Aryan dan Elsa sudah berbaring di ranjang, tubuh mereka saling berdekatan.
Aryan menciumi bibir Elsa dengan lembut, lalu semakin dalam, melumat penuh gairah.
Elsa membalas setiap ciuman Aryan, tangannya melingkar di leher Aryan, menariknya kian merapat. Keduanya larut dalam gelombang asmara yang memabukkan.
Ciuman Aryan turun, menjelajahi leher jenjang Elsa, lalu ke bahunya.
"Ah... Aryan," desah Elsa, merasakan sensasi menggelitik yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Tangan Aryan tak tinggal diam, ia mulai mengelus lembut tubuh Elsa, membuka satu per satu kancing piyama yang dikenakan Elsa.
Setelah seluruh pakaian terlepas, Aryan menatap Elsa dengan pandangan penuh puja. Ia kembali menciumi Elsa, kali ini di dadanya, menghisap lembut, membuat Elsa semakin menggeliat.
"Mmmh... Mas Aryan... enak sekali," erang Elsa, suaranya tercekat.
Aryan menyatukan tubuh mereka. Awalnya perlahan, kemudian semakin cepat. Desahan dan erangan keduanya bersahutan, memenuhi kamar.
"Ah... ah... lebih cepat, Mas!" pinta Elsa, mendorong pinggulnya, meminta lebih.
Aryan pun menurut, menghentakkan pinggulnya dengan penuh semangat, memimpin mereka berdua menuju puncak kenikmatan.
"Sayang... aku... aku mau keluar..." desah Aryan, suaranya berat.
"Bersama, Mas! Bersama!" balas Elsa, suaranya melengking.
Akhirnya, dengan desahan panjang yang serentak, tubuh mereka menegang, melepaskan segala hasrat yang tertahan.
Cairan hangat membanjiri, menjadi tanda klimaks yang begitu dahsyat. Keduanya terengah, berpelukan erat, merasakan detak jantung satu sama lain yang masih berpacu kencang.
Cinta mereka, pada malam itu, sempurna dalam keintiman yang tak terlupakan.
Setelah badai hasrat mereda, keduanya terbaring lemas. Aryan mendekap Elsa erat, sementara Elsa menyandarkan kepalanya di d**a bidang Aryan.
Napas mereka melambat, berangsur normal. Dalam keheningan yang intim, mereka perlahan terlelap, terhanyut dalam mimpi yang damai, masih dalam dekapan satu sama lain.
Pagi itu cahaya matahari menembus tirai kamar hotel, menyinari tubuh Aryan yang masih terbaring.
Matanya terbelalak, jantungnya berdegup keras ketika ia menyadari dirinya tak mengenakan sehelai pakaian pun.
Lebih mengejutkan lagi, lengannya melingkar erat pada tubuh seorang wanita—Elsa.
“Apa yang aku lakukan…?” batin Aryan, tubuhnya langsung kaku. Ia mencoba mengingat semalam, tapi kepalanya berat, ingatannya kabur.
“Kenapa bisa jadi begini…?” gumamnya lirih, suaranya bergetar.
Elsa perlahan membuka mata, tersenyum puas melihat Aryan yang panik. Ia mengusap d**a Aryan dengan manja.
“Mas… sudah bangun?” bisiknya lembut.
Aryan buru-buru menjauh, wajahnya pucat.
“Elsa… apa… apa kita semalam… melakukannya?” tanyanya terbata, suara nyaris tak terdengar.
Elsa menatapnya sambil tersenyum penuh arti.
“Iya, Mas. Dan Mas Aryan begitu… memuaskan Elsa.”
Aryan menutup wajahnya dengan kedua tangan, napasnya memburu.
“Astaga… Elsa, maafkan saya… ini semua salah.”
Elsa mendekat, meraih tangan Aryan yang berusaha menutupi wajah.
“Tak perlu minta maaf, Mas. Elsa yang justru bahagia. Karena Elsa… mencintai Mas Aryan.”
Tatapan Elsa penuh keyakinan, penuh gairah yang tak bisa disembunyikan.
Aryan menggeleng lemah, tapi tubuhnya bergetar. Pesona Elsa begitu dekat, begitu menjerat, hingga ia tak mampu mengusirnya.
Ketika bibir Elsa mendekat lagi, Aryan tak lagi bisa menolak. Semua penyesalan dan amarahnya seolah padam, berganti dengan hasrat yang membara.
Pagi itu, untuk kedua kalinya, mereka larut kembali dalam pelukan dan gairah yang mengaburkan akal sehat.
Aryan menyalakan mesin mobilnya, pandangannya sempat tertuju pada Elsa yang duduk di samping dengan senyum mengembang.
“Mas beneran nganterin aku ke kampus?” tanya Elsa manja, matanya berbinar.
Aryan mengangguk tipis.
“Iya, kamu kan harus kuliah. Jangan sampai bolos gara-gara aku.”
Elsa menggenggam lengan Aryan erat.
“Elsa bahagia banget, Mas. Akhirnya bisa bersama laki-laki yang Elsa cintai.”
Aryan terdiam, hanya menatap jalanan di depan. Di dalam hatinya ada perasaan asing yang bercampur: sesal, amarah, dan lelah.
Begitu Elsa turun di gerbang kampus, Aryan hanya mengangguk singkat lalu segera tancap gas.
Elsa menatap mobil itu hingga hilang dari pandangan, hatinya dipenuhi rasa berbunga-bunga. Ia sama sekali tak tahu bahwa Aryan hari itu langsung kembali ke Bandung—tanpa satu kabar pun untuknya.
Sementara itu, di kampus, Reyna duduk bersama Elsa dan Mira setelah kelas selesai. Ia mengerling curiga pada sahabatnya.
“Elsa, akhir-akhir ini kamu aneh. Kok kayaknya bahagia banget sih?” tanya Reyna sambil menyipitkan mata.
Elsa tersenyum malu-malu, wajahnya memerah.
“Ya… ada lah, sesuatu.”
Mira menyikut lengan Elsa. “Ayolah, cerita sama kita. Jangan disimpan sendiri.”
Elsa menunduk sebentar lalu menatap kedua sahabatnya dengan tatapan berbinar.
“Aku… aku udah jadian sama seseorang.”
Reyna terperangah, tapi kemudian tersenyum.
“Serius? Wah, selamat, El! Aku ikut seneng.”
“Iya, selamat ya!” sahut Mira antusias. “Siapa pun dia, semoga bisa bahagiain kamu.”
Elsa mengangguk penuh bahagia. “Amin…” ucapnya pelan, seolah ingin menyimpan nama lelaki itu hanya untuk dirinya.
Sore itu, ketiganya pergi menonton film di bioskop. Mereka tertawa bersama, berbagi popcorn, dan saling menggoda saat film memasuki adegan menegangkan.
Setelahnya, mereka mampir ke sebuah kafe, menikmati makan malam sambil berbincang ringan hingga waktu terasa cepat berlalu.
Malam pun larut. Reyna berpamitan pulang lebih dulu. Setibanya di apartemen yang sepi, ia meletakkan tas di sofa, lalu duduk sambil mendesah panjang.
“Sepi banget…” gumamnya lirih.
Ia menyalakan televisi, mencari hiburan dengan drama Korea kesukaannya.
Berusaha menenggelamkan diri dalam cerita orang lain agar tak perlu memikirkan hatinya sendiri.
Ponselnya bergetar di meja. Nama Abyan muncul di layar. Reyna melirik sebentar, lalu menghela napas.
Ia memilih mengabaikan panggilan itu, kembali memfokuskan matanya ke layar televisi.
“Sudahlah… Reyna butuh tenang,” bisiknya pada diri sendiri.
Begitu pintu kamar terbuka, Reyna melangkah masuk dengan langkah malas.
Rambutnya masih basah karena mandi sore, tangannya sibuk merapikan belanjaan yang tadi ia bawa bersama Susan.
Namun langkahnya mendadak terhenti ketika tiba-tiba ada sepasang tangan kokoh merengkuhnya dari belakang.
“Sayang… dari mana saja?” bisik suara berat yang sangat ia kenal. Hembusan napas hangat itu menyapu lehernya, diikuti ciuman singkat yang membuat Reyna tersentak kaget.
“Eh, Mas Abyan… sudah pulang?” ucap Reyna tergagap, matanya melebar.
Pelukan Abyan justru semakin erat, seolah tak ingin istrinya pergi. Wajahnya disembunyikan di lekuk leher Reyna.
“Kamu nggak kangen sama Mas, ya?” suaranya parau, seperti rindu yang terpendam.
Reyna menggeliat gelisah.
“Mas… lepasin dulu…”
“Boleh,” ucap Abyan, kali ini suaranya penuh nada menggoda. “Tapi kasih dulu Mas Abyan ciuman dari kamu.”
Reyna menoleh setengah pasrah, lalu menempelkan bibirnya sekilas di pipi Abyan.
“Nih, ciuman buat Mas.”
Tapi Abyan tak puas. Begitu Reyna hendak menjauh, ia cepat-cepat memegang dagu istrinya, memutar wajah itu ke arahnya.
Tanpa memberi kesempatan, bibirnya langsung menyambar bibir Reyna.
Ciuman itu dalam, hangat, dan penuh kerinduan yang tak bisa dibendung setelah seminggu terpisah.
Reyna sempat menahan, tapi desakan Abyan terlalu kuat. Ia pun hanya bisa memejamkan mata, menerima serangan lembut namun menuntut dari suaminya.
Abyan menatap Reyna lekat, jemarinya sempat menahan lengan istrinya agar tak menjauh. Suaranya turun menjadi bisikan.
“Mas lepasin? Nggak, Sayang… mas kangen.”
Reyna terperanjat. Jantungnya berdegup kencang, wajahnya panas. Dengan sekuat tenaga ia mendorong d**a Abyan.
“Lepas, Mas! Jangan maksa!” seru Reyna, nada suaranya bergetar antara marah dan takut.
Abyan terdiam. Ia menutup mata sejenak, menarik napas panjang, seolah menahan emosi yang berkecamuk dalam dirinya.
Tatapannya melembut, penuh kerinduan yang tak tersampaikan.
“Oke, Sayang… jangan marah, please,” ucapnya lirih, hampir seperti permohonan.
Reyna menunduk, menggigit bibirnya sendiri, tak sanggup membalas tatapan itu.
Sementara Abyan perlahan melepaskan genggamannya, tapi tidak dengan rasa rindunya yang semakin menyesakkan d**a.
Reyna baru saja pulang dari supermarket. Tangan kecilnya sibuk menenteng beberapa kantong plastik berisi kebutuhan rumah.
Begitu masuk, ia langsung meletakkan belanjaannya di meja dapur tanpa banyak bicara. Hatinya masih terasa panas oleh perdebatan singkat dengan Abyan tadi.
Tanpa menoleh, Reyna segera masuk ke kamar mandi.
Suara air mengalir terdengar pelan, seolah menjadi jarak yang sengaja diciptakannya untuk menenangkan diri.
Sementara itu, Abyan memilih diam. Ia melangkah ke balkon kamarnya, membawa serta laptop hitam yang selalu menemaninya.
Dengan sigap, ia menyalakan perangkat itu, membenamkan diri dalam tumpukan data dan laporan yang menunggu untuk diselesaikan.
Baginya, pekerjaan selalu menjadi pelarian. Setiap kali hatinya buntu, setiap kali rindu pada Reyna terasa terlalu berat untuk ditanggung, Abyan selalu memilih tenggelam dalam angka dan huruf di layar.
Ia tahu itu tidak sepenuhnya menyembuhkan, tetapi setidaknya bisa mengalihkan sesak di dadanya.
Di balik layar laptop, Abyan menarik napas panjang.
“Kalau kerja bisa bikin mas lupa sebentar… ya sudah, biar mas sibuk aja,” gumamnya lirih, seolah menenangkan dirinya sendiri.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Reyna melangkah ke dapur.
Tangannya sibuk menyiapkan secangkir kopi hangat dan beberapa camilan kecil.
Tanpa banyak kata, ia membawa semuanya ke balkon, tempat Abyan masih larut dengan laptopnya.
Reyna meletakkan kopi dan camilan di meja kecil, lalu berdiri sebentar. Aroma kopi menyeruak, tapi Abyan tetap fokus menatap layar.
Sesaat kemudian, tanpa mengalihkan pandangan, ia bertanya,
“Kamu nggak kuliah hari ini, Sayang?”
Reyna tersenyum tipis. “Nggak, Mas. Libur.”
“Oh, libur ya?” Abyan akhirnya menoleh, menatap wajah istrinya. Senyumnya hangat, berbeda dengan ekspresi tegangnya tadi.
“Gimana kalau kita jalan-jalan, Sayang?”
Reyna menatapnya ragu. “Hmm… ke mana?”
“Terserah kamu, Sayang,” jawab Abyan santai.
Reyna sempat terdiam, lalu matanya berbinar. “Hmm… gimana kalau ke Bandung?”
Abyan mengangguk, senyum tipis menghiasi wajahnya. “Bandung? Boleh juga, Sayang.”
Reyna mendadak semangat. “Serius, Mas?”
“Ya sudah, kamu siap-siap sana,” ucap Abyan sambil menutup laptopnya.
“Baiklah, Mas!” jawab Reyna dengan antusias. Rona bahagia terpancar jelas di wajahnya, seolah segala kekakuan di antara mereka perlahan mencair.