bc

90 Hari Selingkuh

book_age18+
35
FOLLOW
1.4K
READ
love-triangle
arrogant
heir/heiress
drama
bxg
campus
city
office/work place
affair
like
intro-logo
Blurb

"Aku lelah menjadi orang lain hanya agar dunia merasa aku cukup beruntung. Aku bahkan lupa, bagian mana dari diriku yang benar-benar milikku." — Karenina

.

Sembilan puluh hari menuju sebuah perhelatan agung, Karenina menyadari satu hal yang mengerikan: ia tidak sedang bersiap menjadi seorang istri, ia sedang dipoles untuk menjadi aset.

.

Aidan—pria yang oleh dunia dianggap sebagai definisi kesempurnaan dan pewaris otoritas dinasti—telah membangun sebuah sangkar emas yang begitu megah hingga Karenina lupa bagaimana cara mengepakkan sayapnya sendiri.

.

"Kamu itu hanya perlu tetap indah dan tenang. Biarkan aku yang merancang seluruh peta hidup kita." — Aidan

.

Lalu muncul Bintang.

.

Seorang petualang yang mencintai perjalanan melebihi tujuannya. Ia adalah antitesis dari segala kekakuan yang mengepung Karenina. Baginya, Bintang adalah personifikasi dari kebebasan yang hilang. Bersamanya, Karenina berani melanggar protokol—sekadar untuk mengecap rasa sepotong ayam cepat saji tanpa rasa bersalah. Bersama Bintang, ia merasa menemukan celah pintu yang terbuka.

Namun, kebebasan itu tidak pernah datang dengan cuma-cuma. Bintang memang meminjamkan sayap, tapi pria itu tidak datang sendirian. Ia membawa beban rahasia di punggungnya.

.

"Aku tidak punya apa-apa, Nin. Selain jalanan panjang dan sebuah kamera tua. Tapi setidaknya, bersamaku, kamu tidak perlu mengenakan topeng siapa pun." — Bintang

Perselingkuhan ini bukan tentang ranjang. Ini adalah sebuah pemberontakan hati yang sedang sekarat—perjalanan panjang untuk mengeja ulang makna cinta dan menemukan kedamaian yang jujur. Karena pada akhirnya, tak ada hati yang benar-benar bersalah, sebagaimana tak ada hati yang sepenuhnya suci. Setiap hati punya luka, tapi setiap hati juga punya penawarnya sendiri.

.

Dan Karenina... ia menemukan arti itu dalam langkahnya; bermula dari dinginnya dinding beton di Jakarta, hingga ke heningnya lembah Bhutan, kemegahan Himalaya, dan sakralnya cahaya purnama di Taj Mahal.

chap-preview
Free preview
Kesempurnaan Yang Mulai Retak
Di sebuah butik di Jakarta, Karenina berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan sosok wanita yang dibalut gaun pengantin sutra putih elegan, yang entah mengapa terasa asing di matanya sendiri. Di sudut ruangan, Aidan Allister duduk dengan tenang. Matanya memindai setiap jengkal kain yang membungkus tubuh Karenina. Bagi Aidan, kesempurnaan bukan sekadar hasil akhir, tapi sebuah keharusan yang tidak bisa dinegosiasikan. Tapi Karenina memakluminya. Aidan membayar semuanya. Pria itu memang sangat memanjakannya. Ia menghujaninya dengan kemewahan yang seringkali datang tanpa diminta. Bukan karena ia suka menghambur-hamburkan uang, tapi itu adalah cara ia mengontrol hidupnya. Bagi Aidan, segalanya bisa dibeli dengan uang, termasuk kebebasan. Meski awalnya terasa menyesakkan, kini Karenina bahkan tak tahu lagi rasanya bernapas lega. "Gimana?" tanya Karenina, memutar tubuhnya di depan Aidan. Baginya, pendapat Aidan adalah yang utama. Ia tinggal mengikutinya. Aidan punya cita rasa yang sangat tinggi. Kadang, terlalu tinggi. "Sempurna. Kamu cantik sekali," ujar Aidan, tersenyum puas. Karenina hanya membalas dengan senyuman kecil. Aidan memang orang yang paling bersemangat mempersiapkan pernikahan mereka yang tinggal tiga bulan lagi. Setelah urusan fitting selesai, mereka beranjak menuju sebuah hotel bintang lima. Restoran itu sunyi, hanya ada denting porselain yang beradu pelan dengan perak, diiringi gumam lirih orang-orang yang tampak elegan namun kaku. Aidan sangat menyukai tempat ini. Bukan karena makanannya, tapi karena keheningannya. Tanpa bertanya, Aidan memesankan pan-seared scallops dan segelas air mineral dengan irisan lemon untuk Karenina. Sebuah perhatian yang bagi orang lain terlihat manis, namun bagi Karenina, itu adalah cara Aidan mendikte bahkan sampai ke selera lidahnya. "Enak?" tanya Aidan saat Karenina menyuapkan makanan itu. Tangannya sibuk memotong steak dengan gerakan presisi, seolah sedang melakukan pembedahan. Karenina hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Ia tak pernah mengerti mengapa Aidan selalu menanyakan rasa makanannya, padahal ia sendiri tak pernah diberi ruang untuk memilih. Malam itu berakhir di penthouse Aidan yang luas namun terasa hampa. Sebagai seorang introvert sejati, sunyi adalah kerajaan Aidan. Tak boleh ada yang menginjak ruang pribadinya, selain Karenina. Aidan langsung sibuk di depan laptop, membiarkan Karenina tenggelam dalam keheningan sofa. Bagi Aidan, dunianya hanya dua: ambisi pekerjaan dan obsesi terhadap Karenina. Saking heningnya, Karenina segan menyalakan televisi. Ia meraih ponselnya, membuka satu-satunya pelarian dari hidupnya yang kaku: vlog perjalanan Bintang. Nama itu selalu muncul di relung hatinya, mengisi ruang kosong yang tak bisa dijangkau oleh cinta Aidan yang menyesakkan. Di layar ponsel, Bintang tampak begitu bebas di puncak Himalaya. Wajahnya kecokelatan terbakar matahari, rambutnya berantakan. Kontras yang tajam dengan dunia Aidan yang serba rapi dan mentereng. Karenina mendesah pelan. Andaikan saja dulu ia sedikit lebih berani, mungkin saat ini ia juga sedang berada di sana. Menghirup udara kebebasan itu. *** Pintu lift berdenting. Begitu terbuka, Karenina langsung disambut oleh logo Cantika Skincare yang bersinar lembut di atas wall panel estetik. Seulas senyum langsung terukir di wajahnya. Ada rasa bangga yang membuncah setiap kali ia melihatnya; tulisan itu adalah bukti kemenangan atas ambisinya. Wangi parfum khas-perpaduan botanical extract-menyambut inderanya begitu ia mendorong pintu kaca yang berat, disusul dengan sapaan para karyawannya. Ia berhenti sejenak di depan rak built-in yang memajang botol-botol sampel produknya. Dengan jemari lentiknya, ia sedikit menggeser satu botol serum yang posisinya melenceng satu sentimeter. Ia tahu setiap lekuk produk ini; bagaimana formulanya lahir dari eksperimen panjang, hingga berakhir dalam kemasan seanggun sekarang. Meski karyawannya tak sampai tiga puluh orang, setiap inci ruangan ini memancarkan profesionalisme, sekaligus cita rasa feminin yang terkurasi dengan baik. Seorang wanita muda, sebaya dengannya, masuk ke ruangannya sambil membawa segelas kopi yang mengepul. "Nin, aku lupa masukin jadwal meeting WO sore ini," ucapnya sembari meletakkan kopi di meja. Karenina hanya merespons dengan gumaman samar. "Aidan telepon?" "Barusan." "Oke. Thanks, Sa," jawab Karenina. Ia meraih gelas kopi dan menyesapnya perlahan. "Hm... kopi buatanmu memang enggak ada duanya," pujinya tulus, membuat wanita di hadapannya tersenyum lebar. Dia adalah Danisa. Sahabat sekaligus asistennya. Mereka telah bersama sejak lama, bahkan pernah berbagi suka duka di kamar kos yang sempit. Danisalah yang menemaninya merintis bisnis skincare kecil-kecilan ini, jauh sebelum Aidan menyulapnya menjadi sebuah perusahaan yang kini ia pimpin. Meski begitu, Danisa tetap tak tergantikan. Ia adalah orang yang paling Karenina percaya. Ia mungkin bisa hidup tanpa Aidan, tapi tidak tanpa Danisa. Sebuah kenyataan yang membuat Aidan tak pernah benar-benar menyukai Danisa. "Oh iya, Bu Sita ganti orang yang mau meeting sama kamu nanti sore." Karenina mengedikkan bahu. "Whatever," sahutnya ringan, seraya menatap layar laptop. Angka penjualan yang terus naik membuat senyumnya mengembang lebar. Aidan pasti bangga, gumamnya. Meski bagi Aidan angka-angka itu tak berarti apa-apa, tapi bagi Karenina, itu adalah pembuktian atas hasil kerja kerasnya. Ia ingin membuat Aidan tak merasa sia-sia mendanai perusahaannya. Karenina tenggelam dalam kesibukan hingga tak terasa siang merayap begitu cepat. Sebuah pesan dari Aidan muncul di layar ponselnya. Waktunya makan siang. Ia bergegas pergi, menemui Aidan yang sudah menunggu di restoran, dengan makanan yang sudah tersaji rapi di atas meja. "Gimana meeting-nya, Lancar?" Aidan mengecup pipinya begitu ia datang. Karenina mengangguk lelah. Aidan adalah orang yang sangat detail. Ia hafal kebiasaan Karenina luar kepala, bahkan jadwal seluruh kegiatannya di kantor dari pagi sampai sore sudah tersimpan rapi dalam pengawasannya. Aidan menyebutnya sebagai sebuah 'pengaturan demi efisiensi'. Namun bagi Karenina, itu adalah sebuah pengekangan. Hidup Aidan memang sangat teratur, nyaris mekanis. Rutinitasnya hampir tak pernah berubah, mulai dari saat ia membuka mata hingga kembali tidur lagi. Ia juga selalu berpikir logis; baginya, segala sesuatu di dunia ini harus memiliki alasan yang jelas. Dan jika alasan itu tak masuk akal, ia akan terus mempertanyakannya hingga mendapatkan jawaban logis versinya. Seperti saat ini. "Kenapa sih kamu nggak pindah aja ke apartemenku?" "Kamu kan sudah tahu jawabannya..." "Jawaban kamu nggak masuk akal," dengus Aidan. "Apa bedanya pindah sebelum atau sesudah nikah?" Karenina hanya tersenyum tipis. Lelah menjawab pertanyaan yang sama, berulang-ulang. Semua penjelasannya tak pernah cukup masuk akal bagi Aidan. Kadang ia merasa berhadapan dengan anak kecil yang ingin dituruti segalanya, meski usia Aidan lima tahun lebih tua darinya. Selesai makan siang, Karenina kembali ke kantor. Senin selalu sibuk dan melelahkan. Hingga tanpa terasa, siang bergeser ke sore. Kantor mulai sepi. Danisa masuk ke ruangannya sambil menatap ponsel. "Nin, orangnya telat. Katanya macet." "Orangnya Bu Sita itu?" Karenina menoleh. "Klasik. Hari gini masih pakai alasan macet," keluhnya. "Katanya sudah dekat." Karenina melirik jam tangan, lalu menghela napas. "Oke. Aku tunggu sebentar. Sekalian nunggu Aidan jemput. Kamu pulang aja, Sa." "Oke. Aku pulang, ya. Mas Surya sudah jemput." Danisa pergi, meninggalkan sunyi yang merayap di ruangan itu. Karenina menyandarkan kepalanya, memejamkan mata sejenak untuk menikmati kesunyian-tanpa suara, tanpa Aidan... tanpa siapa pun. "Nina..." Suara itu. Sebuah bariton yang familier, yang selama lima tahun ini hanya berani ia panggil dalam ruang-ruang mimpinya. "Nin..." Karenina tersentak. Suara itu terasa begitu dekat, seolah getarannya menyentuh kulitnya. Saat ia membuka mata, pandangannya membeku. Di sana, berdiri lelaki yang pernah mengisi ruang khusus di hatinya. Ia refleks berdiri. Tangannya gemetar samar saat ia menyentuh permukaan meja, memastikan realitas yang ada di depannya. "Bintang?" bisiknya parau. "Hai." Bintang mengulurkan tangannya. Saat jemari mereka bersentuhan, Karenina merasa seolah waktu baru saja melipat dirinya sendiri, membawa mereka kembali ke masa lalu. "Kamu... di sini..." suaranya goyah. "Aku yang akan mempresentasikan desain kemasan barumu," jawab Bintang dengan senyum tipis yang masih mampu menggetarkan hati Karenina. "Oh... kamu kerja sama Bu Sita?" Bintang mengangguk. "Baru dua bulan. Awalnya temanku yang mau meeting sama kamu. Tapi begitu lihat namamu... aku bilang ke Bu Sita, aku kenal kamu." Oh... pantas saja, Karenina menghela napas. "Silakan duduk," ucapnya, berusaha memungut kembali profesionalismenya yang sempat tercecer. "Kamu hebat sekarang. Punya perusahaan sendiri," ucap Bintang. Matanya menyapu sekeliling ruangan dengan kagum. "Terima kasih. Kamu tahu sendiri, dari dulu aku suka dunia kecantikan." Bintang mengangguk pelan. "Itu sebabnya kamu selalu cantik." Pujian itu terasa seperti semilir angin di tengah cuaca yang gerah. Karenina menunduk sejenak, menata napasnya yang mendadak terasa pendek. Pikirannya mulai berperang antara logika dan kenangan yang tiba-tiba bangkit. Dia nggak pernah mencintaimu. Lupakan dia. Ingat Aidan. Kamu akan menikah. Karenina mengerjap, mencoba menghilangkan suara-suara itu. Bintang mulai mempresentasikan idenya, namun kata-katanya seolah menguap di udara. Karenina menatapi wajah pria itu dengan intens, mencoba menggali ingatan lama. Wajah itu masih sama. Hanya kini lebih tegas, lebih dewasa, namun sorot matanya tetap memiliki kehangatan yang dulu sering membuat Karenina lupa pulang. Namun kemudian matanya menangkap sebuah lingkaran logam di jari manis pria itu. Dada Karenina terasa hampa seketika. "Kamu... sudah nikah?" pertanyaan itu meluncur sebelum ia sempat mencegahnya. Bintang tampak terkejut sesaat, lalu mengangguk pelan. "Baru sekitar lima bulan lalu." Lima bulan. Waktu yang hampir bersamaan saat ia menerima lamaran Aidan. Ada rasa aneh mengembang di dadanya, sesuatu yang seharusnya tak ia rasakan lagi. "Istrimu?" "Naira. Kamu ingat dia? Sekampus kita dulu." "Naira?" Karenina mencoba mengingat, tapi wajah itu tak muncul jelas di kepalanya. "Kamu kelihatan capek?" tanya Bintang lembut. Karenina cepat mengangguk, menutupi kegugupannya yang masih kentara. "Sedikit. Hm... bisa kirim aja presentasinya ke emailku. Aku pelajari dulu." "Oke." Jemari Bintang bergerak cepat. "Udah kukirim. Ada nomorku juga di sana." "Honeeeyy!" Suara nyaring itu memecah ruang di antara mereka. Bintang langsung menutup laptop. "Kalau nggak ada lagi pertanyaan, aku pamit ya." Karenina hanya bisa mengangguk, membiarkan masa lalunya berjalan keluar dari ruangan. Beberapa detik kemudian, ia kembali ke dunia nyata. Aidan berdiri di ambang pintu. Tegak dan dominan. "Siapa dia?" tanyanya tajam, menatap punggung Bintang yang menjauh. "Desainer kemasan," jawab Karenina pelan. Napasnya terembus panjang. Kini ia merasa ada yang perlahan mulai retak di hatinya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.8K
bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
73.9K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook