Dandi
ku menunggu Raia di tempat yang sudah kami bicarakan sebelumnya. Aku memilih duduk di sudut cafe ini, dengan pemandangam jalanan yang di halangi kaca bening besar. Ya, sudut cafe seperti ini pasti banyak orang yang berminat untu mendudukinya, terlebih jika hari hujan.
Tak lama manik mataku mendapati seorang wanita dengan skinny jeansnya melintas untuk memasuki cafe ini. Dia Raia, wanita yang ku tunggu-tunggu kedatangan. Aku tak sabar akan menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengerubungi otakku.
Langkahnya semakin dekat, aku berdiri dan menyambutnya untuk duduk.
PLAK!
Seketika pandanganku tertunduk menatap kaki-kaki meja. Pipiku memans seperti sudah di gesek dengan kain handuk beberapa kali. Jantungku berdegup. Raia menamparku, di depan banyaknya orang. Ada apa?
“Kamu apa-apaan sih, Rai?” tanyaku penuh emosi.
“Kamu yang apa-apaan Dan!” Raia melihat kesekelilingnya. Ia sedikit merasa malu karena kini jadi pusat perhatian.
“Aku? Aku kenapa?” aku benar-benar tidak tahu apa salahku. Apa Raia sebenarnya menolak dengan pertemuan ini hingga ia mengasariku? Ah, tidak mungkin, Raia adalah wanita dengan jiwa yang tenang setahuku. Tapi kali ini?
Raia memilihi duduk di kursi yang tepat berada di hadapanku. Ia menggigit bagian bawah bibirnya seperti menahan rasa kesal. Akupun ikut duduk, kini pandangan orang telah kembali pada urusan mereka masing-masing.
“Rai, kamu kenapa sih tiba-tiba nampar aku?” tanyaku hati-hati.
“Kamu nggak ngerasa diri kamu kurang ajar, ya? Atau kamu merasa semuanya biasa saja? Iya?” tanyanya kembali yang membuat kepalaku benar-benar buntu untuk mencari jawabannya. Sampai detik ini pun aku tidak pernah tahu apa salahku.
“Kurang ajar apanya? Kalau aku boleh bilang, justru kamu yang kurang ajar, Rai! Kamu yang nampar aku di depan umum kaya tadi!” emosiku sedikit memuncak.
“Oh, jadi kamu main lupa dengan kejadian kemarin? Oke, aku bakal ingatin lagi, ya! Dasar laki-laki m***m!” hinanya.
Waw.. Waw.. Apa tadi katanya? Laki-laki m***m? Hah? Apa lagi ini?
“Kamu barusan ngomong apa?” tanyaku ulang.
“Laki-laki-mes-sum!” jawabnya dengan nada sarkas serta penekanan di bagian m***m.
“Kamu ini kenapa sih, Rai? Datang-datang main tampar. Pake nuduh aku laki-laki m***m. Sekarang coba jelasin apa maksud kamu?” aku memutar bola mataku. Aku benar-benar tak habis pikir dengan tindakan Raia.
“Aku pinsan, kamu suruh Jihan buat nyetir, kan? Bawa ke rumah sakit? Iya kan?” Nada suara Raia tak jua menurun.
“Lalu?”
“Kamu cium aku, kan?” gumamnya lebih seperti bisikan.
“Apa?”
“Kamu cium aku kan?”
Deg!
Apa lagi ini? Setelah menamparku, mengata-ngatai diriku sebagai lelaki m***m, dan sekarang ia menuduhku menciumnya? Yang benar saja?
“Apa?” tanyaku, “Cium kamu? Yang benar saja!” belaku. Tidak. Aku bukan hanya membela diriku, tapi aku memang benar-benar tak melakukannya.
“See? Lelaki b******k itu memang tal akan pernah mengakui kesalahannya!” Raia beranjak dari tempat duduknya. Namun aku segera menahan lengannya. Aku masih menuntut segudang penjelasan.
“Siapa yang bilang gitu hah?” tanyaku meninggi.
“Jihan!”
“Jihan?” aku menekan-nekan bagian pelipis mataku menghilangkan denyut yang entah sejak kapan ada di sana.
“Kenapa? Kaget kalau Jihan tau? Iya? b******k!” hardiknya kembali. Ia mencoba melepas pegangan tanganku. Tapi aku masih enggan melepaskannya.
“Kamu nggak mau dengerin penjelasan aku?” tanyaku. Aku yakin ini kesalah pahaman. Setelah otakku perlahan memutar kejadian kemarin, aku ingat mengapa Jihan mengatakan aku telah mencium Raia.
“Aku kasih kamu waktu tiga menit buat jelasin,” tukasnya, “lepasin tangan aku.”
Aku melepaskan genggaman tanganku dari pergelangan tangannya. Raia kembali duduk namun enggan menatapku, sementara aku masih terpaku sambil berdiri melihatnya.
“Waktu kamu tinggal dua menit lima puluh lima detik,” ujarnya.
Aku terkesiap, sejak kapan dia menghitung waktu bahkan aku belum mulai menjelaskan apa-apa. “Tapi aku belum....”
“Dua menit empat puluh detik,”
“Rai, gimana....”
“Dua menit tiga puluh lima detik,”
“Oke, oke. Jadi aku nggak pernah mencium kamu, dan nggak akan mungkin. Bahkan terniat di otakku saja nggak pernah, Rai,” jelasku panjang lebar. Dia masih enggan menoleh padaku dan sepetinya masih menghitung mundur waktu.
“Dua menit lima belas detik,”
Apa? Dia bahkan belum bisa menerima penjelasanku?
“Aku cuma panik, Rai. Waktu aku pegang nadi di pergelangan tangan kamu, dia nggak denyut.” Aku berusaha menahan panik, karena menjelaskan sesuatu dengan waktu terbatas seperti itu cukup membuatku deg-degan. Sudah seperti kuis di saat kuliah saja.
“Terus karena itu kamu cium aku?” tanyanya sarkas. Matanya mendelik tajam ke arahku. Aku baru pertama kali melihat tatapannya yang mengerikan itu.
“Nggak gitu, Rai. Kan aku udah bilang aku panik,” jelasku. Astaga, kenapa situasinya menjadi tegang begini?
“Satu menit empat puluh tiga detik,”
Astaga. Dia masih menghitung bahkan saat bicara? Padahal ia tak menggunakan stopwatch.
“Aku panik, dan aku nggak cium kamu. Aku takut kamu mati, aku cuma ngedeketin pipi aku ke arah hidung kamu, buat ngerasain kamu masih nafas apa enggak!” jawabku. Nadaku tiba-tiba meninggi.
Raia menatap ke arahku masih sama tajamnya. Ia termenung. Tunggu dulu, dia berhenti menghitung.
“Benar seperti itu?” tanyanya.
“Astaga, iya Rai. Kamu tahu kan kamu yang minta tolong aku supaya rebut Jihan dari Sadam, lantas kenapa aku harus cium kamu?” tanyaku balik. Aku menyandarkan punggungku lega. Akhirnya ia bisa menerima penjelasanku.
“Ya maaf, Dan. Aku pikir Jihan....” Raia menghentikan kalimatnya. Kemudian ia menatapku dengan mata membulat penuh arti, “Raia cemburu dong?”
Benar, setelah di pikir-pikir berarti memang Raia menaruh rasa cemburu pada Raia. Apakah ada kesempatan untuk benar-benar mendapatkan Jihan kembali?
Aku mengangkat bahu tidak tahu. Tepatnya berpura-pura tidak tahu agar terlihat tak terlalu berharap.
“Tapi, semalam Sadam datang ke rumah kami, Dan.” Raut wajah Raia berubah seketika. Wanita satu ini, setelah menuduhku, ia bahkan tak.ada rasa bersalah sama sekali. Padahal ia sudah menamparku di depan umum. Sial. Tapi pemikiran itu secara tak sengaja langsung ku kebelakangkan. Aku lebih peduli dengan pernyataannya barusan, mengapa Sadam datang ke rumah mereka?
“Buat nemuin Jihan?” tanyaku.
“Iyalah Dandi, mana mungkin aku, kan?”
“Tapi, ada satu hal yang bikin aku penasaran. Kenapa aku harus merebut Jihan kembali? Serumit apa hubungan Jihan dan Sadam? Lalu, kamu mau pergi kemana? Dan kamu sakit apa?” entahlah, hanya itu yang ada di pikiranku saat ini hingga mulutku dengan sigapnya melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu.
“Woww.. Wooww.. Aku nggak nyangka ternyata kamu orang yang begitu cerewet,” ia tergelak. Ya, dia tertawa di saat aku kebingungan dan sudah menjadi korban salah tuduhnya tadi.
“Aku jawab hal yang paling penting dulu saja, ya?” ia memperbaiki posisi duduknya, “Sebenarnya aku divonis leukimka oleh dokter, Dan.”
Suara gemuruh entah dari mana tiba-tiba memenuhi gendang tekingaku. Bahkan jantungku tak mampu lagi memompa oksigen dan darah di tubuhku rasanya. Aku merasa Raia ada pembohong yang apik. Di saat seperti ini bahkan ia sanggup tersenyum.
***