Mobil berhenti di depan sebuah villa bergaya minimalis, dikelilingi kebun teh yang hijau membentang.
Udara Ciwidey menusuk dingin, kabut tipis mulai turun. Reyna langsung turun lebih dulu, merentangkan tangan dan menghirup udara segar.
“Gila, Mas… udaranya seger banget. Enak ya di sini, jauh dari polusi,” ucap Reyna dengan mata berbinar.
Abyan turun sambil membawa tas kecil, menatap sekeliling dengan senyum tipis.
“Hmmm, pantes kamu ngotot banget ngajak ke Bandung. Ternyata dapet view kayak gini, mantap juga.”
Reyna nyengir, menoleh penuh percaya diri.
“Kan Reyna nggak pernah salah pilih tempat. Mas harus percaya taste aku dong.”
Abyan tertawa pelan, mendekat sambil menggeleng.
“Iya deh, nyonya besar. Mas nurut aja.”
Reyna buru-buru jalan ke teras villa, melambaikan tangan.
“Mas, buruan! Kedinginan nih. Aku mau langsung masuk, nyalain heater, terus bikin mie instan pake telur.”
Abyan menaikkan alisnya, pura-pura kaget.
“Wih, baru sampe villa udah mikirnya mie instan. Romantis banget ya, Sayang.”
Reyna ngakak, tangannya merapat ke jaket.
“Lah, mie instan tuh makanan sejuta umat, Mas. Apalagi dimakan di tempat dingin gini. Priceless banget rasanya.”
Abyan menepuk bahu Reyna, ekspresi wajahnya nakal.
“Oke, oke… asal jangan rebutan telur aja ya.”
Reyna manyun manja.
“Halah, kalo telurnya satu pun aku rela kok ngasih buat Mas. Asal Mas janji bikinin aku coklat panas.”
Abyan tersenyum, menunduk sedikit menatap istrinya.
“Deal. Tapi syaratnya, kamu harus nemenin mas duduk di balkon malem ini. Kita liat bintang bareng.”
Reyna pura-pura mikir, lalu senyumnya merekah.
“Hmmm… boleh deh. Tapi jangan modus ya, Mas.”
Abyan terkekeh lirih, menepuk kepala Reyna dengan lembut.
“Modus? Sama istri sendiri gini dibilang modus? Ya ampun…”
Reyna hanya tertawa kecil, lalu menarik tangan Abyan masuk ke dalam villa, meninggalkan udara dingin yang kian menggigit di luar.
Di balkon villa, Abyan masih sibuk menatap layar laptopnya.
Jari-jarinya lincah mengetik, sesekali keningnya berkerut.
Reyna duduk sebentar di kursi seberangnya, memandangi pemandangan sore yang mulai diselimuti kabut.
“Mas…” panggil Reyna pelan.
Abyan hanya menoleh sebentar. “Hmm, kenapa Sayang?”
Reyna menggigit bibirnya.
“Aku jalan-jalan bentar ya… keliling sekitar villa. Bosen juga diem doang.”
Abyan menghela napas, lalu tersenyum tipis.
“Oke, tapi jangan jauh-jauh, ya. Kalo udah magrib langsung balik. Aman kan?”
Reyna mengangguk cepat.
“Santai aja, Mas. Aku kan udah gede.” Ia terkekeh kecil, lalu beranjak turun dari balkon.
Sore itu, udara Ciwidey makin dingin. Reyna melangkah di jalan setapak yang dipagari kebun teh.
Daun-daun basah oleh embun, aroma tanah lembap bercampur dengan segarnya udara pegunungan.
Reyna menarik napas panjang, mencoba menikmati momen.
Namun langkahnya terhenti mendadak.
Beberapa meter di depannya, ia melihat seorang pria yang sangat familiar. Aryan Pratama.
Mantan yang dulu pernah mengisi separuh hatinya. Reyna tertegun, jantungnya berdegup kencang.
Yang membuatnya kaku bukan hanya kehadiran Aryan, tapi juga perempuan di sampingnya.
Elsa. Tangan mereka saling bertaut, dan tanpa canggung, Aryan menunduk, mencium kening Elsa penuh mesra.
Reyna merasakan dadanya seperti diremas. Matanya panas, seolah udara dingin tak mampu lagi menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak.
Ya Allah… kenapa harus lihat ini sekarang? batinnya berteriak.
Reyna buru-buru menunduk, berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
Ia melangkah hendak berbalik, tapi suara Aryan memanggilnya.
“Reyna…?”
Langkah Reyna terhenti. Perlahan ia menoleh, berusaha menampilkan senyum datar, seakan hatinya baik-baik saja.
“Oh… Aryan. Lama nggak ketemu, ya.”
Aryan tampak kikuk. Ia melepaskan genggaman tangannya dari Elsa, wajahnya jelas menampakkan rasa bersalah.
“Iya… aku nggak nyangka ketemu kamu di sini.”
Reyna mengangkat bahu ringan, menahan gejolak dalam d**a.
“Hahaha… dunia emang sempit, ya.”
Elsa hanya berdiri di samping Aryan, menggenggam lengannya lagi, seolah ingin menunjukkan kepemilikannya.
Reyna tersenyum samar, lalu menatap jam tangannya pura-pura terburu-buru.
“Ya udah, aku balik dulu. Nanti kedinginan Mas Abyan nyariin aku.”
Aryan sempat hendak bicara, tapi Reyna sudah melangkah pergi dengan kepala tegak.
Begitu jauh dari pandangan mereka, senyum pura-pura itu runtuh. Matanya basah, tapi ia cepat-cepat menghapusnya.
“Hati gue bener-bener hancur…” gumamnya pelan.
Abyan berdiri diam di balik pohon besar, tak jauh dari jalan setapak kebun teh itu.
Matanya menyipit, dadanya panas menyaksikan apa yang barusan terjadi. Reyna, istrinya, jelas menahan perasaan ketika berhadapan dengan Aryan dan Elsa.
Begitu Reyna pergi, Abyan keluar dari persembunyiannya. Aryan terkejut, sementara Elsa hanya menatap penuh penasaran.
“Apa kalian pacaran?” suara Abyan tenang, tapi sorot matanya tajam menusuk.
Aryan buru-buru menggeleng. “Nggak, Bos.”
Tapi Elsa malah menjawab mantap, sambil tersenyum tipis. “Iya.”
Abyan terdiam, keningnya berkerut. Antara bingung dan kesal, ia menarik napas panjang lalu mengangguk pelan.
“Ya sudah… kalo kalian sempet, datenglah ke villa. Kita BBQ-an.”
Aryan langsung menjawab cepat. “Baik, Bos.”
“Alasannya?” Abyan sempat menatap Aryan tajam.
Aryan terdiam, bingung harus bicara apa. Elsa hanya tersenyum manis, tanpa menambahkan kata. Abyan mendengus kecil, lalu melangkah pergi, meninggalkan mereka.
Reyna berjalan sendirian menuju danau kecil di belakang villa.
Kabut makin pekat, udara dingin menusuk tulang.
Ia menarik napas panjang, lalu menjerit sekeras-kerasnya, seakan ingin mengeluarkan semua rasa sakit yang menghantam dadanya.
Tangisnya pecah, tubuhnya bergetar karena sesak yang tak tertahan.
Abyan yang sedari tadi membuntuti, tak kuat lagi melihatnya. Ia segera menghampiri, lalu memeluk tubuh Reyna dari belakang.
Reyna meronta, marah bercampur sedih.
“Kalo bukan karena saya nikah sama kamu, Pak Abyan… saya nggak bakal putus dari Mas Aryan! Dia cinta pertama saya!”
Ucapan itu menampar keras hati Abyan. Rahangnya mengeras, emosinya bergolak, tapi ia memilih menahan diri.
Tanpa berkata sepatah pun, Abyan kembali mempererat pelukannya. Reyna meronta lebih kuat, tangannya memukul d**a Abyan bertubi-tubi.
“Lepasin aku! Lepas, Mas!” seru Reyna dengan suara parau, matanya sembab.
Namun, semakin Reyna memukul, semakin erat pula Abyan memeluknya. Ia tahu Reyna sedang hancur, sedang marah, sedang kehilangan kendali.
Akhirnya, tenaga Reyna habis. Pukulan itu melemah, berganti dengan isakan.
Reyna jatuh dalam pelukan suaminya, menangis tersedu-sedu di d**a yang selalu ia tolak.
Abyan menunduk, mencium ubun-ubun Reyna dengan lembut. Suaranya bergetar.
“Marah lah, Sayang… nangis lah… tapi jangan pernah jauhin aku. Aku nggak akan ngelepasin kamu, selamanya.
Reyna akhirnya menyeka air matanya dengan punggung tangan.
Napasnya mulai teratur meski wajahnya masih sembab. Ia berusaha berdiri tegak di hadapan Abyan yang masih memeluknya erat.
“Mas… bisa lepasin pelukannya?” ucap Reyna datar.
Abyan menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan.
“Baiklah, Sayang.” Ia melepas pelukannya perlahan, memberi ruang pada Reyna.
Mata Abyan sendu, suaranya lirih namun penuh keyakinan.
“Aku tahu kamu masih cinta sama Aryan. Tapi aku janji, suatu saat nanti… kamu bakal bisa lupain dia. Dan kamu bakal belajar buat cinta sama aku.”
Reyna menoleh cepat, menatap Abyan dengan tatapan tajam penuh amarah. Bibirnya bergetar, tapi ucapannya meluncur tegas.
“Mimpi aja kamu, Pak Abyan. Sampai kapan pun aku nggak akan cinta sama kamu. Kamu boleh nyentuh tubuh aku… tapi jangan pernah berharap bisa memiliki hati aku. Karena aku benci sama kamu!”
Kata-kata itu menghantam keras d**a Abyan, tapi ia memilih diam. Hanya matanya yang meredup, seakan menahan badai yang berkecamuk di dalam hatinya.
Reyna berbalik, melangkah cepat meninggalkan Abyan. Suara langkahnya terdengar berat di jalan setapak menuju villa, bercampur dengan dinginnya udara Ciwidey yang makin menusuk.
Abyan masih berdiri di tepi danau, kedua tangannya mengepal. Ia menarik napas panjang, menatap kabut yang menutupi pemandangan.
“Cinta gue lagi diuji,” gumamnya lirih. “Gue harus kuat… demi Reyna.”
Malam itu, halaman villa terasa hangat dengan cahaya lampu gantung kecil yang dipasang di teras.
Udara Ciwidey masih dingin menusuk, tapi aroma daging yang dipanggang di atas kompor kecil memberi suasana berbeda.
Abyan dan Aryan duduk lesehan di atas karpet, sesekali bercanda ringan sambil memanggang sate daging fillet.
Di sisi lain, Elsa sibuk memarinasi potongan daging dengan bumbu bawang putih, kecap, dan lada. Reyna duduk di sampingnya, memperhatikan dengan senyum tipis.
Reyna akhirnya membuka suara, nadanya pelan tapi jelas.
“Elsa… kamu sama Mas Aryan… pacaran, ya?”
Elsa terdiam sebentar, lalu menghela napas panjang.
Matanya menatap Reyna dengan ragu, namun akhirnya ia mengangguk.
“Hmm… iya, Rey. Maaf ya. Jujur aja, aku udah cinta sama Mas Aryan bahkan pas dia masih jadi pacar kamu.”
Reyna menelan ludah. Dadanya terasa sesak, tapi ia berusaha tegar. “Oh gitu…”
Elsa melanjutkan, kali ini lebih hati-hati.
“Tapi aku sempet shock banget pas tau kamu nikah sama dosen kita, Pak Abyan.”
Reyna tersenyum miris, lalu menunduk.
“Iya, cuma kamu yang tahu kalau aku udah nikah. Tolong banget, jangan sebarin ke kampus, ya.”
Elsa mengangguk cepat.
“Iya, Rey. Aku janji. Tapi… kenapa kamu bisa nikah sama Pak Abyan?”
Reyna menarik napas dalam, lalu membuangnya perlahan. “Ceritanya panjang, Els. Aku nggak bisa jelasin semua sekarang.”
Elsa menatap Reyna penuh rasa ingin tahu, tapi akhirnya menghela napas dan tersenyum samar.
“Pantas aja Mas Aryan keliatan begitu terpukul… dan terpuruk, pas tau kamu nikah sama Pak Abyan.”
Reyna menegakkan punggung, menatap Elsa dengan tatapan mantap.
“Iya sudahlah, Elsa. Mas Aryan itu masa lalu aku. Aku doain kalian bahagia. Semoga jodoh, ya.”
Elsa tertegun, matanya berkaca-kaca. Ia menggenggam tangan Reyna erat.
“Makasih, Rey. Kamu sahabat terbaik aku.”
Reyna ikut tersenyum, meski hatinya masih terasa perih. Ia membalas genggaman itu.
“Makasih juga, Els. Aku juga doain kamu sama Mas Aryan langgeng. Semoga Allah kasih jalan buat kalian.”
Elsa langsung memeluk Reyna erat, membuat suasana BBQ malam itu terasa hangat di tengah udara dingin pegunungan.
Sementara itu, Abyan dan Aryan yang duduk tak jauh dari mereka hanya bisa saling melirik diam-diam—masing-masing dengan beban dan rahasia di hatinya.
Suasana villa masih hangat dengan aroma daging bakar. Tawa Abyan dan Aryan tadi di teras perlahan mereda ketika Elsa berpamitan ke toilet.
Reyna pun ikut ke dapur untuk menyiapkan piring tambahan.
Aryan menyusul, berdiri tak jauh darinya. Suaranya pelan, nyaris berbisik.
“Reyna… kamu baik-baik aja kan?”
Reyna menoleh sekilas, lalu tersenyum tipis.
“Iya, Mas. Aku baik-baik aja.”
Aryan menghela napas panjang, menatap meja dapur kosong.
“sampai saat ini, Gue nggak nyangka… kamu bisa rela nikah atasan saya. Dan lebih nyesek lagi, kamu jadi istri orang lain.”
Reyna tersenyum getir.
“Aku juga nggak nyangka, Mas. Dan aku nggak nyangka kamu bisa pacaran sama sahabat aku sendiri.”
Aryan terdiam sesaat. Matanya menatap Reyna dengan rindu yang tak bisa ia sembunyikan.
“Sebenarnya aku nggak cinta sama Elsa, Rey. Aku masih cinta sama kamu.”
Reyna tertegun, tangannya yang memegang piring bergetar halus. Namun ia cepat-cepat menunduk, menahan gejolak hatinya.
“Sudahlah, Mas. Kamu tahu aku udah menikah.”
Aryan melangkah lebih dekat, suaranya penuh penekanan.
“Iya, aku tahu. Tapi kamu nggak cinta kan sama Pak Abyan?”
Reyna belum sempat menjawab, ketika sebuah suara tegas muncul dari belakang.
“Kata siapa, Yan?”