Sudah berapa lama Kevin berbaring seperti ini? Rasanya ia ingat kalau tadi ia hanya tidur sebentar lalu terbangun lagi seperti sekarang. Kevin tersenyum cerah kearah Keyra yang masih tertidur pulas sambil memeluk dirinya. Perempuan itu menggunakan lengan Kevin sebagai bantalnya.
Ya ampun Keyra cantik banget sih, rambut acak-acakan dan wajah yang tenang seperti ini membuatnya merasa gemas sekali ingin membangunkannya. Tapi sayang kalau dibangunin, orang tidurnya nyenyak banget gitu.
Kevin menoel-noel hidung Keyra bermaksud untuk memainkannya, tapi perempuan itu menggeliat dan malah semakin menelusupkan kepalanya di d**a bidang Kevin. Berasa kayak jadi guling beneran ini mah, hihii.
"Keyra.. istriku yang kebo bangun dong. Aku cium nih kalo nggak bangun," celoteh Kevin.
"Sayangg.. hey bangun dong cantikk" Kevin menepuk-nepuk pipi Keyra. Keyra yang merasa terganggu mulai membuka matanya perlahan.
"Nahh, akhirnya bangun juga," ucapnya langsung mencium pipi Keyra.
"Aaaaaaaaaa!!!" jerit Keyra mengagetkan Kevin.
"Ssstttt!! Kenapa Ra? Bangun-bangun kok teriak gini sih? Kamu mimpi buruk?" tanyanya panik.
"Vin kenapa aku nggak pake baju?" ucapnya polos. "Kamu juga nggak pake baju. Kamu naked. Aku juga iya. Kita nggak habis ngapa-ngapain kan?"
Mendengar itu Kevin benar-benar tidak bisa menahan tawanya. Kenapa sih dia mendadak amnesia gini.
"Kamu lucu deh Ra. Ya jelaslah kita ngapa-ngapain. Orang semalem kamu sampe jerit-jerit gitu. Uhhh Kevinn aaahhh faster," goda Kevin mempraktikkan nada desahan Keyra. Perempuan itu diam.
"Astaga!" serunya Kemudian. Keyra kenapa nih kok dia malah nyebut gitu.
"Kamu kenapa Ra?"
"Nggak papa. Aku kok b**o banget sih. Bisa-bisanya aku lupa kita habis ngapain semalem haha." ia tertawa renyah.
Apa dia bilang barusan? Lupa?
"Kamu lupa Ra?" Kevin menggeleng tak percaya. Keyra mengangguk atas pertanyaan itu.
"Eh ehh kamu mau ngapain Vin?" ujar Keyra seraya menahan d**a bidang Kevin. Kevin sudah menindih tubuhnya.
"Mau buat kamu inget apa yang kita lakuin semalem," jawabnya penuh semangat.
"Kevin aku mmphfttttt!" Kevin langsung mencium bibir Keyra tanpa menunggunya selesai bicara.
"Jahat ihh Vin, aku kan cuma becanda tadi," rajuk Keyra setelah berhasil menyingkirkan tubuh Kevin darinya.
"Habisnya kamu bilang lupa. Jahatan siapa coba?" Kevin noel-noel hidung Keyra lagi.
"Untung junior aku nggak kebangun."
"Terserah. Aku ngambek pokoknya," katanya sambil cemberut.
"Cium nih," tantang Kevin.
"Jangan. Apaan sih. Kamu mandi sana. Bau tauk. Lagian hari ini kan kamu juga ngantor. Nanti telat lagi."
"Aku berangkat siang juga gak masalah kok. Toh bos-nya kan aku."
"Tuh kan, kebiasaan deh ngomongnya. Awas aja kalo kamu sampe gunain posisi jabatan kamu seenak jidat."
"Hehe, iya-iya becanda kok Sayang. Makasih udah diingetin. Uuhh makin cinta deh sama kamu," Kevin mengacak rambut Keyra.
"Mandi bareng yuk Ra" ajaknya penuh harap.
"Nggak mau. Yang ada nanti nggak mandi-mandi," tolaknya lalu ngacir ke kamar mandi dan menguncinya.
Lalu Kevin mendengar teriakan Keyra dari dalam sana, "Kevinnnn badan aku kamu apain??!"
Kevin terbahak dari luar, lucu sekali. Pasti sekarang Keyra sedang merasa kesal karena banyak tanda merah di tubuhnya. Aduh indah banget dunia ini kalo udah nikah, berasa lengkap gitu rasanya. Kemana aja gue kemaren.
•••••
"Duh rajinnya istriku" ujarnya ketika melihat Keyra tengah menyiapkan sarapan.
"Pagi Mas suami. Ayo sarapan," sahutnya lembut.
"Bantuin aku pake dasi dulu. Nih," Kevin menyerahkan dasi yang ia bawa.
Keyra meraih dasi berwarna biru itu lalu memakainya di kerah baju Kevin. Selalu menjadi kebiasaan Kevin setiap paginya. Begitu selesai, Keyra menyuruhnya duduk.
"Makan yang banyak biar kenyang," suruh Keyra.
"Iya. Kamu tumben pagi-pagi gini udah rapi?"
"Aku banyak kerjaan. Banyak rancangan baju yang harus aku selesaiin secepatnya. Makanya aku berangkat pagi," jelasnya.
"Vin aku males bawa mobil nih. Kamu bisa kan anterin aku?" pintanya manja.
"Cium dulu dong."
"Kevin ihh!"
"Haha iya-iya Ra. Apa sih yang nggak buat kamu."
Keyra menunjukkan cengirannya, "Kamu baik deh. Beruntung aku punya suami kayak kamu."
"Aku yang lebih beruntung punya istri kayak kamu. Kamu ahlinya bikin aku b*******h, untung kamu nikahnya sama aku." Kevin tertawa.
"Sumpah ya, otak kamu isinya m***m doang. Aku jadi khawatir deh kalo kamu bakal mesumin cewek-cewek cantik di kantor."
"Nething-an banget sih. Denger ya, dimata aku cewek yang paling cantik sedunia ya cuma kamu. Mata aku udah buta buat ngeliat kecantikan wanita lain selain kamu."
"Uluh-uluhh gombal banget sih. Tapi tumben kamu ngegombalnya bener. Biasanya kan receh."
"Sereceh apapun itu aku kan tetep suami kamu juga. Kamu jangan sia-siain dong usaha suamimu yang berkharisma ini" ujarnya sok keren. Emang keren sih.
"Iya-iya terserah. Udah selesaikan makannya? Ayo kita berangkat."
Kevin mengantarkan Keyra sampai di depan butiknya. Laki-laki itu keluar terlebih dahulu lalu membuka pintu mobil untuk Keyra. Keberadaan Kevin dan Keyra menyita banyak perhatian para karyawati yang berkerja di butik Keyra. Siapa sih yang nggak iri melihat pasangan seperti mereka? Sama-sama masih muda udah gitu sukses lagi karirnya. Terlebih lagi melihat penampilan CEO mudah seperti Kevin. Gagah, tinggi, putih, hidung mancung, pokoknya komplit deh. Kalian pasti bakal klepek-klepek juga liatnnya.
"Vin, lepasin pelukan kamu. Aku malu karyawan aku pada liatin."
"Aku nggak peduli."
"Vin. Kamu harus kerja, nanti kamu telat."
"Ck, iya-iya." dengan terpaksa Kevin melepaskan pelukannya.
"Kamu jangan capek-capek. Jangan lupa makan." peringat Kevin.
"Iya, kamu juga." jawab Keyra. Kevin mengangguk, lalu ia berpamitan untuk pergi. Tak lupa ia juga mencium kening Keyra.
•••••
Kevin berjalan santai memasuki ruang kerjanya. Seperti biasa, hari ini akan ada banyak meeting yang harus ia datangi. Kebanyakan rekan bisnisnya itu mengajak untuk meeting di luar kantor. Biasanya sih di cafe atau restoran. Kadang Kevin suka bingung, padahal kan lebih nyaman di kantor dan juga apabila ada berkas yang tertinggal tidak akan repot.
Baru beberapa menit ia duduk sambil membuka laptopnya ada seseorang yang mengetuk pintu. Jika didengar dari suaranya itu pasti sekretarisnya.
"Masuk!" ujar Kevin berwibawa.
Dita pun masuk setelah mendengar perintah atasannya.
"Ada apa Dita? Tumben sekali masih pagi gini kamu sudah ke ruangan saya. Bukankah jadwal meeting saya masih nanti siang?" ujar Kevin terus terang.
"Anu Pak, begini.. saya ingin mengatakan sesuatu. Tapi jujur saya bingung harus bagaimana," Dita menundukkan kepalanya.
"Maksud kamu? Apakah ada masalah kantor yang saya tidak ketahui?"
"Bukan Pak, bukan. Ini mengenai urusan pribadi saya." katanya lagi. Kevin benar-benar bingung dibuatnya.
"Katakan saja, jangan buat saya pusing!"
"Maaf Pak. Baik langsung saya katakan saja, jadi begini.. sebenarnya, saya dijodohkan oleh orang tua saya. Orang tua saya sudah menyuruh saya untuk segera pulang ke Kalimantan. Dan kemungkinan saya tidak akan kembali lagi ke Jakarta."
"Apa?? Jadi kamu akan resign?" Dita mengangguki tebakan Kevin yang benar.
Kevin memejamkan matanya sambil menghela nafas berat. Disaat kerjaan kantor sedang padat begini sekretarisnya itu malah akan resign? Cobaan macam apa ini?
"Kenapa harus tiba-tiba begini, Dita?"
"Maaf Pak,"
"Kamu tahukan pekerjaan kantor sedang banyak, dan kamu malah akan resign. Walaupun saya seorang CEO, tapi saya tidak akan bisa mengerjakan semua pekerjaan kantor tanpa bantuan sekretaris."
Dita hanya diam, selain takut dia juga sedang bingung harus berbicara apa. Semoga saja atasannya itu tidak marah.
Setelah berfikir lumayan lama akhirnya Kevin memutuskan, "Baiklah saya memperbolehkan kamu resign, tapi kamu harus mencarikan orang untuk mengganti posisi kamu. Bagaimana?"
Dita mengangkat wajahnya menatap Kevin dengan mata berbinar, "Yang bener Pak?? Baiklah besok saya akan langsung melakukan perekrutan pegawai untuk menjadi sekretaris Bapak."
"Terserah saja. Yang penting ada seseorang yang menggantikan posisi kamu."
Dita mengangguk, "Kalau begitu saya permisi Pak. Terimakasih sudah mengijinkan saya resign."
"Yaa"
Begitu Dita keluar Kevin memijat pelipisnya pelan. Ia mendengus kasar, rasanya ingin sekali membenturkan kepala ke tembok. Masih pagi begini tapi moodnya untuk bekerja sudah hilang.
Sedangkan disisi lain, Keyra sibuk berkutat dengan buku gambar dan beberapa pensil warna. Tangannya lincah menari-nari di atas kertas membentuk pola baju yang sangat indah. Saat ini ia sedang menggarap rancangan busana pesanan kliennya. Kebanyakan rancangan baju yang sedang ia buat adalah model busana pengantin. Belakangan ini memang banyak yang memesan baju pengantin.
Waktu terus berlalu, dan kini hari sudah mulai petang. Keyra berkemas dan bersiap untuk pulang. Ia juga sudah menyuruh karyawan nya untuk menutup butik. Jam menunjukkan pukul lima sore. Keyra berdiri di depan butik menunggu Kevin menjemputnya. Selang beberapa menit ponselnya berbunyi.
Suami❤️
Sayang, maaf aku nggak bisa jemput kamu. Nanggung, kerjaan kantor belum selesai. Kamu pulang naik taksi gapapa kan? Maaf ya Ra. Kamu hati-hati di jalan. Aku sayang kamu.
"Ada-ada aja," gumam Keyra sambil tersenyum membaca pesan itu.
Tinn Tinn
"Bu Keyra!!" panggil seseorang. "Loh kok belum pulang Bu?" tanyanya.
"Oh Rani. Iya nih tadinya saya nunggu suami saya tapi ternyata dia nggak bisa jemput."
"Yaudah kalo gitu bareng saya aja Bu Bos. Kebetulan saya lewat Komplek perumahan Melati Indah." tawarnya.
"Eh, emang nggak papa nih?"
"Iya nggak papa kok. Saya malah seneng bisa nebengin Bu Bos. Ayo masuk Bu," Rani menyuruhnya masuk kedalam mobil.
•••••
"Thanks ya Rani udah nebengin saya. Mau mampir dulu nggak?" tawar Keyra.
"Ah nggak usah repot-repot. Saya mau langsungan aja Bu Boss."
"Oh gitu.. yaudah hati-hati di jalan ya!" seru Keyra.
Rani mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu ia kembali melajukan mobilnya.
Sesampainya di dalam rumah Keyra langsung mandi membersihkan badannya yang terasa gerah dan lengket.
Begitu selesai mandi ia melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah tujuh. Dan suaminya itu masih belum pulang juga. Keyra mengikat rambutnya asal, lalu ia turun ke lantai bawah untuk memasak makan malam.
Kevin berjalan memasuki rumah sambil menenteng tas kerja di tangan kanan dan jas abu-abunya ditangan kiri. Dasi yang menggantung di lehernya pun ia kendurkan. Malam ini Kevin benar-benar lelah. Jadwalnya sangat padat, sampai-sampai tulangnya berasa ingin rontok.
Kevin celingukan kekanan kekiri mencari keberadaan isterinya. Biasanya Keyra akan menunggu Kevin ketika waktunya pulang kerja. Tapi dimana dia sekarang?
Tiba-tiba hidungnya mencium aroma masakan yang sangat enak. Pasti istrinya sedang memasak. Dan benar, saat Kevin mengintip ke arah dapur Keyra sedang sibuk berkutat dengan panci wajan segala macam. Kevin menaruh tas dan jasnya di sembarang tempat. Lalu diam-diam ia berjalan menghampiri isterinya dan memeluk tubuh Keyra dari belakang.
Keyra tersentak kaget, bahkan ia hampir melempar sendok yang sedang ia pegang.
"Astaga Kevin! Kamu bikin jantungan tau gak. Aku kira siapa tadi." gerutu Keyra sembari memasukan sesendok bumbu kedalam masakannya. Kevin meninggalkan kecupan di pipi Keyra.
"Kamu kapan pulang? Kok aku nggak tahu" tanyanya.
Bukannya menjawab, Kevin malah semakin mengeratkan pelukannya dan menyadarkan dagunya di pundak Keyra. Rasanya nyaman sekali. Seakan capeknya langsung hilang.
"Kevin, badan kamu berat tauk. Kamu nggak liat aku lagi masak" protes Keyra.
"Ah masa siii?" goda Kevin.
"Btw kamu masak apa Sayang?"
"Spageti. Kamu harus habisin nanti karena ini aku buatnya dengan penuh cinta,"
"Uhh gombal ya"
"Biarin. Ketularan kamu juga sih. Lagian gombalin suami kan pahala,"
"Kalo gitu aku sering-sering deh gombalin kamu biar dapet pahala juga." Kevin terkekeh.
"Terserah ahh. Mandi sana."