Tanpamu Semua Tak Lagi Sama

1002 Words
Dengan napas tersengal menahan amarah, Aidan berdiri di tengah ruangan yang hancur berantakan. Meja dan kursi terbalik di atas lantai, benda-benda berserakan di sekelilingnya, menjadi saksi bisu ledakan emosinya. Seolah belum cukup, ia masuk ke dalam kamar, kembali meluapkan kemarahan yang tak terkendali. Sambil berteriak kencang, ia memecahkan cermin. Suaranya memekakkan telinga. Ia melemparkan seluruh isi lemari, mengoyak gaun-gaun, membanting sepatu, tas, dan benda-benda berharga lain hingga berterbangan, menjadi puing-puing kemarahan. Dan saat semuanya telah hancur, ia terkulai lemas di atas tumpukan gaun-gaun indah yang pernah ia berikan padanya—bersama apartemen dan seluruh isinya. Namun Karenina tetap meninggalkannya. Jika semua yang telah ia berikan tak cukup untuk membuatnya bertahan, lalu apa lagi yang bisa ia berikan? Hatinya merintih pilu, luka itu menganga lebar. Ia merasa tak berarti. Hampa. Tubuh Aidan terlentang kelelahan, dadanya turun naik oleh emosi yang tak sepenuhnya tersalurkan. Kedua matanya menatap kosong ke langit-langit kamar. Dadanya sesak oleh asa yang hancur berkeping-keping. Mimpi indahnya kini berubah menjadi mimpi buruk. Ia kembali pada dunia yang sepi tanpa cinta, pada hati yang membatu tanpa rasa, pada hari-hari tanpa harapan. Ia memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir di pipinya—tangisan yang tak lagi bisa ia bendung. Dari pintu yang terbuka, seorang wanita setengah baya menatap tubuh letih itu dengan mata basah. Bahunya terguncang menahan rasa sakit yang sama. Wanita mana yang tak terluka melihat putra yang sangat dicintainya hancur dan ditinggalkan tanpa pesan, tanpa kata perpisahan. Ingin rasanya ia memeluknya, menghapus air matanya. Namun ia tahu lelaki itu tak akan membiarkannya. Sejak lama, ia telah menganggapnya tiada. Karena ia pernah melukainya, mengingkari janji, dan meninggalkannya begitu saja. Dan kini, jiwa itu kembali merasakan luka yang sama—ditinggalkan oleh perempuan yang sangat dicintainya. Sebuah pengulangan yang kejam. Wanita itu menarik napas berat, berusaha menahan air mata yang kian deras. Ia takut putra tercintanya tak lagi mampu menahan kecewa. Takut trauma itu kembali menghantui hidupnya. Dan ia tahu, setelah ini, kebencian lelaki itu padanya akan semakin dalam. “Tinggalkan aku, Mah...” Suara itu tiba-tiba memecah kesunyian. “Aidan... Mama...” “Tinggalkan aku, Ma... seperti Mama dulu meninggalkanku.” Kata-kata itu menusuk tajam, penuh kepahitan. Wanita itu tak kuasa lagi menahan isaknya. Ingin sekali ia bersimpuh, memohon ampun atas dosa yang tak termaafkan. Namun tatapan itu begitu dingin. Begitu asing, seolah ia tak pernah ada dalam hidupnya. “Maafkan Mama...” lirihnya, sebelum melangkah pelan, meninggalkan putranya menangis sendirian di tengah kehancuran. Aidan kembali memejamkan mata, menahan sakit dari luka yang semakin menganga. Kini ia tak tahu bagaimana harus melanjutkan hidup. Tanpanya, semuanya tak akan pernah sama. --- Dari dalam mobil yang berhenti, Karenina menatap rumah kecil berpagar putih itu. “Aku pindah ke sini, Sa?” tanyanya ragu, tak sepenuhnya yakin. Danisa mengangguk. “Kalau di rumahku terus, aku takut Aidan mencarimu ke sana. Aku sewakan rumah ini untukmu. Sementara kamu tinggal di sini.” “Kalau nanti Aidan benar-benar datang ke rumahmu?” “Tenang, kan ada Mas Surya?” Danisa mencoba menepis kekhawatiran itu. “Tapi kamu akan ketemu dia di kantor. Dia bisa mengintimidasimu. Memaksamu bicara.” “Dia enggak bisa memaksaku atau menuntutmu. Mamamu sendiri yang menyuruhmu pergi. Dia sama sekali enggak berhak atas hidupmu.” Danisa berusaha meyakinkan. “Kalau nanti dia memecatmu?” “Aku bisa cari pekerjaan lain.” “Maafin aku, Sa... aku udah narik kamu terlalu jauh. Aku udah bikin kamu susah.” Danisa menggeleng, tersenyum tulus. “Selama ini kamu banyak bantu aku. Sekarang gantian.” “Harusnya dulu aku ngikutin kata-katamu...” “Enggak ada yang tahu ini akan terjadi. Kalau kamu enggak melakukannya, mungkin kamu juga enggak akan pernah tahu sifat Aidan yang sebenarnya.” “Aku memang bodoh. Kamu udah berkali-kali mengingatkanku untuk berpikir sebelum nerima lamarannya.” “Kamu enggak bodoh, Nin. Dia memang sengaja membuat dirinya tampak sempurna, untuk menutupi sifat aslinya.” “Aku takut dia mencariku ke sini...” bisik Karenina. “Dia pasti akan mencarimu. Tapi kamu enggak perlu takut. Kamu udah bukan miliknya lagi. Kamu berhak menjalani hidupmu sendiri.” “Bagaimana kalau dia memaksaku kembali?” “Apa itu yang kamu mau?” Karenina menggeleng cepat. “Kalau begitu, apa yang kamu khawatirin lagi? Mama kamu aja mendukung. Kamu enggak sendirian.” “Tapi aku bingung, Sa. Aku harus mulai dari mana?” “Aku akan membantumu.” “Tapi aku udah enggak punya apa-apa lagi.” Suaranya kosong. “Dulu pun kita enggak punya apa-apa.” “Bagaimana kalau Aidan menutup perusahaan kita? Bagaimana nasib karyawan yang lain?” Danisa menghela napas. “Jangan pikirin orang lain dulu. Sekarang yang terpenting itu kamu. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Mungkin awalnya berat, tapi seiring waktu Aidan akan menyadari kesalahannya. Dia pengusaha. Kalau dia melihat perusahaan kita menguntungkan, dia akan berpikir dua kali untuk menutupnya.” Karenina mengangguk pelan. “Terima kasih, Sa...” Senyum pahit terlukis di bibirnya. “Terima kasih juga pada Bintang. Dia yang menyelamatkanmu.” “Tapi ke mana dia?” Ada rindu dalam suara Karenina. “Dia sudah pindah ke Malang bersama istrinya. Aku sudah mengabari dia tentang kamu.” “Dia dan Naira baik-baik saja?” “Mereka sudah berbaikan.” “Oh...” Hatinya mencelos tanpa ia mengerti alasannya. “Oh ya, Nin... ada satu hal tentang Bintang.” Nada Danisa berat. “Apa?” “Kalian mungkin enggak akan bertemu lagi. Selamanya.” “Dia bilang begitu?” Karenina terkejut. Danisa mengangguk. “Apa Naira yang melarangnya?” Danisa menggeleng. “Mamamu.” “Mama?” Karenina terpaku. “Bintang yang membujuk Mamamu untuk membatalkan pernikahanmu. Mamamu setuju, dengan syarat dia tak boleh mendekatimu lagi. Dia harus menghilang dari hidupmu selamanya.” “Selamanya...” Suara Karenina tercekat. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. Kini ia benar-benar sendirian. Ia tak tahu bagaimana harus menjalani hidup tanpa harapan. Cintanya pada Bintang tak pernah berubah, meski hidupnya sudah porak-poranda. Dan justru saat ia paling membutuhkannya, lelaki itu menghilang. Lalu untuk apa ia meninggalkan pernikahannya? Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban. Sebuah pengorbanan yang terasa sia-sia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD