Dandi
Ia menatap padaku tidak percaya. Aku tahu permintaanku barusan adalah hal yang sangat aneh, namun ini adalah satu-satunya cara agar Jihan bisa menceritakan kisahnya selama ini padaku. Tak lain tak bukan untuk menyelamatkannya dari jeratan Sadam. Dan juga agar Raia bisa tenang untuk menjalani pengobatannya.
Sial, lagi-lagi Raia.
"Maksud kamu?" tanyanya.
Aku terdiam sejenak, sebenarnya perasaanku pada Jihan tidak sepenuhnya masih cinta. Aku hanya terjebak pada masa lalu sepertinya. Ah, tidak aku mencintainya. Astaga, bahkan aku tak paham bagaimana perasaanku pada Jihan yang sebenarnya. Apakah aku memang mencintai dia, atau karena aku lebih tertarik dengan kalimat 'demi Raia'.
"Aku mau kita ulang semuanya dari awal. Aku sayang kamu, dan kamu sayang aku. Kita cuma di pisahkan oleh Sadam yang entah apa alasannya kamu nggak bisa ninggalin dia." aku menghela nafas sebentar, "Aku masih terjebak dengan kenangan kita, Ji."
Mata Jihan kulihat berkaca-kaca. Aku mengerti kebimbangan yang ia rasakan, apakah aku terlalu egois untuk memaksakan perasaanku? Atau lagi-lagi 'demi Raia'?
"Aku juga masih terjebak, Dan kita sama. Hanya saja aku nggak bis paham sama perasaan aku. Jujur, sampai detik ini aku masih memikirkan Sadam." ujarnya.
"Aku mengerti, Jihan. Maka dari itu aku ingin kamu tetap bersamaku tanpa sepengetahuan Sadam. Ku mohon."
Wanita itu mengangguk dan kemudian memelukku tiba-tiba. Tubuhnya yang masih belum di balut benang sehelai pun membuatku sedikit naik birahi. Hanya saja aku bisa menahannya.
"Maafin aku, Dan. Karena aku kita jadi terjebak di hubungan yang sulit ini. Seandainya aku nggak pernah ninggalin kamu, aku yakin aku dan kamu sama-sama bahagia, Dan."
Aku mengelus-elus rambutnya untuk menenangkan.
***
Jam sudah menunjukkan pukul delapan tepat. Sudah saatnya hari ini aku temui Raia dan melihat bagaimana keadaannya. Jujur saja, di kondisi saat ini sangat sulit bagiku untuk membagi waktu antara Raia dan Jihan. Dua-duanya sama penting bagiku yang bahkan perasaanku sendiri bingung di buatnya. Aku hanya bisa menggeleng pasrah saat mengetahui keadaan ini.
"Ji, aku ada urusan keluar sebentar. Kamu di rumah aja, ya?" aku memasang arlojiku sementara Jihan sedang membaca buku di atas kasurnya.
"Kemana?" tanyanya.
"Ketemu klien," jawabku bohong. Entah sudah yang keberapa kalinya aku berbohong pada Jihan. Dan dia tak pernah menaruh curiga padaku. Dulu aku bahkan tak pernah bisa menyembunyikan kebohonganku pada Jihan, ia akan selalu tahu bahwa aku sedang berbohong. Namun kini, entah aku yang ulung bersikat lidah, Jihan selalu mempercayaiku.
Kepalanya mengangguk mengiyakan. Aku mengambil kunci mobil dan segera melesat keluar kamar. Aku mendengar suara langkah kaki Jihan mengikutiku dari belakang.
"Nanti kalau mau makan, kamu delivery aja, ya? Aku nggak sempat masak." aku memasang sepatuku di atas sofa.
"Bahan-bahan kamu masih banyak loh di kulkas. Sepertinya aku akn masak saja. Kamu pulang jam berapa?" tanyanya.
"Mungkin sore, Ji." aku berdiri dan kemudian mengusap-usap kepala Jihan.
"Oke, kalau gitu nanti kita makan malam bareng, ya? Aku akan menceritakan semuanya sama kamu." ia mendongak menatapku.
"Kamu udah siap mau cerita? Yakin?" tanyaku.
"Hm," angguknya. Tatapan terlihat penuh keyakinan.
"Kalau begitu, aku berangkat dulu ya, Ji. Kalau ada apa-apa cepat telfon aku."
Lagi-lagi Jihan hanya mengangguk. Aku melangkah keluar rumah dan menaiki mobil.
***
"Gimana keadaan kamu sekarang, Rai?" tanyaku.
"Membaik kurasa," jawabnya. Senyumnya kecut seperti sedang menahan kesakitan. Rambutnya yang dulu hitam legam dan lebat, kini menipis. Ruam-ruam pada pipinya bersemu dan memperlihatkan urat-urat kecil pada pipinya. Matanya sembab dan terlihat mencuat. Kantung hitam matanya menandakan betapa sulitnya keadaan ia selama ini. Belum lagi kulitnya yang putih pucat dan bibir kering kerontang.
"Syukurlah. Kamu harus segera sembuh, Rai. Kami semua membutuhkan kamu." aku mengelus kepalanya . Astaga, rambutnya sangat tipis, bahkan lebih tipis dari yang kuduga.
"Bagaimana Jihan?" tanyanya.
"Ia bersedia akan bercerita padaku nanti malam sambil kami makan malam."
"Dia masih sama kamu, Dan? Di rumah kamu?" tanyanya.
Aku mengangguk, "Ya, begitulah." aku jadi teringat kejadian tadi malam. Aku merasa tak tega memberitahukannya pada Raia takut ia akan kecewa. Padahal Raia pun ku pikir tak menaruh perasaan apa-apa padaku. Tetapi entah mengapa aku takut mengecewakannya.
"Aku minta kamu jaga sia terus ya, Dan? Aku nggak mau kalau Jihan kembali ke tangan Sadam. Aku nggak bisa bayangin akan jadi apa dia."
"Kamu jangab pikirin Jihan dulu. Selagi ada aku, semuanya aman, termasuk Jihan. Aku juga minta untuk kamu fokus saja sama kesehatan kamu."
Aku benar-benar miris dengan keadaan ini. Jihan dengan masalah hidupnya, Raia dengan penyakitnya, dan aku yang bimbang dengan perasaanku. Astaga tuhan, tolong biarkan badai ini cepat berlalu. Ku mohon. Aku tidak sanggup melihat dua wanita ini harus menderita. Aku tahu ada keputusan salah yang pernah mereka perbuat dahulu. Tetapi membiarkan mereka hidup tenang beberapa saat bukankah lebih baik?
Setelah membesuk Raia, aku memutuskan untuk bertemu James dan membicarakan banyak hal padanya. Aku yakin dia pasti bisa membantu.
"Rai, kalau ada apa-apa, kamu langsung kasih kabar, ya? Perawat yang di sana juga sudah ku kasih nomorku supaya gampang nantinya hubungi aku."
Raia hanya mengangguk lesu. Aku benar-benar iba dengan keadaannya saat ini.
***
"Makanan siap," ujar Jihan dengan senyum sumringahnya. Aku melihat raut berbinarnya saat menyajikan opor ayam kesukaanku beserta sayur toge. Wanginya benar-benar menggugah selera.
"Terima kasih, aku udah laper banget, Ji. Udah kangen sama masakan kamu." aku langsung mengambil piring dan menyantap hidangan yang sudah di sediakan Jihan. "Kamu nggak makan?" tanyaku.
Ia kemudian segera menganbil piring juga dan menyendok nasi ke dalam piringnya.
"Kamu jadi kan bakal cerita semuanya sama aku?" tanyaku.
Jihan yang masih menatap piringnya kulihat mengangguk sendu.
"Kalau kamu bekum siap, jangan di paksain,"
"Nggak, aku siap kok, Dan.. Cuma.. Habisin dulu, ya nasinya. Baru kita cerita." Jihan menatap piring nasinya dengan nanar. Ku yakin ia pasti nerasa sedih harus menceritakan semuanya.
***
Kami pun sudah selesai makan, semua peralatan makan sudah beres dan aku menunggu Jihan di sofa. Ia kemudian datang dan duduk di sebelahku. "Udah siap denger cerita sejarah?" gelaknya.
Aku ikut terkekeh. Aku yakin ia sedang menghibur dirinya sendiri.
"Aku mulai dari mana ya ngomongnya? Aku bingung."
"Kamu pelan-pelan aja. Ceritakan semuanya dari awal, Ji." ujarku.
Ia menarik nafasnya dalam, "sebenarnya semua bermula saat aku mengurusi pernikahannya Sadam, Dan." ia menunduk. Aku tak akan menyela sedikit pun.
"Lalu, semuanya berjalan begitu cepat, aku nggak sadar kapan tepatnya aku jatuh cinta dan mulai nyaman sama dia." Jihan masih menundukkan pandangannya.
"Saat itu, aku dan Sadam sering makan bareng, jalan bareng tanpa sepengetahuan kamu dan istrinya. Aku nggak sadar kalau saat itu aku salah. Yang aku tahu, aku hanya menjalan kan apa yang hati aku ingin perbuat."
[Falshback]