Tujuh

1134 Words
Jihan Kepalaku masih sakit. Aku terlalu malas untuk bangkit, tapi pernikahan James sebentar lagi dan tidak mungkin lagi aku bermalas-malasan. Konsep pun belum sempurna perencanaannya. Di tambah dengan drama Raia dan Dandi yang entah ada hubungan apa mereka sekarang. Memikirkannya saja sudah membuatku muak. Entahlah, aku menganggap Raia seperti penghianat. Oh astaga! Apa sebenarnya yang aku pikirkan? Dandi tidak bersamaku lagi, tentu saja dia bebas untuk memilih siapapun yang mengisi hatinya walaupun aku tak terima. Apa? Aku terima tentu saja. Aku melirik ke atas kasur dan mendapati Sadam masih menikmati tidurnya. Ya, aku tidak berada di atas tempat tidur yang sama dengan Sadam tentunya. Semalam kami bertengkar hebat, seperti biasa sehingga aku harus menerima hukuman untuk tidur di ubin dingin ini, tanpa alas. Aku berjalan menuju kamar mandi, tapi sebelumnya langkahku terhenti karena wajah Sadam begitu lembut untuk di sentuh. Aku memilih berjalan ke arahnya yang sedang pulas terlebih dahulu. Aku menyelimuti tubuhnya yang setengah telanjang agar tak masuk angin. Aku menyentuh pipinya perlahan. Dia sangat tampan, sungguh tampan. Bahkan setelah aku berulang-ulang kali di siksa pun, hatiku tak pernah berhenti menetap untuknya, walau Dandi berusaha mendobrak. Tidak, Dandi bahkan hampir meruntuhkanku. Tak lama, kelopak mata Sadam perlahan membuka. Sesekali ia mengerjapkan matanya membiasakan cahaya terang yang mengganggu penglihatannya. Aku enggan untuk beranjak, karena di saat seperti ini mood Sadam sudah kembali seratus persen. “Kamu udah bangun?” tanyanya yang tersenyum melihatku. “Udah, pangerannya Jihan udah bangun?” godaku. “Kamu emang pinter ya bikin aku seneng pagi-pagi gini?” senyumnha benar-benar membunuhku. Sadam kemudian merangkul pinggangku agar semakin dekat dengannya. Wajah kami semakin dekat sekarang, dan aku bisa merasakan deru nafasnya tepat di bibirku. Ia menyesap bagian bawah bibirku dengan hangat dan lembut. Aku membiarkannya karena pada saat itulah aku merasakan cinta Sadam yang sangat besar padaku. “Dam, aku ada jadwal kerja pagi ini jam sembilan. Aku mandi duluan, ya?” pintaku pada Sadam yang masih merangkul pinggangku dengan erat. “Nggak, aku masih kangen, Ji.” Rangkulan tangannya semakin erat. Ia merengek seperti balita yang malas di suruh mandi. “Nanti, pulang kerja aku bakal nemuin kamu lagi, kok. Lagian kamu juga harus mandi sekarang. Jam sepuluh ada pemotretan, kan?” tanyaku. “Aku nggak mau kerja, maunya sama kamu aja,” rengeknya. Aku terkekeh. Kemudian mencium bibirnya sekali lagi. “Nanti malam, ya?” pintaku. Aku masih sedikit hati-hati berbicara padanya. Takut jika moodnya kembali tidak stabil. “Hm,” angguknya. Ia mengangguk dengan tenang tanpa marah sedikitpun. Bagus. Aku bisa tenang pergi kerja sekarang. Aku kemudian turun dari kasur dan meninggalkan Sadam yang melanjutkan tidurnya. Aku melangkah menuju kamar mandi dan mengambil handuk yang tergantung di sisi kiri dinding sebelum pintu kamar mandi. Aku mematut diriku di depan cermin dan mendapati wajah yang lusuh dengan bekas luka di sudut bibir. Betapa kasihannya diriku ini, bahkan aku memilih sakit fisik dari pada harus kehilangan segalanya. Aku menghidupkan shower dan membiarkan airnya mengalir di tubuhku. Pori-poriku terasa membuka dan beberapa bagian sedikit perih. Mungkin ada luka di sana. Iya, mungkin akibat ulah Sadam semalam. Aku menikmati setiap tetes air yang mengenai lukaku. Di saat itulah aku merasakan lukaku perlahan-lahan luruh. Saat dimandikan air shower, memoriku kembali memutar kejadian semalam. Sesaat setelah Sadam menarikku ke dalam mobilnya, saat itu juga ia mulai menghardik, menghina, bahkan melukaiku. Ia begiru emosi saat segala permintaannya aku tolak. Begitulah Sadam sejak enam bulan terakhir ini. Sadam bukanlah pria dengan tempramen tinggi sebelum enam bulan ini, ia adalah pria sejati yang bahkan menyakitiku saja tak pernah. Benar memang, ia telah melukai hati istrinya. Namun kami sama-sama cinta dan bahkan sudah saling memiliki. Aku berani bertaruh bahwa cinta Sadam padaku lebih bersar di banding cintanya pada mbak Yuliana. Sadam pernah mengatakan bahwa Yuliana adalah si gila kontrol dan sangat egois, ia tak betah saat berada di dekat Yuliana, belum lagi gaya hidup wanita itu yang sangat sangat sangat mewah, Sadam tak mampu mengikutinya. Aku mematikan aliran air di shower dan segera melumuri rambutku dengan sampo favoritku dan Sadam, ya wangi aloevera yang begitu menyegarkan. Tak lama, aku langsung memlumuri tubuhku dengan sabun beraroma sama. Sejurus kemudian aku menghidupkan kembali shower dan membiarkan busa-busa luruh di bawa aliran airnya. Aku segera menghilangkan bulir-bulir air dari badanku dan mengeringkan rambutku dengan melilitkan handuk di kepalaku. Kemudian handuk yang satunya kugunakan untuk membakut tubuhku. Aku berjalan keluar dari kamar mandi dan mendapati Sadam yang masih sangat pulas tertidur. Aku megayunkan tanganku ke dalam lemari dan mengambil sebuah kemeja berwarna pink yang tergantung di hanger. Kemudian aku memasukkan kakiku di antara dua lubang celana denim longgar. Aku membuka handuk yang melilit rambutku dan membiarkannya mengering sendiri. Aku melihat ke arah jam dinding yang terletak tepat di atas jendela kamar ini. Tiga menit lagi tepat pukul setengah delapan, masih banyak waktu untuk membuat sarapan untukku dan Sadam. Aku menggoyang-goyangkan tubuh Sadam sambil memanggil namanya lembut, “Sayang, bangun.” Aku menepuk-nepuk pipinya agar ia segera tersadar. “Aku masih lama, Ji. Bentar lagi, ya?” pintanya. “Kamu mandinya sekarang aja biar seger, aku bikinin sarapan, ya?” aku berjalan ke arah dapur tanpa mendengar persetujuan dari Sadam. Aku mendengar ia membuka pintu kamar mandi dengan malas, berarti ia menuruti perintahku kali ini. Aku mengambil beberapa bahan dari kulkas. Pagi-pagi seperti ini Sadan sangat suka sarapan dengan segelas s**u di tambah sayur bening yang di dalamnya terdapat telur ceplok. Dan entah sejak kapan pula sarapan favorit Sadam menjadi sarapan favoritku, hanya saja aku lebih memilih air putih di banding s**u. Aku mengambil sebuah brokoli lalu memotongnya kasar. Setelahnya aku memasukkan brokoli itu dalam sebuah wadah berukuran sedang. Kemudian sebuah wortel dan kentang yang telah ku potong dadu ku masukkan ke dalam wadah berisi brokoli tadi. Aku juga menambahkan kubis ungu kesukaan Sadam ke dalamnya. Aku mencuci sayur-sayuran itu dengan air mengalir dari keran. Tak lama aku menyalakan kompor dengan api sedang. Kemudian aku memasukkan sedikit minyak dan cincangan bawang merah dan bawang putih bersamaan. Ide ini aku dapatkan dari ibuku dulu agar bawang tak cepat hangus. Kemudian sayur-sayuran tadi ku masukkan juga ke dalam wajan yang mulai memanas. Ku sirami air dan ku beri sedikit lada, garam dan gula. Wanginya membuat hasrat ingin makanku menjadi. Terakhir aku memasukkan dua buah telur dan membiarkannya matang di sana. Aku melihat Sadam dengan rambutnya yang masih basah keluar dari kamar. Sial, itu adalah penampilannya yang paling tampan menurutku. Ia masih saja enggan memakai pakaian, ia memilih bertelanjang d**a memamerkan perut serta dadanya yang bidang. “Wangi banget, Ji. Aku jadi laper.” Sadam langsung mengambil tempat duduk tepat di depan hidangan yang telah kusajikan. Aku mengambil semangkuk sayur bening untuk sadam dan membiarkannya makan dengan lahap. Aku benar-benar di saat emosi Sadam tenang seperti saat ini. Andai saja aku tak pernah meminta untuk menceraikan Yuliana, aku yakin Sadam tak akan pernah berubah padaku. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD