Reyna hanya menunduk sejenak, lalu mendekat. Mereka duduk bersebelahan. Sunyi. Hingga Aryan akhirnya membuka suara.
“Saya kangen sama kamu, Reyna,” ucapnya lirih.
Reyna menelan ludah, wajahnya tetap menunduk. “Mas… Reyna sudah menikah.”
Aryan menatapnya dalam, nada suaranya penuh kerinduan. “Mas tahu, Sayang. Tapi mas nggak bisa menghilangkan perasaan ini.”
Reyna menutup mata sejenak, lalu menggeleng. “Maaf, Mas. Sebaiknya mas Aryan pergi.”
Aryan terdiam, menarik napas panjang. “Reyna… apakah kamu sudah mencintai Pak Abyan?”
Reyna akhirnya menoleh, menatap Aryan dengan tatapan tegas. “Iya, Mas. Jadi sekarang… mas Aryan pulang.”
Senyum getir melintas di wajah Aryan. Ia bangkit perlahan, menatap Reyna sekali lagi. “Baiklah. Saya pulang. Kamu jaga diri baik-baik, ya.”
Reyna berdiri, melangkah ke lift. Pintu terbuka, ia masuk tanpa menoleh lagi. Namun sebelum pintu tertutup, ia sempat melihat Aryan berdiri mematung di lobi dengan senyum pahit yang membuat dadanya terasa sesak.
Lift bergerak naik, membawa Reyna kembali ke lantai tujuh. Di balik semua ketegasan kata-katanya, hatinya sebenarnya bergetar hebat.
Laporan bodyguard sudah masuk ke tangan Abyan. Kata-kata singkat yang menyebutkan “Tuan Muda Aryan terlihat berbicara dengan Nyonya Reyna di lobi apartemen” membuat darahnya mendidih.
Tanpa berpikir panjang, Abyan menekan nomor Aryan.
“Mas Aryan.” Suara Abyan dingin tapi penuh bara. “Saya dengar kamu ketemu sama istri saya?”
Di seberang, Aryan menarik napas panjang. “Iya, Pak. Tapi itu kebetulan. Saya nggak sengaja ketemu Reyna di lobi.”
“Kebetulan?” Abyan mendesis. “Saya nggak peduli kebetulan atau tidak. Sekali lagi saya lihat kamu dekat dengan Reyna—saya nggak akan segan bertindak.”
Ada jeda panjang. Aryan mengepalkan tangan, dadanya bergejolak menahan amarah. “Baik, Pak. Saya mengerti.”
Telepon terputus. Aryan menghela napas keras, menatap langit malam di luar jendela rumah kontrakannya. Sial. Dia benar-benar memperlakukan Reyna seolah barang miliknya. Semakin dalam ia menyimpan benci kepada atasannya itu.
---
Sementara itu, di apartemen lantai tujuh yang sepi, Reyna berdiri di balkon. Angin malam menyapu rambut panjangnya. Ponselnya bergetar—panggilan video dari Abyan. Reyna menatap layar, tapi ibu jarinya hanya bergerak menekan tombol ignore.
Hatinya masih kacau. Wajah Aryan begitu jelas dalam ingatannya.
---
Kenangan itu datang bagai gelombang.
Sore hari sepulang sekolah. Aryan menunggu di depan gerbang dengan senyum lebarnya. “Ayo, Rey. Aku ada tempat bagus buat kita.”
Reyna tersenyum malu. “Kemana, Mas?”
“Ke danau. Duduk bareng, lihat air tenang, sambil ngomongin masa depan kita.”
Di bangku panjang menghadap danau, Reyna bersandar pada bahu Aryan. Air berkilau diterpa matahari senja.
“Rey…” suara Aryan bergetar lembut.
“Ya, Mas?” Reyna menoleh.
Aryan menggenggam jemarinya erat. “Kamu janji ya, nggak akan ninggalin Mas. Apa pun yang terjadi nanti.”
Reyna tersenyum, matanya berbinar. “Aku janji, Mas. Kamu juga jangan pernah tinggalkan aku.”
Tatapan mereka bertemu, semakin lama semakin dalam. Lalu, tanpa bisa ditahan, Aryan menunduk, bibirnya menyentuh bibir Reyna. Ciuman pertama itu penuh gairah, mengalirkan rasa cinta yang seolah tak pernah akan habis. Reyna menutup mata, membiarkan dirinya larut.
Saat senja berganti malam, Aryan menarik tangan Reyna. “Ayo, aku mau traktir kamu.”
Mereka menuju sebuah café sederhana. Lampu temaram, alunan musik akustik menenangkan suasana. Aryan berdiri di panggung kecil, mengambil gitar yang tersedia.
“Lagu ini buat kamu, Rey.”
Reyna menunduk malu, pipinya merona. Aryan mulai menyanyikan sebuah lagu cinta, suaranya merdu mengalun memenuhi café. Semua mata memandang, tapi bagi Aryan hanya ada satu orang yang ia lihat malam itu—Reyna.
Reyna tersenyum, hatinya meleleh. Mas Aryan… suara itu, sampai sekarang masih ada di telingaku.
Di balkon, Reyna menggenggam pagar erat. Napasnya bergetar, matanya memanas. Kenangan itu menampar keras kesadarannya.
Kenapa aku masih mengingatnya? Padahal aku sudah menjadi istri Abyan…
Café malam itu temaram, lampu gantung berayun lembut diiringi alunan musik akustik. Reyna duduk berhadapan dengan Aryan. Tangan laki-laki itu menggenggam jemarinya erat, seolah tak ingin dilepaskan.
“Rey…” suara Aryan lembut, penuh keyakinan. “Aku sudah yakin sama kamu. Aku mau melangkah lebih jauh. Minggu depan, aku berniat datang ke rumahmu… melamar kamu secara resmi.”
Reyna terdiam. Hatinya bergejolak hebat. Matanya menunduk, seolah tak sanggup menatap tatapan penuh cinta di hadapannya.
Aryan tersenyum hangat, matanya berbinar. “Kamu nggak usah khawatir soal apa pun. Aku siap bahagiain kamu, Rey. Apa pun yang kamu butuhin, aku akan berjuang.”
Reyna menggigit bibir. Jemarinya yang digenggam perlahan berusaha ditarik, tapi genggaman Aryan terlalu kuat. Napasnya bergetar sebelum akhirnya kata-kata itu keluar.
“Mas… kita putus.”
Aryan terperanjat. Senyum di wajahnya lenyap seketika, berganti dengan keterkejutan yang sulit disembunyikan. “A… apa maksud kamu, Rey?”
Reyna mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca. “Aku… aku nggak bisa sama Mas Aryan lagi. Mama punya hutang besar… dan satu-satunya cara melunasinya… aku harus menikah dengan Abyan Permana.”
Suara kursi bergeser pelan saat Aryan refleks mendekat, menggenggam kedua tangan Reyna semakin kuat. “Rey! Kamu sadar nggak kamu ngomong apa? Kamu pikir pernikahan itu main-main? Kamu pikir bahagia bisa dibeli dengan uang?!”
Air mata Reyna jatuh. “Mas, aku mohon… jangan buat ini semakin berat. Aku sudah memutuskan.”
Aryan menggeleng, matanya merah. “Nggak! Aku nggak terima, Rey. Aku cinta sama kamu, lebih dari apa pun. Hutang itu—biar aku yang cari cara. Kita bisa kerja sama-sama, kita bisa hadapi bareng-bareng. Jangan jual dirimu dengan pernikahan itu!”
Reyna menunduk, tubuhnya bergetar. “Mas Aryan… tolong, jangan paksa aku. Ini satu-satunya jalan. Aku nggak mau lihat Mama hancur karena hutang. Aku rela.”
“Rey…” suara Aryan parau, pecah. “Kalau kamu benar-benar pergi sama dia… kamu hancurin aku.”
Reyna menggigit bibir keras-keras, menahan tangis. Ia berdiri, menarik tangannya lepas dari genggaman Aryan. “Maaf, Mas. Aku nggak punya pilihan lain.”
Aryan terdiam, wajahnya pucat. Jemarinya gemetar menahan Reyna yang sudah berbalik.
“Rey! Jangan pergi…!” serunya lirih, nyaris berbisik, seakan semua udara di dadanya telah terkuras habis.
Namun Reyna tak menoleh lagi. Langkahnya menjauh, meninggalkan cinta pertama yang kini retak berkeping-keping di meja café itu.
Malam itu apartemen terasa begitu sunyi. Hanya suara detik jam di dinding yang terdengar menusuk kesunyian. Reyna duduk meringkuk di pojokan kamarnya, punggungnya menempel di dinding dingin. Wajahnya basah oleh air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.
“Mas Aryan… maafkan aku…” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. Bibirnya bergetar, dadanya sesak. Seolah setiap kata yang terucap mengoyak hatinya sendiri.
Ia memeluk lututnya erat-erat, mencoba menemukan hangat dalam dirinya sendiri. Tapi bayangan masa lalu datang silih berganti. Senyum Aryan. Suara Aryan memanggil namanya. Genggaman tangan di tepi danau. Ciuman pertama yang penuh getaran cinta. Semua itu masih begitu hidup di ingatannya.
“Kenapa semua harus begini, Tuhan…” isaknya pelan.
Reyna menutup mata, mencoba memaksa dirinya tidur. Namun semakin ia berusaha, semakin jelas wajah Aryan muncul dalam mimpinya yang setengah sadar. Wajah yang penuh cinta… sekaligus penuh luka karena pengkhianatan yang ia lakukan.
Keringat dingin membasahi pelipisnya. Reyna berguling di ranjang, menarik selimut menutupi tubuhnya, berharap gelap bisa menolongnya. Namun, suara hatinya tak bisa ia bungkam.
“Aku istri Abyan sekarang… aku harus setia. Tapi kenapa bayangan Mas Aryan selalu menghantui?”
Reyna terisak lagi, tubuhnya bergetar. Ia menenggelamkan wajahnya ke bantal, berdoa lirih agar bisa tidur, agar bayangan itu menghilang. Tapi bantal justru semakin basah oleh air matanya.
Dalam remang kamar itu, Reyna akhirnya terlelap dengan sisa tangis di pipinya. Tidurnya gelisah, dan entah kenapa, dalam mimpinya, Aryan kembali datang… berdiri di kejauhan, menatapnya dengan sorot mata yang penuh luka.
Musik dentuman keras menggema memenuhi ruangan. Lampu warna-warni berkelebat, menari di atas kepala para pengunjung. Di sudut bar, Aryan duduk dengan wajah muram, segelas minuman keras sudah entah keberapa kali ia habiskan. Tatapannya kosong, matanya sembab, dadanya penuh bara yang tak pernah padam.
“Reyna…” lirihnya, jemarinya meremas gelas di tangannya.
Dari kejauhan, Elsa memperhatikan dengan seksama. Bibirnya melengkung tipis. Ia tahu Aryan sudah bukan lagi milik Reyna. Dan ini kesempatan baginya. Dengan langkah penuh percaya diri, Elsa mendekat, tubuhnya berbalut gaun ketat yang menonjolkan lekuk indahnya.
“Sendirian aja, Mas Aryan?” sapa Elsa sambil duduk di kursi sebelahnya.
Aryan menoleh sekilas, matanya sayu, kemudian menghela napas panjang. “Elsa? Kamu ngapain di tempat kayak gini?”
Elsa tersenyum manis. “Sama aja kayak Mas Aryan… cari pelarian.” Tangannya melambai ke bartender. “Tambahin dua gelas lagi ya, spesial buat kita.”
Aryan hanya mendengus, menenggak lagi sisa minumannya. Elsa diam-diam mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya—obat perangsang cair yang langsung ia tuangkan ke dalam gelas Aryan saat lelaki itu tak memperhatikan.
“Ini, coba minum. Biar agak tenang.” Elsa menyodorkan gelas itu.
Aryan menatapnya sejenak, lalu tersenyum miris. “Tenang? Hidup gue udah hancur, El. Cewek yang gue sayang… milik orang lain sekarang.”
Elsa mencondongkan tubuhnya, pura-pura simpati. “Mas Aryan terlalu baik buat Reyna. Kalau aku jadi Reyna… aku nggak bakal pernah ninggalin Mas.”
Aryan terdiam, menatap Elsa lama. Gelas di tangannya ia angkat, lalu diteguk habis tanpa curiga.
Beberapa menit kemudian, kepalanya mulai terasa panas, tubuhnya bergemuruh aneh. Pandangannya berkunang, tapi yang ia lihat… wajah Reyna. Bukan Elsa.
“Reyna…?” bisiknya.
Elsa tersenyum licik. “Iya, Mas… aku di sini…” Ia mendekat, tangannya menyentuh wajah Aryan dengan lembut. “Aku Reyna… aku nggak akan pergi lagi dari kamu.”
Aryan menatapnya dengan pandangan kabur. Ia benar-benar mengira Elsa adalah Reyna. “Sayang… jangan tinggalin aku lagi…”
Elsa tersenyum puas, lalu mendekat ke telinganya. “Ayo, Mas. Kita pindah ke tempat yang lebih tenang.”
Aryan menurut saja, tubuhnya sudah dikuasai pengaruh obat. Elsa pun membawanya keluar dari club menuju hotel yang sudah ia pesan malam itu.