bahkan dia saja tidak ingat bahwa hari ini dirinya menikah dan akan sebentar lagi akan berstatus sebagai suami Nora. Gontai langkahnya mendekati sang ayah lalu menaiki motor.
“Kamu gimana sih? Udah tau kan hari ini mau nikah, kok malah main, bukannya siap-siap?” gurutu Uwais ketika putranya duduk di belakangnya. Dia menyerahkan tas berisi kemeja dan peci hitam untuk Gamal pakai di acara akad nikah, “Nih pake.”
“Apa ini, Yah?” Gamal mengambil tas itu.
“Baju sama peci.”
“Aku gak mau nikah, Yah. Aku masih mau sekolah,” lirih Gamal sedih sembari mengusap air matanya dengan kasar menggunakan lengan. Ingin rasanya dia membuang tas pemberian ayahnya ke jalanan.
Uwais menoleh, melihat putranya menyapu air mata, “Kenapa kamu gak pikirkan itu waktu kamu mau melakukannya sama Nora? Ayo pake bajunya!”
Dengan terpaksa Gamal memakai kemeja putih dan kopiah di kepalanya “Aku gak mau, Yah. Nora maksa,” terang Gamal membela diri.
Uwais menjalankan motornya ketika melihat putranya sudah rapi, “Laki-laki tidak bisa dipaksa melakukan itu, Nak. Laki-laki tidak akan mengeluhkan kelemahan dan kesalahan yang dia lakukan. Laki-laki adalah pemimpin, dia-lah yang memutuskan mau seperti apa. Jika dia salah, dia harus bertanggung jawab dan memperbaiki kesalahannya, bukannya malah menyalahkan orang lain atas keputusan salah yang dia buat. Apa kamu paham?” Gamal tidak pertanyaan menjawab. Hanya bisa tertunduk sedih.
“Mungkin sekarang kamu gak paham, Ga. Tapi nanti setelah kamu dewasa, kamu pasti paham. “
Setibanya di rumah Nora, keluarga inti dan juga paman serta bibi gadis itu sudah berkumpul. Tidak ada acara besar, hanya pernikahan private. Gamal melihat mamanya juga sudah berada di sana dengan raut wajah begitu sedih. Tidak lama kemudian penghulu datang, Gamal diberikan secarik kertas untuk membaca akad nikah.
Nora duduk di sisinya, menandatangani berkas pernikahan. Sah sudah dirinya berstatus sebagai suami istri.
“Gamal, kamu boleh nginap di sini kalo mau. Lusa kan acara resepsi,” tawar Sadad kepada menantunya. Gamal menatap dalam kedua orang tuanya menanyakan keputusan mereka.
“Terserah Gamal-nya aja. Udah nikah ini, ya kan?” Uwais tertawa pelan.
“Enggak usah nginap. Aku mau pulang aja,” ucap Gamal tegas.
Nora terkejut menatap Gamal. Sedih sebab suaminya menghindarinya, padahal dulu … sebelum mereka melakukannya Gamal selalu baik kepadanya.
“Loh kenapa? Kan Nora udah jadi istri kamu. Gak papa kalo mau nginep di sini.” Kartika, mama Nora menimpali.
“Nggak papa, Ma. Nanti aja,” tolak Gamal lagi.
“Iya, nanti aja lah setelah acara resepsi. Lagian Gamal juga gak bawa baju ke sini. Cuma baju di badan dia itu aja.” Hana mengerti keengganan sang putra.
“Ya udah kalo gitu.” Kedua orang tua Nora pun berhenti memaksa.
Dua hari kemudian …
Gamal duduk di pelaminan dengan perasaan gelisah. Begitu banyak tamu datang silih berganti menyalaminya yang entahmereka siapa. Dirinya tidak mengenal mereka. Dia merasa hanya menjadi tontonan dan bahan tawaan orang belaka
Segerombolan anak muda seusianya mendekati pelaminan. Ah, itu teman-teman sekolahnya. Gamal malu tapi mau bagaimana mana lagi. Dia tidak punya tempat untuk berlari. Mereka semua datang, teman-teman satu kelasnya! Dia tidak mengundang mereka. Andai bisa dia ingin menyembunyikan semua ini rapat-rapat, tetapi ayah Nora mengundang semua guru hingga kepala di sekolah STM Bunga Bangsa. Tentu saja kabar sensitif ini tersebar sangat cepat.
“Yah, Gamal! Dah kawin aja! Katanya mau jadi engineering, mau sekolah sampai ke luar negri. Tau-taunya malah sekolah di kasur,” ledek Miko bercanda sembari menyalami Gamal.
“Apaan sih!” Gamal tertawa hambar. Wajahnya merah karena malu. Tidak … teman-temannya tidak ada yang tahu tentang kehamilan Nora, tetapi siapa pun pasti bisa menebak ceritanya, bagaimana bisa anak yang sedang bersekolah tiba-tiba berhenti sekolah dan menikah.
“Ra, titip temen gue, ya. Jangan diapa-apain. Gamal anak baik loh! Gak nyangka gue, Bunga Sekolah kita dipetik sama si Gamal. Belum juga mekar padahal. Patah hati gue!” seloroh Miko menyalami Nora.
Wajah Nora merah karena malu. Dia tahu betul itu kalimat sindiran, sebab Miko adalah salah satu selingannya, “Apaan sih!” senyum salah tingkah tersemat di bibir bergincu merah miliknya.
Teman-teman Gamal dan Nora bergantian menyalami mereka berdua. Kini putra satu-satunya pasangan Uwais-Hana itu kembali duduk di pelaminan dengan perasaan sedih dan malu. Tamu semakin membludak, dirinya semakin tidak bisa menahan perasaannya. Dia muak berada di sini, di tengah hiruk pikuk manusia dan kerasnya suara musik. Dirinya sama sekali tidak menginginkan hal ini. Dia malu! Dirinya merasa ditertawakan semua teman di sekolahnya. Belum lagi lelah harus duduk-berdiri selama berjam-jam.
Gamal masuk ke dalam rumah Nora langsung menuju kamar pengantin yang telah dihias dengan cantik. Melepaskan jas pengantin lalu berbaring di kasur, mengambil peci bersulam benang emas dari kepalanya lalu menutupkan ke wajahnya. Dia berusaha tidur. Sementara itu di luar, tepatnya di pelataran halaman rumah yang sudah berubah menjadi pelaminan dan juga area makan para tamu undangan terjadi keributan sebab pengantin prianya menghilang.
“Gamal mana, Ra?” tanya Kartika kepada putrinya, “orang-orang pada nyariin tuh, mereka nanyain, pengantin laki-lakinya mana?”
“Gak tau, Ma.” Nora menggeleng, “tiba-tiba ngilang.”
Kartika menggeleng kesal, dia pun berbisik kepada para kakaknya Nora agar segera mencari menantunya itu. Setelah sibuk mencari mereka mendapati Gamal berbaring di atas kasur. Hanya kaos singlet dan celana yang melekat di tubuhnya. Sedangkan wajahnya tertutup peci.
Lukman, kakak pertama Hana yang pada waktu itu melayangkan tinjunya di wajah Gamal pun geram melihat adik iparnya enak-enakan tidur, sementara semua orang ribut mencarinya, “Gamal! Enak bener lo tidur sini!” protesnya seraya membuka peci dari wajah Gamal, “Bangun Woi!” teriaknya nyaring. Sulit baginya menerima lelaki yang sudah menghamili adik kecilnya.
Gamal membuka mata dengan malas, mencari tahu siapa gerangan yang telah meneriakinya, “Apa sih ah!” gerutu lelaki muda itu tak peduli. Dia merampas peci dari tangan Lukman.
Mata Lukman terbelalak lebar melihat kelancangan adik iparnya, “Wah … bener-bener nih anak! Gak sopan santunnya sama sekali lo ya!” makinya sambil mengepalkan tangan kuat-kuat, siap mengarahkan tinjunya ke wajah sang adik ipar.
“Lukman!” teriak Kartika keras sekali.
Lukman menoleh, dilihatnya sang ibu berdiri di mulut pintu bersama Hana, yang dikenalinya sebagai mama Gamal.
“Ada apa ini? Jangan seenaknya mau mukul anak orang!” Geram Hana melihat putranya diperlakukan demikian.
“Tanya anak ibu tuh, kenapa tingkah laku dia seenaknya! Jangan langsung main nyalahin saya! Kita semua ribut cari dia. Lah dia enak-enakan tidur sini. Disuruh bangun malah nyolot,” terang Lukman membela diri.
“Ga, kok kamu gitu sih? Itu orang-orang pada nyariin kamu loh!” Hana ikut menimpali.
“Gamal capek banget, Ma. Ngantuk, sakit kepala, pusing,” keluhnya pada sang mama dengan wajah penuh pengharapan akan dikasihani. Sebab biasanya seperti itu, Mamanya begitu perhatian dan sangat sayang padanya.
Hana menatap dalam wajah putranya yang tampan itu. Dia sangat hapal raut wajah ingin bermanja itu. Meski kini Gamal sudah berstatus suami Nora, dia tetaplah anak remaja 16 tahun dan masih manja kepada dirinya, “Bentar lagi acaranya selesai. Tahan dulu, ayok!” Kali ini dipaksanya sang putra.
“Nggak mau aku, Ma! Kepala aku sakit banget.” Gamal tidak peduli. Dia kembali berbaring di kasur.
“Ya udah lah, biar dia istirahat dulu.” Kartika mengalah. Mereka pun kembali keluar tanpa pengantin laki-laki.
***
Sepasang mata hitam Gamal meneliti seluruh ruangan. Dirinya tidak memungkiri, kamar pengantinnya didekorasi sangat indah. Berbaring di sisinya Nora yang kini menjadi sudah istrinya. Lama keduanya hening dalam diam. Sibuk berkelana, tersesat dalam labirin di benak mereka. Sama sekali tidak tahu seperti apa hidup keduanya akan berjalan nantinya.
Gamal melihat jam di dinding, waktu menunjukkan jam 4 sore. Hiruk pikuk di luar sana sudah hampir tidak terdengar lagi. Pesta telah usai, sementara babak baru hidupnya baru akan dimulai. Dia menoleh ke samping, Nora pun sama lelahnya seperti dirinya, terlebih lagi sang istri muntah beberapa kali. Riasan dan juga atribut pengantin sudah dilepaskan darinya, hingga yang tersisa hanyalah wajah cantiknya yang sangat pucat.
“Ga …” panggil Nora dengan nada manja sembari melingkarkan tangan ke d**a suaminya. Memecah keheningan kamar yang terasa menakutkan sebab jelas terlihat Gamal tidak suka berada di sini. Bersama dirinya di ruangan ini. Perlahan tangannya turun ke bawah, menuju area sensitif Gamal.
Gamal berdecak kesal sembari menepis tangan Nora dengan kasar, “Apaan sih, Ra!” protesnya dengan nada tinggi. Dia tidak bisa melakukanya. Hatinya penuh kemarahan. Karena tingkah agresif Nora-lah dirinya kini berakhir di kamar ini, bukannya bermain dengan teman-temannya,
Merasa mendapatkan penolakan kasar, hati Nora hancur, “Aku mau mandi,” ucapnya seraya beringsut dari kasur. Dirinya pun lelah. Ditambah lagi mual dan juga pusing akibat kehamilan membuatnya malas berdebat dengan sang suami.
“Kenapa kamu gitu, Ra?” Gamal membuka suara. Lama sekali dia tidak bicara dengan Nora.
“Gitu maksudnya?” sang istri balik bertanya.
“Kenapa kamu diam aja liat aku dipukuli sama orang tua dan kakak-kakak kamu? Kenapa kamu gak jelasin sama mereka kalo kamu yang mati-matian ngajak aku begituan, sampai aku kamu katain ayam kate, sampai aku diejek temen-temen kamu dibilang banc*,” cecar Gamal dengan tubuh yang gemetar menahan amarah yang selama ini bersarang di dadanya.
“Aku … aku malu,” Nora menundukkan wajahnya.
Gamal memejamkan matanya sembari mengepalkan tangan kuat-kuat mendengar jawaban Nora, “Lo bilang apa, Ra? Malu? Lo Malu?!” Tubuhnya gemetar menahan gelegak emosi yang kian mengubun-ubun. Hingga dirinya tidak tahan lagi.
Bugh! Bugh Bugh Gamal meninju bantal di kasur sekuat-kuatnya tanpa henti. Terus meluapkan emosinya. Nora beringsut rapat ke dinding, merasa takut jika sampai Gamal lepas kendali lalu meninjunya secara membabi buta, seperti dia menunju batal itu.
“Bukannya waktu itu lo gak punya malu ya?! Kok bisa-bisanya pas gue dituduh yang enggak-enggak sama keluarga lo, lo malah diam aja?! Hobi lo itu bikin malu gue, ya kan, Ra?! Di depan keluarga lo lo diem aja kaya batu . Di depan temen-temen lo, lo permalukan gue sampai segitunya! Abis gue, Ra! Adah gak ada harga dirinya lagi gara-gara lo! Mending lo matiin gue aja sekalian!” maki Gamal keras sekali.
“Nggak gitu, Ga. Nggak gitu!” Nora menangis.
“Nyesel gue ketemu lo, Ra!” Gamal berjalan keluar dan membanting pintu.
Nelangsa Nora menatap punggung Gamal yang menjauh pergi. Tidak ada malam Tidak pertama yang indah seperti impiannya, yang ada hanyalah ini kali pertama keduanya bertengkar sebagai suami istri.