Dua belas

1122 Words
Dandi Aku masih menatap Raia dengan iba. Aku masih benar-benar terpukul dengan keadaan Raia saat ini. Wajahnya yang pucat serta tulang pipi yang mencuat menambah rasa prihatinku pada wanita ini. Drrtt.. Drrtt.. Ponselku berbunyi. Aku melihat nama Jihan tertera di layar. Aku segera mengusap layar ponselku untuk menjawab telfon darinya. "Hallo?" sapaku pelan sambil melirik ke arah Raia takut ia terganggu. Namun beberapa saat menunggu, aku tak.mendengar suara Jihan dari seberang sana. "Hallo?" kataku lagi. Tak lama aku mendengar suara seorang pria sayup-sayup tengah berkata-kata pada Jihan. Oh astaga sepertinya Jihan bertengkar lagi. Aku berniat untuk menyudahi telpon itu, namun tangan dingin Raia mencegatku melakukannya. "Dengerin dulu, Dan. Aku takut Jihan kenapa-napa." aku memperbesar volume telfonku agar Raia ikut mendengarnya. Tak.jelas apa yang mereka bicarakan, namun di situ terdengar suara Jihan lirih. Aku membiarkan ponselku terletak di atas kepala Raia dengan telfon yang masih tersambung dengan Jihan agar tahu apa sebenarnya yang terjadi. Bukannya ingin menguping, seperti yang di bilang Raia tadi, takut hal yang tak diinginkan terjadi pada Jihan. "Jadi mau sampai kapan kamu merahasiakan penyakit kamu dari Jihan?" tanyaku. "Sampai aku sembuh, lah. Pokoknya aku nggak mau Jihan ikut terbebani." Raia mengalihkan wajahnya dariku. Raut sendu terlukis di sana menandakan kesedihan. Entah karena ia berbohong pada Raia, atau karena ia tak bisa berbagi cerita lagi pada Jihan. Aku hanya pasrah. Pikiranku kembali bercabang karena memikirkan pernikahan James yang tak kunjung ku selesaikan juga. Masalah demi masalah dengan sigapnya selalu menghampiri kami bertiga. Aku bertanya-tanya, di mana salahnya? Sejak Aku memutuskan menerima tawaran Raia? Atau sejak Jihan memilih menghianatiku? Tuhan aku mohon secepatnya cabut masalah kami. "Permisi," seorang dokter beserta asistemmya datang masuk ke ruangan kami. Aku segera berdiri dan menyambutnya. "Kami akan melakukan beberapa pemeriksaan pada nyonya Raia, mohon izin sebentar," senyum dokter itu ramah. Aku hanya mempersilahkan mereka dan mundur beberapa langkah saat dokter itu mulai mendekat. "Sudah ada temannya sekarang ya, Rai?" tanya dokter itu sambil melihat-lihat cairan ifus yang terpasang pada nadi Raia. Raia hanya tersenyum malu. "Memangnya sudah lama Raia sering ke sini dok?" tanyaku penasaran. "Dulu sering, dan selalu sendiri," jawab dokter itu. "Anda temannya Raia?" "Iya, dok. Saya sudah lama tidak berhubungan dengannya. Saya nggak tahu kalau pemyakit dia separah ini." aku melihat wajah Raia yang seperti malu-malu saat di ceritakan keburukannya. Dokter itupun hanya tergelak melihat gelagat dari Raia. "Raia, kamu harus rutin minum obat, ya? Nggak boleh putus. Untuk sementara kamu belum boleh pulang. Kamunharus istirahat di sini sampai waktu yang belum di tentukan. Jika kondisimu memburuk, saya terpaksa harus melakukan kemoterapi," jelas dokter itu. Raia hanya mengangguk-angguk. Ku lihat tatapannya semakin sendu dan jauh menerawang. Jika boleh ku tebak sepertinya ia memikirkan tentang bagaimana nasib Jihan. Tak lama dokter itupun keluar dan memberi senyum sopannya padaku. Aku kembali pada Raia dan mencobawnguatkannya. "Tenang, Rai. Jihan aman sama aku." aku menggemggam tangannya erat. Raia tersedu, aku mengelus rambutnya pelan. Menguatkan. Tiba-tiba pandangan kami berdua teralihkan pada ponselku yang masih terhubung dengan Jihan. Namun kali ini kami mendengar teriakan-teriakan Jihan. "Dan, cepat kejar Jihan!" wajah panik Jihan membuatku ikut panik. "Tapi kemana Rai?" tanyaku. "Lacak nomornya, Dan!"  Astaga, Raia benar. Bodohnya aku saat tak tahu harus apa di saat panik seperti ini. Aku merampas ponselku dan segera berlari meninggalkan Raia sendirian. Setibanya di parkiran, aku segera menaiki mobilku dan menjalankan aplikasi pelacak sebagaimana yang pernah di tunjukkan James. Aku menyalakan mobil dan langsung mengendarainya dengan tergesa-gesa. *** Aku terus melajukan mobilku, namun daya ponselku melemah! Sial! Aku tak menyadarinya dan chargerku tinggal di rumah sakit di dalam tas! Astaga! GPS-ku menunjukkan titik lokasi pada sebuah hotel. Dan damn! Ponselku mati tepat saat aku baru memasuki tempat larkir hotel tersebut. Aku bingung harus apa. Jika Raia dan Sadam bertengkar di sini justru akan mempermalukan mereka sendiri. Aku memutuskan untuk mengecek saja ke dalam. Saat aku memasuki kawasan lobi hotel, aku melihat Sadam dengan setelan casualnya berjalan keluar hotel dan tan Jihan. Jadi di mana Jihan? Aku berlari dan menemui resepsionis. "Ada kamar atas nama Arkadewi Jihani?" tanyaku tergesa-gesa. "Selamat datang, sebentar kami akan cek di sistem kami ya, pak." resepsionis itu segera mengetik nama yang aku sebutkan tadi. Jantungku berdegup sangat cepat khawatir hal sangat buruk terjadi pada Jihan. "Maaf bapak, tidak ada." ujarnya. Aku kembali berpikir, kemudian menerka-nerka apakah nama Sadam ada di daftar mereka atau tidak. "Bagaimana dengan Sadam?" desakku. "Sadam apa bapak?" tanyanya. Ah sial, aku tak tahu nama lengkap Sadam. Aku kembali melirik ke arah pintu hotel dan ku dapati Sadam masih di sana. Tak lama ia kembali masuk dan masih dengan ponsel yang melekat di telinganya. Aku memutuskan untuk mengikutinya diam-diam. Saat di lorong, aku mendapatinya sedang mengobrol dengan seorang wanita. Tak jelas siapa yang pasti perawakannya seperti tak asing di mataku. Namun ada yang aneh, saat dengan wanita ini Sadam tak seperti biasanya. Dari rautnya ia jelas ketakutan dan sangat tunduk. Namun aku segera mengabaikannya karena fokusku saat ini adalah Jihan. Sesaat kemudian Sadam pergi mengikuti wanita itu. Aku segera mengikuti mereka. Namun saat aku berada tepat di depan kamar yang mereka berdiri di sana tadi, aku melihat sebuah kartu terjatuh. Sepertinya itunadalah kartu untuk membuka pintu ini. Tak suara yang grasak grusuk terdengar samar dari dalam. Apakah Jihan ada di dalam? Aku segera mengambil kartu itu. Tanpa berpikir panjang aku membuka pintu itu dan segera masuk ke dalam. Seketika tubuhku kaku. Darahku memuncak hingga ke kepala. Ruangan yang gelap itu terasa sangat mencekam saat ku lihat Jihan tengah melindungi dirinya sebisa mungkin yang ia mampu dari p****************g. Entah dasar keberanian apa yang menghantuiku aku memikih untuk menghantam pundak mereka dengan bangku yangbterletak tepat di sebelah bofet lampu hias. Salah satu dari mereka menatapku tajam dan hendak menerkamku juga. "Berheti atau aku telfon polisi!" hardikku. Mereka terpaku terdiam sebentar. Dari wajah mereka aku yakin mereka bukan warga Indonesia. Hanya saja sepertinya mereka mengerti apa maksudku. Mereka memilih menjauhi Jihan dam segera merapikan pakaian mereka. Aku berjalan kearah Jihan. Badannya panas dingin. Aku segera melepas jaketku dan membungkuskannya pada Jihan segera. Aku membawa ia pergi dari ruangan itu. *** "Tarima kasih," ucapnya. Aku hanya diam. Pertanyaan demi pertanyaan melintas di benakku namun aku masih belum bisa menanyakannya menhingat Jihan yang pasti juga bingung kenapa dia ada di sana. "Kamu tahu dari mana aku di sana?" tanyanya. Aku melirik sekikas ke arahnya. Tunggu, jadi dia tidak mematikan telfonnya dan tidak tahu sama sekali tentang hal itu? "Dari ponsel kamu. Tadi kan kamu nelfon aku," Jihan mengangguk, tapi telfonku sama Sadam sejak di rumah tadi," Kami sama-sama memandang. Jihan segera mengambil tasnya yang berada di kursi belakang. Ia mengobrak-abrik tasnya dan mendapati handphonenya pada dasar tasnya. "Kapan Sadam masukin ini ke tas aku?" Aku mengedikkan bahuku tanda tak tahu, dan tak mau peduli. Yang penting bagiku Jihan selamat. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD