Jihan
Urusan James selesai, sekarang hanya tinggal megurusi anggota yang lain agar segera mempersiapkan semuanya. Pernikahan James tidak boleh ada kekacauan, sedikit pun. Aku sudah membooking semua yang perlu ku booking. Ya, memang begitu tugasku.
Aku melihat Dandi yang masih asik menoreh-menoreh pensilnya pada kertas. Sebuah gaun pengantin terlukis di sana dan terlihat sangat indah walaupun hanya terbuat dari pensil. Dandi begitu telaten mengurusi detil-detil dari gaun. Di sudut d**a sebelah kiri, ia seperti memberi aksen manik-manik pada gaunnya. Sementara pada bagian gown, ia memilih mengguaksen renda pada bagian bawah dan polos di atas. Terlihat classy.
"Sudah selesai?" tanyaku.
"Belum, tapi ini tidak begitu penting. Gaun dan jas James kan sudah siap," ujarnya. Ia segera merapikan kertas-kertasnya dan menaruh pensil pada tempatnya.
"Aku ngantuk, aku pinjem selimut sama bantal ya," ujarku sambil memberi wajah memelas.
"Untuk apa?"
"Untuk tidur lah Dandi, untuk apa lagi?"
"Iya tapi kenapa harus minjam? Kamu mau tidur di luar?" tanyanya.
Aku menaikkan sebelah alisku. Ragu. "Terus di mana lagi?"
"Ya kamu tidur di kamarku lah Ji, aku tidur di sofa." Dandi kemudian berjalan keluar dari ruangannya. Ia meregangkan bahunya dengan leluasa.
"Aku yang numpang kok Dan, masak kamu yang di sofa?" aku mengikutinya dari belakang.
"Kamu itu gampang masuk angin, mending tidur di dalem aja, ya? Selimutnya tebal." Ia kemudian mengunci kembali ruang kerjanya. Ia kemudian berjalan ke kamarnya.
Dandi membuka pintu kamarnya dan menghidupkan lampu. Kemudian ia duduk di atas tempat tidurnya. Aku pun duduk di tepat di sebelahnya.
"Udah lama ya nggak di kondisi seperti ini?" ujarku.
Dandi hanya mengangguk dan kemudian menghela nafas berat, "Sampai detik ini, aku masih butuh penjelasan kamu, Ji. Kenapa kamu ninggalin aku?"
Aku terdiam dengan pertanyaannya. Ia msih menatapku tanpa enggan. Suasana menjadi sangat canggung, bukan tak mau menjawab, tapi aku belum.nisa mengatakannya sekarang. Aku tidak mau Dandi berpikiran jelek tentangku walaupun sebenarnya memang sudah jelek.
"Sudahlah, lupakan." Dandi mengambil bantal dan selimut tipis yang terletak di belakangku. Ia kemudian berjalan keluar kamar.
"Dan?" panggilku. Ia menoleh kebelakang."Di sini saja, aku kangen." Aku tahu mulut ini selalu tak sinkron dengan hati. Entah mengapa mereka sedang beradu pendapat kini. Aku tahu yang aku lakukan salah, atau mungkin Dandi kini sedang menertawakan kelemahanku?
Ia menatapku dalam diam. Lima detik berlalu, sepuluh detik, dan lima belas detik kemudian ia berjalan dan duduk di sebelahku kembali.
"Sama," ujarnya sambil menatapku. Astaga. Entah mengapa hatiku begitu senang saat ia menyatakan perasaan yang sama denganku. Ia kemudian mendekatkan wajahnya padaku. Jarak kami semakin dekat hingga puncak hidungku merasakan deru nafasnya. Sepersekian detik otakku memerintahkan untuk mundur, namun hatiku memaksa untuk maju. Dan akhirnya aku memilih hatiku untuk memenangkan pergelutan batin ini.
Ia menangkup bibirku dengan bibirnya dengan lembut. Aku membalasnya dengan perlahan saat bibirnya menyentuhku. Tak lama tangannya mulai meraba pipiku. Menahannya serta mendorongnya lebih dalam. Jantungku benar-benar berdebar saat ini. Sensai yang di beri Dandi adalah sensasi yang sudah lama tak ku dapatkan. Aku merindukannya, bemar-benar merindukannya.
***
Cahaya mentari pagi membuatku terbangun. Dekapan berat dari punggungku masih terasa berat. Aku menoleh kebelakang dan mendapati Dandi masih tertidur pulas. Aku mengelus pipinya tak percaya, tak percaya bahwa aku bersama dirinya lagi. Namun bayangan Sadam masih membekas di benakku. Tuhan! Bantu aku memilih dua lelaki ini!
Tunggu dulu, aoa maksudnya memilih? Bukankah Raia juga menyukai Dandi? Dan bukankah mereka ada hubungan? Astaga! Apa aku telah menghianati Raia?
Aku melihat tubuh Dandi yang menggeliat sedikit. Ia menyipitkan matanya yang terkena sinar matahari. "Kamu kenapa Ji?" ia ikut mendudukkan badannya di sebelahku. Ekspresiku pasti tak bisa ditutupi, wajah gusarku sangat mudah di tebak orang.
"Aku, kepikiran sesuatu, Dan." aku menatap mata lelaki itu lekat-lekat.
"Kepikiran apa? Ada sesuatu terjadi?" tanyanya.
Aku menggeleng, "Aku cuma kepikiran Raia," ujarku. Aku kemudian menagkupkan dua telapak tanganku pada wajah menutupi ekspresi kesal.
"Kenapa dengan Raia?"
"Aku lupa kalau kamu udah jadian sama dia, dan aku sekarang menghianati sahabtku, Dan!" aku masih enggan menatap Dandi. Aku yakin aku adalah wanita paling munafik di dunia.
"Jadi menurut kamu aku sama Raia pacaran?" tanyanya. Aku menegakkan wajahku dan melihat ekspresinya seperti terkejut, tidak, seperti berbinar.
"Lalu apa? Kenapa kamu telfon Raia sembunyi-sembunyi? Terus kenapa kamu cium Raia waktu itu? Kenapa juga kamu seperhatian itu sama Raia?" cercaku. Oertanyaan-pertanyaan yang selama ini kusimpan akhirnya kutanyakan walaupun aku takut-takut dengan jawaban Dandi.
"Kamu ini memang, ya? Kebiasaan negatif thingking." Dandi kembali membaringkan badannya. "Jadi, intinya kamu cemburu." ia melirikku dengan senyum jahilnya. Iya memang aku cemburu, lantas mengapa?
"Dandi, aku serius," kilahku.
Ia semakin tergelak, "Aku juga serius Ji," ia kemudian melipatkan tangannya kebelakang kepala dan menerawang jauh menatap plafon kamarnya. "Aku sama Raia nggak ada hubungan apa-apa, Ji. Yang kamu sangka aku cium Raia, itu salah besar. Gara-gara kamu bilang itu ke Raia, besoknya dia malah ajak aku ketemuan dan nampar aku." Dandi lagi-lagi tergrlak. Aku membesarkan pupilku tak percaya. Mengapa Raia menamparnya? Apa ia semarah itu?
"Tampar?"
"Iya, Ji. Di depan umum lagi. Aduh, malu." ia menggelengkan kepalanya sambil tergelak.
"Lalu, mengapa kamu perhatian sama Raia?"
"Aku nggak ngerti perhatian seperti apa yang kamu maksud, yang jelas aku hanya merasa panik sat itu." benar, Dandi memang seseorang yang gampang panik. Dan aku dengan bodohnya malah menaruh curiga yang tidak-tidak.
"Menelfon diam-diam?" tanyaku lagi.
"Menelfon siapa? Raia?" tanyanya. Aku mengangguk. "Aku nggak pernah nelfon Raia sembunyi-sembunyi, mungkin saja aku sedang tidak ingin berbicara di dekatmu waktu itu. Yang pasti bukan Raia," jelasnya.
Entah mengapa hatiku merasakan kelegaan yang cukup signifikan dari sebelumnya. Aku merasa senang sekali saat ini. Aku tahu perasaanku pada Dandi belum hilang sepenuhnya. Ya tuhan, betapa meunafiknya aku ini?
***