Langit Jakarta menyambut Abyan dan Reyna dengan suhu yang jauh lebih gerah daripada Malang. Setelah beberapa hari dirawat karena gegar otak ringan akibat insiden 'nyaris-tertabrak-Hanif-yang-panik' di kantor, Abyan akhirnya diizinkan pulang. Mereka memutuskan untuk tidak berlama-lama di Malang. Abyan sudah kangen kasur nyamannya, sementara Reyna jelas sudah sangat kangen menguasai suaminya di rumah. "Pelan-pelan, Mas. Jangan jalan cepat-cepat," Reyna berbisik, memegang lengan Abyan seperti memegang piala kristal. Abyan tersenyum geli. "Sayang, aku cuma gegar otak ringan, bukan kaki patah. Aku udah sehat, sumpah deh." "Nggak peduli! Pokoknya harus pelan. Nanti jatuh, terus pingsan lagi, aku nangis kejer lho di rumah sakit. Mas mau aku jadi janda baru seumur jagung?" ancam Reyna, matanya

