bc

Menikah dengan Teman Mamaku

book_age18+
67
FOLLOW
1.0K
READ
family
HE
age gap
fated
opposites attract
friends to lovers
arranged marriage
kickass heroine
heir/heiress
drama
bxg
brilliant
campus
city
office/work place
professor
like
intro-logo
Blurb

Reyna Melani tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena hutang sang ibu.Abyan Permana, dosen sekaligus pemilik universitas tempat ibunya bekerja, menagih hutang yang tak mampu dilunasi.Syaratnya hanya satu:“Nikahkan aku dengan putrimu, Reyna.”Demi ibunya, Reyna rela mengorbankan cintanya pada Aryan, pria yang sudah lebih dulu mengisi hatinya.Tapi bagaimana jika perlahan, Reyna justru mulai merasakan getaran yang sama untuk pria yang awalnya ia benci?

chap-preview
Free preview
Rahasia pernikahan Abyan dan Reyna
Malam itu, suasana masjid begitu hening. Hanya cahaya lampu temaram yang menemani beberapa saksi dan penghulu. Reyna duduk bersisian dengan ibunya, wajahnya pucat dan mata sembab karena menangis sejak siang. Di hadapan mereka, Rudi Hartono, ayah kandung Reyna, duduk dengan gelisah. Tangannya bergetar ketika menatap putrinya. Penghulu memulai dengan suara lantang, “Baiklah, akad nikah akan segera kita laksanakan. Saudara Rudi Hartono, apakah Anda siap menikahkan putri Anda, Reyna Melani, dengan calon suaminya, Abyan Permana?” Rudi menarik napas panjang. Matanya beralih pada Reyna, yang menunduk tanpa berani menatapnya. Ada genangan air bening di pelupuk matanya. Dengan suara parau, Rudi menjawab, “InsyaAllah… saya siap.” Abyan yang duduk di seberang meja tampak tenang, wajahnya teduh namun penuh wibawa. Pandangannya tak pernah lepas dari sosok Reyna, seakan ia ingin meyakinkan bahwa pilihan ini sudah benar. Penghulu mengangguk. “Baik, silakan diucapkan ijab kabulnya.” Rudi menelan ludah, lalu menggenggam tangan Abyan yang disodorkan dan dengan suara lantang abyan mengucapkan ijab kabul. Hening sejenak. Semua mata menatap Abyan. Saksi-saksi serempak bersuara, “Sah.” Terdengar isak tertahan dari bibir Reyna. Susan meraih tangan putrinya, menahan air mata yang sejak tadi membendung. Abyan menoleh ke arah Reyna, tersenyum tipis, lalu berkata lirih setelah acara resmi selesai. “Mulai malam ini… kamu adalah istriku, Reyna. Aku janji akan menjagamu, meski kau belum bisa menerimaku sekarang.” Reyna menggertakkan giginya, menahan tangis, lalu menjawab lirih hampir tak terdengar, “Aku hanya melakukannya… demi Mama.” Usai ijab kabul, Abyan menggenggam tangan Reyna, menuntunnya keluar dari masjid dengan langkah tenang. Wajah Reyna masih sembab, matanya menunduk, menolak tatapan siapa pun. Malam itu, ia resmi menjadi istri Abyan Permana. Mobil hitam mewah telah menunggu di halaman. Tanpa banyak bicara, Abyan membawanya menuju apartemen pribadinya. Sementara itu, di pelataran masjid yang mulai sepi, Susan Melani berdiri berhadapan dengan mantan suaminya, Rudi Hartono. Senyum lega mengembang di wajah Susan, meski matanya masih menyisakan lelah. “Terima kasih, Rudi… kamu mau menikahkan putri kita,” ucap Susan lirih. “Dan… hutang yang selama ini jadi beban, akhirnya lunas juga.” Namun, bukannya menanggapi dengan hangat, Rudi justru menatapnya sinis. “Kamu sadar nggak, Sus? Kamu sudah menjual anakmu sendiri.” Senyum Susan perlahan memudar. “Jangan berkata begitu, Rudi…” Rudi mendengus kasar. “Kalau bukan Reyna sendiri yang memohon padaku, aku tidak akan pernah mau membiarkan anakku menderita begini. Kau tahu itu!” Susan menunduk, mencoba menahan rasa bersalah yang menyesakkan d**a. “Maafkan aku, Rudi… aku—aku berhutang karena kebutuhan…” “Kebutuhan?” Rudi memotong dengan suara tinggi. “Bukan, Sus. Itu bukan kebutuhan. Itu gaya hidupmu yang mewah! Sebenarnya, uang yang kukirim tiap bulan untuk Reyna cukup. Tapi kamu… kamu terlalu tamak. Terlalu serakah! Kamu tidak pernah memikirkan masa depan anakmu!” Wajah Susan memerah, air matanya jatuh begitu saja. Ia meremas jemarinya sendiri, berusaha keras tetap berdiri. “Sudahlah, Rudi… apa pun yang kamu katakan, Reyna sudah menikah dengan orang yang tepat. Abyan bisa menjaganya.” Rudi mendekat, tatapannya tajam, suaranya penuh amarah namun juga terselip kepedihan seorang ayah. “Ingat kata-kataku, Sus. Kalau sampai Reyna menderita… aku akan bawa dia pergi jauh darimu. Aku nggak peduli sebesar apa kuasa Abyan, aku tetap ayahnya.” Tanpa menunggu jawaban, Rudi melangkah pergi, meninggalkan Susan yang masih berdiri kaku. Namun, alih-alih merasa bersalah, bibir Susan justru kembali melukis senyum tipis. Senyum lega yang entah mengapa justru terlihat begitu getir. Malam itu, Susan melangkah keluar dari halaman masjid dengan hati yang sedikit lebih ringan. Ia masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin, lalu melaju pulang ke rumah. Senyum tipis masih tersungging di wajahnya, seolah beban hidup yang selama ini menghimpit telah terangkat. Sementara itu, di sudut lain kota Jakarta, Rudi Hartono duduk seorang diri di ruang tamu rumah kontrakannya yang sempit. Lampu bohlam redup, kipas angin tua berderit pelan. Wajahnya muram, tatapannya kosong menatap dinding kusam. Ia masih bekerja di perusahaan Abyan Permana, namun statusnya hanyalah pegawai biasa. Malam itu, kenangan percakapan dengan putrinya berulang kali terputar di kepalanya. “Papa… tolong nikahkan aku dengan Pak Abyan, teman Mama.” Suara Reyna kala itu begitu lirih, nyaris patah. Rudi tertegun, matanya langsung menatap putri semata wayangnya dengan bingung. “Nak… kamu serius? Kamu mencintai Abyan?” Reyna menggeleng pelan, air mata berlinang di pipinya. “Tidak, Pa. Reyna tidak mencintai beliau.” Rudi makin tak mengerti. “Lalu kenapa kamu mau menikah dengannya, Nak?” Dengan suara bergetar, Reyna akhirnya mengungkapkan alasan sebenarnya. “Karena… Mama punya hutang yang sangat besar, Pa. Dan… Pak Abyan mengancam akan memecat Mama dari universitas. Bahkan… menuntut Mama ke pengadilan.” Rudi terperanjat, darahnya berdesir panas. “Kurang ajar! Jadi Susan… tega menjual kamu kepada temannya sendiri?” Reyna buru-buru meraih tangan ayahnya, menatap penuh permohonan. “Papa… jangan salahkan Mama. Mama berhutang karena ingin mencukupi kebutuhan Reyna. Semua untuk Reyna, Pa… Reyna mohon.” Hati Rudi terasa teriris mendengar kata-kata itu. Matanya basah, namun ia berusaha tetap tegar. “Reyna… kamu benar-benar yakin dengan keputusan ini?” Reyna menunduk, bahunya bergetar. “Iya, Pa. Tolong… kabulkan permintaan Reyna.” Hening sejenak. Rudi hanya bisa menghela napas panjang, menatap wajah putri yang begitu ia sayangi. “Baiklah, Nak. Kapan pernikahannya?” “Besok, Pa. Di masjid dekat rumah.” Rudi terdiam lama, lalu mengangguk pelan. “Baik… ini karena kamu yang memohon, Nak. Bukan karena Papa rela.” Di ruang tamu rumah kontrakan itu, Rudi menundukkan wajahnya. Air mata jatuh begitu saja. Ia merasa kalah, terhina, sekaligus hancur. Baginya, malam itu bukan hanya tentang Reyna yang dinikahkan… tapi juga tentang harga dirinya sebagai seorang ayah yang dipaksa menyerahkan anak gadisnya demi menutup dosa dan kesalahan orang lain. Lampu remang bar memantul di gelas kaca yang digenggam Aryan Pratama. Cairan bening itu kembali diteguknya, menelusuri kerongkongan, meninggalkan rasa getir yang tak sanggup menghapus pedih di dadanya. “Reyna…” suaranya lirih, hampir tenggelam oleh dentuman musik. “Kenapa kamu menikah dengan orang lain? Kenapa…?” Aryan menunduk, menatap kosong ke dasar gelas. Wajah Reyna, dengan senyum manis yang dulu selalu menenangkannya, terus hadir di pelupuk matanya. “Aku mencintaimu, Reyna. Bukankah selama ini aku sudah membuktikan? Aku jaga kamu… aku bahkan nggak pernah sekalipun menyentuhmu dengan cara yang salah. Semua karena aku ingin kamu jadi yang halal untukku. Lalu… kenapa justru kamu memilih orang lain?” gumamnya lagi, suaranya parau bercampur amarah dan kepedihan. Kepalanya mulai berat, tapi kenangan itu menyeruak begitu jelas. Hari itu, saat ia masih remaja, motornya menabrak seorang gadis SMA yang sedang menyeberang jalan. Panik, Aryan segera membawa gadis itu ke rumah sakit. Sejak pertemuan itu, hatinya jatuh. Gadis bernama Reyna Melani berhasil memikatnya, dan saat ia menyatakan cinta—gayung pun bersambut. Tiga tahun mereka pacaran. Tiga tahun ia menjaga Reyna dengan sepenuh hati. Tak ada pelukan berlebihan, tak ada sentuhan yang melampaui batas. Bagi Aryan, menjaga gadis yang dicintainya adalah mutlak. Namun kini… semua hancur berantakan. Aryan mengepalkan tangan, nadanya mulai bergetar. “Kenapa kamu tega, Reyna? Kamu memilih Abyan… Abyan Permana, atasan yang setiap hari kupercaya, tempat aku bekerja… kamu bahkan jadi istrinya sekarang.” Air mata lelaki itu jatuh tanpa ia sadari. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Hati aku hancur, Reyna. Aku nggak tahu… apa aku bisa melupakanmu.” Lalu ia menenggak kembali isi gelasnya, berusaha menenggelamkan rasa sakit yang menggerogoti hatinya. Namun semakin banyak ia minum, semakin jelas wajah Reyna muncul dalam pikirannya—membuatnya semakin tersiksa. Apartemen mewah itu terasa asing bagi Reyna. Lampu gantung kristal berkilau, sofa kulit mahal tersusun rapi, dan aroma maskulin samar menyelimuti ruangan. Namun semua kemewahan itu tak membuatnya nyaman. Ia duduk di tepi ranjang, jari-jarinya meremas ujung gaun pengantin sederhana yang masih melekat di tubuhnya. Wajahnya tertunduk, tak berani menatap pria yang kini sah menjadi suaminya. Abyan Permana duduk di sampingnya, menatap gadis muda yang membuat hatinya tergila-gila. Ada senyum lembut di bibirnya, meski matanya tak bisa menyembunyikan betapa ia sangat menginginkan Reyna. “Reyna…” suaranya pelan, hampir berbisik. “Terima kasih… kamu sudah mau menikah dengan saya.” Reyna mengangkat wajahnya sedikit, menatap Abyan dengan sorot penuh kepedihan. “Saya menikah dengan Anda… karena Mama.” Abyan mengangguk pelan, seakan sudah menduga jawaban itu. “Iya, saya tahu. Tapi sungguh… saya mencintaimu.” Reyna menggeleng, suaranya tegas meski gemetar. “Tapi saya… tidak pernah mencintaimu, Om.” Seulas senyum miris muncul di wajah Abyan. Ia mendekat, menatap mata Reyna dengan sungguh-sungguh. “Jangan panggil aku Om, Reyna. Kamu istriku sekarang.” Reyna mengangkat dagunya sedikit, nada bicaranya penuh penolakan. “Oh, jadi… aku harus panggil apa?” “Panggil aku… Mas,” jawab Abyan dengan suara rendah tapi tegas. Hening sejenak. Reyna menelan ludah, lalu dengan berat hati berucap, “Baiklah… Mas Abyan.” Senyum hangat tersungging di bibir pria itu. Ia mengulurkan tangan, seakan ingin menyentuh Reyna, namun Reyna buru-buru berkata dengan nada getir, “Kamu sudah memiliki aku sekarang. Kalau kamu mau… tubuhku, silakan.” Abyan terdiam. Nafasnya tertahan. Perlahan ia menghela napas panjang, lalu menggeleng. “Reyna… aku tidak akan melakukan itu, kalau kamu terpaksa. Aku ingin… saat itu tiba, kamu sendiri yang menginginkannya. Aku akan pastikan, suatu hari kamu jatuh cinta kepadaku.” Reyna terdiam, dadanya berdebar keras. Abyan berdiri, menarik selimut, lalu menatapnya sekali lagi dengan pandangan penuh tekad. “Sekarang… tidurlah. Aku akan tidur di sebelahmu. Kamu aman bersamaku, Reyna.” Tanpa menunggu balasan, Abyan melangkah ke sisi ranjang lain dan merebahkan diri. Reyna memalingkan wajahnya, air mata kembali mengalir. Ia menggigit bibir, lalu berbisik penuh kebencian, “Aku benci sama kamu, Abyan… benci!” Suara itu terdengar jelas di telinga Abyan. Namun ia hanya menutup mata, menahan senyum getir. Dalam hatinya ia berjanji, kebencian itu suatu hari akan berubah menjadi cinta.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook