Jihan
Nada hubung antara telepon ku dan Raia tersambung dari tadi. Namun tak ada jua respon darinya. Kemana anak ini? Aku pun beralih menelfon Dandi. Nihil. Kedua-duanya tak memberi jawaban. Pernikahan James sebentar lagi, kan? Sempat-sempatnya mereka pergi berkencan.
Apa? Sebentar, barusan aku mencemburui Raia? Tidak-tidak. Aku yakin otakku pasti sangat kacau. Aku tidak mungkin menrauh perasaan pada Dandi lagi. Aku punya Sadam, dan Sadam milikku. Aku tak akan mungkin menghianatinya walaupun bisa.
Jujur, sebenarnya aku telah lelah dengan hubunganku dan Sadam yang tak ada kepastian. Sadam semakin jauh bertindak kasar denganku. Sementara aku masih berstatus sebagai selirnya. Sudah kubilangkan? Ada hal yang membuatkubtak bisa jauh darinya. Ya, itu dia masalahnya.
Aku terus menghubungi Dandi.
"Hallo?" suara di ujung sana menyapaku. Hatiku sedikit senang. Ya, aku senang akhirnya Dandi mengangkat telfonku.
"Kamu sama Raia, Dan?" tanyaku.
"Tidak," ujarnya. Jantungku seakan ingin melompat saat ini. Senyum di sudut bibirku tak mampu terbendung.
"Siapa?" tiba-tiba suara Sadam memergokiku. Senyumku langsung memudar begitu saja.
"Ini mau nelfon Raia, Dam."
"Hallo?" ujar Dandi di seberang sana yang kemudian membuat satu akis Sadam naik.
"Tadi kata nelfon Raia. Kenapa suara cowok?!"
PLAK!
Sadam dengan santainya mengayunkan tangan kirinya tepat di pipi kananku.
"Kamu kenapa, Dam? Kenapa kamu kasar gini?!" aku menatap Sadam dengan tajam. Namun tatapannya lebih mengintimidasiku dan tentu saja membuatku takut.
"Lo yang buat diri lo semenyedihkan ini!" ia menarik rambutku. Aku tak tahu apakah telfonku dengan Dandi tadi sudah terputus atau belum. "Ikut gue!" hardiknya.
Dalam keadaan tak berdaya ini aku terpaksa mengikuti perintah Sadam. Ia membawaku masuk ke dalam mobilnya dengan kasar. Tak lama ia duduk di bagian kemudi dan segera menyalakan mobilnya.
"Dam, kita mau kemana?" tanyaku. Aku takut Sadam akan macam-macam padaku mengingat dirinya yang sedang di kontrol emosi.
"Gue cuma mau bawa lo ketemu temen gue. Pokoknya lo jangan banyak tingkah ntar!" jawabnya kasar.
Aku memutar-mutar otakku. Untuk apa Sadam membawaku bertemu temannya? Bukankah yang teman Sadam tahu Yuliana adalah satu-satunya wanita yang Sadam miliki. Astaga, permainan apa lagi ini.
"Dam tapi nanti kalau mbak Yuliana tahu gimana?" tanyaku setenang mungkin.
"Mereka nggak kenal Yuliana, udah lo tenang aja." sadam terus mengemudikan mobilnya dengan tenang.
Aku hanya bisa pasrah, entah apa yang akan ia lakukan padaku kali ini. Teman yang mana yang ia maksudkan, aku tak tahu.
***
Aku masuk pada sebuah lobi hotel yang bisa di bilang mewah. Arsitektur kuno serta banyaknya nuansa jepang memperlihatkan bahwa hotel ini milik orang asia. Tiang-tiang coklat yang besar menambah citra elegan pada hotel ini.
Aku mengekori Sadam yang berjalan lebih cepat dariku. Ia masuk ke dalam lift dan akupun mengikutinya. Akubtak memiliki pemikiran negatif sama sekali. Karena ku pikir Sadam hanya membawaku sebagai asistennya mungkin.
Tak lama, kami sampai pada sebuah ruangan. Ruangan itu bernuansa remang-remang. Wangi bunga mawar menyeruak saat pelayan membukakan pintu itu untuk kami. Waw. Indah. Sangat indah. Beberapa meja yang berbentuk bundar tersedia wine beserta gelasnya. Ini pertama kalinya aku mengikuti acara seperti ini. Tunggu dulu, bahkan orang-orang yang ada di dalamnyapun berwajah oriental. Waw!
Sadam duduk di sebuah meja yang kosong. Ia menatap layar ponselnya kosong. Entah apa yang ia pikirkan, aku masih takut untuk bertanya karena akan memperburuk keadaan nantinya. Tak lama dua orang pria berwajah oriental dengan setelan jas hitam mereka menghampiri kami. Sadam dengan senyumnya yang sedikit di paksakan menyambut mereka dan menjabat tangan mereka. Aku pun ikut berdiri dan menjabat tangan mereka. Mereka tersenyum c***l ke arahku. Yang tentu saja membuatku tak nyaman. Belum lagi jika Sadam menyadari tindakan mereka, Sadam akan ngamuk besar!
Dua orang ini asik berbincang-bincang dengam bahasa yng boleh ku tebak adalah bahasa jepang. Mereka lagi-lagi melirik ke arahku. Apa sebenarnya yang mereka bicarakan? Memperbincangkan aku? Yang benar saja. Tak lama, mereka yang sepertinya tak pandai berbahasa inggris, membawa Sadam untuk membicarakan sesuatu. Mereka meninggalkanku sendirian di meja. Aku kembali duduk dan menikmati wine yang tersedia di sana. Sebenarnya aku tak terlalu menyukai minuman ini, hanya saja setelah ku perhatikan tak ada minuman lain yang bisa menghapus dahagaku.
Setelah meminum satu gelas habis, aku merasakan kepalaku sedikit pening. Ah, aku tahu meminum ini adalah hal yang bodoh sebenarnya. Tapi tak apa, sebentar lagi aku dan Sadam pasti akan pulang. Di sela-sela penglihatanku yang sedikit memutar, aku melihat Sadam dan teman Jepangnya itu melirik-lirik ke arahku. Astaga tatapan c***l mereka itu sepertinya akan membuat Sadam naik pitam.
Tak lama mereka bertiga kembali menghampiriku. Aku melihat Sadam yang urat-urat lehernya menegang. Sudah kuduga, ia menjaga imej agar tak marah di hadapan rekannya saja.
"Mengapa kau malah minum?" tanyanya sedikit emosi.
"Aku haus, Dam. Nggak ada minuman lain." aku berdiri dan kemudian meraih tasku yang ada di atas meja.
"Kamu mau kemana?" tanyanya lagi. Ku lihat matanya memerah seperti menahan amarah.
"Pulang, aku ada kerjaan Dam. Urusan kamu udah selesai, kan?" aku memiringkan kepalau untuk melihat dua sosok pria itu yang berdiri di belakang Sadam lagi dengan tatapan yang menjijikkan.
"Belum, urusanku belum selesai. Kamu ikut mereka dulu, ya. Aku anterin kok. Nanti aku nyusul."
"Loh, kemana Dam?" aku mencondongkan wajahku ke arah Sadam, "mereka sepertinya punya niatan buruk, Dam. Tatapan mereka menggelikan," ujarku. Tiba-tiba bulu di kudukku merinding.
"Nggak, mereka baik, kok." Sadam langsung menggandengku dan berjalan mendahului mereka. Mereka pun mengekor di belakang. Masih dengan tatapan itu.
Kami pun tiba di salah satu kamar hotel. Otakku mulai merangsang adanya hal buruk yang akan terjadi. Namun saat ini Sadam ada bersamaku. Tak mungkin terjadi apa-apa.
Sadam membuka pintu kamar tersebut dan membawaku masuk. Dua orang pria tadi mengikuti kami. Aku duduk di sofa dan Sadam masih berdiri di hadapanku.
Drrtt.. Drrt... Ponsel Sadam berbunyi. Ia mengangkat dan memberi kode padaku untuk menunggu sebentar. Sadam melangkah keluar kamar. Namun dua orang pria itu malah menutup pintunya dan menguncinya
"Hey, apa-apaan kalian! Kekasihku masih diluar! Cepat buka pintunya lagi!" hardikku.
Mereka hanya tertawa menyeringai. Rasa takut mulai mengerumumi tubuhku saat salah seorang pria muali membuka dasi merahnya. Astaga. Sadam menjualku? Yang benar saja! Tiba-tiba aku panik. Aku merogoh celanaku dan aku baru ingat kalau ternyata ponselku ada bersama Sadam.
"Tolong!" pekikku. Mereka tetap saja mendekatiku. Pria berkeoala plontos sudah mulai membuka kemejanya. Astaga tuhan! Apa ini? Sadam mengapa kamu tega?!
Aku berlari menghindari mereka namun aku terjatuh tepat di kaki tempat tidur. Salah satu dari mereka menarik rambutku dan membawa tubuhku ke atas tempat tidur.
"Kumohon hentikan! Lepaskan!" pekikku.
"Tolong!" kataku.
Mereka hanya tertawa melihatku ketakutan. Sungguh ini mengerikan! Tuhan toling selamatkan aku. Pria yang badannya kekar mulai menghimpitku. Tangannya mulai mengerayami betis hingga pahaku. Di saat aku terfokus untuk mengawaskan tangannya, pria berkepala plontos malah mencoba mencumbui ku. Yang benar saja! Tuhan.
Sejurus kemudian otakku mengingat beberapa adegan dari film action. Aku mencoba menieukannya dengan memukulkan lututku pada kemaluan pria yang menindihku ini. Alhasil ia terpekik dan aku bisa lari. Saat aku mencoba membuka pintu, sial terkunci. Aku tak dapat menemukan kuncinya.
Plak!
Seorang pria dari arah belakang memukul kepalaku dengan keras. Aku sedikit terhuyung. Ia membalik badanku secara paksa dan kemudian memukulku tepat di sudut bibir. Apa? Aku bahkan tidak di perlakukan sebagai manusia lagi.
Ia kembali menarikku ke arah kasur. Namun aku terus meronta dan teriak walaupun aku tahu tak ada satupun yang mampu mendengarku.
"Berhenti!" suara berat seorang pria menghentikan aksi mereka untuk menyetubuhiku. Aku pun tiba-tiba berhenti teriak dan dan hanya nafasku yang tersengal yang terdengar sekarang.
Aku membulatkan mataku tak percaya melihat siapa yang datang. Oh tuhan terimakasih.
***