Susah Move On

1102 Words
Suara ketukan di pintu rumahnya mendadak membuat kepala Karenina berdenyut kencang. Pagi-pagi begini, siapa lagi kalau bukan Sang Mantan yang gagal move on? Mau apa lagi dia sekarang? Bukankah kemarin ia sudah memesankan seluruh isi supermarket untuknya? Karenina menghela napas panjang, mencoba menahan emosi yang mulai merayap naik. Saat pintu terbuka, tampak Aidan berdiri dengan pakaian rapi dan rambut setengah basah, memegang sekantong kopi di tangannya. "Aku enggak bisa bikin kopi. Enggak ada coffee maker di rumahku," ucapnya seraya mengulurkan kopi itu. "Tinggal diseduh pakai air panas, Aidan… Aku juga enggak punya coffee maker di sini…" Karenina berusaha keras menjaga nada suaranya tetap datar. "Tapi aku 'kan, enggak biasa seduh kopi, Nin?" Aidan memandang Karenina dengan tatapan polos yang justru membuat Karenina ingin berteriak. Ya, Tuhaaan! Karenina menatap Aidan tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Terpaksa ia membiarkannya masuk— Menyiapkan kopi untuknya. Aidan dengan santainya duduk di kursi makan. Ia memperhatikan jemari Karenina yang bergerak cekatan menyiapkan cangkir, seolah-olah tanpa tangan perempuan itu, air panas di hadapannya pun tidak akan mampu melarutkan bubuk kopi yang ia bawa. "Jadi, kapan kamu balik ke kantor?" "Baru juga kemarin? Aku masih mikir-mikir?" jawab Karenina. "Apa lagi yang kamu pikirin?" "Jangan paksa aku, Aidan!" Karenina melotot kesal. "Aku bukannya maksa. Tapi perusahaan memang membutuhkan kamu secepatnya." Sambil menuangkan kopi ke dalam cangkir, Karenina mencoba berpikir. Ia tak ingin begitu saja menerima tawaran Aidan. Pria ini harus diberi syarat agar tidak semena-mena lagi mengatur hidupnya. "Oke. Aku mau kembali asal dengan syarat." "Apa?" "Pertama, aku akan tetap tinggal di sini. Kedua, kamu enggak bisa memaksaku melakukan keinginan kamu kecuali pekerjaan. Dan ketiga, kamu enggak boleh tinggal di rumah itu lagi." Karenina menatap Aidan lurus. Aidan berpikir keras. "Oke… persyaratan kesatu dan kedua aku setuju. Tapi tidak untuk persyaratan ketiga. Aku udah bilang aku berhak tinggal di mana saja?" "Kalau gitu aku enggak mau!" Karenina menatap Aidan dengan wajah menantang. Ia tak ingin mengalah. Aidan terpaksa menyerah. "Oke. Kapan kamu mulai?" "Begitu kamu ninggalin rumah itu." Kini Aidan menghela napasnya. "Kenapa kamu enggak balik aja ke apartemenmu, Nin. Aku akan memperbaikinya." "Itu apartemen kamu, Aidan. Apartemenku masih disewakan. Kita udah putus. Jadi aku kembalikan semuanya sama kamu." "Enggak harus kayak gitu, Nin…" "Kamu sendiri yang ngomong begitu. Aku cuma mengingatkan." "Maafin aku. Sekarang aku kembalikan lagi sama kamu." "Sudahlah, Aidan. Aku udah enggak butuh. Kita enggak usah bahas lagi." "Tapi aku mau memperbaiki hubungan kita." "Aidan, please… kita sudah putus. Enggak ada yang perlu diperbaiki lagi." "Kamu ninggalin aku karena takut aku akan nyakitin kamu lagi, kan?" Karenina terdiam. Enggan untuk menjawab. Ia tahu apa pun alasannya Aidan akan tetap menyalahkannya. "Kalau itu alasannya aku akan berusaha memperbaikinya. Kalau perlu aku akan ke psikiater. Aku benar-benar menyesal, Nin. Itu semua di luar kendaliku. Kamu 'kan tahu aku enggak pernah melakukan itu sebelumnya?" Karenina menatap Aidan tak percaya. Ia tahu Aidan menyesal, tapi sampai ke psikiater? Rasanya sulit dipercaya. Itu terlalu berlebihan baginya. Dia mengatakan itu hanya untuk membujuknya saja. "Aidan, please… aku benar-benar enggak mau bahas itu sekarang," "Kenapa, Nin? Apa kamu enggak merasa bersalah ninggalin pernikahan kita gitu saja? Membuat kecewa orang tuaku. Dan membuat malu keluargaku? Apa yang kamu pikirkan, Nin?" "Aku minta maaf… Aku tahu aku salah. Tapi kamu yang memaksa mempercepat pernikahan itu." "Kamu tahu bukan itu masalahnya. Kamu ninggalin pernikahan kita tanpa pesan. Tanpa bicara apa-apa. Lalu kamu menghilang begitu saja. Kamu membuatku hampir gila, Nin! Bukankah aku berhak mendapatkan sedikit penjelasan darimu?" "Aku bingung Aidan… Aku takut…" "Aku memang marah lihat foto-foto itu, aku sangat cemburu. Tapi tak sedikit pun aku ragu untuk menikahimu. Karena aku tahu kamu akan menjelaskannya padaku nanti. Dan aku akan memaafkanmu karena aku percaya kamu tidak pernah melakukannya sama dia. Tapi ternyata kamu malah pergi…" "Maafin aku…" Karenina menahan air matanya agar tak menetes. "Pasti dia yang memintamu pergi, kan?" Karenina kembali terdiam. Ia tak ingin membuat Aidan semakin emosi. "Apa sekarang kamu sedang menunggunya?" Menunggunya? Jadi dia tidak tahu tentang perjanjian Bintang dan Mama? Karenina menatap wajah Aidan yang putus asa. Tatapan itu membuatnya semakin merasa bersalah. "Aku enggak nunggu siapa-siapa. Aku hanya butuh waktu," sahutnya. "Apa kamu masih mencintaiku, Nin?" Karenina menatap ragu. Ia ingin menggeleng. Tapi mata itu menatapnya penuh harap. "Aku enggak tahu lagi, Aidan…" Lirihnya. Aidan memalingkan wajahnya, menyembunyikan kecewa di matanya. "Oke. Mungkin kamu memang perlu waktu. Aku enggak akan memaksa lagi," ucapnya, lalu melangkah pergi. Karenina mengusap wajahnya. Ucapan Aidan membuat hatinya terusik. Kini ia kembali mempertanyakan keputusan yang diambilnya waktu itu. Ia meninggalkan Aidan di hari pernikahannya. Ia sudah mengecewakan banyak orang. Dan ia sudah membuat keluarga mereka menanggung malu. Dan kini, setelah semuanya berantakan, Bintang malah menghilang tanpa kabar. Kalau dia memang mencintainya mengapa dia tak memperjuangkannya? Mengapa dia menyerah begitu saja? Apakah dia sudah tak berarti lagi baginya? Ataukah memang cintanya tak sebesar yang dikiranya selama ini? ... Naira menatapi wajah Bintang yang tertidur di sampingnya sambil tersenyum. Wajahnya begitu pulas seperti bayi yang tengah terlelap. Ingin sekali ia kembali berada dalam dekapannya yang hangat. Dan membiarkannya mencumbuinya lagi seperti tadi malam. Malam terindah sejak pernikahan mereka. Bahkah indahnya melebihi bulan madu yang mereka rasakan dulu. Entah apa yang membuatnya begitu berbeda. Dia begitu mesra. Dia memanjakannya dengan makan malam romantis. Nonton film romantis. Dan diakhiri dengan kemesraan di kamar tidur. Naira tersipu mengingatnya. Apakah dia benar-benar sudah berubah? Ataukah dia sudah mulai melupakan perempuan itu? Karena ia percaya perlakuannya tadi malam bukan semata karena rasa bersalah. Tapi lebih dari itu. Ia seperti merasakan gairah tak biasa dalam dirinya. Gairah yang seperti terpendam lama, yang akhirnya ia luapkan semuanya tadi malam. Karena sejak kehadiran perempuan itu dalam hidup mereka dia jarang menyentuhnya lagi. Dia seperti berada dalam dunianya sendiri. Dia seperti melupakannya. Tapi semalam semuanya berubah. Dia sudah kembali padanya. Naira kembali menatapi wajah itu. Ah, ingin sekali rasanya untuk kembali menciuminya. Tapi ia tak ingin membuatnya terbangun. Dia pasti sangat kelelahan tadi malam. Naira kembali tersipu. Ia tak akan membangunkannya. Ia akan menyiapkan saja sarapan untuknya. Perlahan ia beranjak dari tempat tidur. Namun tiba-tiba tangan itu menarik tubuhnya lalu merengkuhnya dalam dekapan erat. "Jangan pergi, Nin..." Bisiknya dengan mata yang masih terpejam. Seketika air mata Naira menetes. Ternyata semalam ia hanya bermimpi. Romantisme dan kemesraan itu tak nyata. Itu bukan untuknya. Hatinya begitu pilu menyadari ternyata ia hanyalah peran pengganti dari fantasinya pada perempuan itu. Karena Bintang tak pernah berhenti mengingatnya. Bintang kembali menciuminya dan mencumbuinya dengan gairah yang memuncak—seolah nama itu adalah nyawa yang baru saja ditiupkan ke dalam pelukannya. Naira memejamkan mata. Membiarkan air mata terus mengalir. Kini tubuhnya sudah mati rasa. Ia tak merasakan apa pun selain sakit yang merobek hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD