Aroma makanan menyerbu tanpa permisi saat Zayden membuka pintu kamar. Harum dan membangkitkan selera seketika. Cacing dalam perut sontak bernyanyi riang. Tampak rapi dengan balutan celana jeans biru berpadu dengan hoodie longgar. Segera langkah kaki menuju lantai bawah dan melihat kekacauan apa yang sedang terjadi di dapur miliknya.
Musik pelan dan lembut khas nuansa pagi mengalun nyaman di pendengaran Zayden. Tanpa mengganggu, Zayden duduk di kursi meja makan yang menyorot penuh ke dapur. Ia pandangi punggung kecil Vilien yang sibuk menuang adonan tepung ke pemanggang, sabar menunggu dan teliti. Berkeliaran isi otak Zayden, membayangkan hidup bersama dengan wanita yang sedang diperhatikan. Tanpa kode atau tanpa sengaja, Vilien memiliki sesuatu yang membuat Zayden semakin mabuk setiap harinya.
Belum habis mengamati caranya memasak, kini menangkap suara kecil yang menirukan lirik lagu. Lembut dan indah. Semakin pusing dan luruh hatinya dibuat.
“Grab your passport and my hand!”
Suara asing mendadak keluar dan Vilien tertawa lepas. Masih dengan tertawa, Vilien melanjutkan lirik lagu. Saling bersahutan dengan seseorang. Beberapa detik kemudian suara musik mati.
“Aku masih mengantuk,”
“Aku tidak menyuruhmu mendengarkan,”
“Tapi aku ingin mendengarmu. Kau pasti sedang membuat pancake, ahh... pasti lezat,” suara serak dari seberang mengudara.
“Tepat sekali. Lengkap dengan maple syrup dan caramel,”
“Baiklah, besok aku kembali,”
“Tidak boleh. Mengakar sampai bertelurlah kau di sana!” sahut Zayden yang tiba-tiba menyambar ponsel Vilien dan berbicara tegas.
“oh, s**t!” umpat dari seberang.
“Vi! Kenapa ada tikus di rumahmu!” teriak dari seberang panggilan.
Ingin meledakkan tawa, tapi Vilien lebih memilih menahan hingga kedua pipi menggembung. Sedangkan Zayden, pria itu melotot lebar hingga hampir kedua bola matanya copot.
“Tikus ini sedang menanti pancake,” sela Zayden santai. Senyum miring pun terbit.
Ia yakin pria yang berada di seberang panggilan sedang frustasi mendengar makanan di pagi buta. Benar saja, Ryo mengalihkan panggilan suara ke vidio. Santai saja Zayden menggeser dan kini wajahnya bertatap dengan Ryo yang masih berantakkan. Wajah kesal dan frustasi kental.
“Kau menipuku!” tuduh Ryo. Netra birunya menyipit galak.
Mengacungkan jempol dan kemudian menjauhkan kamera. Tanpa ragu menarik bahu Vilien. Merangkul santai sambil menaik turunkan alisnya.
“Jangan kau pegang Vilienku!” marah Ryo sambil menunjuk ke layar.
“Ok, bye!” putus Zayden. Menutup panggilan sepihak.
Menyimpan ponsel Vilien ke dalam saku hoodie, mengangkat kepala menatap Vilien dingin.
“Kembalikan ponselku!” pinta Vilien mengulurkan telapak tangan.
Diraih telapak tangan itu dan mendekatkan pada bibir. Ya, Zayden memegang erat dan mencium agak lama, pun tatap kedua mata menyorot penuh menusuk ke netra Vilien. Tarikkan tidak suka mencoba menjauhkan dari bibir Zayden, tapi genggamannya lebih kuat.
“Aku cemburu,” ungkap Zayden.
Sedikit mendongak dengan lingkar mata merah. Mengakui tanpa malu. Tidak lagi ingin menunda tentang semua yang dirasakan kepada Vilien. Wanita yang berada di hadapannya pun telah mengetahui isi hatinya.
“Dia lebih dulu hadir di hidupku. Kau tidak punya hak cemburu kepadanya,” tegas Vilien membalas tatap dingin lawan.
“Kau lebih memilih dia, begitu?” tanya Zayden dengan memiringkan kepala. Wajahnya mulai tampak diselimuti api.
“Ya. Dia segalanya di hidupku, dia penyayang, dia memberikanku kenyamanan, dia memberiku perlindungan penuh,” tekan Vilien. Mengakui apa yang sebenernya.
“Kau yakin dia pun begitu?”
“Hanya dia, satu-satunya orang yang bisa ku percaya. Satu-satunya pria yang tidak akan ku ragukan ucapannya,” jelas Vilien. Datar, dingin, serius.
Api dalam diri Zayden sontak berkobar. Sesak, panas, ingin meledak. Ditarik paksa tubuh Vilien lalu menyambar cepat bibir sexy itu. Satu tangan menahan tengkuk, satu tangan lain melingkari pinggang. Menghisap dalam. Ia nikmati rasa manis bibir Vilien. Melepaskan perlahan lalu meletakkan kepala di bahu Vilien
“Aku cemburu..” ucap Zayden lagi, pelan.
“Aku tahu dan sadar, aku orang yang baru hadir di hidupmu. Tidak bisakah kau memberiku kesempatan,”
“Aku tidak mau hatiku sakit karena memasukkan seseorang,” jawab Vilien tenang. Masih berdiri tanpa gerak.
“Akan ku terima semua konsekuensi jika aku menyakitimu,” kini wajah Zayden tegak tepat di depan wajah Vilien.
Sekilas Vilien melirik kedua tangan Zayden yang memegang masing-masing lengannya. Ia balas tatap serius Zayden.
“Siapa pun yang melukai hatiku akan menjadi orang lain yang tidak akan pernah ku kenal,” ucap Vilien serius. Kemudian diangguki Zayden cepat.
“Aku sungguh-sungguh.” Tegas Vilien.
Zayden melepaskan kedua tangan dari lengan Vilien. Mundur beberapa langkah, menyandar pada tepi meja marmer. Melipat kedua tangan di depan dadanya pun kepala menunduk.
“Aku kehilangan ibuku, tapi aku mendapat dekapan seorang ibu yang luar biasa hebat. Mencintaiku sepenuh jiwa.”
Mendongak menatap Vilien yang masih sentiasa menatap pun mendengarkan dengan seksama. Susah payah menelan saliva mengamati wajah teduh wanita di depannya. Sejak beberapa malam merenungkan betapa sepinya hidup Vilien. Sungguh, ia tidak sepenuhnya percaya jika wanita ini benar-benar yatim piatu. Ia hanya ingin mendekap dan selalu memberi bisikan jika tidak sendiri.
“Kemarilah,” pinta Zayden lembut sambil merentangkan kedua tangan lebar.
Wajah tenang dan diam sedari tadi, seketika berkaca-kaca juga bibir yang melengkung ke atas. Melangkah lebar ke arah Zayden yang tersenyum. Memeluk erat tubuh sexy pria itu dan menangislah Vilien dalam pelukkan Zayden.
Mengecup kepala Vilien berkali-kali. Terdengar juga isakkan. Dunia masih sangat pagi, tapi atmosfer dalam apartemen mewah itu jauh berbeda. Seperti kebun tandus yang mendadak tumbuh ribuan bunga. Harum wangi semerbak memenuhi setiap sudut.
**
“Jangan terlalu banyak senyum,” peringat Zayden. Masih duduk di atas motor setelah menurunkan Vilien di depan restoran.
“Kenapa? Pekerjaanku mengharuskan tersenyum,”
“Kau itu sadar tidak? Kau lucu saat tersenyum, banyak pria yang terpikat,” ungkap Zayden cemberut pun mencubit lembut sebelah pipi Vilien.
“Itu bagus. Semakin banyak pengunjung, semakin terkenal. Dan aku tidak akan takut kehilangan pekerjaan,” seru Vilien penuh bahagia pun kedua alis yang dinaikkan.
Zayden menarik tengkuk Vilien, kemudian menyatukan bibir mereka. Menghisap penuh bibir Vilien yang semakin membuatnya pusing setiap detik setelah pertama kali menyentuh.
“Zayden!” teriak Vilien setelah mendorong kuat d**a pria itu agar terlepas.
Sambil memegang pelipisnya, ia mengatur nafas. Melirik sinis kepada Zayden yang terlihat penuh kemenangan. Ini tempat umum, semua pasang mata melihat dengan jelas. Meski tidak ada yang peduli, tapi untuk Vilien berbeda. Malu setengah mati, itulah yang terus berputar dalam otak.
“Cepatlah masuk! Aku akan menjemputmu nanti,” ucap Zayden sambil mengusap pucuk kepala Vilien.
“Berhenti menciumku di sembarangan tempat!” desis Vilien.
“Kenapa? Biar saja orang tahu jika kau milikku,” ucap Zayden enteng.
“Aku malu,” ungkap Vilien dengan ekspresi seperti ingin menangis.
Zayden tertawa rendah. Suaranya terdengar sangat sexy. Menawan saat bibir merah muda melengkung ke atas hingga deretan gigi putihnya terpampang. Rambut hitam lebat yang diikat separuh ke belakang dan helai pendek jatuh ke depan semakin menambah ketampanan pria itu. Masih menjadi pertanyaan besar untuk Vilien tentang Zayden yang berwajah Asia kental. Sangat sulit dipercaya jika pria Asia ini sepupu Ryo yang khas orang barat.
Vilien menarik sedikit jaket yang dikenakan Zayden, “Kau mau kemana?” tanyanya segera.
Mengerutkan dahi melihat lima jari Vilien mencoba menahan kepergiannya. Mendongak dan tersenyum hangat, “Aku hanya kembali pulang. Ada hal yang harus ku kerjakan dan hanya bisa ku kerjakan di komputer rumah,” Jelas Zayden.
Di tengah kebahagian Dua anak manusia, jauh di seberang jalan, di dalam sebuah mobil hitam mengkilap ada seorang wanita sedari tadi mengamati keduanya yang bermesraan di tepi jalan.
“Kau selalu unggul. Bahkan Ryo dan Zayden pun kau taklukkan,” ucapnya. Kemudian menghidupkan mesin dan meninggalkan area.