Terikat Cinta dan luka

1758 Words
Adzan subuh berkumandang, merambat lembut ke setiap sudut apartemen. Abyan Permana sudah lebih dulu terbangun, melaksanakan shalat dengan khusyuk. Usai berdoa, ia melirik istrinya yang masih terlelap. Perlahan ia menyentuh bahu Reyna. “Reyna… bangun.” Reyna bergumam pelan, lalu membuka matanya. Begitu melihat Abyan, ia refleks menepis tangannya. Abyan hanya menghela napas dan tersenyum tipis. “Sudah subuh… shalatlah.” Reyna tidak menjawab. Ia turun dari ranjang, melangkah ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, ia kembali ke kamar untuk menunaikan shalat subuh. Sementara itu, Abyan menyiapkan sarapan sederhana di dapur. Usai shalat, Reyna langsung merebahkan diri di kasur lagi. Abyan masuk, membawa nampan berisi sarapan. “Sayang, sarapan dulu,” ucapnya lembut. “Aku tidak lapar,” jawab Reyna ketus, tanpa menoleh. Abyan tersenyum sabar. “Ya sudah… saya taruh di meja, ya. Kalau kamu lapar, makanlah.” Reyna diam saja. Abyan pun keluar kamar, berusaha menenangkan dirinya. Aku harus sabar menghadapi gadis itu, batinnya. Pukul delapan pagi, Abyan sudah rapi dengan setelan jas kerjanya. Reyna duduk di sofa, asyik menatap layar TV. “Reyna, Mas berangkat kerja dulu,” ucap Abyan. “Hm.” Reyna hanya menjawab singkat, tak melepaskan pandangannya dari layar. Abyan mendekat. “Aku sudah transfer uang buat kebutuhan kamu dan kuliahmu. Mulai hari ini, jangan minta lagi ke Mama atau Papa kamu.” “Hm,” jawab Reyna lagi, datar. Dengan kesal, Abyan meraih remote dan mematikan TV. Reyna sontak menoleh dengan tatapan tajam. “Kenapa dimatikan?!” Abyan duduk di sampingnya, menatap serius. “Reyna… lihat mataku kalau bicara denganku.” Reyna mendengus. “Buat apa, Tuan Abyan? Aku muak melihat muka Anda.” Amarah dan rasa frustasi menyalakan sesuatu dalam diri Abyan. Ia meraih tubuh Reyna, menariknya masuk ke dalam pelukan. “Lepas, Abyan!” seru Reyna berontak. “Ngga akan,” jawab Abyan tegas, suaranya berat. Dengan sedikit paksaan, Abyan mendorong Reyna ke arah ranjang. Gadis itu menolak, meronta, namun Abyan hanya menatapnya dengan mata yang penuh rasa ingin memiliki. “Kenapa kamu selalu menjauh dariku? Aku ini suamimu, Reyna…” ucap Abyan lirih, nyaris memohon. Reyna memalingkan wajah, berusaha menepis, tapi Abyan lebih dulu meraih wajah mungil itu dan mencium bibirnya. Reyna berusaha melepaskan diri. “Lepasin, Abyan!” Ciuman itu hanya sesaat, lalu Abyan melepaskannya dengan napas terengah. Ia tersenyum tipis, menatap Reyna yang wajahnya merah karena marah bercampur malu. “Baiklah… cukup untuk sekarang, sayang.” Reyna menatapnya dengan mata berkilat penuh kebencian. “Aku benci sama kamu!” Abyan hanya terdiam, lalu menunduk mendekat, berbisik pelan di telinganya. “Kamu boleh benci sekarang… tapi suatu hari nanti, kamu akan belajar mencintaiku.” Di kampus, Reyna duduk di hadapan ibunya. “Reyna, bagaimana kabarmu, Nak?” tanya Susan lembut. “Baik, Ma,” jawab Reyna singkat. “Abyan memperlakukanmu dengan baik kan, Nak?” Reyna menarik napas pelan lalu tersenyum hambar. “Iya, Ma. Baik.” Susan menunduk, wajahnya tampak lelah namun terselip rasa lega. “Maafkan Mama, Reyna… kamu sudah menolong Mama. Terima kasih, Nak.” “Sudahlah, Ma,” ucap Reyna menahan getar suara. “Tolong jangan berhutang lagi, Ma. Hiduplah sederhana, jangan banyak berfoya-foya.” Susan mendongak, wajahnya berubah masam. “Reyna! Kamu sudah berani mengajari Mama sekarang?” “Ma… demi kebaikan Mama juga,” Reyna menatap lurus. Susan mendengus kesal. “Sudahlah. Mama mau ke kelas.” Dengan itu, Susan pun melangkah pergi meninggalkan ruangan. Reyna keluar dengan langkah gontai, menuju kelas. Namun langkahnya terhenti saat melihat sosok yang amat dikenalnya—Aryan. Pemuda itu berdiri di taman kampus, menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Reyna menunduk, berusaha melewati tanpa bicara. Namun Aryan lebih cepat, tangan hangatnya mencekal pergelangan Reyna. “Reyna… tunggu.” Reyna terdiam. Hatinya bergetar, tapi ia hanya bisa duduk di samping lelaki yang dulu pernah sangat ia cintai. “Apa?” tanyanya pelan. “Kamu baik-baik saja kan, Reyna?” suara Aryan parau, seolah menahan ribuan perasaan. “Iya, aku baik, Mas,” jawab Reyna dengan senyum tipis. “Syukurlah.” Aryan tersenyum getir. “Saya bahagia… kalau kamu bahagia.” Reyna menatapnya lama. Senyum kecil mengembang, meski matanya terasa panas. Mas Aryan orang baik… semoga Mas dapat yang lebih baik dari aku, batinnya. Mereka saling bertatapan, terlalu lama, hingga tidak menyadari ada seseorang berdiri di belakang Reyna. “Hm.” Suara berat itu membuat keduanya tersentak. Reyna berbalik, mendapati Abyan Permana berdiri dengan tatapan tajam, penuh emosi yang ditahan. “Permisi…” Reyna buru-buru berdiri, hendak pergi, namun tangannya ditarik oleh Abyan. “Ikut dengan saya.” Reyna menunduk, pasrah. Ia mengikuti Abyan yang berjalan cepat menuju ruangan rektor. Begitu masuk, Abyan menutup pintu dan menguncinya rapat. Reyna duduk di sofa dengan tubuh gemetar. Suasana sunyi, hanya terdengar detak jarum jam yang menggema. Abyan berdiri di hadapannya, menatap dengan sorot yang menusuk. “Jelaskan, Reyna. Kenapa kamu duduk bersama Aryan?” Reyna menelan ludah, suaranya bergetar. “Kami… hanya bicara sebentar, Mas.” “Bicara?!” Abyan mendekat, suaranya meninggi. “Dengan tatapan seperti itu? Dengan senyum yang… bahkan belum pernah kamu berikan padaku?” Reyna terdiam, kepalanya tertunduk, jemarinya menggenggam kuat roknya. “Reyna,” Abyan menunduk sejajar dengan wajahnya, suaranya lebih rendah tapi tajam. “Ingat… kamu istriku. Bukan siapa-siapa lagi.” Air mata Reyna hampir jatuh, tapi ia tahan. Dengan suara pelan, ia menjawab, “Aku tahu, Mas. Tapi tolong… jangan larang aku berteman.” Abyan menatapnya lekat-lekat, lalu menghela napas panjang. Tangannya terulur, menyentuh dagu Reyna agar menatap matanya. “Aku bukan melarang… aku hanya tidak rela. Hatiku… Reyna, hanya penuh dengan kamu.” Abyan menatap Reyna dengan tajam, kedua tangannya terkepal. “Apakah kamu punya hubungan dengan Aryan, Reyna?” tanyanya dingin. Reyna menggeleng cepat. “Tidak.” “Bohong.” Abyan menyipitkan mata. “Jujurlah, Reyna.” Gadis itu terdiam, dadanya bergemuruh. Perlahan ia mengangkat wajah, menatap suaminya dengan sinis. “Iya. Saya sangat mencintai Mas Aryan. Dia adalah mantan pacar saya, Tuan Abyan. Karena Anda, saya harus memutuskan Mas Aryan.” Mata Abyan berkilat. Rahangnya mengeras. “Oh, begitu… baiklah. Kalau begitu, saya akan pecat Aryan.” Reyna tersentak, tubuhnya langsung bergetar. “Jangan! Tolong jangan pecat Mas Aryan!” serunya, suaranya parau penuh ketakutan. “Kenapa? Kenapa kamu begitu peduli padanya?” Abyan mendekat, menunduk menatap wajah Reyna. Dengan suara lirih, Reyna berlutut di hadapan suaminya. “Karena dia tulang punggung keluarganya, Mas. Dia membiayai adik-adiknya, juga ibunya yang sakit-sakitan.” Abyan mematung. Pandangannya jatuh pada sosok Reyna yang merendahkan diri di depannya. “Wow…” gumamnya dingin. “Kamu tahu banyak tentang Aryan, Reyna.” “Saya mohon… jangan pecat Mas Aryan. Saya akan menjauhinya… saya akan melupakannya.” Suara Reyna bergetar, matanya basah. Keheningan panjang menggantung di antara mereka. Lalu, Abyan menarik napas panjang, meredam emosinya. “Baiklah. Reyna, bangunlah.” Dengan ragu Reyna berdiri, kembali duduk di sofa. Kedua tangannya masih gemetar. “Kamu ada kelas sekarang?” tanya Abyan, suaranya sudah melunak. Reyna mengangguk pelan. “Ya sudah, saya antar kamu masuk,” ucap Abyan tegas. Reyna buru-buru menggeleng. “Tidak usah, Mas. Biar aku saja.” Abyan terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis mendengar panggilan itu. “Baiklah, sayang.” Ia mendekat, menarik tubuh Reyna ke dalam pelukannya. Gadis itu kaku, tak membalas. Namun Abyan tetap menunduk, mengecup lembut kening istrinya. “Jangan pernah buat saya cemburu lagi, Reyna,” bisiknya rendah sebelum melepaskannya. Reyna menunduk, lalu berjalan keluar ruangan, meninggalkan aroma ketegangan yang masih pekat di udara. Di belakang kampus, Aryan mengepalkan tangannya, lalu menghantamkan keras ke tembok. Suara benturan bergema, tangannya memerah. “Kenapa aku tidak berdaya melindungi Reyna… kenapa?” suaranya bergetar, lalu ia meraung. “AAAAAARGHHH!” Tubuhnya jatuh terduduk, bersandar di dinding dingin. Nafasnya terengah, d**a naik turun penuh amarah dan putus asa. Tiba-tiba ponselnya bergetar di saku celana. Nama yang muncul di layar membuatnya terdiam sesaat. Bos Abyan. Dengan tangan gemetar, Aryan menggeser layar. “Halo, Bos.” Suara Abyan terdengar datar. “Aryan, bisa kesini sekarang?” Aryan menelan ludah, lalu menjawab singkat, “Baik, Bos.” Beberapa menit kemudian, Aryan sudah duduk di sofa ruang kerja Abyan. Suasana terasa tegang, seolah udara menahan napasnya sendiri. Abyan menatapnya dengan sorot mata tajam namun terukur. “Mulai besok, kamu saya tugaskan menjadi kepala cabang di Bandung.” Aryan mengangguk, berusaha menjaga ekspresi wajahnya. “Baik, Pak Bos.” Abyan menyandarkan tubuhnya ke kursi, jemarinya mengetuk meja dengan ritme pelan. “Saya tahu, kamu mantan pacar istri saya. Dan… karena Reyna, saya tidak memecat kamu, Aryan.” Hati Aryan seperti ditusuk. Namun ia tetap menunduk, menahan gejolak dalam dadanya. “Terima kasih, Pak Abyan.” “Mulai besok, kamu bisa mulai bekerja di sana,” lanjut Abyan datar. “Surat tugasmu bisa kamu ambil di HRD.” “Baik, Pak.” Aryan berdiri, menundukkan kepala. “Kalau begitu, saya permisi.” Abyan hanya mengangguk pelan. “Iya.” Aryan melangkah keluar, namun di balik wajah tenangnya, hatinya terasa semakin hancur. Pergi ke Bandung berarti jauh dari Reyna, gadis yang masih menjadi pusat hidupnya. Kantin siang itu ramai dengan suara mahasiswa yang bercampur dengan dentingan sendok dan gelas. Reyna berjalan bersama Elsa dan Mira, wajahnya tampak tenang walau hatinya masih kacau. Mereka baru saja memilih tempat duduk ketika seorang pria berwibawa mendekat. Abyan. Ia langsung menarik kursi dan duduk di samping Reyna tanpa ragu. “Eh, Pak Abyan…” Elsa tersenyum kikuk, pipinya sedikit merona. “Apa kabar, Pak?” Abyan menoleh singkat, lalu bertanya santai, “Kalian nggak makan siang?” “Ngga, Pak… masih kenyang,” jawab Elsa cepat, disambung anggukan Mira. Abyan menyunggingkan senyum kecil. “Saya traktir kalian semua makan siang di kantin ini.” Mata Elsa langsung berbinar. “Beneran, Pak?” “Iya. Bener.” Abyan berdiri, suaranya lantang membuat seisi kantin menoleh. “Kalian semua bisa makan siang di sini gratis. Saya yang bayar.” Sorak sorai mahasiswa terdengar riuh. Beberapa langsung menyerbu meja makanan, wajah-wajah mereka penuh kegembiraan. Namun, hanya Reyna yang duduk kaku, wajahnya jelas tidak senang. “Reyna, kamu nggak makan?” tanya Abyan, menatapnya lekat. “Ngga, Pak. Makasih,” jawab Reyna datar. Ia berdiri, meraih tasnya. “Guys, aku balik ke kelas dulu ya.” Elsa dan Mira hanya melambaikan tangan, sementara Abyan menatap Reyna yang melangkah cepat meninggalkan kantin. Rahangnya mengeras. Ia mendekat ke ibu kantin. “Nanti bon kasihkan ke ruangan saya.” “Baik, Pak,” jawab ibu kantin. Tanpa buang waktu, Abyan melangkah menyusul Reyna. “Reyna! Tunggu!” suaranya menggema di lorong. Tapi gadis itu justru mempercepat langkahnya. Sesampainya di kelas, Reyna duduk dengan tergesa, membuka buku, pura-pura membaca.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD