Delapan

1331 Words
Dandi Aku dan Raia masih sama-sama diam sejak ia menceritakan apa yang terjadi padamga dan Jihan. Aku benar-benar tak habis pikir setelah kepergianku ke Amerika ternyata banyak hal yang ku lewatkm begitu saja Mulai dari Jihan yang menghianatiku, sakit Raia hingga penderitaan Jihan selama ini. Oh tuhan, yang benar saja! Mengapa jadi sepelik ini? Dan di saat itulah aku tahu apa tujuan Raia memintaku untuk merebut Jihan. Sebelum pertemuan kami bersama James, Raia sudah lebih dulu memintaku untuk kembi ke Indonesia karena terjadi sesuatu pada Jihan. Entah mengapa aku langsung mengiyakan tanpa pikir panjang. Raia memohon padaku agara merebutnya kembali pada Sadam. Sekali lagi tak ada penolakan dariku jika bersangkutan dengan Jihan. Satu tahun di Amerika ternyata tak membuatku bisa melupakan Jihan. Raia mengatakan bahwa Jihan sering dipukuli oleh Sadam. Bahkan Raia sudah berulang kali mengatakan untuk Jihan segera pergi dari Sadam. Namun entah karena alasan apa, Jihan selalu menolaknya. Raia juga meminta padaku untuk menjaga rahasia ini. Raia nemang sedang sakit leukimia seperti yang sudah di beri tahu dokter itu padaku. Maka dari itu ia memintaku untuk benar-benar menjaga Jihan. Well, tanpa Raia suruh pun, aku akan tetap mengejar-ngejar Jihan. Tak lama, aku melihat Raia dengan Skinny jeansnya berjalab santai dari arah pintu ke meja kami duduk. Aku melihat ekspresi Raia yang berubah seketika ketika melihat Jihan dengan senyumnya. "Aku pikir kamu kenapa-kenapa. Akh khawatir, Ji!" ujar Raia langsung tepat ketika Jihan akan duduk di meja ini. "Aku bukan anak kecil lagi, Rai. Nggak usah khawatir." jawabnya. Raia hanya mendengus kesal. Aku hanya menggeleng melihat tingkah mereka. "Well, apa kamu udah dapet ide, Dan?" tanyanya langsung. "Belum, kayanya konsep bajuku selarasin sama konsep kamu aja deh, Ji," jawabku. Jihan mengangguk. Kemudian ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam tasnya. "Aku ada ide, sih. Ini," ia menyodorkan ketas itu padaku.  Aku melihat goresan-goresan yang ia buat di atas kertas putih sambil mengangguk paham. Aku melihat ornamen-ornamen bunga mawar yang kubayangkan bernuansa putih pada setiap sudut. Di bagian lampu gantung terdapat tumbuhan hijua yang di biarkan menjulur ke bawah. Ada lagi, wedding cakenya juga begitu unik. “Waw, ini menakjubkan,” pujiku. “Apa kau menyetujuinya? Dan apakah James menyukainya?” tanyanya. “James menyukai apa yang aku sukai. Yang penting pernikahannya lancar tanpa ada hambatan, itu saja.” Aku mengembalikan kertas -kertas kertas itu pada Raia. Aku melihat ekspresi wajahnya yang berseri-seri. “Berapa hari lagi pernikahannya?” tanyanya. “Hmm, mungkin sekitar dua puluh hari lagi,” jawabku. Jihan mengangguk. Di balik senyum kecutnya aku melihat semburat lebam keunguan pada sudut bibir kirinya. “Kenapa ini, Ji?” tanyaku dan sontak menyentuh sudut bibirnya itu. Jihan langsung menepis tanganku. Wajahnya berubah masam, “Nggak pa-pa,” jawabnya. “Oh ya, untuk hotel dan lainnya James yang nentuin atau gimana, Dan?” tanya Raia untuk mengalihkan ketegangan antara aku dan Jihan. “Kita yang tentuin kok, Rai. James ngebebasin semuanya sama kita.” Raia mengangguk, sentara Jihan masih asik memainkan gadgetnya. “Ada rekomendasi, Ji?” tanyaku. Sejurus kemudian Jihan meletakkan ponselnya dan melipat kedua tangannya di meja. “Ada sih, Safra’s hotel aja.” Jihan kemudian menatapku, “Gaun kamu gimana?” tanyanya. “Aku akan segera menyelesaikannya. Aku harap kalian mau membantuku. Aku sudah menyelesaikan beberapa desain. Setelah istri James memilih, aku akan mulai memgerjakannya,” ujarku. Jihan mengangguk. Lalu pandangannya beralih pada Raia, “Rai, kamu lakukan reservasi sama Safra’s, ya? Untuk urusan kue dan lainnya biar aku yang urus.” Raia mengangguk mendapatkan instruksi dari Jihan. Ia segera mengutak-atik ponselnya. “Kayanya kalau ketemu di luar begini nggak banyak yang bisa kita kerjain, ya selain ngobrol,” ujar Jihan tiba-tiba. Ia mengedutkan bibirnya. Sepertinya ia mulai membuka obrolan santai. “Hmm, ya. Kamu benar. Besok lebih baik kita kerja di rumahku saja, ya? Sekalian bantuin aku bikin gaun dan lain-lain.” Jihan mengangguk mengiyakan. “Ji, ada yang mau aku omongin nih sama kamu.” Jihan menaikkan sebelah alisnya. “Apa?” “Tapi nggal di sini,” ujarku. Jihan melirik ke arah Raia. Raia hanya menatap kami secara santai dan sepertinya ia paham. “Baiklah, aku akan pulang duluan. Kalian nikmati saja waktu berduanya, ya?” Raia terkekeh dan langsunh berjalan meninggalkan kami berdua. “Kamu mau ngomong apa, Dan?” tanyamya penasaran. “Aku mau ngomongin tentang kita, Ji.” “Kita? Maksudnya?” “Kamu tahu kan kalau aku masih sayang sama kamu?” tanyaku. Aku benar-benar seserius ini padanya. “Apa sih kamu , Dan? Kamu Cuma mau ngomongin ini?” tanyanya lagi. “Iya, aku yakin kamu masih sayang sama aku, Ji. Aku yakin banget.” Entah mengapa kalimatku seakan-akan begitu percaya diri. Aku benar-benar sayang sama Jihan. “Hey? Kamu lagi nggak mabuk, kan?” tanyanya sarkasme. “Ji, sekarang kamu jujur sama aku. Kenapa kamu nggak mau ninggalin Sadam? Aku udah kaya, kamu bisa hidup enak sama aku. Aku masih single, nggak punya istri. Dan aku nggak bakalan nyakitin kamu, Ji.” Mulutku dengan santainya melontarkan kata-kata yang jelas Jihan tidak suka. Wanita itu menyandarkan bahunya pada sofa dan tak dapat berkata apa-apa. Sesekali ia tertawa pelan yang terdengar sepertiendengus. “Kamu tahu apa tentang perasaan aku, ha?” “Ji,” “Sudah lah, Dan. Udah nggak ada harapan lagi untuk kita,” “Tapi, Ji...” “Harapan apa, ya?” suara berat seorang pria mengagetkanku dan Jihan. Aku sontak menoleh pada pria yang kini mengenakan masker berwarna hitam serta topi berwarna senada. Tubuhnya yang jangkung di tutupi jaket tipis, aku tak tahu siapa pria ini. “Maaf?” ujar Jihan dengan maksud menanyakan apa maksud pria ini. Seketika pria itu menurunkan maskernya. Ia terlihat tersenyum ke arah Jihan. Namun jantungku tiba-tiba tertsusuk. Melihat wajahnya yang tersenyum ke arah Jihan membuatku bemsr-benar muak. “Sad.. Astaga.” Jihan terlihat terkesiap. Mulutnya yang menganga tiba-tiba ia tutupi sendiri. Ia seperti samgat terkejut. “Kok kamu kaget gitu, sih?” pria bernama Sadam itu dengan santainya duduk di sebelah Jihan. Kemudian ia merangkulkan tangannya pada bahu Jihan. Tatapannya sangat tajam walau senyum melekat di sana. Astaga, pria ini bahkan tak tahu malu. Di kala kepopulerannya, ia nekat menghampiri Jihan. Entah ia kehilangan akal sehat atau bagaimana, yang pasti tindakannya ini dapat membuat Jihan juga akan terkena imbasnya. “Maaf, sepertinya anda sedikit mengganggu pekerjaan kami,” ujarku terus terang. “Oh, astaga. Kalian sedang bekerja? Yang benar saja?” tanyanya dengan nada sarkastik. “Aku bahkan tak melihat file apapun di sini. Hahaha,” tawanya renyah sambil menokok-nokok meja dengan sedikit keras. Jihan tak berani berkata apapun. Mulutnya seperti membisu seketika saat tangan Sadam tiba-tiba merangkulnya. “Sepertinya anda menyakiti Jihan,” ujarku. Aku melihat tangannya mengeras di bahu Jihan. “Oh, kayanya lo peduli banget, ya sama cewek jalang ini? Lo mantannya, kan? Dandi Dwiatmojo desainer miskin yang melakukan pelarian ke Amerika?” Ya tuhan! Sepertinya pria ini tak memiliki etika sama sekali. Aku sedikit kesal dengan ucapannya, hanya saja itu tak menyulut Emosiku . Ia kemudian mengeluarkan rokoknya. Memantik api dan membiarkan asapnya mengepul. Aku melihat Jihan yang sedikit terbatuk. Namun ia tak memprotes apa-apa pada Sadam. “Nggak ada asbak, ya?” tanyanya entah pada siapa. Rahangku seketika mengeras. Tanganku tiba-tiba saja mengepal. “Sayang, pinjem tangan, dong?” ujarnya pada Jihan. Jihan menatap Sadam tak percaya. Mata sendunya sedang beradu tatap dengan mata mengerikan Sadam. Aku melihatnya menelan ludah dengan kasar. Apa maksud pria ini meminjam tangan Jihan? “Pinjem tangan!” hardiknya. Aku ikut terkaget dengan bentakannya barusan. Jadi seperti ini ia memperlakukan Jihan selama ini? Ragu-ragu Jihan menuruti perintah Sadam dan meletakkan tangannya di atas meja. Sehurus kemudian Sadam membuang abu rokoknya pada telapak tangan Jihan. Astaga, kali ini ia memancing emosiku. Aku menatap Jihan yang tak berani untuk bertindak. Tak lama rokoknya hampir habis. Melihat gelagatnya aku tahu apa yang akan ia lakukan setelahnya ia mengayunkan tangannya yang memegang puntung rokok ke arah telapak tangan Jihan. Seketika itu juga aku meletakkan tanganku di sana dan merasakan panas dari puntungnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD