Mereka berdua menoleh bersamaan. Abyan berdiri di ambang pintu dapur, tatapannya tajam menusuk Aryan.
“Reyna cinta sama saya. Kami berdua saling mencintai,” ucap Abyan, suaranya berat namun penuh wibawa.
“Dan kalian berdua nggak jodoh. Jadi saya peringatkan… jangan coba-coba merebut istri saya.”
Suasana hening. Hanya suara detik jam dinding terdengar samar.
Reyna menggigit bibir, wajahnya merah padam. Bukannya merasa dilindungi, ia justru tersinggung oleh klaim Abyan yang menurutnya berlebihan.
Dengan langkah cepat, Reyna meletakkan piring di meja lalu berkata ketus,
“Udah cukup. Aku nggak suka denger obrolan kayak gini.”
Tanpa menoleh lagi, Reyna meninggalkan dapur, meninggalkan Abyan dan Aryan dalam keheningan yang tegang.
Reyna masuk ke kamar dengan langkah cepat, wajahnya masih panas oleh rasa kesal.
Ia membanting pintu sedikit keras, lalu duduk di tepi ranjang. Tak lama, pintu kembali terbuka. Abyan masuk dengan wajah tenang, meski sorot matanya serius.
“Reyna, Sayang… dengerin Mas dulu,” ucap Abyan, mendekat.
“Apa?” jawab Reyna ketus, menatapnya penuh jengkel.
Abyan menarik napas panjang. “Tolong ya… di depan Aryan sama Elsa, kita bersikaplah kayak suami-istri beneran. Kayak pasangan yang saling cinta.”
Reyna mendengus keras.
“Bapak kan tahu, pernikahan ini terpaksa. Gimana bisa aku pura-pura mesra?”
Abyan langsung meraih bahu Reyna, lalu memeluknya erat. “Mas tahu, Sayang. Mas ngerti… Tapi Mas mohon, demi harga diri kita, tunjukin kalau kita bahagia.”
“Mas, lepasin!” Reyna berusaha meronta.
Abyan menggeleng.
“Nggak akan, Sayang. Dan mulai sekarang… kamu harus inget. Jangan pernah panggil aku ‘Bapak’. Aku nggak nikah sama ibu kamu, Reyna. Aku nikah sama kamu.”
Reyna terperangah, matanya melebar. Namun sebelum sempat membalas, Abyan menunduk dan menempelkan bibirnya pada bibir Reyna.
Reyna mencoba menolak, mendorong d**a Abyan dengan tangannya.
Tapi Abyan tidak bergeming, ia terus memperdalam ciumannya. Napas mereka berdua mulai memburu, bercampur panas dan dingin yang saling bertabrakan.
Akhirnya Abyan melepas ciuman itu, menatap Reyna dengan senyum tipis.
“Kayaknya kamu suka dihukum kayak gitu, Sayang.”
Reyna menoleh cepat, wajahnya merah padam.
“Apaan sih, Pak…”
“Hmmm,” Abyan terkekeh, suaranya menggoda.
“Jadi kamu mau lagi?”
Reyna buru-buru menutup mulut Abyan dengan tangannya. “Nggak! Eh—maksudnya, Mas!”
Abyan tertawa kecil, matanya berbinar penuh gemas.
“Ya udah, kalau gitu kita keluar. Kasian Aryan sama Elsa nungguin. Nggak enak kalau kelamaan.”
Reyna mendengus, masih menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Namun dalam diam, jantungnya berdebar kencang.
Aroma daging sapi fillet yang baru keluar dari panggangan memenuhi udara, bercampur dengan sejuknya hawa malam Ciwidey.
Berempat duduk lesehan di atas karpet, tawa kecil sesekali pecah di antara percakapan ringan.
Abyan mengambil selembar daun selada, meletakkan potongan daging yang juicy di atasnya, lalu menambahkan sedikit sambal dan bawang putih.
Dengan tenang, ia menggulungnya, kemudian mengangkat gulungan itu ke arah Reyna.
“Nih, Sayang. Coba deh, enak banget,” ucap Abyan lembut.
Reyna sempat kaget, tapi akhirnya membuka mulut. Ia menerima suapan itu sambil tersenyum tipis, lalu mengangguk.
“Hmm… enak, Mas.”
Aryan yang duduk di seberang hanya bisa menatap, matanya seperti terbakar melihat kemesraan itu.
Sementara Elsa, justru menatap dengan ekspresi kagum sekaligus menggoda.
“Terima kasih, Pak,” ucap Reyna tanpa sadar.
Kata itu langsung membuat Abyan mengangkat alis, tapi bukannya marah, ia justru mencondongkan tubuhnya dan tanpa kata mencium bibir istrinya di depan semua orang.
Reyna terperanjat, matanya melebar. Tangannya sempat ingin menahan, tapi Abyan terlalu mantap melumat bibirnya.
Napas Reyna mulai memburu, wajahnya memerah, gelagapan oleh kejutan sekaligus… debar yang tak bisa ia sembunyikan.
Aryan mengepalkan tangan di bawah meja, rasa panas menjalar sampai ke dadanya.
Hatinya seperti diremas-remas. Sedangkan Elsa malah terkekeh kecil, menutup mulutnya sambil berkata, “Wah, kalian berdua bener-bener pasangan serasi banget. So sweet banget sumpah.”
Abyan akhirnya melepaskan ciumannya, tersenyum puas sambil menatap Reyna yang masih berusaha mengatur napasnya.
“Tuh, katanya serasi, Sayang,” bisiknya pelan, penuh kemenangan.
Reyna menunduk, pipinya merona, sementara Aryan makin sulit menyembunyikan amarah yang membara di balik senyumnya.
Hujan turun deras malam itu, menampar jendela kaca villa dengan suara ritmis yang menciptakan keheningan canggung di antara mereka berempat. Karena cuaca, Aryan dan Elsa terpaksa menginap.
Reyna tak bisa mengelak lagi ketika Abyan menariknya masuk ke kamar mereka. Tak ada alasan untuk berpisah ranjang.
Ia hanya bisa menaruh guling panjang di antara mereka, pembatas tak kasatmata yang menjadi benteng pertahanannya.
Abyan hanya menghela napas, lalu berbaring menghadap langit-langit, sementara Reyna membelakangi suaminya, menatap dinding dengan pikiran yang kacau.
Di kamar sebelah, suasana berbeda jauh. Aroma parfum manis bercampur dengan hawa dingin yang merayap masuk lewat celah jendela.
Elsa berdiri di depan Aryan dengan balutan lingerie tipis, sorot matanya penuh goda.
“Yan…” bisiknya lembut sambil mendekat, jemari lentiknya menyusuri lengan Aryan, lalu naik ke lehernya. Ia menempelkan bibir di sana, memberikan kecupan ringan yang membuat Aryan terperanjat.
“Elsa… jangan, kamu—” suara Aryan melemah, tubuhnya menegang, tapi tatapan Elsa terlalu sulit dihindari.
“Aku sayang sama kamu, Yan… jangan pikirin yang lain. Malam ini, cukup aku sama kamu,” ucap Elsa pelan, hampir berbisik di telinganya.
Ciuman demi ciuman jatuh di leher Aryan. Nafasnya semakin berat, hatinya diliputi dilema antara kenangan tentang Reyna dan kehadiran Elsa yang nyata di depannya.
Akhirnya, Aryan kalah oleh gejolak yang sudah lama ia tahan. Ia membalas sentuhan Elsa, dan dalam sekejap, keduanya larut dalam pelukan penuh hasrat.
Malam itu, di tengah derasnya hujan yang terus mengguyur, mereka terbawa dalam keintiman yang tak lagi bisa dibendung, seakan dunia di luar kamar itu lenyap.
Sementara di kamar lain, Reyna menatap kosong ke arah gelap, tanpa sadar meneteskan air mata.
Ia mendengar samar suara hujan… tapi entah mengapa hatinya terasa makin sesak, seolah ada sesuatu yang hilang jauh dari dirinya.
Abyan masih berbaring di ranjang dengan mata terpejam, pura-pura tertidur.
Namun telinganya tajam menangkap setiap gerak istrinya. Saat Reyna pelan-pelan bangun dan membuka pintu kamar, Abyan membuka sedikit matanya, lalu kembali menutupnya rapat, menunggu.
Reyna berjalan perlahan menyusuri koridor villa. Rasa haus mengganggu tenggorokannya.
Namun langkahnya terhenti ketika melewati kamar Aryan dan Elsa. Dari balik pintu yang tak tertutup rapat, terdengar samar suara desahan Elsa, bercampur dengan erangan berat Aryan.
Reyna mematung.
Hatinya seperti ditikam berkali-kali. Jadi benar… mereka sudah tidur bareng. Nafasnya tercekat.
Air matanya menumpuk di sudut mata, tapi ia buru-buru menghapusnya.
Aryan yang sekarang bukan Aryan yang dulu. Dengan mudahnya dia melupakan cinta yang pernah kita jaga… dan membaginya dengan orang lain.
Dengan langkah gontai, Reyna meneruskan jalannya ke dapur. Ia menuang air ke dalam gelas, meneguknya perlahan.
Suhu dingin dari air tak cukup untuk meredam panas sesak di dadanya.
Tiba-tiba, ada lengan hangat yang melingkari pinggangnya dari belakang.
Reyna terkejut. Air dalam gelas hampir tumpah.
“Kenapa nggak bilang kalau mau minum, sayang?” suara Abyan terdengar pelan, serak, tapi penuh perhatian.
“Kan mas bisa ambilin buat kamu.”
Reyna terdiam sejenak, mencoba menyembunyikan rasa perih yang barusan ia rasakan. Ia menoleh sedikit, lalu tersenyum tipis.
“Aku nggak mau merepotkan mas Abyan.”
Ia meletakkan gelas di meja, kemudian perlahan menyingkirkan pelukan Abyan.
Tanpa menoleh lagi, Reyna melangkah kembali ke kamar.
Abyan menatap punggung Reyna yang menjauh, sorot matanya rumit. Ia mendesah berat.
“Hati gadis ini memang keras kepala…” bisiknya, sebelum akhirnya mengikuti Reyna dengan langkah pelan.
Udara pagi masih dingin ketika adzan subuh bergema dari surau kecil tak jauh dari villa.
Reyna menggeliat pelan di bawah selimut, matanya masih berat. Tapi ia menyadari sesuatu—Abyan tengah memeluknya erat, hangat, seolah enggan melepaskannya.
Abyan perlahan membuka mata. Wajah cantik istrinya ada tepat di hadapan.
Ada helai rambut yang jatuh menutupi kening Reyna. Dengan hati-hati, Abyan menyibakkannya, lalu mengecup kening Reyna lama-lama.
Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Setelah itu, ia bangkit, turun dari ranjang, dan melangkah ke kamar mandi.
Tak lama, ia keluar dengan baju koko putih sederhana. Di kamar, Abyan menggelar sajadah.
Tepat saat ia hendak takbir, Reyna membuka mata, pandangannya sedikit kabur oleh kantuk.
Ia melihat suaminya yang bersiap shalat.
“Mas… bareng ya,” ucap Reyna setengah berbisik.
Abyan menoleh, tersenyum hangat, dan mengangguk.
“Mas tunggu, sayang.”
Reyna bangkit, mengambil handuk, lalu mandi dan berganti pakaian.
Beberapa menit kemudian, ia mengenakan mukenah putih, wajahnya bersih tanpa make-up.
Mereka pun shalat berjamaah, suara Abyan yang tenang membimbing Reyna dalam rakaat-rakaat subuh.
Selesai salam, Reyna spontan menunduk, mencium punggung tangan Abyan.
Lelaki itu meraih wajah istrinya, kembali menempelkan kecupan lembut di keningnya.
“Bukalah hatimu sedikit untuk mas, sayang…” pintanya lirih.
Reyna hanya tersenyum kecil, tidak menjawab.
Ia melipat mukenahnya rapi, meletakkannya di kursi, lalu merebahkan tubuh di tepi ranjang.
Sementara itu, Abyan duduk bersandar di headboard, membuka mushaf kecilnya.
Suaranya merdu, lembut, mengalunkan ayat-ayat Al-Qur’an.
Reyna mendengarkan dalam diam. Alunan itu seperti musik menenangkan.
Matanya semakin berat, apalagi ketika jemari Abyan terulur, membelai lembut rambutnya.
Pelan-pelan, Reyna pun terlelap lagi dengan senyum samar di bibirnya.