“Perfect!” gumam Kayra setelah memasang hijab dengan rapi di depan cermin.
Kayra keluar dari kamar menuruni anak tangga menuju ruang makan di mana sang kakak telah menunggu dirinya di sana saat ini dengan langkah anggun.
Ya. Setelah memutuskan untuk move on dalam waktu cepat, Kayra juga mengambil keputusan untuk mengenakan hijab dalam penampilannya. Kayra juga sedang berusaha untuk memperbaiki ibadahnya agar bisa melaksanakan sholat tepat waktu tanpa menunda waktu sholat seperti dahulu.
“Assalamu’alaikum.. Selamat pagi kak..” Kayra menyapa sang kakak yang sedang fokus dengan macbook di tangan.
Dito tercengang setelah melihat penampilan sang adik yang sangat berbeda pagi ini. Sang adik tampak cantik dan anggun dalam balutan pakaian Muslimah berwarna navy dengan hijab senada. Bahkan Dito mengangakan mulut melihat penampilan sang adik. Dengan mengerjapkan indera penglihatan untuk menyakinkan apa yang kini dilihatnya. Tatapan Dito masih terarah kepada sang adik yang telah duduk di kursi yang biasa ditempatinya selama di rumah mereka.
“Kak.. Biasa saja dong menatapnya. Kayra kan jadi malu kalau kakak menatap Kayra seperti itu. Apa Kayra tidak pantas memakai hijab kak?” ucap Kayra.
Dito menyadarkan diri dari lamunan setelah suara lembut sang adik masuk ke dalam indera pendengarannya, “Kamu cantik dengan penampilan seperti ini. Kakak suka Kayra..”
“Serius kak? Kakak tidak sedang membohongi Kayra kan?” tanya Kayra dengan rasa tidak percaya.
“Iya adik kesayangan kakak. Kamu cantik dan pantas mengenakan pakaian seperti ini. Ayo.. Kita sarapan dulu. Kakak akan antar ke perusahaan ayah yang berada di kawasan Thamrin nanti,” jawab Dito.
“Terima kasih kak..” Kayra mengulas senyuman hangat kepada sang kakak.
Dito dan Kayra menikmati hidangan sarapan pagi yang telah dihidangkan oleh salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah mereka dengan suasana hening tanpa ada yang suara sedikit pun. Hanya dengungan sendok dan garpu di atas piring yang memecah keheningan di antara Dito dan Kayra jika sedang berada di meja makan.
***
Hentakan suara sepatu heels menggema di loby perusahaan Darma Grup pagi ini. Tampak sosok wanita bertubuh langsing dan mungil dengan hijab yang modis sedang berjalan masuk ke dalam bersama dengan pimpinan perusahaan yang telah mereka kenal. Banyak karyawan yang bertanya tentang sosok wanita yang berjalan di samping pimpinan perusahaan mereka. Namun mereka memilih untuk diam dan tidak ada yang berani berkomentar sedikit pun daripada surat peringatan atau bahkan surat pemecatan melayang ke muka mereka.
“Ini ruangan kamu, Kayra. Kalau kamu merasa ada yang ingin dirubah, nanti kakak akan minta tolong orang untuk merubah ruangan kamu,” ucap Dito saat mereka telah berada di ruangan CEO yang akan ditempati oleh Kayra.
Kayra memandang setiap sudut ruangan yang akan menjadi ruangannya mulai hari ini. Ruangan besar dengan penataan yang rapi, bersih dan elegan. Fasilitas yang lengkap dan kamar pribadi di dalam ruangan itu dirasakan cukup luas oleh Kayra. Kayra menatap sang kakak dengan senyuman manis.
“Kayra rasa ini lebih dari cukup kak. Tidak ada yang perlu dirubah dari ruangan ini. Kayra suka dengan penataan ruangan ini kak,” balas Kayra.
“Iya sayang.. Satu jam lagi kita akan meeting dengan dewan direksi dan karyawan untuk mengumumkan jika mulai hari ini kamu yang akan memimpin perusahaan ini. Kamu boleh memilih sekretaris siapa pun itu. Barangkali ada teman atau salah satu sahabat kamu yang sedang mencari pekerjaan selain pengkhianat itu,” sambung Dito.
“Iya kak. Nanti Kayra akan tanya ke teman Kayra siapa tahu ada yang membutuhkan pekerjaan. Tapi tetap sesuai dengan kualifikasi kak,” terang Kayra.
“Bagus. Kakak suka cara berpikir kamu. Ayo. Kakak akan mengajarkan kamu sedikit demi sedikit pekerjaan yang akan kamu pegang nanti,” tukas Dito.
“Iya kak,” balas Kayra.
Dito mulai mengajarkan Kayra tentang apa yang akan menjadi job desknya nanti dengan pelan dan telaten. Kayra memperhatikan setiap apa yang diajarkan oleh sang kakak. Tidak sudah bagi Kayra untuk mencerna setiap apa yang diajarkan oleh sang kakak hari ini. Kecerdasan yang dimiliki oleh Kayra tetap ada dengan kadar yang sama sehingga Kayra dapat mencerna dengan cepat setiap penjelasan dari sang kakak.
***
Endra membanting kasar amplop yang baru saja diterima dari pengadilan agama. Rasa tidak percaya masih menyelimuti diri Endra setelah menerapkan surat pengajian gugatan cerai dari sang istri.
Ya. Endra tidak percaya jika Kinara benar-benar akan menggugat cerai dirinya secepat ini. Endra tidak ingin berpisah dari Kayra. Istri yang sangat dicintainya. Cinta pertama dalam hidup Endra. Masih Endra cintai hingga sekarang. Namun Endra sadar kesalahan yang telah dilakukan tidak akan mudah untuk dimaafkan oleh sang istri bahkan kakak iparnya. Ancaman sang kakak ipar masih terngiang dalam benak Endra jika Endra tidak menandatangani surat perceraian dari Kayra dalam waktu cepat.
Frustasi..
Bimbang..
Itulah yang kini sedang dirasakan oleh Endra. Perceraian tidak pernah ada dalam bayangannya selama ini. Walaupun pernikahan di antara Endra dan Kayra selama lima tahun belum menghadirkan buah hati. Namun Endra tidak pernah mempermasalahkan semua itu. Bagi Endra dengan kehadiran Kayra dalam hidupnya sudah lebih dari cukup. Tapi itu dulu sebelum kehadiran Mayang yang menggoda Endra dan Endra lepas kendali dengan apa yang ditawarkan oleh Mayang, sahabat baik Kayra. Kenikmatan sesaat yang berujung petaka. Menyesal itu sia-sia. Nasib sudah menjadi bubur. Mayang kini sedang hamil dan Endra juga telah menikah dengan Mayang.
Endra menandatangani surat perceraian itu dengan derai air mata membasahi wajah saat ini. Setelah berpikir beberapa saat dan menjambak rambutnya serta mengingat ancaman dari sang kakak ipar, akhirnya Endra menerima apa yang telah menjadi keputusan Kayra.
“Kamu pasti akan menyesal. Telah melepaskan Kayra demi Mayang, Endra,” ucap Aldi sahabat baik Endra yang bekerja satu devisi dengannya.
Endra menatap nanar kepergian sahabat baiknya itu. Entahlah. Endra tidak dapat berpikir jernih untuk saat ini. Cinta itu masih besar untuk Kayra. Namun kesalahan yang dilakukan oleh Endra juga sangat besar dan telah sangat melukai hati sang istri tercinta.
“Maafkan mas Kayra, sayang. Mas masih mencintai kamu. Mas masih sangat mencintai kamu, sayang..”
Endra mengecup foto sang istri yang masih berada di dalam dompet dan layar ponselnya.
***
“Suami kamu telah menandatangani surat gugatan cerai yang kamu ajukan. Sidang akan dilakukan minggu depan. Apa kamu akan datang Kay?” ucap Dito setelah mereka menyelesaikan meeting hari ini.
Gelengan kepala Kayra menjawab apa yang diucapkan oleh Dito. “Tidak kak. Kayra tidak akan pernah datang ke pengadilan untuk sidang cerai. Kayra tidak ingin bertemu lagi dengan pengkhianat itu kak. Kayra akan meminta pengacara untuk menghadiri sidang,” balas Kayra.
“Iya sayang. Kakak setuju dengan apa yang kamu katakan. Lebih baik kamu fokus dengan kehidupan baru kamu. Buktikan kepada mereka jika kamu bisa bangkit dan lebih baik dari mereka,” sambung Dito.
“Iya kak.. Terima kasih kak..” Kayra mendekap tubuh kekar dan atletis sang kakak.
‘Bismillah..’