"Rani, tolong kamu carikan buku yang saya kasih tahu kamu kemarin ya. Saya mau lihat-lihat sebentar" ujarnya pada Rani.
Rani mengangguk mendengar perintah atasannya. "Siap, Bu Boss! Kalau begitu saya permisi cari buku tersebut" pamitnya lalu pergi.
Keyra berjalan-jalan mengintari beberapa rak buku yang tertata rapi. Toko buku ini memanglah yang terbaik. Selain lengkap, tempatnya juga sangat nyaman. Dia sudah sering kesini untuk mencari buku-buku tentang fashion.
Langkahnya terhenti ketika melewati sebuah rak yang terdapat berbagai macam novel. Perhatiannya tertarik pada novel dengan sampul warna biru itu. Keyra mencoba menjangkaunya sambil berjinjit. Berkali-kali ia mencoba tetapi tidak sampai. Tempatnya memang cukup tinggi. Saat Keyra mulai merasa jengah, tiba-tiba ada seseorang yang mengambilkan novel itu lalu memberikan padanya.
"Ah terimakasih!" ucap Keyra. Ia mendongakkan kepalanya. Ekspresinya seperti anak kecil yang habis diberi mainan.
Laki-laki itu hanya tersenyum, "Lo.. gak inget gue?" tanyanya kemudian.
Keyra mengerutkan dahinya bingung. Memangnya siapa pria berjas ini? Apakah dia pernah bertemu sebelumnya?
Laki-laki itu melepas kacamata hitamnya lalu menyimpannya di saku jas. "Lo yakin gak inget gue?" tanyanya sekali lagi.
"Tunggu, kayaknya gue nggak asing sama muka lo" kata Keyra yang sepertinya sudah mulai bisa mengingatnya.
"Oh iya! Lo yang waktu itu nabrak gue di rumah sakit kan?"
"Iya itu gue. Kok lo gak inget sih"
"Gak. Lo beda banget. Gue gak inget. Secara penampilan lo berubah derastis dari yang kemaren."
"Haha, gak nyangka ya kita ketemu lagi," Devan terkekeh.
"Lo kesini cari buku juga?"
"Oh nggak. Gue cuma nemenin sepupu gue."
"Sepupu? Woaah ternyata lo deket ya sama sepupu lo. Waktu itu lo juga nganterin sepupu lo kan"
"Ya gitulah. Ngomong-ngomong kita belum kenalan. Kenalin nama gue Devan," ujarnya seraya mengulurkan tangan.
Keyra menjabat tangan Devan, "Jadi nama lo Devan? Kalo gitu kenalin nama gue—..."
"Bu Boss!" panggil Rani. Sontak Keyra langsung menoleh ke belakang.
"Bukunya sudah ketemu. Ini semua buku yang Bu Boss minta,"
"Oh sudah ya? Yaudah kita langsung ke kasir aja. Sorry ya Dev gue duluan, buru-buru soalnya" ujar Keyra tak enak, ia tersenyum sedikit lalu dengan permisi meninggalkan Devan.
"Eh tapi.. woii nama lo siapa?" seru Devan. Namun Keyra tidak berbalik, mungkin ia tidak mendengarnya.
"DORR!"
"Anjiiirr!" umpatnya. "Astaga Reina lo mau bikin gue mati muda hah?!"
"Selow men selow. Lagian lo ngeliatin apaan sih serius amat" gadis bernama Reina itu menepuk bahu Devan.
"Lo tau gak, gue ketemu lagi sama cewek yang waktu itu di rumah sakit" senyuman terukir di wajahnya.
"Lo naksir sama dia? Muka lo kayak seneng gitu"
"Iyalah, cowok mana yang bilang nggak suka kalo ketemu cewek secakep dia. Gak normal berarti tuh cowok."
Reina menepuk dahinya, "Aduhh Devan lo tuh ya. Dasar mata keranjang. Serah lo dah. Mau lo gebet dia kek apa kek, bodo amat."
"Gue sih maunya gitu, tapi.."
"Tapi..?"
"Tapi kayaknya tuh cewek udah ada pasangan deh. Mana mungkin cewek secantik itu gak ada yang punya"
"Ppffttt, HAHAHAA! Duh kasian amat sih lo. Belom gebet aja udah potek duluan tuh hati. Turut bersuka cita gue." Reina terus saja tertawa.
"Jahat lo. Udah-udah! Lo cari buku apaan sih lama amat. Liat," Devan mengambil buku yang dibawa Reina.
"Tata Cara Dalam Bekerja?" gumam Devan membaca judul buku itu. "Lo ngapain dah beli buku kayak gini?"
"Ya buat referensi aja sih. Gue bakal cari kerja besok. Dev, habis ini anterin gue ke mall ya? Gue mau beli baju soalnya, ya Dev ya? Pliss"
"Apa lo bilang? Helloooo Reina Attalia, lo pikir gue supir lo hah. Ogah ah. Lo pergi sendiri sono. Lagian gue banyak kerjaan. Cukup kesini doang gue nganterin lo"
"Alah Dev, pliss.. lo kan sepupu gue yang paling baikkk sedunia.. mau dong ya ya yaa.." bujuknya.
"Ogah. Mendingan lo buruan bayar sono, gue ada kerjaan. Kalo nggak gue tinggal nih" tegas Devan. Reina mengerucutkan bibirnya kesal.
Sesampainya di butik, Keyra menyuruh Rani untuk meletakkan buku-buku yang ia beli tadi di meja kerjanya.
"Klien yang kemaren udah kesini lagi?" tanya Keyra padanya.
"Belum Bu, mungkin nanti siang atau sore,"
"Yasudah kalau begitu"
"Saya permisi, Bu" ujar Rani. Lalu ia keluar dari ruangan Keyra.
Rani berjalan menuju ke lobby butik kemudian duduk disana bersama salah satu temannya. Mereka mengobrol ria sesekali tertawa. Tak lama ada seseorang yang datang. Sepertinya itu klien yang waktu itu.
"Permisi.. saya ingin bertemu dengan pemilik butik ini bisa?"
"Dengan bapak siapa?" tanya teman Rani.
"Kami dari Greant Entertainment. Saya Johan, dan ini manajer kami bernama Pak Devan."
"Apa bapak sudah membuat janji dengan Bu Keyra?"
"Sudah"
"Baik, tunggu sebentar ya Pak" ujarnya. Lalu ia menelepon seseorang. Entah apa itu yang dibicarakan mereka tidak tahu.
"Silahkan bapak-bapak, sepertinya Bu Keyra juga sudah menunggu. Mari saya antar,"
"Baiklah. Ayo Pak Devan" ujarnya sopan. Pak Johan mempersilahkan Devan untuk berjalan lebih dulu.
"Perasaan kayak pernah liat orang itu," gumam Rani.
Tokk Tokk Tokk
Terdengar suara ketukan pintu saat Keyra sedang membereskan pekerjaannya. Itu pasti Pak Johan.
"Masuk" serunya.
"Permisi.." ujar Pak Johan.
"Iya silahkan"
Keyra menyambut kedatangan kliennya dengan ramah. OMG!Ia terkejut bukan main saat melihat Pak Johan datang bersama Devan, laki-laki yang baru-baru ini sering bertemu dengannya. Tidak disangka ternyata dia bertemu Devan lagi.
Devan pun sama. Ia juga sangat terkejut. Bahkan matanya sempat melotot Ini adalah pertemuannya yang ketiga. Oh shitt! Kenapa dia harus dipertemukan lagi dengan wanita cantik ini. Tunggu, harusnya Devan senang kan karena bisa bertemu Keyra lagi? Apalagi sekarang mereka bertemu karena tuntutan pekerjaan.
'Jadi cewek ini namanya Keyra?? Astaga pantes aja Pak Johan milih dia sebagai modelnya, udah cantik, penampilan OK lagi' batin Devan.
"Loh Devan?"
"Kita ketemu lagi," Devan tersenyum karena Keyra mengingat namanya.
"Ah mari silahkan duduk!" seru Keyra.
"Jadi, lo yang bakal jadi model gue?? Demi apa gue bener-bener gak nyangka kalo ternyata lo itu model terbaik yang sering di omongin sama Pak Johan. Sekarang gue setuju kalo lo jadi model gue," kata Devan.
"Haha, gue lebih gak nyangka lagi kalo lo itu manajer Greant Entertainment. Masih muda tapi udah jadi manajer," ujarnya kagum.
"Tunggu sebentar.. jadi saudari Keyra dan Pak Devan ini sudah saling kenal?"
Devan terkekeh,"Ya begitulah sekiranya. Kami bertemu karena kebetulan."
"Baguslah kalau sudah saling kenal. Jadi anda pasti akan menerima tawaran dari kami kan?" tanya Pak Johan.
"Dari awal saya memang ingin menerimanya kok."
"Syukurlah,"
"Jadi kapan kita bisa mulai pemotretan?" tanya Devan.
"Bagaimana kalau besok?"
"Besok?" ulang Keyra.
"Kenapa, apa Anda tidak ada waktu? Lebih cepat kan lebih baik. Kalau memang anda tidak bisa kita bisa cari hari lain kok"
"Oh tidak-tidak, saya bisa kok Pak Johan. Besok pagi saya akan kesana,"
"Senang deh bisa kerjasama sama lo. Karena lo-nya udah Oke, jadi kita mau pamit dulu, sorry ya nggak bisa ngobrol lama. Ada kerjaan yang masih harus gue selesaiin. " tutur Devan. Keyra membalas Devan dengan senyumannya.
"Iya gak masalah, seneng juga bisa jadi model di agensi lo. Oh ya, hati-hati dijalan" Devan dan Pak Johan mengangguk bersamaan.
Setelah mereka pergi, Keyra duduk lagi di sofa, ponselnya berbunyi lagi dan lagi. Itu pasti Kevin. Sejak tadi ia memang mengirim banyak pesan padanya, Kevin saat ini sedang uring-uringan di kantor karena masalah sekretarisnya. Keyra sampai menghela nafas.
•••••
"Ya ampun kamu kenapa sih perasaan marah-marah mulu dari tadi," tegur Keyra. Ia menghampiri Kevin yang duduk di sofa.
"Siapa yang kamu telfon tadi? Kenapa kamu omelin?"
Kevin malah membanting ponselnya ke meja lalu menyandarkan kepalanya di sofa. "Astaga itu HP kenapa dibanting juga dia kan gak salah"
Keyra menghela nafas, "Nih mending kamu minum ini dulu biar kepala kamu adem. Aku buatin kamu jus mangga"
Kevin membenarkan posisi duduknya lalu menerima jus mangga pemberian Keyra. Kemudian ia meminumnya sedikit. "Kamu jadi sering uring-uringan, pulang-pulang udah asem aja mukanya."
"Kerjaan kantor bikin aku pusing Ra" ujarnya singkat.
"Jadi gara-gara urusan kantor? Ya ampun kasian banget sih kamu. Yaudah kamu istirahat sekarang gih udah malem ini, biar besok badan kamu fresh"
"Nanti. Aku mau nyelesaiin kerjaan aku dulu. Dikit lagi kok," kemudian Kevin meraih laptopnya yang masih menyala sejak tadi.
"Kamu jadi sering banget bawa kerjaan pulang ke rumah"
"Ini karena sekretaris aku bakal resign. Dia sibuk ngurusin yang lain otomatis kerjaan aku kerjain sendiri. Kamu nggak tidur?" ia menoleh ke arah Keyra sekilas.
Keyra menopang dagunya dengan tangan dan ia menggeleng, "Aku mau nemenin kamu," ucapnya.
"Emangnya kamu nggak capek?"
"Capek sih, tapi aku pengen aja nemenin kamu. Ngomong-ngomong urusan soal sekretaris kamu itu gimana?"
"Dia jadi resign. Tapi dia juga bakal cari penggantinya. Aku nggak tahu kapan, yang pasti aku suruh dia secepatnya,"
"Emang kenapa dia minta resign segala?" Keyra mulai menyandarkan kepalanya di bahu Kevin.
"Katanya sih bakal nikah karena udah dijodohin"
"Dijodohin? Ya ampun emang masih jaman ya dijodoh-jodohin gitu kalo aku sih ogah. Tapi kalo dijodohinnya sama oppa-oppa aku sih mau haha"
"Gini nih kalo istri kebanyakan nonton drama korea. Lama-lama aku hapus semua tuh drama di laptop kamu" dengus Kevin.
"Ya aku tinggal minta sama Nabilla lagi, wlee"
"Kamu tuh ya, harusnya kalo nonton tuh yang berfaedah. Contohnya kayak sinetron-sinetron taubat yang ada di tv itu bukannya malah nonton sinetron negara lain." ceramah Kevin, Keyra malas mendengarnya.
"Gak ah. Kalo aku nonton sinetron yang kayak begituan bukannya jadi taubat aku malah hafal lagi lagu-lagunya Ungu"
"Terserah Ra" cetus Kevin. Perempuan memang tidak mau mengalah.
"Vin.." panggil Keyra.
"Apa?" jawabnya. Matanya masih tertuju pada layar laptop.
"Kalo dihitung-hitung.. kita udah 6 tahun bareng. Lama juga ya"
Keyra menghitungnya sejak mereka masih SMA.
"Iya, aku juga nggak nyangka. Apalagi dulu aku nyaris kehilangan kamu selamanya. Tapi untungnya Tuhan ngasih aku kesempatan lagi buat jaga kamu" sahut Kevin.
"Aku jadi kangen masa-masa sekolah dulu. Kamu inget nggak waktu pertama kali kita ketemu" Keyra terkekeh.
"Ingetlah mana mungkin aku lupa. Orang kamu nabrak aku sampek nyungsep gitu. Nendang kaki aku segala lagi. Untung sekarang aku sayang."
"Hehe maaf. Lagian waktu itu aku kan buru-buru, kamunya malah nahan aku. Kena deh jadinya"
Entah kenapa Keyra merasa lucu mengingat kejadian itu
"Ngomong-ngomong dua bulan lagi anak Bang Dirga lahir. Kita bakal punya ponakan."
"Iya Vin. Aku jadi gak sabar deh pengen liat bayi mereka." ucapnya excited.
"Kalo aku sih lebih gak sabaran punya anak dari kamu," diciumnya pipi Keyra sekilas. Perempuan itu merona dibuatnya.
"Oh ya, kamu tahu gak Vin ternyata orang yang nabrak aku waktu di rumah sakit itu adalah manajer agensi Greant Entertainment yang nawarin aku jadi modelnya" cakap Keyra mengalihkan pembicaraan.
"Beneran? Kamu udah terima job nya?" tanya Kevin.
Keyra mengangguk, "Udah, kan kamunya juga udah ngijinin. Jadi aku terima-terima aja."
"Dia cowok?"
"Iya"
"Masih muda?"
"Umm.. kalo diliat dari tampangnya sih masih"
"Ganteng gak?"
"Itu sih pasti. Tapi dimata aku lebih gantengan kamu kok tenang aja."
"Inget ya, pokoknya jangan terlalu deket sama cowok lain. Aku gak suka. Kamu terlalu cantik, karyawan aku aja banyak yang naksir sama kamu. Pernah sekali aku pergokin mereka lagi ngomongin kamu." peringat Kevin.
"Hmm iya-iya Kevinnn. Lagian aku mana mungkin selingkuh dari kamu. Cuma kamu yang bisa ngertiin segalanya tentang aku." cetus Keyra. "Kamu udah selesai belum? Aku ngantuk nih"
"Bentar ini udah selesai kok," setelah menyimpan pekerjaannya Kevin mematikan laptop dan menutupnya.
"Nah sekarang ayo tidur" ajaknya.
"Sini aku bawain laptopnya" tawar Keyra. Kevin tersenyum lalu memberikan laptop itu pada istrinya.
"Loh Ra.. cincin kawin kamu mana? Kenapa kamu nggak pakek??" Kevin melihat jari manis Keyra yang polos. Ia hampir menatap marah ke arah Keyra.
"Jangan su'udzon dulu. Cincinnya aku taruh sini" Keyra memperlihatkan kalung yang tertutup oleh bajunya.
"Aku takut hilang makanya aku taruh sini"
Kevin bernafas lega. Ia pikir Keyra tidak memakainya, "Yaudah. Aku pikir kamu nggak pake," ia tersenyum lalu mengacak rambut Keyra.
•••••