“Berat badanku semakin bertambah akhir-akhir ini,” ucap Zayden sambil melingkarkan tangan di perut Vilien. “Benarkah?” “Hm.” Mematikan kompor lalu berbalik menghadap Zayden. Mengalungkan tangan ke leher pria itu lalu mengecup bibir singkat. Tanpa riasan dan rambut yang diikat gulung asal. “Mari ku tambah lagi berat badanmu,” ucap Vilien diringi tawa rendah. “Dengan ice lemon?” tanya Zayden. “Teh mint. Itu bekalku,” jelas Vilien tanpa melihat ice lemon dalam botol transparan yang sempat dilirik Zayden. “Untukku?” “Di ruanganmu tersedia lemari pendingin dengan banyak variasi minuman kaleng,” ungkap Vilien. Mengecup singkat lalu berucap, “Sekarang aku menyukai minuman itu. Sama dengan aku menyukai pembuatnya.” Meremang diri Vilien. Aliran udara yang keluar masuk seolah ter

