Prolog

201 Words
Biasanya seseorang akan meneteskan air matanya saat melihat salah satu keluarganya dikebumikan. Biasanya derai haru akan menghiasi sebuah pemakaman. Tapi itu tidak terjadi padaku. Aku memang merasa sedih dan sedikit kehilangan. Tetapi kesedihan dalam hatiku tidak mampu membuat mataku menjatuhkan setetes air mata pun. Kesedihan karena telah terlebih dahulu ditinggal pergi oleh kakak iparku masih tidak seberapa dibanding luka dan kepedihan yang selama ini selalu menghiasi kehidupanku. Berbeda denganku, suamiku menangis tersedu-sedu melihat jasad kakaknya kini mulai ditutupi dengan tanah. Terlihat beberapa kali dia menyeka air mata yang menghujani wajahnya. Aku yang berdiri di belakangnya tak ingin membelai punggungnya untuk menguatkannya. Aku hanya membiarkannya menangis agar semua kesedihan dalam hatinya perlahan pergi bersama dengan air matanya. Tak punya hati. Begitulah yang orang-orang di sekitarku menilaiku. Aku tidak mempedulikannya, mengingat mereka juga tidak tahu bagaimana aku menjalani kehidupanku. Aku mencari kebahagiaanku layaknya aku mencari sebuah jarum dalam tumpukan jerami. Inilah kisah hidupku, seorang wanita yang hanya menginginkan sebuah ketenangan dan kebahagiaan di dalam hidupnya. Happiness – Ketika Tangisku Menjadi Bahagiamu Kehidupan pernikahan memang tak akan berjalan mulus dengan mudahnya. Menyatukan dua manusia dengan dua pemikiran yang berbeda adalah sebuah tugas berat dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Sama halnya seperti Kyara dan Rayyan.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD