Sore itu, di rumah Karenina, Danisa tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat Karenina menyambutnya di depan pintu dengan penampilan yang membuatnya tercekat: pakaian kerjanya kusut, wajahnya pucat kelelahan, dan rambut panjang yang biasa tertata rapi kini hanya terikat asal-asalan.
"Ya Tuhan, Nin! Kamu kacau banget!" seru Danisa, tak bisa menahan diri.
"Hidupku memang kacau, Sa..." Karenina menatap Danisa dengan tatapan kosong, seolah seluruh energinya terkuras habis.
Danisa memaksakan seulas senyum tipis, lalu mengusap lembut punggung sahabatnya. "Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Aku percaya kamu pasti bisa mengatasinya, Nin."
"Tapi kali ini terlalu berat, Sa. Ini melibatkan uang yang sangat banyak." Karenina menjatuhkan tubuhnya yang lemas ke atas sofa, seperti tak punya lagi kekuatan untuk berdiri.
"Kamu lemas banget, Nin. Kamu pasti belum makan dari pagi."
Karenina mengangguk lemah. "Aku enggak selera makan. Sejak pulang dari rumah Bu Miranda, aku langsung telepon Mama. Habis itu aku enggak bisa ngapa-ngapain lagi selain nangis. Aku bahkan enggak berani ke kantor. Aku takut ketemu Aidan."
"Tapi kamu harus makan, Nin… muka kamu pucat banget. Aku bawain ayam goreng kesukaan kamu."
"Makasih, Sa… aku jadi ngerepotin kamu lagi," ucap Karenina lirih.
"Enggak repot. Aku kan sekalian pulang."
"Gimana kantor, Sa?"
"Jangan khawatir. Baru juga sehari kamu enggak masuk."
"Dari pagi Aidan telepon, tapi enggak aku angkat."
"Dia uring-uringan nyariin kamu!" Danisa menggelengkan kepala.
"Kamu bilang apa ke dia?"
"Aku bilang kamu enggak bisa ngantor karena sakit menstruasi, makanya enggak bisa terima telepon." Danisa mengangkat bahu.
"Dia percaya?"
Danisa mengangguk yakin. "Kenapa enggak cerita terus terang aja sama dia, Nin? Dia pasti ngerti."
"Ini bukan urusan dia, Sa. Ini urusanku dan Mamanya. Mamanya bahkan minta aku rahasiain pertemuan itu dari Aidan."
Danisa menghela napas panjang. "Jadi kalung itu benar-benar udah dijual Mama kamu?"
"Digadaikan." Suara Karenina nyaris tak terdengar.
"Ya Tuhan…! Apa alasannya, Nin? Buat apa Mamamu butuh uang sebanyak itu?"
"Bukan buat Mama. Buat Kak Martin. Katanya dia butuh dana buat bikin bisnis di Bali."
"Loh, bukannya di sana Kakakmu kerja di perusahaan Papanya Aidan?"
"Dia udah diberhentikan dua minggu lalu."
"Oh ya?!" Danisa membulatkan matanya. "Diberhentikan karena kamu enggak jadi nikahin Aidan?"
Karenina mengangguk pahit. "Aku juga baru tahu, Sa. Aidan enggak ngomong apa-apa."
Danisa menggeleng-gelengkan kepala. "Aku enggak nyangka Aidan benar-benar melakukan ancamannya."
"Dan aku juga yang akhirnya harus membayarnya." Karenina menghela napas berat. "Dari mana aku bisa dapat uang tiga milyar untuk nebus kalung itu, Sa…?" Tatapannya penuh keputusasaan.
"Memangnya harus ditebus secepatnya?"
"Aku harus mengembalikan secepatnya. Kalung itu sangat berharga, Sa. Lebih berharga dari nilainya. Itu warisan turun-temurun keluarga mereka. Neneknya Aidan bahkan udah mengenakannya saat nikah. Kamu bisa bayangin gimana malunya aku kalau sampai mereka tahu kalung itu digadaikan Mama?"
"Ya Tuhan…" Danisa mengelus dadanya. "Kenapa Mamamu setega itu, Nin?"
Karenina menggeleng. Ia tak punya jawaban. Kini ia baru sadar bahwa keluarga yang selama ini ia anggap paling peduli padanya, ternyata hanyalah tempat di mana namanya dijadikan jaminan untuk kesalahan yang tidak ia perbuat.
Air mata Karenina mulai menetes. "Mama bilang kalung itu enggak perlu dikembalikan, karena sudah jadi milikku. Dan itu juga sebagai ganti rugi karena mereka udah pecat Kak Martin dari perusahaan."
"Hah?!" Danisa membelalakkan mata. "Mamamu bilang begitu?!"
Karenina mengangguk, isakannya makin keras. "Mama bahkan enggak merasa bersalah sedikit pun. Dia malah nyalahin aku. Aku enggak ngerti, Sa… kenapa Mama setega itu sama aku?"
Danisa memeluk sahabatnya erat. "Kita akan cari jalan keluarnya, Nin. Aku akan bantu kamu."
***
Pagi itu Karenina tiba di kafe untuk sarapan bersama Aidan.
"Hai! Udah sembuh?" sapa Aidan dengan senyum tipis.
Karenina mengangguk kaku. "Maaf, nunggu lama. Aku kesiangan bangun," dustanya. Ia hampir saja tak masuk kantor lagi karena takut berhadapan dengan Aidan. Ia merasa seolah seluruh keluarga Aidan sudah tahu tentang kalung itu.
"It's okay. Aku udah pesenin buat kamu." Aidan menunjuk kopi s**u dan sepiring apple pie.
"Thanks."
"Mata kamu kok bengkak?" Mata Aidan menyipit.
"Aku kebanyakan tidur," jawab Karenina, kembali berdusta.
"Pantas kamu susah dihubungi…"
"Sorry…" Karenina menyeruput kopinya perlahan, mencoba menenangkan suara hatinya yang bergemuruh.
Pagi ini ia akhirnya memutuskan untuk bicara jujur pada Aidan. Ia ingin meminjam uang untuk menebus kalung itu. Namun, belum mulai saja, rasa malu sudah mencekiknya.
"Kamu mau ngomong apa?" Aidan tiba-tiba bertanya. Ia seolah bisa membaca pikiran Karenina.
"Aku… mau tanya sesuatu."
"Tentang apa?"
"Hm… Kak Martin."
"Oh… dia udah cerita sama kamu?"
Karenina menggeleng. "Mama bilang Kak Martin udah enggak kerja lagi di perusahaanmu?"
Aidan menghela napas. "Papa terpaksa memberhentikan dia."
"Apa karena aku?"
"Karena kamu?"
"Karena aku ninggalin pernikahan?"
Aidan tersenyum miris. "Mamamu yang bilang begitu?"
Karenina mengangguk.
"Dan kamu percaya?"
"Memangnya ada alasan lain?"
Aidan diam sejenak. "Dia menggelapkan uang perusahaan…"
Karenina seakan runtuh. Jantungnya serasa jatuh ke dasar dadanya.
"Maksud kamu… Kak Martin korupsi?"
Aidan mengangguk pelan.
"Berapa banyak…?"
"Empat milyar."
"Empat milyar…?" Suara Karenina nyaris hilang. Ia merasa dunia di sekitarnya mendadak senyap. Angka empat miliar itu bukan sekadar nominal, tapi palu hakim yang memvonisnya untuk tetap terikat pada Aidan. Ternyata, kebebasan yang ia perjuangkan selama ini sudah digadaikan oleh keluarganya sendiri bahkan sebelum ia sempat melangkah jauh."
"Tapi dia udah kembalikan tiga milyar."
Karenina menunduk. Kini ia mengerti alasan kalung itu digadaikan. Rasa malu menghantamnya tanpa ampun.
"Papa udah nganggap kasusnya selesai. Sisanya enggak perlu dibayar," ucap Aidan menenangkan.
"Maafin aku, Aidan…" suara Karenina bergetar.
"Itu bukan salahmu."
"Aku malu…"
"Hei…" Aidan mengangkat dagunya lembut. "Udah."
Air mata Karenina jatuh. Sentuhan Aidan di dagunya terasa hangat, namun di saat yang sama, ia merasa seperti seekor burung yang sayapnya baru saja dipatahkan lagi. Aidan tidak perlu mengancamnya dengan kata-kata; ia sudah memegang 'kartu mati' keluarganya. Dan itu sudah cukup untuk membuat Karenina tidak bisa ke mana-mana.
"Itulah kenapa aku enggak cerita dari awal. Aku tahu kamu pasti nyalahin diri sendiri."
Kini ia merasa hidupnya semakin kacau, seperti terperangkap dalam labirin tanpa jalan keluar.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sendirian.