Mencari Kayra

1387 Words
Endra menautkan kedua alis dengan suasana rumah yang sepi setelah tiba di rumah petang ini. Endra menaiki anak tangga membuka kamar yang ditempati oleh Kayra. Tampak kamar itu kosong tanpa ada Kayra di dalam. Endra masuk ke dalam kamar mandi untuk memeriksa barangkali Kayra sedang berada di dalam kamar mandi saat ini. Namun Endra juga tidak menemukan keberadaan sang istri di dalam kamar mandi. Endra lantas melangkahkan kaki ke kamar utama untuk memeriksa keadaan kamarnya. Deg.. Ada perasaan tidak enak dalam hati Endra saat melihat pintu lemari sedikit terbuka. Endra memeriksa lemari pakaian milik Kayra yang telah kosong. Raut wajah Endra pias dengan kenyataan saat ini. Kayra pergi dari rumah? Endra keluar meninggalkan kamar menuruni anak tangga menuju ke lantai satu untuk menanyakan kepada pekerja rumah tangga tentang keberadaan Kayra. “Bi.. Apa bibi tahu kemana istri saya?” tanya Endra kepada bi Asih “Maaf tuan.. Nyonya pergi meninggalkan rumah tadi pagi setelah tuan berangkat kerja,” jawab bi Asih dengan ketakutan Jeder.. Endra tercengang dengan apa yang diucapkan oleh bi Asih. Perasaan Endra selama di kantor tidak salah. Endra dapat menerka jika Kayra akan pergi meninggalkan rumah mereka. Namun Endra tidak menyangka jika Kayra akan meninggalkan rumah mereka dalam waktu secepat ini. “Kenapa bibi tidak memberi tahu saya sejak tadi pagi?” Emosi Endra mulai tidak stabil “Maafkan bibi tuan. Bibi hanya menuruti perintah nyonya,” balas bibi Asih dengan tubuh gemetar “Sudah. Bibi kembali bekerja!” tukas Endra dengan emosi Arghhhh.. Endra berteriak meluapkan emosi dan mengusap kasar wajahnya dengan menggunakan kedua telapak tangannya. Semua ini kesalahannya. Seharusnya peristiwa malam itu tidak terjadi. Ah.. Ini bukan waktunya menyesali semua yang telah terjadi. Ini waktunya mencari Kayra. Endra meraih kunci mobil yang diletakan di atas meja ruang tengah lalu melangkahkan kaki menuju ke mobil yang berada di depan rumah. Endra sontak menghentikan langkah saat melihat mobil Kayra pemberian dari Endra saat sang istri ulang tahun masih terparkir di tempat biasa. Endra semakin frustasi saat mengetahui sang istri tidak membawa mobil kado ulang tahun dari dirinya. Dengan kecepatan penuh Endra mengemudikan mobil menuju rumah kakak Kayra, Dito. Dalam benak Endra hanya satu tempat yang pasti akan dikunjungi oleh Kinara saat sedang mengalami masalah seperti ini, rumah sang kakak. “Kamu untuk apa ke sini?” tanya Dito sembari menahan emosi “Apa Kayra ada di sini kak?” jawab Endra. Dito tersenyum sinis ke arah Endra yang masih menjadi suami sang adik. “Untuk apa kami mencari adik saya? Apa kamu ingin menyakiti adik saya lagi? Belum puas kamu mengkhianati adik saya? Apa alasan kamu mengkhianati adik saya? Apa?” “Kak—“ Endra tidak melanjutkan ucapannya karena dipotong oleh Dito “Adik saya tidak di sini. Tadi memang adik saya menemui saya di kantor meminta saya untuk mengantarkan adik saya ke suatu tempat yang sangat jauh dari sini,” jawab Dito. “Kak.. Tolong beri tahu Endra di mana Kayra berada saat ini,” pinta Endra. Dito berdecih mendengar ucapan dari Endra. “Untuk apa saya memberi tahu kamu di mana adik saya? Apa untuk kamu sakiti lagi?” Endra terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh kakak iparnya itu. “Kenapa diam? Jawab?” teriak Dito dengan lantang “Bukan kak..” Endra ketakutan menjawab pertanyaan kakak iparnya itu “Sekarang kamu tinggalkan rumah ini. Jangan pernah menemui adik saya lagi. Tunggu surat gugatan cerai dari adik saya ke kamu besok di rumah!” sambung Dito Jeder.. Bagai dilempar bola seketika kepala Endra merasakan sakit yang luar biasa saat mendengarkan kata gugatan cerai dari sang kakak ipar. Pisah? Gugatan cerai? Tidak. Endra tidak ingin berpisah dengan Kayra istri yang sangat dicintainya. Kayra cinta pertama Endra. Gelengan kepala lemah menandakan jika Endra menolak apa yang diucapkan oleh sang kakak ipar. “Kamu harus menandatangani surat gugatan cerai dari adik saya. Atau kamu akan menyesal!” Dito meninggalkan Endra yang masih bergeming di tempat menuju ke kamar sang adik. Endra menatap nanar sang kakak ipar yang sedang melangkahkan kaki menaiki anak tangga. Sungguh. Ini bukan keinginan Endra. Endra tidak ingin berpisah dengan Kayra. Namun rasanya percuma Endra bertahan dengan ke inginnya saat ini. Endra tahu Kayra pasti tidak akan bisa memaafkan dirinya. Endra juga tahu bagaimana sang kakak ipar jika tidak dituruti keinginannya. Endra meninggalkan rumah sang kakak ipar dengan lesu karena tidak dapat bertemu dengan sang istri hari ini. “Kamu pasti akan secepatnya berpisah dengan suami kamu yang b******k itu Kayra. Kamu tidak perlu takut Kayra Kakak akan selalu ada di belakang kamu. Besok kamu ikut kakak ke kantor mendiang papa. Kamu akan mulai mengelola perusahaan mendiang papa. Jangan membantah kakak lagi. Kakak tidak menerima penolakan!” titah Dito tegas lalu keluar meninggalkan kamar sang adik. Kayra berusaha mencerna apa yang diucapkan oleh sang kakak. Kayra menyadari jika apa yang diucapkan oleh sang kakak itu benar adanya. Berpisah dengan Endra itu jauh lebih baik dari pada bertahan dan d imadu. Berbagi pasangan itu tidak enak dan pasti tidak akan adil. Baiklah. Walaupun cinta itu masih ada di hati Kayra untuk Endra. Namun Kayra akan bertekad akan melupakan Endra dan membuang nama Endra dari dalam hatinya. Keputusan untuk berpisah dari Endra sudah bulat bagi Kayra. Tidak ada kata maaf bagi pengkhianatan seperti Endra dan Mayang. Kayra harus move on. Kayra harus membalas semua yang telah dilakukan oleh Endra dan Mayang. Kayra harus bangkit. Bangkit dari keterpurukan yang diciptakan oleh Endra dan Mayang. Kayra keluar dari kamar menuju ke kamar sang kakak untuk memberi tahu keputusan yang telah diambil oleh Kayra. Mulai saat ini Kayra berjanji akan menurut dan tidak akan membangkang dengan sang kakak. Kayra tidak ingin apa yang terjadi pada kehidupannya saat ini kembali terulang jika Kayra tidak menuruti apa yang diucapkan oleh sang kakak. Keluarga satu-satunya yang Kayra miliki saat ini hanya sang kakak, Dito. Tok.. Tok.. Tok.. Kayra mengetuk pintu kamar sang kakak sebelum masuk. Walaupun kamar sang kakak. Namun Kayra tetap mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar sang kakak seperti apa yang selama ini telah diajarkan oleh kedua orang tua mereka tentang adab, tata krama dan sopan santun. Kayra membuka knop pintu dengan pelan setelah mendapatkan izin dari sang kakak untuk masuk ke dalam kamarnya. Tampak sang kakak sedang duduk di sofa kamar sembari memeriksa pekerjaan yang berada di macbook sang kakak. Kayra berjalan dengan langkah pelan menghampiri sang kakak lalu duduk di samping sang kakak tercintanya. “Ada apa Kayra?” tanya Dito tanpa mengalihkan pandangan dari macbook yang sedang berada di tangan “Kayra mengganggu tidak kak?” Tidak menjawab pertanyaan sang kakak. Namun Kayra mengajukan pertanyaan kepada sang kakak Dito berdecak kesal mendengar ucapan sang adik, “Tidak Kayra. Ada apa kamu mencari kakak, Kayra?” “Kayra setuju untuk mengelola perusahaan mendiang papa. Tapi Kayra mohon bimbingan dari kakak,” balas Kayra. Dito meletakan macbook ke atas meja setelah mendengarkan apa yang diucapkan oleh Kayra. Satu senyuman hangat terukir dari wajah Dito yang sedang menatap ke arah Kinara. Dito memegang bahu Kayra dengan lembut sebelum membalas ucapan sang adik. “Kakak bangga sama kamu. Kamu harus bisa move on. Kakak tahu bagaimana rasanya dikhianati suami dan sahabat. Tapi bukan berarti kamu harus terpuruk. Kami harus bangkit Kayra. Buktikan kepada orang yang telah menyakiti hati kamu kalau kamu bisa bangkit. Kamu bisa lebih baik dan berhasil tanpa mereka. Kakak hanya ingin kamu membuktikan itu ke mereka. Kamu tidak sendiri Kayra. Kakak akan selalu berada untuk kamu,” ucap Dito sembari menatap manik mata sang adik. “Iya kak. Kayra akan move on. Kayra akan bangkit kak. Terima kasih kakak selalu ada buat Kayra. Maafkan Kayra yang selalu mengecewakan kakak selama ini. Maafkan Kayra yang tidak pernah menurut sama ucapan kakak,” balas Kayra dengan berderai air mata. “Iya Kayra. Kakak sudah memaafkan kamu sejak lama. Kamu adik kesayangan kakak, Kayra. Kakak percaya kamu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama setelah ini Kayra,” sambung Dito lalu mengusap buliran kristal bening di wajah sang adik. Kayra menghamburkan tubuh ke sang kakak lalu mendekap erat tubuh kekar nanti atletis milik sang kakak. Tangis itu tidak bisa di tahan oleh Kayra hingga membasahi pakaian yang dikenakan oleh Dito. Sentuhan lembut di surai panjang milik sang adik yang tergerai indah dirasakan oleh Kayra. Dito dan Kayra saling mendekap dengan perasaan bahagia. Kayra berjanji mulai detik ini kan menjadi adik yang baik. Adik yang baik. Titik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD