Mengakui

1366 Words
Setelah satu hari langit menumpahkan air, dan menjelang matahari sembunyi cuaca kembali terang. Genangan air dimana-mana, Namun hal itu tidak membuat kota besar itu lenggang. Keributan suara kendaraan silih berganti tanpa jeda. Musim panas akan segera habis, sengaja Zayden mengajak Vilien ke karnival yang berada di sudut kota. “Zay, terima kasih. Aku sangat senang malam ini,” ucap Vilien tulus. Pun memandang Zayden yang duduk di sampingnya. “Tidak perlu sungkan. Aku hanya mengajakmu melihat karnival tahunan saja,” sahut Zayden. Pun membalas tatapan Vilien. Vilien memutar posisinya ke depan. “Aku tidak pernah mendatangi hal-hal seperti ini. Ini pertama kali untukku,” ungkap Vilien dengan senyum. Pun sambil menikmati permen kapas berwarna pink. “Benarkah?” Zayden memastikan. Heran? Tentu saja. Ia sangat yakin jika karnival yang digelar berminggu-minggu akan selalu ada di seluruh dunia. Rasa ingin tahu asal Vilien semakin menggebu, tapi ia tahan dan lebih baik mengurungkan saja. Bersama Vilien dengan keadaan damai seperti ini sangat langka dan Zayden tidak ingin mengacaukan. “Aku berasal dari benua Eropa. Bukan aku tidak tahu atau tidak memiliki uang, tapi aku selalu disibukkan dengan belajar,” ungkap Vilien. Ia tahu jika Zayden mungkin bertanya-tanya dan menilai aneh tentang dirinya. “Hidupku sangat membosankan, bukan?” imbuhnya dengan tertawa rendah dan singkat. “Tapi setara dengan prestasimu yang menakjubkan,” sahut Zayden. “Bahkan, permen kapas ini dulu menjadi camilan impian,” ucap Vilien sambil mengangkat sejajar dengan wajahnya. “Kau mau lagi?” tawar Zayden dengan senang hati. “Tidak. Lebih baik mencoba semua makanan yang lain saja,” seru Vilien dengan senyum lebar. Zayden raih telapak tangan Vilien, kemudian ia tarik untuk mendekat ke arah keramaian. Senyum lebar terbit menghiasi wajah tampannya. Tanpa bertanya apa pun kepada Vilien, Zayden pesan satu persatu jenis makanan yang berjajar rapi dari ujung timur hingga barat. Berbagai minuman pun juga dibeli. Zayden juga rela antri dengan sabar untuk mendapatkan makanan yang ingin dibeli. Semua dilakukan tulus dari hati. Entah mengapa, setelah mendengar pernyataan Vilien hatinya tersentuh. Kehidupannya jauh lebih beruntung, tidak ada perbedaan antara dirinya dan sang adik. Menunggu dan mengekor agak berjarak dengan Zayden, Vilien tersenyum. Ia perhatikan lekat Zayden yang mendusel diantara antrian panjang. Beradu argumen dengan penjual saat antriannya terlalu panjang. Beberapa yang mengenali akan dengan rela mempersilahkan membeli dulu. Di tengah bahagia yang melanda hati Vilien, sekilas membandingkan keluarganya dengan keluarga Zayden. Bisa dibayangkan betapa indah berada di tengah keluarga mereka yang setiap detik dihujani kasih sayang. “Apa yang kau renungkan?” tanya Zayden. Sontak Vilien tersentak. “Ah, tidak. Sudah selesai?” tanya Vilien setengah gugup. “Apa ini cukup?” tanya Zayden sambil mengangkat dua tangan yang penuh dengan aneka makanan. Vilien menumbuk pelan lengan Zayden. “Itu terlalu banyak. Kenapa membeli secara brutal,” Marahnya. “Benarkah? Jika kau dengan Ryo, aku pastikan tiga kali lebih banyak dari ini,” ungkap Zayden. “Dia perut karet. Tidak bisa dibandingkan.” Timpal Vilien. “Dia tokoh anime bajak laut dalam versi nyata,” timpal Zayden lalu disusul dengan tawa meledak keduanya. “Jangan dibicarakan, nanti dia tersedak,” tegur Vilien. Masih tertawa kecil. “Apartementku tidak jauh dari sini, kita makan di rumahku saja. Kau pasti sudah lelah,” ucap Zayden mengajak Vilien. Vilien mencekal pergelangan Zayden. “Apa tidak apa-apa?” “Aku tinggal sendiri. Jika kau ingin pulang, aku antar setelah makan. Tapi, jika kau mau ya menginap saja.” Jelas Zayden. Akhirnya Vilien menyetujui. Malam semakin larut dan alangkah baiknya segera meninggalkan area keramaian yang semakin sesak oleh pengunjung. Sambutan wangi segar buah menyapa begitu pintu terbuka. Nakas panjang yang tidak jauh dari pintu masuk berjajar beberapa bingkai foto, dan semua foto keluarga. Tidak hanya keluarga Zayden, foto para tetua, foto seluruh keluarga yang tampak sesak dalam satu bingkai karena saking lengkap. Ada juga foto Zayden bersama seluruh sepupu, tidak ada foto Zayden yang tunggal. “Semua gambar dalam bingkai akan selalu ada di setiap rumah kami,” seru Zayden. Saat melihat Vilien yang berhenti di depan deretan bingkai gambar. “Aku baru mengerti,” jawaban Vilien membuat Zayden mengerutkan dahi. Vilien menoleh ke arah Zayden yang menatapnya dari meja makan. Tersenyum lantas menghampiri pria itu yang berhenti mengeluarkan makanan dari kantong kertas. “Aku pernah mengunjungi dua Apartement Ryo. Semua terdapat deretan bingkai dengan gambar yang sama.” Ungkap Vilien setelah berada di depan Zayden berbatas meja kaca. Meninggalkan kantong makanan, memutari meja kaca dan berhenti tepat di depan Vilien. Tatapannya sedikit menunduk menembus mata lawan, tenang tanpa bisa dibaca. Nafanya pun masih teratur, namun kedua lingkar mata perlahan mulai memerah disusul urat mata yang tidak seperti biasanya. “Zay, ka-kau mau apa?” tanya Vilien pelan dan lidah mulai bergetar. “Aku menyukaimu.” Ungkapnya singkat namun mampu membuat lawan tercekat. Zayden menempelkan telunjuk di depan bibir Vilien. “Aku tidak mau mendengar penolakkan. Jika kau bingung, belum siap, atau karena hal lain, tidak apa. Aku hanya akan mendengar kau mengatakan iya. Tidak peduli harus menunggu berapa hari, minggu. Asal tidak lebih satu bulan,” terang Zayden panjang lebar tanpa malu. Vilien menundukkan kepala untuk menghindari kontak mata, namun pria itu mengangkat dagu Vilien menggunakan telunjuk. Tetap kedua netra liar ke segala arah dan tidak mau bertemu dengan netra Zayden. Detak jantungnya berdenyut semakin cepat, rasa berbeda saat kata aneh itu keluar dari bibir Zayden. Ada senang, gugup, mengacak isi kepala yang kontan lupa segala hal. Terus berputar kata singkat yang diucapkan Zayden. “Ayo duduk, aku akan menyediakan makanan di piring,” seru Zayden cepat pun gesit menggiring dan mendudukkan Vilien. Tergesa berjalan ke dalam dapur mengambil piring besar dan dua kaleng air dingin. Zayden menyadari kebodohannya, tapi sisi lain merasa lega telah tersampaikan. Ia tahu ini terlalu cepat mengutarakan isi hati. Tapi sungguh, ia tidak tahan terus menahan rasa kepada Vilien. Hanya Tuhan yang tahu jika ia akan mati jika Vilien menolak. Maka dari itu, memilih menunggu sampai Vilien memiliki rasa sama terhadap dirinya. Selama menanti jawaban pun akan Zayden hujani Vilien dengan penuh kasih sayang. Akan ia tunjukkan cintanya yang hebat. “Zay,” panggil Vilien. “Kau ingin pulang? Aku akan mengantarkanmu,” sahut Zayden cepat pun berdiri untuk mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja dapur. “Zay,” cegah Vilien menahan telapak tangan Zayden yang telah siap menarik tangannya. “Tidak apa, aku akan membersihkan sendiri,” ucap Zayden lembut pun mengusap kepala Vilien menggunakan satu tangan lainnya penuh hati-hati. “Aku menginap saja. Sudah sangat larut dan kau terlihat mengantuk,” jawab Vilien lembut. “Aku tidak mengantuk, mari ku antar sebentar,” elak Zayden. Memang sebenarnya ia sudah merasa mengantuk, namun akan ia urungkan demi Vilien. “Kau tidak suka, aku ada di sini,” ucap Vilien pura-pura marah. Pun menghempaskan tangan Zayden. Otak pintar Zayden mendadak panik, resah dan gelisah. Kalang kabut melihat perubahan Vilien. Gugup dan susah mengeluarkan kata meski hanya singkat. Terpejam kilas kemudian memeluk erat Vilien. Buntu sudah. Satu-satunya cara mengelak asumsi Vilien hanya memeluk wanita itu. Lidahnya tidak mampu mengeluarkan kata, maka hanya tindakan yang bisa menyampaikan. “Ku mohon jangan marah, apa pun yang kau mau katakan dan akan aku penuhi,” ucap Zayden pelan di samping telinga Vilien dengan kedua mata tertutup. Hangat hati Vilien mendengar setiap ungkapan kata yang yang keluar dari bibir Zayden. Selama ini hanya curahan kasih sayang dari Ryo yang ia dapatkan. Dekapan ini, hembasan nafas segar ini, tutur kata yang seolah menenangkan semakin kuat mendobrak benteng kokoh yang menghalangi pintu hatinya. Jujur, ia cukup terkejut dengan pengakuan Zayden. Tidak juga tergesa menyimpulkan semua kenyamanan bersama Zayden sebuah cinta. Akan ia pertimbangkan beberapa kali untuk bisa menerima secara terbuka dan sadar. “Boleh minta selimut?” celetuk Vilien. Menahan senyum sekuat tenaga untuk menyembunyikan bahagia. “Kau tidak akan tidur di sofa,” jawab Zayden masih di posisi sama sambil mengendus nyaman bau shampo Vilien. “Aku masih memikirkan dan belum menerima Zay,” “Aku tidak menyuruhmu tidur di kamarku. Kau akan menempati kamar samping kamarku,” sahit Zayden cepat. Nada suaranya pun masih pelan dan lembut. Setelah mengunci pintu dan berada seorang diri, Vilien berguling di tengah ranjang besar. Memekik tertahan, tidak bisa dijelaskan hati, pikiran dan dirinya. Jiwanya seperti bunga yang sedang bermekaran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD