Kevin berjalan melewati lobby setelah mengadakan meeting di restoran yang tak jauh dari kantornya. Belakangan ini pekerjaan kantor sangat menumpuk. Dia harus mengurus ini itu.
Wajar saja, karena perusahaan yang dipimpin Kevin masih tergolong perusahaan baru. Namanya Golden Crop. Perusahaan ini adalah hasil penggabungan kerja sama antara Alexander Group dengan perusahaan milik papanya Keyra.
Golden Crop ini bergerak di bidang teknologi dimana Kevin adalah CEO-nya. Meskipun masih baru, perusahaan ini telah mengalami perkembangan positif yang sangat pesat.
Kevin masuk kedalam ruang kerjanya dan melepas jas yang ia pakai. Ia duduk di kursi lalu memejamkan matanya sejenak. Rasanya lelah sekali. Menjadi seorang CEO bukanlah pekerjaan yang mudah. Saat ia melirik jam ternyata sudah pukul 11.00.
Tiba-tiba ia kepikiran Keyra. Kira-kira sedang apa ya istri cantiknya itu? Tanpa pikir panjang Kevin langsung meraih ponselnya dan menelepon Keyra.
"Hallo?" ucap Keyra dari seberang sana.
"Hai Sayang,"
"Hai. Kenapa telfon?"
"Kangen" ujar Kevin dengan nada melasnya.
"Kangen? Padahal baru pisah tadi pagi loh"
"Serius. Lebay nggak sih kalo aku bilang nggak ketemu kamu satu jam aja berasa kayak seabad"
"Lebay maksimal. Oh ya tadi meetingnya gimana?"
"It's fine,"
"Baguslah. Bentar lagi jam istirahat, kamu jangan lupa makan oke?"
"Kita lunch bareng aja, gimana Ra?"
"Mmm... Boleh-boleh. Tapi aku aja yang ke kantor kamu ya?"
"Kenapa? Kan aku bisa jemput kamu"
"Nggak usah, nanti habis dari kantor kamu aku pengen mampir ke tempatnya Nabilla"
"Oohh.. oke. Tapi hati-hati di jalan ya Sayang."
"Iya. Yaudah ya aku tutup dulu. Kayaknya ada klien dateng deh. Bye Vin.."
"Bye Sayang.."
Tuutt
Sambungan telepon pun terputus.
Tokk Tokk Tokk!
Seseorang mengetuk pintu. Kevin yang menyadari itu langsung menyimpan ponselnya dan berkata, "Masuk!"
Orang yang mengetuk pintu itupun masuk.
"Oh Mauren, ada apa?" tanya Kevin.
Mauren menghampiri Kevin dan berkata, "Permisi Pak, saya mau menyampaikan laporan keuangan bulan ini. Silahkan dicek,"
Kevin menerima dan membaca isi map itu. Meskipun Mauren dan Kevin berteman, mereka tetap berbicara formal ketika bekerja. Selayaknya atasan dan bawahan. Tapi jika sudah berada di luar lingkungan kerja itu beda lagi. Biasanya mereka akan menggunakan bahasa lo dan gue. Ya begitulah pokoknya.
"Bagus! Omset kita semakin meningkat. Laporannya juga kamu susun dengan baik. Kerja bagus." kata Kevin sembari mengembalikan map itu.
"Terimakasih Pak atas pujiannya. Kalau begitu saya permisi," pamitnya. Mauren tersenyum dan Kevin mengangguk.
Di sisi lain..
"Perkenalkan saya Johan selaku kontraktor dari Greant Entertainment."
"Oh Hallo Pak Johan," Keyra menjabat tangannya. "Silahkan duduk,"
"Terimakasih." Orang itu tersenyum.
"Langsung saja. Anda dengan Saudari Keyra kan?"
"Iya saya sendiri,"
"Wah ternyata aslinya memang cantik. Jadi begini, perusahaan kami mendapatkan job iklan dari perusahaan fashion yang sangat ternama. Itu sangat penting bagi kami."
"Dan saya juga dengar banyak hal dari rekan saya tentang Anda. Mereka mengatakan, selain muda, cantik, dan terkenal Anda juga TOP-nya dunia fashion. Dan katanya ketika Anda menjadi model mereka, angka penjualan mereka semakin meningkat."
"Saya merasa tertarik. Dan tujuan saya kemari adalah untuk meminta Anda menjadi model kami. Bagaimana, apakah Anda setuju?"
Keyra menatap pria paruh baya di depannya itu. Apakah pujian itu tidak terlalu berlebihan? Hihiii.
"Ah bapak ini bisa aja. Tapi, ini bukan iklan baju bikini kan?" tanyanya. Astaga bisa-bisanya Keyra tanya seperti itu.
"Oh bukan kok tenang saja. Ini tentang baju yang sedang tren baru-baru ini. Jadi, apa Anda tertarik?"
"Mmm.. apa boleh saya pikirkan dulu?"
"Tentu. Silahkan dipikirkan baik-baik. Saya akan kesini lagi besok lusa. Kalo begitu saya pamit."
"Ah baiklah. Terimakasih atas tawarannya Pak Johan!"
"Sama-sama. Terimakasih juga atas waktunya. Oh ya saya juga mau minta maaf. Seharusnya saya kesini bersama manajer kami. Tapi beliau sibuk, mohon dimaklumi…"
"Tidak masalah. Sama saja kok," ujar Keyra santai.
Pria yang berusia kira-kira 50 tahun itu hanya bisa mengagumi sifat Keyra. Kesuksesan karirnya di masa muda ternyata tidak membuatnya sombong.
Setelah Pak Johan pergi Keyra pun segera bersiap-siap untuk pergi ke kantor Kevin.
"Loh Bu Keyra mau kemana?" tanya Rani saat berpapasan di lobby.
"Oh saya mau makan di luar. Kalo semisal saya nggak balik lagi kesini, kamu tolong kontrol butik ya" suruhnya.
"Baik Bu," Rani mengangguk "Hati-hati di jalan Bu Bos"
"Pasti!"
•••••
Sesampainya di kantor Kevin, Keyra menenteng paper bag berisi makanan yang ia beli tadi. Saat ia sampai kebanyakan para karyawan sudah beristirahat. Di sana Keyra juga bertemu dengan Pak Ben, ia menyapanya. Pak Ben adalah Office Boy tertua yang masih bekerja di perusahaan Kevin. Usianya kira-kira 60 tahun. Pak Ben itu orangnya ramah dan riang. Keyra akrab dengannya dan Keyra juga salut, meskipun sudah tua tapi jiwa semangat kerjanya sangat tinggi.
Mengingat jam istirahat sudah lewat 15 menit Keyra segera bergegas agar suaminya itu tidak menunggu terlalu lama. Keyra segera mencari keberadaan lift.
Saat hendak masuk lift ternyata ada Mauren. Mereka naik di lift yang sama.
"Mauren?" kata Keyra. Mauren yang tadinya sedang sibuk memainkan ponsel ia mendongakkan kepala.
"Loh, Keyra?? Ah maksudnya Bu Keyra,"
"Haha, santai aja nggak usah serius gitu. Kita kan sepantaran. Gue malah nggak nyaman kalo lo ngomong formal gitu sama gue. Rasanya aneh."
Mauren menggaruk kepalanya,"Ya habis mau gimana lagi, takutnya gue dibilang nggak sopan ntar,"
"Btw lo mau nyamperin Kevin kan pasti?"
"Iya. Nih gue bawain makanan buat dia. Lo sendiri mau kemana? Bukannya ini waktunya istirahat?"
"Ehem. Romantis banget sih anterin makanan segala. Mentang-mentang pengantin baru." goda Mauren.
"Kalo gue sih mau ke kantin," lanjutnya.
"Kantin?" Mauren mengangguk. Beberapa saat kemudian keyra menepuk jidatnya. "Oh iya gue lupa kalo kantinnya di lantai atas, haha."
"Yahh gimana sih Buk masak gak hafal kantor sendiri." Mauren terkekeh.
"Oh ya, sekali lagi gue ngucapin makasih ya Key lo udah mau maafin kesalahan-kesalahan gue dulu,"
"Iya selow aja. Gue tahu lo khilaf."
"Lo baik. Pantes kevin suka sama lo."
"Halah apaan. Nyatanya lo sendiri juga udah punya pasangan kan. Gue doain semoga dia yang terbaik buat lo.."
"Haha thanks," seru Mauren. Kemudian pintu lift pun terbuka. Mereka berpisah di sana.
"Gue duluan ya," kata Mauren.
"Oke"
Mereka berpisah dan Keyra segera menuju ruangan kevin. Entah karena saking semangatnya atau apa Keyra langsung membuka pintu ruang kerja Kevin. Ia tidak tahu kalau Kevin sedang berinteraksi dengan salah satu Karyawannya.
Terjadilah acara saling tatap menatap. Keyra menggaruk kepalanya tidak enak, "Ah maaf" kata Keyra.
Keyra hendak keluar lagi tapi dicegah oleh Kevin. karyawan itu paham dan segera pamit dari ruangan Kevin. "Saya permisi dulu Pak," ujarnya. Kevin mengangguk.
"Permisi Bu," ujarnya lagi saat melewati Keyra. Keyra juga hanya mengangguk. Lalu Keyra masuk dan menutup pintu.
"Maaf harusnya aku ketuk pintu dulu tadi,"
Kevin langsung berdiri menghampiri Keyra dan memeluknya erat. "Tak masalah. Lagian dia juga cuma nganterin berkas doang,"
Keyra tersenyum dan membalas pelukan Kevin. "Kamu bawa apa?" tanya Kevin.
"Ini aku bawa chicken crispy sama salad. Ayo makan," Keyra menarik Kevin untuk duduk di sofa.
"Aku pikir bakal lunch diluar"
"Nggak. Nanti kelamaan." mendengar itu Kevin hanya manggut-manggut saja. Asalkan makan berdua dengan Keyra dia sudah senang.
Mereka menikmati makanan sambil sesekali bercanda. Hingga setengah jam kemudian makanan mereka sudah ludes. Dan yang paling banyak makan tentunya adalah, Keyra.
Keyra membereskan kardus tempat makanan tadi lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Kamu jadi ke tempatnya Nabilla?" tanya Kevin.
"Jadi,"
"Mau aku anter aja?"
"Nggaklah. Aku kan bawa mobil. Kenapa sih semenjak nikah kayaknya kamu jadi khawatiran banget. Over protective tau gak!"
Mendengar Keyra yang malah mengomel, Kevin langsung menarik pinggang Keyra hingga perempuan itu duduk di pangkuan Kevin.
Tangan Kevin melingkar di perut Keyra dan kepalanya bersandar di bahu perempuan itu. "Bukannya over protective. Aku cuma nggak mau terjadi apa-apa sama kamu, Sayang."
"Ihh malu Vin jangan kayak gini. Ini di kantor. Lepasin gak." ujar Keyra seraya melepaskan pelukan Kevin.
Lalu Kevin mendudukkan Keyra di sampingnya. Ia merebahkan tubuhnya dan menggunakan paha Keyra sebagai bantal. Laki-laki itu memejamkan matanya.
"Biarin gini dulu sebentar." pinta Kevin.
Keyra hanya pasrah. Melihat Kevin seperti ini ia malah merasa kasihan. Tangannya tergerak mengusap rambut Kevin.
"Kasian, kamu pasti capek," gumam Keyra.