Abyan masuk tanpa mengetuk, lalu duduk tepat di hadapannya. Tatapannya menajam.
“Pak, nanti ada yang lihat. Reputasi bapak bisa hancur,” bisik Reyna, gusar.
“Biarkan saja, sayang. Saya hanya ingin berbicara dengan kamu.”
“Bicaralah,” jawab Reyna dingin.
Abyan mencondongkan tubuhnya, jemarinya terulur menarik dagu Reyna agar menatapnya.
“Lihat wajah saya, Reyna.”
Reyna mengelak kasar. “Buat apa, Pak? Saya muak lihat muka bapak.”
Alis Abyan terangkat. Nada suaranya mengeras.
“Kamu mau saya hukum, Reyna?”
Reyna mendengus. “Hmm… hukum saja.”
“Baiklah.” Dengan cepat Abyan menarik tubuh Reyna, mendudukkannya di pangkuannya.
“Pak! Kenapa begini? Lepas! Nanti teman-teman saya tahu…” Reyna meronta, wajahnya panik.
Abyan menatapnya dengan sorot penuh kuasa.
“Baiklah, saya lepaskan kamu… asal kamu bisa menghormati saya.”
Reyna terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang.
“Iya… iya, baiklah, Pak Abyan.”
Abyan tersenyum tipis sebelum akhirnya melepaskan. Reyna kembali duduk di kursinya, wajahnya merah padam, antara marah dan malu.
Reyna menatap Abyan, menahan campuran rasa penasaran dan kesal.
“Silahkan, Pak… mau bicara apa?” ucapnya pelan.
Abyan mencondongkan tubuhnya, menatap serius.
“Panggil saya Mas, Reyna… bukan Pak.”
Reyna menghela napas, mengangguk. “Okey, Mas.”
Abyan tersenyum tipis, matanya bersinar.
“Saya sudah menaikkan jabatan Aryan… sebagai kepala cabang di Bandung. Tentu kamu senang kan?”
Reyna tersenyum lembut, meski hatinya sedikit terkejut.
“Ya, tentu saja. Terima kasih, Pak… eh, maksud saya… Mas Abyan,” ujarnya, cepat-cepat membetulkan.
Abyan melotot tajam.
“Reyna! Saya tidak suka kamu panggil Pak.”
Reyna menunduk, wajahnya sedikit memerah.
“Oh… maaf, Mas.”
Abyan menarik napas, menenangkan diri.
“Sekarang, urusan Mas Abyan sudah selesai,” Reyna melanjutkan, suaranya terdengar tegas. “Sekarang kamu bisa keluar.”
Abyan tersenyum samar. “Baiklah, Reyna… saya keluar.”
Reyna mulai berdiri ketika Abyan menambahkan, suaranya lebih lembut namun tetap tegas.
“Oh ya… nanti balik ke apartemen, diantar sopir ya. Saya ada rapat dengan klien.”
Reyna mengangguk singkat. “Iya.”
Tanpa menunggu kata lebih lanjut, Abyan meninggalkan ruangan, meninggalkan Reyna duduk di kursinya dengan campuran lega dan rasa jengkel yang sulit diungkapkan.
Pertemuan Abyan dengan kliennya berjalan dengan lancar, tapi di sela-sela presentasi, Abyan mulai merasa aneh.
Tubuhnya terasa panas, dan gelombang gairah yang tak biasa mengalir dalam dirinya.
Hanif, asisten barunya, melihat Abyan yang gelisah.
"Pak, Bapak baik-baik saja?" tanya Hanif.
Abyan menggeleng pelan, ia tidak tahu apa yang terjadi. Di ujung ruang rapat, Sarah, sekretarisnya yang menaruh hati padanya, tersenyum puas.
Ia berjalan mendekati Abyan, menawarkan diri untuk mengantar pulang.
"Pak Abyan, kita bisa menginap di hotel ini saja. Bapak terlihat tidak enak badan," ucap Sarah dengan nada penuh perhatian yang dibuat-buat.
Namun, Abyan menolak.
"Tidak, saya ingin pulang saja. Hanif, antarkan saya."
Kekecewaan terpancar jelas di mata Sarah. "Baik, Pak."
Hanif mengantar Abyan ke apartemen.
Sepanjang perjalanan, Abyan hanya diam, menahan gelombang hasrat yang semakin kuat. Sampai di apartemen, ia tidak dapat menahan gairahnya.
Pemandangan di depan matanya semakin membakar hasratnya: istrinya, Reyna, sedang tidur pulas, mengenakan baju tidur seksi.
Abyan melangkah pelan mendekati Reyna, berlutut di sisi ranjang.
Ia membelai wajah Reyna, mencium lembut keningnya. Reyna menggeliat, terbangun, dan menatap Abyan.
"Mas... kamu sudah pulang?" tanyanya, suaranya serak.
"Iya, Sayang," bisik Abyan, suaranya dipenuhi hasrat.
"Aku sudah pulang, dan aku... sangat merindukanmu."
Reyna melihat ada yang aneh dari mata Abyan.
"Mas, kamu kenapa? Wajahmu merah sekali."
Abyan tak menjawab. Ia hanya terus mencium wajah Reyna, turun ke lehernya.
Reyna terkejut, namun tubuhnya tidak merespons, membiarkan Abyan menjelajahi setiap inci tubuhnya.
Dengan gelora yang tak tertahankan, Abyan menciumi Reyna dengan brutal.
Reyna meronta, mencoba melepaskan diri.
"Mas Abyan, apa yang Mas lakukan?" suaranya bergetar.
"Layani saya, Reyna. Saya suami kamu," ucap Abyan, semakin tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Mas Abyan," desah Reyna, saat ciuman Abyan turun ke leher dan tangannya meremas buah dadanya.
Meskipun Reyna berusaha memberontak, kekuatan Abyan terlalu besar. Ia hanya bisa pasrah.
Abyan kemudian menanggalkan seluruh pakaian Reyna. Ia menciumi dan menghisap p******a Reyna.
"Mas Abyan," desah Reyna, menahan gejolak aneh yang muncul dalam tubuhnya.
Abyan pun membuka seluruh pakaiannya dan dengan paksa memasukkan pusakanya ke dalam daerah intim Reyna.
"Mas Abyan, sakit," rintih Reyna. Abyan tidak peduli, semakin tidak terkendali, ia terus menerobos daerah intim Reyna.
Abyan terus bergerak, menghentakkan pinggulnya, sambil menciumi bibir, leher, dan p******a Reyna.
Perlahan, rintihan Reyna berubah menjadi desahan kenikmatan.
"Mas... ah..."
Gerakan Abyan semakin cepat, hentakan pinggulnya semakin kuat. Erangan keduanya bersahutan, mengisi setiap sudut ruangan.
Dengan pelepasan yang dahsyat, mereka mencapai klimaks bersama. Nafas mereka terengah, tubuh mereka berpelukan erat, menyatu dalam keintiman yang penuh gairah.
Nafas Abyan terengah-engah, tubuhnya terkulai lemas di samping Reyna. Reyna tak bisa berkata-kata, hanya air mata yang terus mengalir.
Dengan sisa tenaga, ia berusaha bangkit. Langkahnya terseok-seok, menahan perih yang begitu hebat di daerah intimnya.
Ia masuk ke kamar mandi, membiarkan air dingin membasahi tubuhnya, mencoba meredam gejolak di hatinya.
Reyna menangis. Pikirannya melayang, ia mencoba menerima kenyataan bahwa dirinya kini sudah menjadi istri Abyan seutuhnya.
Setelah membersihkan diri, ia memakai baju tidurnya dan meringkuk di sofa. Ia mencoba memejamkan mata, berharap bisa tertidur walau hatinya terasa begitu sakit dan perih.
Pov Reyna
"Jadi seperti inikah rasanya? Setelah janji-janji yang diucapkan di depan Allah dan para saksi, ini yang aku dapatkan? Sebuah malam yang menyakitkan.
Aku pikir pernikahan adalah sesuatu yang suci, penuh cinta, dan kelembutan.
Tapi malam ini, aku hanya merasakan kekasaran, paksaan, dan kehancuran. Aku tahu, sekarang aku sudah menjadi istri Abyan seutuhnya, tapi apa gunanya tubuh yang disatukan jika hati kami tak pernah bersatu?
Aku tak tahu harus bagaimana. Hatiku sakit, perih, dan hancur. Bisakah aku melewati ini? Bisakah aku bertahan dengan pernikahan yang dimulai dengan cara seperti ini?
Ya Allah, kuatkan hamba-Mu. Semoga ini tidak pernah terjadi lagi, dan suatu hari nanti, aku bisa merasakan arti cinta yang sesungguhnya dari laki-laki yang berstatus suamiku."
Adzan subuh baru saja usai. Abyan terbangun dengan keringat dingin, dadanya bergemuruh hebat.
Ia menatap sekeliling kamar dengan panik dan mendapati tubuhnya tak berbalut sehelai kain pun. Napasnya tercekat.
Dengan tergesa ia bangkit, meraih pakaian di kursi lalu melangkah ke kamar mandi.
Setelah membasuh wajahnya, Abyan menatap cermin. Bayangan dirinya terlihat kusut, kacau, dan penuh penyesalan.
Saat keluar, matanya menangkap sosok Reyna yang meringkuk di sofa, tubuh mungil itu tampak gemetar meski tertutup selimut tipis. Hatinya mencelos.
Usai menunaikan shalat subuh, Abyan mendekati Reyna, berlutut di hadapan istrinya.
“Sayang, bangun…” ucapnya lembut sambil menyentuh bahu Reyna.
Reyna tersentak, matanya membelalak, lalu ia menjauh seolah tersentuh api.
“Jangan… jangan sentuh saya, Mas!” suaranya bergetar, penuh ketakutan.
Abyan terdiam, wajahnya hancur oleh rasa bersalah.
“Maafkan Mas, Reyna… Mas khilaf. Mas benar-benar tidak tahu kenapa semalam… Mas tidak bisa mengontrol diri.” Suaranya parau, hampir berbisik.
Reyna menggigit bibirnya, lalu berdiri dan melangkah cepat menuju kamar mandi, meninggalkan Abyan yang terduduk sambil meraup wajahnya kasar.
Tak lama kemudian, Reyna keluar, wajahnya tampak letih, tapi ia berusaha tegar.
Ia duduk di ruang tengah, menyalakan televisi dengan suara kecil. Abyan menyusul, duduk di sampingnya dengan hati-hati.
“Maafkan Mas, sayang…” ucap Abyan lagi, menundukkan kepala.
“Entah mengapa Mas… Mas tak bisa menahan diri. Tapi sungguh, Mas menyesal.”
Reyna menoleh sekilas, tatapannya kosong.
“Sudahlah, Mas. Reyna ini kan sudah jadi istri Mas. Wajar kalau… kalau Reyna harus melayani Mas.” Suaranya lirih, getir, seakan menekan luka di dalam hati.
Abyan tercekat. Ia menggenggam tangan Reyna erat, menatapnya dengan mata basah.
“Terima kasih… terima kasih sayang, kamu sudah mengerti Mas.”
Reyna hanya mengangguk pelan, lalu melepaskan tangannya secara halus.
Untuk mengalihkan suasana, Abyan berdiri dan menuju dapur.
“Biar Mas buatkan sarapan ya,” ucapnya.
Namun Reyna segera menyusul.
“Tidak usah, Mas. Biar Reyna saja yang masak.”
Abyan menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis.
“Baiklah… tapi masak yang enak ya, sayang.”
Reyna tidak menjawab, hanya mulai menyiapkan bahan-bahan. Tangannya cekatan, meski matanya terlihat sayu. Tak lama, aroma nasi goreng seafood memenuhi apartemen.
Di meja makan, keduanya duduk berhadapan. Sendok dan garpu beradu, suara renyah nasi goreng menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar.
Tak ada percakapan. Hanya hening—hening yang terasa berat, penuh perasaan yang tak terucapkan.
Selama satu minggu, abyan meninjau pabriknya yang berada di surabaya.
Malam itu, setelah seharian di kampus, Reyna bersama Elsa dan Mira masih menyempatkan diri mengerjakan tugas kelompok di sebuah café kecil yang hangat dan ramai.
Gelas-gelas kopi sudah kosong, laptop ditutup, dan tawa ringan masih tersisa sebelum akhirnya mereka berpisah.
Sopir Abyan sudah menunggu, tapi Reyna tidak langsung pulang ke apartemen. Ada kerinduan yang menuntunnya ke sebuah kontrakan sederhana di pinggiran kota, rumah kecil tempat ayahnya tinggal.
“Reyna…” suara Pak Rudi bergetar ketika melihat putrinya masuk membawa kantong plastik berisi makanan. Senyum lebar menghiasi wajah tuanya.
“Pa…” Reyna segera memeluk ayahnya erat.
Pak Rudi menepuk-nepuk punggung putrinya. “Bagaimana pernikahanmu, Nak?”
Reyna menarik napas panjang lalu tersenyum. “Bahagia, Pa.”
“Syukurlah…” ucap Pak Rudi tulus.
Reyna meletakkan kantong di meja. “Reyna nggak bisa bawa apa-apa, Pa. Hanya makanan kesukaan Papa.”
Pak Rudi tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. “Ini juga sudah cukup, Nak. Makasih, ya.”
Mereka lalu makan malam sederhana bersama. Suasana hangat, meski hanya nasi dan lauk kesukaan ayahnya.
Reyna merasa damai, seakan sejenak lupa akan kehidupan mewah dan penuh tekanan di sisi Abyan.
Malam semakin larut. Reyna akhirnya pamit pulang. “Pa, Reyna pulang dulu, ya.”
“Ya, hati-hati di jalan, Nak.”
Reyna tersenyum, lalu melangkah pergi.
Sampai di lobi apartemen, langkah Reyna terhenti. Sosok yang sangat dikenalnya sudah duduk di sofa, menunggu. Aryan.
Pria itu berdiri, tersenyum tipis. “Reyna…” panggilnya.