Di ruangan Abyan, suasana terasa tegang. Abyan duduk di kursinya, mengepalkan tangan, amarah terpancar jelas di wajahnya. "Anak itu... perlu diajarkan sopan santun," gumamnya, kesal. Pintu terbuka dan Reyna masuk. Abyan segera mengunci pintu, memastikan tidak ada yang bisa mengganggu mereka. Reyna duduk di sofa, dan Abyan duduk di sampingnya. "Mas, ada apa sih sampai Reyna harus ke sini?" tanya Reyna, merasa bingung. Abyan tidak menjawab. Ia malah menarik Reyna dan menciumnya dengan dalam. Reyna terkejut, napasnya tersengal-sengal. Abyan melepaskan ciumannya, menatap Reyna tajam. "Jauhi Vais," ucapnya dingin. "Hmm, iya, Mas. Aku cuma mau dekatin Vais buat Rima, tidak lebih," Reyna berusaha menjelaskan. "Enggak usah ngeles, Sayang," potong Abyan, suaranya dipenuhi amarah. "J

