Dandi
Jihan. Jihan. Jihan. Dari tadi otakku hanya memikirkan wanita yang jelas-jelas tak akan bisa kumiliki lagi itu. Sadam begitu tempramen. Ia bahakan berani menyulut puntung rokoknya pada Jihan. Dan Jihan mengapa dengan bodohnya mau menerima semua perlakuan Sadam? Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah pernyataan Jihan yang mengatakan dirinya bahagia hanyalah untuk menutupi kesusahan yang sebenarnya. Entahlah. Aku benar-benar tak bisa berpikir Jernih.
Aku telah menyelesaikan beberapa sketsa gaun pengantin untuk istri James. Dan ia telah memilih yang terbaik. Besok aku akan melakukan fitting di rumahnya.
James adalah temanku. Aku bertemu dengannya di Amerika saat ia berkuliah di sana. Ia adalah seorang pengacara yang kini sudah terkenal hingga seantero Indonesia. Sejak pertemuan itu, kami menjalin hubungan baik.
Aku berpikir keras, bagaimana caranya agar Jihan mau membuka suara atas apa yang terjadi padanya. Aku tak mungkin hanya diam saja sementara ia terluka. Raia yang merupakan sahabatnya saja tidak tahu apa-apa tentang Jihan dan Sadam, apa lagi aku. Aku yakin Sadam telah merebut sesuatu yang berharga dari Jihan dan mengancamnya. Aku pikir Jihan cukup malu untuk mengungkapkannya padaku atau pada Raia.
Jalan satu-satunya adalah aku harus membuat Jihan kembali merasakan cinta padaku. Aku pun kadang tak mengerti, sebenarnya apakah aku masih mencintai Jihan, atau aku hanya sebatas memperdulikannya. Jihan adalah satu-satunha alasanku berjuang dulu. Tapi sekarang? Ah sudahlah.
***
"James, aku yakin kamu sahabatku. Aku harap kamu bis jaga rahasia ini, ya?" aku mencondongkan badanku ke arah James untuk meminta padanya.
"Kau ini macam tak kenal aku saja, ada apa? Besar kali masalah kau rupanya?" tanyanya lagi.
"Ini ada hubungannya dengan Jihan, James." aku kembali melongsorkan badanku pada sofa.
"Jihan? Wedding organizer aku itu bukan?"
Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.
"Kenapa dia rupanya?"
"Dia mantan aku, James." aku menundukkan pandanganku. Aku yakin saat ini James sedang membelalak kaget.
"Wih, paten jugak kau dapatin cewek kayak dia ya? Pantaslah kau paksa-paksa aku supaya dia jadi WO ku, ya?" James tergelak. Aku hanya bisa tertawa pahit.
"Ia sedang dalam masa sulit, James. Aku menolongnya karena aku tahu kamu akan membayarnya dengan besar. Kamu kenal Sadam Nayaka?" tanyaku.
James menaikkan satu alisnya berpikir, "Tahu aku, istrinya teman aku itu." James menyesap kopinya yang sudah mulai mendingin.
"Sadam itu pacarnya Jihan sekarang, James." aku menagkupkan wajahku pada telapak tanganku. Frustasi.
"Ah! Yang benar saja kau Dandi? Jangan main-main kau?" James begitu terkejut karena Sadam dari tampilan luarnya bukanlah pria seperti itu. Apa lagi hubungannya dengan Yuliana di depan media terluhat sangat baik.
"Aku serius, James. Makanya aku minta masukan dari kamu."
"Gak nyangka kali aku dia seperti itu. Masukan apa?"
"Jadi begini, James. Sadam dan Raia itu awalnya baik-baik saja. Seperti kekasih pada umumnya. Namun belakangan aku dengar dari Raia kalau Sadam gemar main tangan sama Jihan. Kemarin, di depan mataku, Sadam menyulut puntung rokoknya ke telapak tangan Jihan. Untung saja aku berhasil menghalanginya." jelasku panjang lebar pada James.
"Tinggal kau suruh sajalah Jihan pergi dari laki-laki itu. Kenapa rupanya?" James kaget, ia fak bisa berkata apa-apa lagi.
"Itu dia maslahnya. Jihan tak pernah mau melepas Sadam. Aku nggak tahu alasannya, James," ujarku.
James mengelus-elus dagunya yang tak gatal. Ia seperti berpikir.
"Aku yakin sepertinya dia di ancam sama Sadam," yakin James.
"Ancaman apa? Kan harusnya dia bisa lapor polisi, atau apa." aku benar-benar tak habis pikir. Jihan. Apa yang terjadi ladamu.
"Begini saja, cara satu-satunya kau harus melakukan pendekatan pada Jihan. Buat dia nyaman sama kau, gaet hatinya. Nanti perlahan-lahan ia akan cerita sama kau, itu Dan." James kembali menyesap kopinya.
Aku hanya mengangguk. Pikiran James sama denganku.
"Kalau masalah hukum, kau serahkan sajalah padaku. Aku akan membantumu semampuku, ya?" James menepuk-nepuk bahuku prihatin.
Drrtt.. Drrtt..
Aku merogoh sakuku dan mendapati telfon dari Raia.
"Angkatlah," tawar James.
Aku mengangkat ponselku dan meletakkannya di telinga kiriku.
"Hallo,"
"Iya, saya sendiri,"
"Raia? Iya benar,"
"Baik, saya segera kesana. Baik, dok, terima kasih."
Tutt tutt..
"Ha, kenapa lagi kau?" tanya James
"Raia, dia masuk ke rumah sakit, James. Dia pinsan lagi. Aku harus buru-buru."
"Mau ku antarkan saja?" tawar James.
"Nggak usah, kita beda arah. Aku naik taksi saja, James. Sebelumnya terima kasih," ujarku. Aku langsung melesat pergi meninggalkan James.
***
Aku memasuki ruangan yang di domknasi warna putih itu. Aku melihat seorang dokter dengan pakaian khasnya duduk di balik meja yang bertuliskan dr. Susanto. Kepalanya yang nyaris botak serta keriput yang menghiasi beberapa bagian wajahnya terlihat menandakan bahwa ia adalah orang yang serius.
"Anda walinya nona Raia?" tanyanya.
Aku mengangguk kemudian duduk di hadapannya tanpa di persilahkan. Aku yakin bahwa raut wajahku tak dapat membohongi siapapun karena aku memang segitu paniknya.
"Jadi, mbak Raia ini sudah setahun sering konsultasi kemari. Ia telah di diagnosis terkena leukimia. Kami mentarankan ia untuk segera kemotrapi, namun ia selalu menolaknya dengan alasan pekerjaan. Untuk saat ini, kami hanya memberikan obat-obatan yang dapat menahan sel kanker agar tak berjalan semakin bebas. Namun, sepertinya reaksk obat-obat otu sudah tak berpengaruh lagi pada tubuh mbak Raia sehingga sel kankernya semakin meluas." ia menjelaskannya dengan lanjang lebar. Aku hanya mengangguk, setidaknya aku sedikit paham dengan ucapannya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, dok?" tanyaku.
"Sebaiknya kita harus segera melakukan kemoterapi, tetapi kami meminta persetujuan wali. Mbak Raia ini selalu datang sendirian, karena anda kontak terakhir yang ia hubungi, maka kami memanggil anda ke sini."
Aku mengangguk, sekali lagi paham.
"Apa anda bersedia menjadi wali dari nona Raia? Sebelumnya apa status anda dengan mbak Raia?" tanyanya.
"Saya hanya temannya, dok. Tetapi Raia pun sudah tak memiliki sanak saudara lagi. Saya bersedia menjadi walinya." aku meyakinkan dokter itu agar Raia secepatnya di kemo.
"Baiklah, and harus menangani beberapa dokumen."
***
Aku melihat badannya yang lemas kini terbaring di atas kasur rumah sakit. Selang infus melekat di lengan kanannya serta selang pernapasan kini bersarang di hidungnya. Aku prihatin dengan pengorbanan yangbia lakukan untuk Jihan. Selama aku tak ada, Raia begitu bertanggung jawab atas hidup Jihan. Aku sedikit.kesal dengan Jihan yang tak tahu menahu dengan penyakit Raia. Namun dengan keadanya yang seperti saat ini pun, akan membuatnya semakin tersiksa jika tahu Raia sakit.
Perlahan mata Raia terbuka, ia langsung tersenyum saat ia memandang wajahku.
"Maaf ya aku jadi ngerepotin kamu," ujarnya.
Aku beringsut mendekatinya. Kemudian aku membelai rambutnya yang halus secara perlahan-lahan.
"Nggak perlu minta maaf, Rai. Aku janji akan selalu ada buat kamu dan Jihan. Maaf selama ini aku memilih kabur. Sehingga kalian menderita begini." aku menatap matanya yang sendu. Hatiku begitu teriris saat melihat air mata perlaham membasahi pipi Raia. Tuhan, segeralah selesaikan ujian ini.