Namun, saat menjalankan aksinya. Zavier melonjak kaget karena tiba-tiba Namira membuka mata. Padahal dia ingin menikmatinya lebih lama lagi, sayang sekali Namira sudah mendelik tajam melihat pria asing mengungkung tubuhnya dengan tatapan menjijikan.
"Apa–apaan kamu pria br*ngsek?!" Namira menyingkirkan pria itu dari atas tubuhnya secara kasar.
Zavier merasa bersalah. "Maafkan aku. Aku sama sekali tidak bermaksud melakukan itu padamu."
"Lalu apa yang baru kamu lakukan tadi, hah. Apa kamu ingin memp*rk*saku?!"
"Bukan begitu. Aku tidak berniat memp*rkosamu. Aku hanya ingin mencicipi bibirmu. Mmm, maksudku bukan begitu, aku hanya ingin kamu—"
"Mencicipi bibirku? maksudmu apa hah?!" sarkas Namira menatap tajam pada pria yang mundur beberapa langkah darinya itu.
Namun, pada detik berikutnya tatapan Namira melemah. Dia tersadar akan posisinya ada di mana, ruangan yang sangat asing, kamar luas mewah dan aroma wangi yang menyeruak, semua barang mahal yang ada di sana itu adalah bukan kamarnya.
"Tunggu dulu, aku ada di mana? Ini bukan kamarku?!"
Namira teringat terakhir kali masih ada di rumahnya di desa dan melepas kepergian ibunya yang dibawa petugas rumah sakit menaiki ambulans. Dia juga ingat seorang pria menghalanginya dan memaksanya masuk ke dalam mobil. Lalu setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.
"Kamu menculikku?!" Hardik Namira langsung menunjuk pria itu.
"Aku tidak menculikmu. Aku melakukannya dengan persetujuan ayahmu," kata pria itu.
"Ayahku?" Namira memasang wajah bingung.
"Ya, Ayahmu. Aku menjemputmu karena aku sudah meminta ijin pada Ayahmu. Apa dia tidak menjelaskan semua itu?"
"Menjelaskan apa?"
"Aku mengirim orang untuk menjemput ibumu dan membawanya ke rumah sakit agar mendapatkan pengobatan yang layak dan kamu harus ikut denganku untuk menebus semuanya, apa dia tidak menjelaskan seperti itu?"
Namira menggelengkan kepalanya lemah kemudian dengan tatapan tidak suka dia kembali bertanya pada si pria. "Memangnya, kamu siapa. Kenapa kamu peduli padaku?"
"Aku Zavier, majikan Ayahmu. Perlu kamu tahu kalo dia sudah membuat kesepakatan denganku untuk menyerahkan kamu. Sebagai imbalan aku akan menanggung biaya perawatan ibumu sampai dia sembuh. Selian itu, aku juga memberikan modal usaha pada ayahmu senilai satu milyar karena dia ingin pulang ke desa dan membuka usaha di sana."
"Apa? Jadi ayah sudah menjualku padamu?" kesal Namira, kedua tangannya memukul ranjang. Air matanya perlahan luruh berjatuhan dan sekarang dia merasa sangat hina karena sudah dijual pada pria asing oleh ayahnya.
"Sebenarnya, aku yang meminta kamu datang ke sini. Aku sangat menginginkanmu karena aku merasa kamu mirip sekali dengan istriku yang telah tiada." Pria itu kembali berbicara.
"Apa yang kamu sebenarnya inginkan dariku?!" Namira kembali bertanya dengan tatapan tidak suka.
"Aku akan menikahimu karena aku sangat membutuhkanmu," jawab pria itu.
"Apa?!" Kedua mata Namira membola. Bagaimana bisa pria asing yang baru bertemu dengannya itu tiba-tiba ingin menjadi suaminya?
"Apa kamu sudah gila?! Aku sama sekali tidak mengenalmu bagaimana mungkin aku akan menikah denganmu!" Tolak Namira dengan sedikit jumawa.
Namun, pria itu tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya berlutut di tepi ranjang menggenggam tangan Namira. Pria itu juga memasang wajah iba. Sementara Namira sendiri bingung dengan sikapnya.
"Menikahlah denganku, Namira. Jadilah pengganti istriku, aku sangat membutuhkanmu," pintanya menatap penuh harap pada Namira.
"Tidak. Aku tidak akan menikah denganmu!" tolak Namira dengan tegas.
"Kenapa? Bukankah ayahmu sudah menerima uang dariku dan ibumu juga sudah mendapatkan perawatan di rumah sakit terbaik atas bantuanku? Apa kamu ingin mengecewakanku?!" Balas pria itu.
Tatapan dan nada bicaranya berubah kasar menandakan jika dia tidak suka dengan jawaban Namira barusan.
"Aku tidak pernah memintamu melakukan itu. Aku juga tidak pernah menyetujui perjanjian apapun denganmu. Jadi aku tidak peduli dengan ucapanmu, itu."
"Oh ..., baiklah jika kamu menolak. Aku akan meminta orang-orangku untuk menghabisi nyawa ibumu!"
Namira terkesikap mendengarnya.
Sementara pria itu bangkit dari posisinya, dengan cepat salah satu tangannya merogoh ponsel di saku celana dan menghubungi seseorang. Detik berikutnya memberikan perintah untuk mencabut alat bantu yang terpasang di tubuh ibu Namira dan sengaja memperlihatkan videonya pada Namira.
Namira bisa melihat dengan jelas melalui layar ponsel pintar milik si pria bagaimana orang yang berjaga di ruangan ibunya bisa melakukan perintah pria itu dengan mudah, mencabut alat bantu pernapasan sehingga Namira melihat dengan jelas ibunya tersengal-sengal. Namira pun sangat ketakutan, dia tidak ingin ibunya meregang nyawa sekarang.
"Tidak! Jangan! Aku mohon jangan lakukan apapun padanya!" Namira ketakutan.
"Berhentilah menyakiti dia, aku mohon jangan lakukan apapun padanya!" sambung Namira dengan wajah iba.
Zavier menyunggingkan senyum liciknya dan kemudian berkata, "Kalau seperti itu menikahlah denganku. Stelah itu aku akan menjamin keselamatan ibumu!"
Namira yang sudah menangis sesenggukan itu tidak bisa mengelak, pikirannya buntu sekarang. Sementara Zavier terus mendesaknya sehingga tanpa sadar Namira menganggukkan kepalanya.
"Baiklah aku akan menikah denganmu. Tapi aku mohon jangan lakukan apapun pada ibuku," lirih Namira mengalah. Baginya keselamatan ibunya adalah hal yang paling penting karena dia tidak memiliki siapa-siapa lagi selain ibunya itu.
Mendengar jawaban itu Zavier tersenyum dan kemudian berkata, "Tentu saja, Namira. Jika kamu mengikuti keinginanku maka aku tidak akan menyakiti ibumu."
"Sekarang, aku akan pertemukan kamu dengan ayahmu setelah itu bersiaplah untuk menikah denganku!" sambung pria itu.
Lalu, pria itu keluar meninggalkan kamar Namira.
Namira sendiri hanya terdiam menahan tangis yang semakin dalam. Hingga setelah pria itu keluar dari sana, seseorang mengetuk pintu dan ternyata Darma–Ayahnya datang dan langsung menyapa Namira dengan senyum yang sulit diartikan.
"Kenapa Namira? Apa kamu ingin bertemu dengan Ayah sebelum kita berpisah?" tanya Darma.
"Ayah. Kenapa ayah melakukan ini padaku? Memangnya apa salahku sehingga Ayah tega menyerahkan aku pada majikanmu, itu?!" sarkas Namira pada ayah tirinya itu, rasa hormatnya sudah sirna karena Namira sudah sangat benci padanya.
Pria itu tersenyum meremehkan dan menatap Namira dengan tatapan menjengkelkan. "Itu karena aku ingin mencarikan jalan keluar untukmu dan ibumu yang malang itu. Sebagai seorang ayah, aku tidak tega melihat anak gadisku menderita," jawabnya dengan nada yang dibuat pelan.
"Aku sama sekali tidak butuh belas kasih dari ayah tiri yang kejam sepertimu. Sudah bagus kamu meninggalkan aku dan ibu. Tapi kenapa kamu kembali mengusik ketenanganku!"
Namira menentang pria itu. Masih teringat di memorinya bagaimana dulu pria bertubuh kekar dan berjambang tipis itu menikah dengan ibunya lalu menyakitinya dan mencampakkan ibunya begitu saja. Enam bulan tidak pernah kembali atau sekedar memberikan kabar dan sekarang datang dengan memberikan beban pada Namira.
"Karena Aku menyimpan dendam padamu, Namira. Aku sangat menginginkan tubuhmu, tapi kamu selalu menolakku bahkan mengusirku dari rumah ibumu. Apa kamu lupa itu?" Beber pria itu.
Namira menggelengkan kepalanya dia tidak lupa dengan perbuatan bej*t ayahnya yang ingin merenggut kesuciannya. Namira sangat sedih dan hancur jika mengingat semua itu, tetapi dia tidak ingin terlihat lemah karena itu dia ingin menentang Darma.
"Aku akan memberikan balasan yang setimpal padamu! Aku pastikan hidupmu tidak akan pernah bahagia di manapun berada!" sumpah Namira.
Namun, Darma meremehkan Namira. Menyunggingkan senyum liciknya kemudian mengusap wajah Namira dan berkata, "Tapi sayangnya, aku sudah lebih dulu mengirim kamu ke sarang buaya. Setelah itu aku akan mengirim ibumu ke neraka!"
Namira membolakan mata menyadari jika pria itu memiliki rencana untuknya. "Apa maksud, Ayah?!" pekik Namira.
Darma hanya tersenyum miring lalu pergi meninggalkan Namira begitu saja. Tidak peduli pada anak tirinya yang meminta jawaban dengan wajah resah karena memikirkan keselamatan ibunya.
"Ayah, jelaskan apa maksud ucapanmu itu?!"