Reyna melepaskan pelukan, dan tanpa sadar, ia langsung memeriksa tubuh Abyan. Matanya meneliti setiap inci tubuh suaminya, seolah-olah ia seorang dokter bedah. "Mana yang sakit? Coba lihat. Ini berdarah, nggak? Jangan-jangan ada gegar otak! Kenapa perbannya begini doang?" Reyna bicara cepat, panik, sambil membolak-balik kepala Abyan dengan sangat hati-hati (tapi tetap bikin Abyan pusing). Abyan menahan tawa, gemas melihat tingkah istrinya yang lebay tapi menggemaskan. "Sayang, Sayang... kamu ini dokter, ya? Tenang, Sayang. Kata dokter cuma luka luar aja. Just a little knock," ujar Abyan, memegang tangan Reyna yang dingin. "Gimana aku mau tenang, Mas! Aku khawatir setengah mati!" Reyna memukul pelan bahu Abyan. "Udah, sini. Peluk Mas lagi. Kamu capek, kan?" Abyan menarik Reyna ke peluka

