Sembilan

1086 Words
Jihan Aku menutup mataku menanti kesakitan yang akan di berikan Sadam. Puntung rokok yang akan ia sulu ke telapak tanganku bukanlah pertama kalinya aku rasakan. Namun setelah beberapa saat menunggu, aku tak merasakan apapun. Aku membuka mata dan mendapati Sadam tengah membelalakkan matanya pada Dandi. Dandi pun tak kalah garangnya. Aku melihat ke arah tanganku dan mendapati tangan Dandi di sana yang mengahalangi. Sial. Masalah akan semakin besar. Sadar Sadam tak akan diam, aku segera memeluknya erat. “Maafkan aku, Dam. Maaf.” Aku tahu bahkan ini pun tak akan memudarkan emosinya. Aku mengambil puntung rokok dari tangan Sadam dan menyalakannya kembali. Tanganku gemetaran. Kemudian aku mematikan puntung rokok itu tepat di telapak tanganku. “Jihan!” teriak Dandi. “Sadam, pulang yuk,” ajakku. Aku melihat wajahnya menyeringai ke arah Dandi. Ia menang. Menang telak. “Yuk,” jawabnya santai. Ia mengacak-acak rambutku, “good girl,” ujarnya sambil tersenyum. “Aku tunggu kamu di mobil, ya.” Ia berjalan meninggalkanku dengan Dandi. Aku hanya bisa mengangguk. Aku tak mau terlihat memprihatinkan di depan Dandi. Sungguh ini membuatku malu. Aku menjatuhkan sandaranku oada sofa. Tanganku masih terasa nyeri dan panas. “Ji, kamu...” “Kamu bisa nggak sih nggak usah ikut campur sama urusanku?” Dandi benar-benar membuatku muak. “Tapi Sadam itu kejam, Ji. Kamu bisa lapor polisi. Itu namanya kekerasan!” Dandi masih tak mau kalah dengan argumennya. Aku memutar bola mataku. Aku muak. Capek. Dan nanti akan ada penyiksaan tambahan di rumah. “Lebih baik kamu tutup mulut kamu, atau kamu nggak akan bisa ketemu sama aku lagi!” Aku mengambil tasku dan segera beranjak dari Dandi. Aku memasuki mobil Sadam penuh rasa ketakutan. Ia masih tersenyum padaku walaupun kuyakini hatinya kini tengah berapi-api. “Kamu ngapain ke sini, Dam? Nanti ada wartawan liat bahaya loh,” ujarku melunak agar Sadam tak tersulut emosi. “Dasar jalang!” hardiknya. Itu adalah makian yang biasa aku dengar. Aku tak masalah dia menghardikku seperti itu jika ia tak macam-macam. “Maaf, Dam. Tapi aku nggak ngapa-ngapain sama Dandi. Tadi ada Raia, kok. Tapi dia ijin pamit duluan. Belum lama kok kami ngobrolnya.” Jelasku panjang lebar. Aku melihat rahangnya mengeras. Urat-urat lehernya terlihat menakutkan. PLAK! Tiba-tiba perih di pipiku menjadi. Luka semalam saja belum sembuh, sekarang di tambah lagi. Tuhan mengapa kau tak membiarkan aku mati saja? “Diam!” bentaknya. Aku mengikuti perintahnya. Sepanjang perjalanan aku tak berani untuk bersuara. Bahkan untuk bernafas pun harus hati-hati agar tak terdengar mendengus. Lima belas menit lamanya kami berdiam-diam di atas mobil. Tak lama, kami pun tiba di kediaman Sadam. Maksudku, rumah kami. Ya, Sadam dan aku memutuskan untuk membeli rumah sendiri untuk kami berdua. Saat Yuliana sedang di luar kota atau luar negri, Sadam memilih untjk tinggak di sini. Rumah ini Adalah rumah ternyaman bagiku. Setidaknya sebelum Sadam.bertindak begitu kasar padaku. Namun, kini keberadaannya menjadi tempat paling mengancam jiwa. Mungkin banyak yang bertanya-tanya mengapa aku masih bertahan dengan pria sebrengsek Sadam. Ada hak yang membuatku tak bisa lepas darinya. Yaitu ikatan kami. Aku merasakan cintanya saat ia dalam keadaan yang sangat baik. Sementara di saat seperti ini, aku tak merasakannya sama sekali. Ingin kabur? Tentu saja aku mau. Sangat mau. Hanya saja, ada sebuah ketakutan untukku meninggalkannya. “Bikinin gue makanan, gue laper!” hardiknya. Aku menangguk dan langsung berjalab menuju dapur. Aku membuatkannya sup bening lagi, sama seperti tadi pagi. Lima belas menit berlalu, aku menaruh makanan yang sudah tersaji di atas meja. “Dam, makanannya udah siap nih. Ayuk makan,” ajakku. Tak lama Sadam melangkahkan kakinya ke arahku. Ia duduk tepat di depanku. “Sini, duduk di sebelahku.” Ia meniup sup beningnya dan menyuapnya sendiri. Dengan ragu aku melangkah ke arahnya. Firasatku sudah mulai tak enak. Apa lagi yang akan ia lakukan sekarang? “Ak,” ujarnya. Oh oke, ternyata ia mencoba menyuapiku. Aku membuka mulutku lebar namun... Astaga ini panas! “Panas Dam!” jeritku. Aku tak sengaja memuntahkan brokoli ke atas meja. “Lo g****k ya buang-buang makanan?” Sadam segera mengambil sesendok lagi dan menyodorkannya ke mulutku tanpa meniupnya. “Panas, Dam..” air mata tiba-tiba jatuh dari pelupuk mataku. Aku terpaksa terus mengunyah sup panas itu dengan lidah yang ku yakin sudah terluka. Sadam mengambil semangkuk sup dan membuangnya tepat di atas pahaku. “Aaa!!!” jeritku. Aku ingin beridiri. Namun Sadam menahan bahuku agar aku tak berdiri. “Kalau lo berdiri, habis riwayat lo! Biarin sup ini dingin di paha lo! Mampus! Cuih!” Sadam meludahi kepalaku. Aku sudah seperti binatang di buatnya. Tuhan, apa ini karmaku karna meninggalkan Dandi dulu? *** Aku berjalan ke kamar mandi membersihkan badanku. Aku menghidupkan shower dan membiarkan air mengalir di tubuhku. Sejuk. Batinku. Air itu menyentuh pahaku yang memerah karena sup oanas tadi. Air di shower justru membuatnya memerih. Tapi tidak apa, Aaku menikmati perih ini. Lima belas menit berlalu, aku keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk. Aku terkejut saat mendapati Sadam sedang duduk di tepi tempat tidur sambil menatapku. Aku menundukkan pandamganku karena masih takut apa yang akan terjadi selanjutnya. “Kamu nggak pa-pa?” tanyanya. Astaga Sadam. Setelah berkali-kali kamu lukain aku kenapa kamu hanya bisa mengatakan hal itu? “Nggak, kok,” jawabku bohong. Aku kemudian membuka lemari dan mengambil pakain dalamku. Aku melucuti handukku di sana dan memakainnya perlahan menghindari luka bakar pada pahaku. Aku memperhatikan Sadam yang sepertinya di rundung rasa bersalah. Ya, aku yakin sepertinya sebentar lagi dia akan meminta maaf dan memohon seperti anak bayi. Ia akan merengek demi maaf dariku. Astaga, sampai kapan aku harus memaafkannya? Ia berjalan kearahku perlahan, “Ji,” ujarnya. Aku menoleh padanya tepat setelah aku memasukkan kepalaku pada leher baju kaus putihku yang longgar. Ia memelukku dari belakang dengan erat. Tepat! Seperti dugaanku. Ia pasti akan merengek meminta maaf padaku. “Ji, aku minta maaf ya? Aku tahu aku salah,”ujarnya. Aku mengusap-usap kepalanya dengan lembut. Aku selalu memaafkannya. Selalu. Selalu. Dan selalu. “Masih sore, nih. Nonton bareng yuk?” ajakku. “Nonton apa?” tanyanya. “Nonton film parasite. Kamu belum nonton, kan? Ituloh film yang menang oscar.” Jelasku. Ia mengangguk mengiyakan instruksiku. Belakangan ini Sadam memiliki banyak waktu luang. Entah apa yang terjadi, ia sangat jarang pergi syuting. Aku ingin menanyakannya, hanya saja keadaan mood nya yang tidak stabil membuatku enggan dan menahan-nahan diriku untuk bertanya. Dan juga, mengapa Yuliana begitu tak peka pada suaminya? Apa Sadam juga bertindak kasar pada Yuliana? Atau tindakan Sadam yang kasar padaku hanyalah pelampiasan semata karena ia tak dapat melakukannua pada Yuliana?. Entahlah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD