Ungkapan Hati

1309 Words
Siang mulai berlalu, mereka memutuskan untuk segera turun dan pulang. Namun, di tengah perjalanan mereka berhenti. Seperti yang sering mereka lakukan sebelumnya, melihat matahari tenggelam di ujung barat. Jembatan paling populer ke seluruh dunia adalah tempat pilihan. Jarak dengan rumah juga tidak terlalu jauh. Tampak jembatan juga dipenuhi pengunjung, ada yang sekedar menikmati kemegahan jembatan, berfoto, bahkan ada beberapa pasangan yang sedang melakukan foto prewed. “Apa kita hanya berjalan kosong saja?” tanya Vilien cemberut. “Tentu saja tidak. Kita akan mengambil gambar di sini,” jawab Ryo sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku jeans. Saling melempar senyum. Bergantian berpotret dengan gaya masing-masing. Tidak hanya menggunakan ponsel Ryo, Vilien juga mengambil banyak potret dirinya dengan Ryo. Gaya konyol, rekaman random mereka, tawa mereka, potret sekitar, dan terakhir potret selfi dengan latar belakang matahari yang menyorot kuning ke air. Tidak lupa Vilien membeli berupa topi dengan tulisan nama jembatan. “Tempat ini indah siang malam,” celetuk Vilien. “Itu karena kau tidak pernah melihat kota malam saat di London,” sahut Ryo. Sambil mengunyah sesuatu. Setelah menghabiskan empat jam menyebrangi jembatan dan berdesakkan dengan pengunjung lain, kini mereka berada di taman tepat bersebelahan dengan jembatan. Memilih duduk di dekat sungai sambil menikmati gemerlap lampu kota dan deretan gedung yang berada di seberang sungai. Juga, ditemani dua cup air dingin dan burger super besar. “Kenapa tidak datang saja ke perusahaanku yang jelas akan memberimu upah sepadan,” ujar Ryo. “Gaji separuh waktu di restoran itu cukup untuk menghidupi sejengkal perutku,” jawab Vilien dengan senyum lebar sampai deretan gigi rapinya terlihat. “Kau makan layak?” “Tentu saja.” Sahutnya cepat dan pasti. “Kau memiliki pendidikan yang bagus, menjadi pelayan restoran itu kasar dan melelahkan,” “Apa pun pekerjaannya selagi benar tidak akan ada masalah. Terpenting bagiku adalah mendapatkan uang. Benar melelahkan, tapi bekerja di sana akan menghemat jatah uang makanku. Semua pekerja boleh membungkus makanan untuk makan malamnya,” terang Vilien. Mengungkap apa yang dikerjakan tanpa malu sedikit pun. “Selagi kau nyaman dan itu membuatmu senang, aku tidak akan melarangmu.” “Sekali lagi terima kasih. Datanglah ke restoran jika kau sempat,” “Vi, aku akan melakukan perjalanan bisnis. Tujuanku mendatangimu ialah ingin berpamitan denganmu,” “Kau akan pergi lama ya? Em... pergilah, tapi ingatlah untuk mengunjungiku sesekali,” ucap Vilien dengan wajah lesu. Ryo mengusap lembut pucuk kepala Vilien sambil tersenyum, sedangkan si pemilik masih menunduk sambil mengunyah lambat. “Aku tidak akan lama. Ku tahu, kau pun akan merindukanku,” ucapnya percaya diri dengan memainkan kedua alis naik turun. “Tuhan, mengapa kau mengirimkan teman kepadaku yang mempunyai percaya diri overdosis,” serunya kepada taburan bintang di langit gelap. “Kenapa tidak ada kata tampan juga?” sahut Ryo mengerutkan dahi. Tatapannya pun mengikuti Vilien ke arah langit. Satu tumbukkan diberikan pada lengan Ryo. “Nikmati saja makananmu. Jangan protes dengan obrolanku dengan Tuhan,” Tidak ada marah untuk orang yang disayangi. Justru Ryo malah memeluk gemas sampai rasanya Vilien akan mati karena sesak. “Bawa aku ke Bahamas setelah kembali,” ucap Vilien sebelum Ryo menyalakan mesin. “Hanya itu saja?” “Ya.” “Darimana kau tahu tempat itu?” selidik Ryo dengan memajukan wajahnya hingga Vilien harus memundurkan kepala. “Banyak orang mengunggah di media sosial,” jawab Vilien dengan ekspresi ngeri. “Baik.” Ryo mulai menyalakan mesin dan siap melaju membelah malam kota New York. Tidak peduli lagu yang sedang populer, mereka memiliki lagu kesukaan sendiri. Sepanjang perjalanan yang mereka bahas hanya tentang kesamaan hobi, kesukaan, dan bertukar cerita tentang keseharian. Satu frekuensi tapi tidak satu hati, itulah mereka. Derap langkah yang menyusuri koridor mengalihkan beberapa pasang mata yang sedang berada di depan pintu rumah masing-masing. Mereka terutama wanita terpaku ketika Ryo melewati. Wajah tenang nan datar seolah tidak peduli dengan tatapan orang. Fokusnya hanya pada Vilien yang meringkuk nyaman dalam gendongannya. Tubuh mungil wanita itu terasa ringan untuk Ryo sehingga tidak terlalu susah untuk membuka pintu. Setelah menidurkan Vilien dan mengamati sejenak, Ryo segera pergi. Lima jam lagi penerbangannya. Langkahnya terhenti saat melintasi ruang tamu, netra Ryo tidak sengaja menangkap sebuah jaket tergelatak di sofa tunggal. Sejenak menghampiri dan mengendus. Bau familiar tapi ia tidak peduli. Meletakkan kembali ke sofa dan segera keluar. “Kau menyukainya?” dingin suara Zayden. Ryo tersenyum miring mengetahui Zayden telah bersandar di pintu mobil miliknya. Tersenyum sangat tipis pun gagah, Ryo hampiri Zayden yang terlihat sedang membara. Kini ia sadari saat berada di depan pria berdarah asia ini. “Tidak hanya menyukai, juga mencintai sepenuh hati.” Mantap dan pasti penuh keyakinan. Zayden membuang muka ke samping. Rasanya ingin menumbuk wajah sepupunya hingga hancur. Demi Tuhan. Jiwanya terbakar mendengar pengakuan Ryo. Oh tidak, bukan lagi terbakar tapi meledak. “Kau cemburu? Ah, sayang sekali. Kau terlambat dude. Wanita seperti Vilien itu sangat langka dijumpai,” Zayden yang tidak mampu menahan amarah pun menendang bodi mobil Ryo lalu pergi dari hadapan. Membawa jiwanya yang sedang berkobar api cemburu. Sedikit melirik ke gedung bertingkat sekilas, setelahnya ia segera menghidupi mesin motor dan meninggalkan area apartemen Vilien. Sudah diputuskan, akan ia sampaikan rasa terpendam kepada Vilien besok. Masih terbayang unggahan foto Ryo dan Vilien yang kental penuh bahagia. Senyum lebar wanita itu yang tidak pernah diberikan padanya. Sungguh, ia pun ingin Vilien tersenyum bahagia seperti itu saat bersamanya. Di dalam mobil dengan kecepatan sedang, Ryo tidak berhenti tertawa. Bahkan sampai di apartemen pun masih tertawa geli teringat raut wajah sepupunya yang mulai menyukai sahabatnya. Benar ia menyukai dan mencintai Vilien, tapi itu dalam artian saudara. Bukan cinta antar sepasang kekasih. Ia sendiri tidak memiliki keyakinan penuh akan mampu mencintai secara hebat kepada Vilien seperti cinta kedua orang tuanya. Pesan kedua orang tuanya selalu ia pegang teguh tentang komitmen. ** Teriakkan lantang sontak membangunkan Zayden. Pria itu mendongak, terlihat linglung sekilas. Setelah menyadari keberadaannya, ia tersentak dan segera berdiri tegap di depan Vilien. Wajah kusut mengantuk dipaksa keren. “Sedang apa kau di sini?” todong Vilien dengan ekspresi tidak suka. “Menemuimu,” jawabnya sambil menguap. Tentu saja terkejut dengan keberadaan Zayden yang tidur samping pintu rumahnya. Entah apa yang sedang pria di depannya ini pikirkan. Jika mengetuk pintu tentu saja akan ia buka. Vilien menarik kasar hoodie yang dikenakan Zayden. Ia seret pria itu masuk ke dalam kamar mandi. Melempar juga handuk bersih kepada Zayden. Selang beberapa menit Vilien kembali mengetuk pintu kamar mandi. “Kenapa belum mandi!” teriak Vilien marah. “Aku akan memulai tapi kau mengetuk pintu,” jawab Zayden seperti anak yang sedang dimarahi ibunya. “Aku hanya memberimu pakaian ganti. Masukkan bajumu penuh bau alkohol ke keranjang cucian lalu pakai ini,” ucap Vilien sambil menyerahkan sepasang baju lengkap dengan celana dalam bermerek. “Itu baju siapa? Aku tidak mau!” tolak Zayden. Vilien menggebrak pintu kamar mandi hingga Zayden tersentak. Tatapan marahnya yang menyorot membuat Zayden ngeri. “Ini milik Ryo, sepupumu. Pakai atau ku habisi kau hingga hidungmu mengucur darah?” ancam Vilien. Kemudian menutup pintu kamar mandi kasar. Sampai berdentum keras. Menarik dan menghembuskan nafas berulang kali agar emosinya terkontrol. Sungguh, minggu paginya menguras emosi dan semua karena pria sama. Dari balik jendela dapur bisa ia lihat sedang turun hujan. Melihat apa yang ia miliki di dapur untuk di olah menjadi sarapan lezat. Suara tarikkan pintu menyadarkan Vilien yang sedang membaca beberapa pesan dari Ryo. Mematikan layar dan meletakkan di samping piringnya. “Dapurku tidak memiliki banyak bahan makanan seperti rumahmu. Jika tidak menyukai, setidaknya minum teh mintnya,” ucap Vilien datar. “Ibuku selalu membuat Pancake di pagi. Sejak pindah di sini, ini kali pertama aku menjumpai pancake lagi di meja makan,” ungkap Zayden kemudian mulai menyantap dengan lahap. Vilien tersenyum singkat. Mereka menikmati sarapan dengan diam. Hanya suara denting alat makan dan benturan rintik hujan ke kaca yang terdengar. Petir yang berkali-kali menyambar menambah nuansa hening.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD